
Mendengar ucapan Anthony, anggota lain hanya bisa menghela napas dalam hati.
Walaupun gila, Anthony sendiri juga terkenal sebagai salah satu jenderal Crux of Shadow terkuat. Dia mungkin sering gagal dalam misi karena perilakunya. Pria itu juga sering dimarahi oleh Simon. Namun, Anthony sendiri sama sekali tidak pernah dihukum berat karena ketua tahu kemampuan dan kesetiaannya.
Sebagai bawahan, orang-orang itu hanya mengikuti apa yang diperintahkan atasan. Beberapa orang sering mencibir mereka karena kurang tegas dan dianggap pengikut orang gila. Namun orang-orang itu membiarkannya. Lagipula, lebih baik mendapatkan ejekan daripada ditangkap oleh Mad Hound ini lalu disiksa sampai mati.
“Setelah sepuluh menit, kita akan bermain kejar-kejaran dengan mereka!”
Anthony memasang senyum mengerikan di wajahnya. Namun, sebelum dia melanjutkan ucapannya, suara lain tiba-tiba menyela.
“Maaf, tapi sebaiknya kalian tidak pergi ke mana-mana.”
Mendengar itu, Anthony terkejut. Dia langsung menoleh ke sumber suara.
Dari balik bayangan puluhan meter dari kelompok itu, sosok berjubah hitam muncul. Melihat kedatangannya, ekspresi semua orang langsung berubah menjadi serius.
“Aku benar-benar tidak menyangka, bukan hanya selamat, bahkan kamu berani menunjukkan diri, Shadow!”
Mendengar ucapan Anthony, sosok yang dibalut jubah hitam itu memiringkan kepalanya.
“Apakah kalian menyebutku dengan nama itu? Ya ... itu tidak begitu penting. Lagipula, aku memang bayangan Raja Dunia Bawah, Hades.”
“KELILINGI DIA!” teriak Anthony.
Sebenarnya, alasan kenapa Anthony berada di sini bukan untuk menemukan Evans. Dia dan beberapa tim lain ditugaskan untuk melacak keberadaan ‘Shadow’, sosok misterius yang sangat pandai menyamar. Orang itu adalah bawahan kepercayaan Hades, musuh merepotkan bagi Crux of Shadow. Bukan hanya pandai menyamar, tetapi dia kuat dan cepat.
Sangat sulit ditangkap! Bahkan lebih licin dibandingkan seekor belut!
Melihat banyak orang yang mengelilinginya, sosok yang dibalut jubah hitam itu menarik keluar katana miliknya. Menatap ke arah Anthony, dia berkata dengan tenang.
“Seharusnya kalian tahu ...”
Di balik topeng, mata pria itu menyempit.
“Jumlah banyak tidak begitu berguna untuk melawanku.”
***
Dua hari kemudian, di tempat persembunyian sementara.
Evans dan rekan-rekan yang tersisa akhirnya tiba. Setelah sampai di tempat persembunyian, mereka sama sekali tidak berani istirahat. Sebaliknya, orang-orang itu langsung melapor kepada Ark.
Setelah menerima laporan, Ark melirik belasan orang di belakang Evans. Dia kemudian menyuruh sepuluh orang tinggal, dan sisanya boleh kembali untuk beristirahat.
__ADS_1
“Jadi kamu memilih mereka sebagai ‘keluargamu’, Evans?”
“YA!”
Swoosh! BRUAK!
Sosok Evans terhempas ke dinding gua dengan keras. Selain membuat retakan pada dinding, dia juga langsung memuntahkan beberapa suap darah ketika jatuh ke lantai. Melihat pemandangan semacam itu membuat sepuluh orang yang sebelumnya berada di belakang Evans gemetar.
Evans mendongak, melihat ke arah sosok kakaknya yang menatapnya dengan tenang. Saat itu, dia mendengar sebuah pertanyaan.
“Apakah kamu tahu kesalahanmu, Evans?”
“Apakah karena aku tidak mematuhi peraturan?” ucap Evans dengan wajah pucat.
“Itu adalah salah satunya. Namun, itu bukan alasan utama. Tidak bisakah kamu memikirkannya baik-baik?”
Melihat adiknya yang hanya diam, Ark menggeleng ringan. Dia menghela napas panjang lalu berkata.
“Patuh memang penting, tetapi bukan itu yang aku maksud kali ini. Kamu ketakutan, itulah alasannya.
Setelah kamu kembali, kamu tampak ketakutan. Hanya takut sama sekali bukan masalah besar. Kamu bisa menggunakan rasa takut itu sebagai bahan bakar untuk berkembang. Hanya saja, kamu tidak bisa mengelola rasa takut. Perasaan itu membuatmu tertekan dan terseret ke bawah. Itu juga yang membuatmu memilih keputusan tergesa-gesa, seperti memilih anggota ‘keluarga’ secara acak.
Aku bertaruh, alasan kenapa kamu memilih mereka bukan karena orang-orang ini berguna bagimu. Kamu hanya berpikir mereka dekat, dan takut mereka mengkhianatimu. Jadi, kamu tidak memilih sesuai kontribusi mereka.
