Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Taman Kota


__ADS_3

"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Ketua?"


Darin bertanya dengan nada berat, tampak sedih dan marah.


"Buatkan lubang lalu kubur gadis itu dengan layak. Selain gadis itu, biarkan mayat yang lainnya tetap di jalan.


Biarkan daging mereka dimakan tikus atau zombie. Hal tersebut akan membuat zombie dan binatang buas menjadi cepat kuat. Kita akan gunakan mereka sebagai batu asah untuk mempertajam kemampuan kita. Bisa dibilang ... itu hukum alam, bukan?"


Ark menjawab datar. Berkata dengan nada tak acuh, sama sekali tidak menganggap orang-orang yang telah Jay dan Stacy bunuh seperti manusia. Sebaliknya, dia memperlakukan mereka seperti tikus yang tanpa sengaja mati terlindas truk ketika menyeberang jalan.


Tidak memperlakukan orang-orang tersebut sebagai salah satu manusia seperti dirinya!


Ark dan rekan-rekannya menuju ke halaman belakang toko kecil dimana tempat tersebut masih berupa tanah, bukan cor beton.


Setelah itu, mereka kemudian menguburkan tubuh gadis tersebut. Menutup lubang dengan tanah lalu memadatkannya, Jay membawa sebuah batu cukup besar kemudian meletakkannya di atas tempat gadis tersebut dikubur.


"Para binatang itu ... bisa-bisanya mereka melakukan hal kejam seperti itu kepada gadis kecil sepertinya," gumam Jay dengan ekspresi tertekan.


"Mungkin mereka mencari tempat untuk melampiaskan kesal dan stress yang menumpuk." Ark membalas datar.


Mendengar ucapan itu, Jay langsung berjalan ke arah Ark. Dia langsung mengayunkan tinju ke wajah sahabatnya tersebut. Namun Ark sama sekali tidak diam, tetapi langsung menangkap tinju yang dilontarkan oleh Jay.


"JANGAN BERCANDA, ARK!!!" teriak Jay.


Ark menatap mata Jay dengan ekspresi dingin, tampak tak acuh. Dia kemudian menjawab.


"Apakah aku seperti sedang bercanda?"


Melihat ekspresi datar di wajah tampan sahabatnya, Jay menggertakkan gigi. Dia menarik kembali tinjunya. Menggaruk kepalanya, pria itu berteriak dengan nada kesal.


"BAGAIMANA BISA MEREKA MELAKUKAN HAL SEMACAM ITU KEPADA GADIS KECIL?! APAKAH MEREKA SUDAH GILA?!"


"Lalu pemandangan apa yang kamu mau di akhir dunia semacam ini?


Melihat orang tua jalan-jalan di taman? Anak-anak bermain rumah-rumahan? Atau remaja saling bertukar perasaan?"


"..." Jay terdiam.


"Dunia tidak seindah sebuah rumah kecil dimana kita bisa menanam sayur, minum air, dan makan sampai kenyang Jay.


Hal-hal seperti yang terjadi pada gadis kecil tersebut pasti banyak terjadi di tempat lain. Bukan hanya gadis kecil, tetapi para perempuan.


Bukan hanya itu. Aku bahkan tidak akan kaget jika melihat seseorang memakan sesamanya hanya untuk bertahan hidup, karena begitulah cara kerja dunia saat ini!"


Ark berjalan ke depan lalu menghajar Jay. Pria itu hendak menangkis, tetapi Ark langsung bergeser dan memukul wajah dengan keras. Langsung membuat Jay mundur beberapa langkah.


"Apakah itu menyakitkan?"

__ADS_1


"..."


"Apakah sekarang kamu sadar?"


"..."


"Aku katakan padamu, Jay!


Orang yang ingin mengurung diri di tempat terpencil untuk menikmati hidup tidak berhak untuk merasa marah dengan apa yang orang-orang di luar coba perjuangkan!


Orang munafik tidak berhak untuk merasa kepada makhluk lemah (gadis kecil) yang memperjuangkan hidupnya!


Aku katakan sekali lagi. Di dunia yang gila dan kacau ini, hanya kekuatan yang akan menentukan segalanya! Yang lemah menjadi makanan bagi yang kuat!"


Ark kemudian menatap ke arah rekan-rekannya. Menunjuk ke arah mereka satu per satu sambil terus berkata.


"Berhenti bersikap seolah-olah kalian makhluk paling suci! Berpikir bahwa apa yang kalian lakukan benar dan orang lain lakukan salah!


Berpikir dan terus berpikir tanpa melakukan apapun sama sekali tidak berguna!


