Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Another Winter War


__ADS_3

Malam harinya, di tempat Jay dan pasukannya berada.


“Apakah kalian sudah siap, Teman-teman?”


Melihat ke arah stadion dari kejauhan, Jay rersenyum penuh percaya diri. Pria itu kemudian menarik pedangnya. Mengikuti gerakannya, ratusan orang langsung menghunus pedang mereka. Ekspresi serius tampak di balik topeng setiap orang. Saat itu juga, suara Jay kembali terdengar.


“Sesuai dengan keinginan Ketua. Tugas kita adalah memusnahkan sarang. Kalian dengar? Tugas kita adalah memusnahkan tempat ini.


Hancurkan mereka yang menghalangi. Jika ada beberapa zombie lemah melarikan diri, biarkan saja. Kita fokus pada tujuan untuk memusnahkan apa yang ada di depan jalan kita. Temukan makhluk yang merupakan pemimpin para zombie lalu habisi!


Setelah pemusnahan, kita akan kembali dengan kemuliaan!


Apakah kalian dengar itu?!”


“Ya, Pak!” jawab mereka serempak.


“Bagus! Kalau begitu ... HABISI MEREKA SEMUA!”


Mengikuti perintah Jay, semua orang langsung bergegas maju dan menghabisi para zombie di area luar stadion untuk membuka jalan.


Melihat ke arah orang-orang yang menjadi liar, lalu melihat ke arah Jay yang bersemangat, Lisa berkedip. Dia tidak bisa tidak mengeluh dalam hati kalau pria itu benar-benar tidak memiliki rencana bagus. Benar-benar langsung maju dengan otot tanpa otak. Lisa sampai bertanya-tanya bagaimana bisa orang seperti itu menjadi nomor 2 di Sword of Sufferings.


“Jangan menahan diri! Jangan berpura-pura keren dengan tidak mengeluarkan kemampuan kalian dalam misi ini!


Kerahkan kekuatan kalian! Bertarung dengan penuh percaya diri. Jangan ceroboh dan berakhir mati!”


Mendengar ucapan Jay, semua pasukan langsung menggunakan miracle root pertama mereka. Sama sekali tidak menahan diri, langsung menghabisi banyak musuh di depan dan mulai membuka jalan masuk ke dalam stadion.


Saat itu juga, Jay yang memantau dari belakang menoleh ke arah Mona.


Melihat tatapan Jay, Mona memutar matanya. Wanita itu kemudian berkata.


“Majulah. Pastikan untuk tidak sembrono. Aku akan mengawasi orang-orang dari belakang.”


“Kamu yang terbaik, Sayang!”

__ADS_1


Mendengar perkataan Mona yang penuh pengertian, Jay tersenyum. Pria itu kemudian bergegas menuju ke depan. Melihatnya berlari, banyak orang langsung membuka jalan baginya.


Dengan tubuh yang selimuti oleh uap panas, Jay langsung melompat ke arah gerombolan zombie di depan pintu. Lalu membanting pedangnya dengan keras.


BLARR!!


Potongan tubuh dan daging cincang belasan zombie langsung terciprat ke mana-mana. Jay menyeringai. Pria itu langsung bergegas maju melalui pintu depan, melewati gerbang dan masuk ke dalam stadion dengan ekspresi penuh percaya diri.


“Apakah kamu tidak ingin maju, Lisa?” tanya Mona.


“Tidak.” Lisa menggelengkan kepalanya. “Belum saatnya maju karena beberapa musuh berat belum muncul. Selain itu, aku ingin berada di belakang dan menontonmu memberi perintah, Kak Mona. Aku rasa mempelajari ini cukup berguna ke depannya.”


Mendengar itu, Mona terkejut. Dia melirik ke arah Lisa dengan senyum yang jarang muncul di wajahnya. Wanita itu sangat yakin kalau ketua akan terkejut jika melihat Lisa mau berkembang dan mulai mengurangi kecerobohannya. Setidaknya, menjadi sedikit lebih dewasa.


“Kalau begitu aku akan mengajarimu baik-baik.”


Melihat Lisa yang begitu serius, Mona akhirnya berkata dengan nada tulus. Benar-benar berniat untuk mengajari dan membantu gadis kecil itu.


***


BANG!