Apakah itu yang kamu inginkan?”
“TIDAK!” jawab Evans tegas.
“Lalu kembali ke kamarmu dan renungkan semuanya baik-baik!”
“Ya, Ketua!”
Meski masih merasa kesakitan, Evans tetap bangkit. Dia kemudian memberi hormat lalu pergi. Sementara itu, sepuluh orang yang pemuda itu pilih tinggal bersama Ark.
Setelah Evans pergi, Ark mengalihkan pandangannya kepada sepuluh orang itu. Melihat orang-orang itu ketakutan, dia masih tampak tak acuh. Pemuda itu kemudian membuka topengnya sambil berkata.
“Lihat ke arahku.”
Mendengar itu, kesepuluh orang itu menatap ke arah Ark. Pada saat melihat wajahnya, semua orang tertegun. Mereka sama sekali tidak terkejut dengan ketampanannya, tetapi wajahnya yang sedikit mirip dengan Evans.
“Seperti yang kalian lihat, aku memiliki hubungan darah dengan Evans. Lebih tepatnya, aku adalah kakak Evans.”
“...”
__ADS_1
Semua orang tidak berani berkomentar. Meski Evans jelas diperlakukan dengan cukup spesial, mereka juga tahu kalau pemuda itu sering dihukum berat. Jelas, perlakuan Ark agak berbeda dari apa yang dilakukan kakak pada umumnya. Ya ... mungkin ‘sedikit’ terlalu keras.
“Karena kalian sekarang telah menjadi anggota keluarga Evans, aku tidak akan lagi menyembunyikan banyak hal karena kalian tidak mungkin berkhianat.
Jadi, agar kalian tidak bingung ... aku akan bercerita terlebih dahulu.”
Setelah Ark menyelesaikan ucapannya, kesepuluh orang itu langsung menatapnya dengan ekspresi serius. Tampaknya siap untuk mendengar semuanya dengan saksama.
***
Sementara itu, di markas Crux of Shadow.
“Aku heran kenapa Ketua tidak membunuhmu, Evans. Aku rasa, kamu sama sekali tidak cocok menjadi jenderal.”
Mendengar ucapan itu, Anthony hanya diam. Dia sama sekali tidak membalas. Terus duduk di tempatnya dengan patuh sambil menatap ke arah sang ketua.
Saat ini, rapat kembali digelar. Karena Anthony kembali dengan kekalahan, kehilangan beberapa orang, bahkan dia sendiri terluka ... Simon memilih untuk mengumpulkan semua orang.
“Tolong diam sejenak.”
Mendengar ucapan Simon, semua orang langsung diam. Saat itu juga, pria itu mengeluarkan beberapa potong kayu yang diukir indah lalu menyusunnya di atas meja.
“Menurut informasi, sebenarnya hanya sedikit orang anggota Sword of Sufferings. Bahkan lebih sedikit lagi orang-orang yang perlu kita waspadai.
Pertama, ada si Beast, Leon. Kekuatannya sama dengan para jenderal, mungkin sedikit lebih tinggi. Kekuatan yang ditunjukkan jelas paling kuat di antara beberapa orang lain. Cukup liar seperti binatang buas, tentu memiliki kelemahan tersendiri.
Ke dua, ada si Knight, Draco. Kekuatannya sedikit lebih buruk dibandingkan Leon. Selain itu, dia hanya memiliki satu tangan. Namun dia cukup terampil dalam menggunakan senjata. Dia juga merepotkan karena sangat patuh dan tidak takut mati.
Ke tiga, ada si Shadow. Kita tidak tahu namanya, tetapi dia jelas orang yang sangat dipercaya oleh Hades. Pria itu sangat merepotkan, jadi untuk mengatasinya, kita perlu menjauhkan dirinya dari medan pertempuran atau jika bisa ... jebak lalu bunuh dia.
Terakhir, ada Hades. Menurut Silvia, dia sama kuatnya dengan diriku. Meski tidak yakin, tetapi kita harus menganggapnya lebih tinggi. Namun kalian bisa tenang, aku sudah memiliki rencana tersendiri untuk berhadapan dengannya.”
Setelah mengatakan itu, Simon menatap para bawahannya dengan senyum di wajahnya.
“Mereka bertarung dengan licik karena orang-orang itu tahu tidak bisa memenangkan pertempuran penuh. Oleh karena itu, tarik semua pasukan kembali ke markas. Tidak perlu peduli dengan sedikit kerugian karena setelah mendapatkan kemenangan, kita bisa mengambilnya kembali.
Biarkan Sword of Sufferings datang untuk menghadapi kita semua secara langsung. Jika mereka tidak melakukannya, maka yang perlu kita lakukan adalah sebaliknya.”
Ekspresi Simon menjadi lebih serius.
“Kita akan melakukan all in ...”
“Menyerang mereka dengan kekuatan penuh!”
__ADS_1
>> Bersambung.