Kalian memiliki tangan! Kalian memiliki kaki! Lalu bergerak dan berjuang! Terus berjuang untuk menjadi kuat dan lebih kuat!


Menjadi sosok kuat sampai-sampai bisa menyapu ribuan orang, melenyapkan mereka yang menghalangi jalan!


Menjadi kuat ..."


"Sampai kalian bisa membuat aturan di dunia yang telah bobrok dan kacau ini!"


Mendengar ucapan Ark, tangan orang-orang mengepal erat. Gigi mereka terkatup rapat. Jiwa dan juga tekad mereka tersulut, sampai tergambar jelas di tatapan membara orang-orang itu.


Setelah hidup dalam tipu muslihat kenyamanan, mereka akhirnya kembali melihat wajah asli dunia.


Membuat mereka bertekad untuk menaklukkannya!


***


Sore harinya.


Setelah beristirahat sejenak dan membiarkan anggota timnya tenang, Ark memimpin anggota kelompoknya pergi menuju ke taman kota.


Seperti sebelumnya, perjalanan mereka agak hambar karena berjalan di siang hari memang cukup aman.


"Tuan, karena kita menghabiskan cukup banyak waktu di tempat sebelumnya, tampaknya kita terlambat.


Matahari hendak terbenam. Haruskah kita memilih tempat untuk beristirahat sejenak atau langsung melanjutkan perjalanan?"


Stacy menghampiri Ark, bertanya dengan lembut dan sopan.

__ADS_1


"Bagaimana menurut kalian?"


Bukannya langsung menjawab, Ark malah balik bertanya. Dia menatap ke arah rekan-rekannya. Tampaknya menunggu jawaban dari mereka.


Darin mengangkat tangannya lalu menjawab.


"Menurut saya, lebih baik kita semua mencari tempat beristirahat dan melanjutkan perjalanan besok.


Perjalanan malam tidak begitu aman. Selain karena mobilitas kita berkurang, banyak makhluk berbahaya yang mungkin bisa mengancam keselamatan kita."


Mendengar jawaban itu, Ark mengangguk lalu menggelengkan kepalanya.


"Kamu lupa tujuan kita, Darin." Stacy berkata santai.


"Apa maksudmu?" tanya Darin.


"Kita memang perlu beristirahat, tetapi bukan untuk berlindung. Kita perlu memulihkan tenaga, lalu pergi malam ini juga.


Memang, pertarungan akan menjadi berbahaya karena kita berada di tempat asing. Namun, tujuan kita adalah berburu zombie level dua. Zombie tidak muncul di siang hari. Kamu harus ingat itu."


"Kamu benar, Stacy. Namun, jika kita berburu zombie, kita tidak perlu mendekat ke taman kota. Lebih baik mencari di sekitar.


Jika kita pergi ke taman kota, aku curiga bukan hanya zombie, tetapi akan ada beberapa makhluk lain yang mengancam kita. Membuat resiko semakin tinggi."


Mendengar keduanya, Ark mengangguk ringan. Dia akhirnya berbicara.


"Ide Darin sebenarnya adalah cara paling ideal, tetapi memakan banyak waktu. Apa yang kurang sekarang adalah waktu.


Kesimpulannya, kita akan berangkat setelah memulihkan tenaga. Aku cukup yakin, banyak zombie yang ada di sekitar area taman kota. Kita juga bisa mencari tumbuhan bermutasi yang mungkin berguna di sekitar sana. Memukul dua burung dengan satu batu.


Aku harap kita bisa menyelesaikan semuanya malam ini. Kemudian memanfaatkan waktu siang untuk kembali. Sampai di markas dengan selamat sebelum matahari terbenam besok."


"Dimengerti!" jawab anggota lain serempak.


Dikarenakan Ark telah memilih, mereka tidak lagi berdebat. Lagipula mereka juga tahu, ketua mereka adalah jenis pria yang cukup keras kepala.


Selesai beristirahat dan memulihkan energi, mereka pun melanjutkan perjalanan.


Setelah berjalan cukup jauh, mereka semua terkejut ketika melihat beberapa pohon tinggi di kejauhan. Mahkota pohon bahkan masih terlihat meski beberapa bangunan tiga lantai menutupi pemandangan sekitar.


Saat mereka melewati beberapa bangunan dan sampai di sebuah jalan raya dimana mereka bisa melihat taman kota dari sana, mereka tercengang.


"Yang benar saja ..."


Jay menatap pemandangan di depannya dengan ekspresi takjub dan heran.


"Bagaimana mungkin ada hutan yang begitu subur di tengah-tengah kota?!"

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2