
Tiga hari berlalu begitu saja.
Dalam waktu ini, Evans pergi dengan 24 orang yang dia pilih. Selain itu, anggota Sword of Sufferings beristirahat selama dua hari lalu melanjutkan tugas mereka sesuai dengan perintah Ark. Sementara itu, lelaki yang dijuluki sebagai Hades itu mempersiapkan hal lain.
Saat ini, Evans dan rekan-rekannya mengunjungi sebuah kelompok bernama Golden Taurus. Kelompok tersebut bisa dibilang salah satu saingan kuat bagi Spirit of Fire sebelumnya. Namun sekarang juga telah jatuh karena menentang Crux of Shadow. Bisa dibilang, kebencian mereka kepada kelompok itu tidak kalah jika dibandingkan kebencian para anggota Spirit of Fire.
“Maksudmu, kamu ingin mengajak kami untuk meminta bantuan kepada Sword of Sufferings?”
Duduk di kursi ketua, tampak sosok pria paruh baya kekar yang tampak pucat berkata dengan ekspresi suram di wajahnya.
“Ya. Selama kita mengikuti-“
“Jangan bercanda dengan kami! Setelah menolak para fanatik dari sekte sesat, kamu ingin kami mengikuti rencana para pembunuh gila? Apakah kepalamu baik-baik saja?”
“Apa maksudmu, Rupert?” Evans langsung mengangkat alisnya.
“Aku bilang, berhenti membujukku. Aku tidak akan bergabung dengan kalian!”
“Apakah kamu ingin nyawamu berada di tangan Crux of Shadow, Rupert? Jika kita bisa menyingkirkan mereka-“
“Semuanya sama saja! Bahkan jika Crux of Shadow runtuh, kita tetap akan berada di bawah Sword of Sufferings. Berada di bawah orang-orang gila itu ... sama saja!”
Pria bernama Rupert itu tampak putus asa. Melihat pemandangan seperti itu, Evans menggertakkan gigi. Dia tahu apa yang dilakukan kakaknya membuat masyarakat berpikiran buruk tentangnya. Namun pemuda itu sama sekali tidak menyangka kalau semua akan separah ini. Meski beberapa hari ini berhasil membujuk beberapa kelompok kecil, itu semua sama sekali tidak mudah.
__ADS_1
“Crux of Shadow dan Sword of Sufferings tidak sama, Rupert. Meski Sword of Sufferings kejam, mereka masih memiliki batasan.
Mereka membunuh musuh, tetapi tidak separah Crux of Shadow. Mereka tidak meminta cabangnya atau masyarakat untuk membuat pengorbanan setiap bulan. Meski kejam, mereka juga masih memberi kesempatan bagi setiap orang.”
“Kalau begitu kenapa mereka tidak membebaskan saja kita semua dari belenggu ini?” ucap Rupert dengan senyum penuh ejekan.
“Tidak peduli apa yang kamu pikirkan, aku hanya datang untuk membujukmu. Jika tidak mau, aku sama sekali tidak memaksa. Selain itu, aku datang untuk menyampaikan berita.”
“Berita apa? Sword of Sufferings akan datang untuk membunuh kami?”
Mendengar ejekan itu, Evans menggelengkan kepalanya.
“Bukan. Kota akan segera dalam kekacauan, sebagai sesama warga kota, aku hanya ingin mengingatkan kalian. Ada baiknya bagi kalian untuk mengungsi ke luar kota untuk sementara waktu, atau mungkin pergi ke kota lain.
Melihat ekspresi serius dan tatapan tulus di mata Evans, Rupert merasa agak bingung. Dia ingin menyangkal. Otaknya berpikir kalau ini hanyalah akal-akalan Sword of Sufferings untuk merebut tanah dan mengambil sumber daya. Namun entah kenapa hati kecilnya berbisik untuk mempercayai ucapan Evans.
Menarik napas dalam-dalam, Rupert bertanya.
“Apakah aku bisa mempercayaimu, Evans?”
“Kamu boleh percaya atau tidak.”
Rupert menatap Evans dengan tenang. Setelah beberapa saat, dia bertanya.
__ADS_1
“Apa yang harus kami lakukan?”
Mendengar pertanyaan itu, Evans menghela napas panjang dalam hati. Mengetahui kalau Rupert mulai mempercayainya, pemuda itu tahu kalau apa yang dilakukan setelahnya akan lebih mudah.
***
Setelah membicarakan beberapa rencana bagi kelompok penentang Crux of Shadow, Evans dan rekan-rekannya berencana untuk pergi ke markas kelompok berikutnya. Hanya saja, semua tidak berjalan seperti keinginannya.
Sore pada hari yang sama, mereka benar-benar bertemu dengan sekelompok orang yang tidak ingin Evans temui.
Melihat dua puluh prajurit yang dipimpin oleh seorang pria, ekspresi Evans langsung berubah menjadi berat.
“Hey, siapa yang aku temui saat ini? Sungguh, ternyata dugaanku benar! Wanita gila itu sama sekali tidak membunuhmu. Apakah dia melepaskanmu karena suatu alasan? Tetap saja, hebat juga kamu bisa bertahan sampai sekarang.
Oh! Itu semua tidak penting. Karena kamu berhasil bertahan, itu berarti Dewi Kegelapan mengabulkan permintaanku untuk membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri! Bukankah begitu?”
Melihat pria dengan senyum jelek di wajahnya, Evans mengingat rasa sakit yang dia alami dalam ruang gelap dan sempit itu. Menggertakkan gigi, pemuda itu menggeram sambi menatap ke arah lawan bicaranya dengan niat membunuh.
“ANTHONY ...”
Mendengar itu, Anthony sama sekali tidak takut. Sebaliknya, dia malah tertawa dengan ekspresi gila di wajahnya. Menatap ke arah Evans dengan ekspresi penuh perhatian, pria itu berkata.
“Dari cara bicaramu, apakah kamu merindukanku ... Evans?”
__ADS_1
>> Bersambung.