Satu demi satu kepala zombie diledakkan oleh tinju Leon. Pria besar itu berjalan melewati pintu depan dengan penuh percaya diri. Namun, ekspresi agak marah tampak di wajah pria itu. Dia benar-benar menggunakan para zombie sebagai pelampiasannya.


Selain dirinya, banyak orang yang bertarung di sekitar. Sekarang, mereka tengah sibuk untuk membersihkan area luar mall sebelum masuk ke dalam. Lagipula, jika tidak membersihkan bagian luar, mereka bisa terjepit oleh serangan dari dua arah dan akhirnya akan menjadi merepotkan.


Draco sendiri berjalan di belakang Leon sambil membawa tombaknya. Dia tampak tenang, sama sekali tidak menyerang musuh dan membiarkan pria besar di depan melakukannya.


“Kamu tidak perlu begitu marah, Leon.”


“Huh! Orang itu benar-benar meminta kita menuruti perintahnya. Jika bukan karena Bos memintaku berada di bawahnya, aku sama sekali tidak mau menurutinya.”


Leon mendengus dingin, tampaknya masih tidak begitu puas dengan Saito.


“Aku tahu kalau kamu kesal. Namun, bukan hanya kamu, aku, Stacy, dan banyak orang juga tidak senang Saito mencapai level 4 lebih dahulu. Khususnya bagi para petinggi yang sudah lebih lama melayani Ketua.

__ADS_1


Masalahnya, kita juga harus mengakui kekuatan Saito. Bisa dibilang, dia memang jenius. Bukan hanya patuh menjalankan setiap instruksi, orang itu bisa melakukan semuanya dengan rapi. Bandingkan dengan kita? Dia jelas lebih baik.


Bukan hanya patuh dan menjalankan misi dengan baik, Saito benar-benar handal dalam berpedang. Dia telah mengembangkan ilmu pedangnya ke tingkat lebih tinggi. Selain itu, pria itu juga sangat cepat dan pandai menghilang begitu saja. Benar-benar mirip ninja dalam cerita-cerita.


Meski menyebalkan, aku tahu kenapa Ketua menghargainya.”


Draco menghela napas panjang. Sementara itu, Leon mengerutkan kening. Dia kemudian bergumam pelan.


“Apakah tidak ada jalan untuk maju? Jika terus seperti ini, kita akan tertinggal. Apakah kamu tidak merasa takut, Draco?”


“Tentu saja aku takut.” Draco mengangka bahu. “Oleh karena itu, tampaknya kita harus membuang harga diri dan memohon kepada Ketua agar menunjukkan jalan yang pas bagi kita. Lagipula, itu jalan lebih cepat daripada kebingungan mencari jalan dan menunda-nunda.”


Mendengar itu, Leon pun ikut menghela napas panjang.


“Aku setuju denganmu. Sebagai orang yang berada di garis depan, kita tidak boleh kalah soal kekuatan!”


Sementara Draco dan Leon memimpin di bagian depan, sosok Stacy memimpin pasukan dari arah pintu belakang. Sama seperti di bagian depan, mereka juga tampak sibuk melakukan pembersihan besar-besaran.


Saat itu, sosok Saito berjalan melewati banyak orang. Langkahnya tampak santai dan ringan, tetapi juga sangat cepat sehingga tidak banyak orang bisa merespon.


Di mata terkejut banyak orang, Saito langsung masuk ke dalam bangunan lewat pintu belakang.


***


Sementara itu, di lokasi lain.


Di tepi atap suatu gedung, tampak sosok berjubah hitam yang berdiri dengan tenang. Dia melihat pemandangan dengan ekspresi tak acuh di balik topengnya. Mata merah di balik topeng memandang langit kelabu di atas dan kepingan-kepingan salju yang mulai berjatuhan.


Di langit, tampak dua ekor gagak bermutasi berwarna putih yang lebih tinggi daripada pria dewasa yang terus terbang dengan bahagia.


Orang itu melepas topengnya, menampilkan wajah tampan dengan ekspresi datar. Angin malam menerpa wajahnya, membuat jubah dan rambut putih panjangnnya menari oleh tiupan angin. Mengabaikan dinginnya udara malam, dia mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya lalu menyalakannya.


Menyesap rokok lalu mengembuskan asap yang terbang lalu memudar bersama dengan embusan angin, pemuda itu bergumam.


“Sudah dimulai ... kah?”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2