Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Pengingat Diri


__ADS_3

Sore harinya.


"Hey, Ark! Bisakah kita bicara?"


Duduk sambil menopang dagu di teras belakang rumah, Jay bertanya dengan ekspresi malas.


"Katakan saja apa maumu."


Ark menjawab dengan nada datar.


"Bagaimana kamu melakukannya?"


"..."


"Apakah kamu tidak mendengarnya? Kalau begitu aku akan mengulanginya. Apakah-"


"Kamu pasti sengaja."


Ark yang berada di halaman belakang rumah melangkah mundur. Dia mengelak ke kanan dan kiri. Di depannya, tampak sosok Abigail yang mengayunkan pedang kayu dengan ekspresi seriusnya.


"Aku serius! Maksudku ... bahkan jika Abigail itu amatir, bagaimana bisa kamu menghindari serangannya dengan mata ditutup?"


"Aku sudah bilang ... ketika satu indera ditutup, indera lain sebenarnya akan menjadi lebih tajam, mencoba menambal kekurangan dari indera yang hilang."


Memiliki kain hitam yang menutupi matanya, Ark terus menghindari serangan Abigail. Hal tersebut membuat wanita itu merasa sangat malu.


Jelas, Abigail telah minum lima gelas ramuan evolusi, kekuatannya pasti sudah di atas manusia normal. Namun, wanita itu benar-benar masih belum bisa memukul Ark satu kali pun!


"Berhentilah mengerjai Kak Abigail! Itu sama sekali tidak lucu!


Jika kamu mau, biarkan aku yang menjadi lawanmu!"


Suara Natasha yang marah terdengar. Tidak memedulikan kemarahan wanita itu, Ark membalas dengan nada datar.


"Tidak untuk saat ini. Saat ini hanya Abigail yang cocok untuk menjadi lawanku.


Aku baru saja belajar untuk mengembangkan inderaku, dan Abigail juga belum lama mulai berlatih pedang. Jadi kami cocok."


"Pengecut!"


"..."


Mendengar ucapan tidak puas Natasha, Ark sama sekali tidak peduli.


Niatnya melakukan hal ini adalah mempertajam inderanya. Hal tersebut untuk berjaga-jaga. Jika di masa depan dia bertemu dengan musuh yang mampu menyemprotkan kabut atau zat yang membuatnya sulit untuk melihat, dia masih bisa bertarung.


Selain itu, jika sudah membiasakan diri, dia juga bisa bertarung dalam kondisi cukup ekstrem seperti tempat gelap, tempat berkabut, atau mungkin ketika ada badai pasir. Apapun itu, Ark percaya kalau kemampuan ini masih sangat berguna!


Itulah selain menutup mata, Ark juga mencegah dirinya sendiri untuk menggunakan kemampuan deteksi. Jadi, dia benar-benar hanya menggunakan inderanya sendiri. Tentu saja, berbagai indera juga telah ditingkatkan karena evolusi.


Ark menentukan posisi Abigail dari langkah kaki, suara ayunan pedang, dan embusan pedang kayu ketika mencoba menebas atau menusuk dirinya. Selain itu, meski terdengar agak memalukan, dia juga mencium aroma tubuh Abigail dengan samar.


Indera pendengaran, penciuman, dan sentuhan.


Suara langkah kaki, suara tebasan, aroma kayu, aroma tubuh Abigail, sentuhan angin dari tebasan yang menyentuh kulitnya ... Ark mencoba menggunakan semua itu sebagai kerangka peta untuk menentukan dimana dia akan diserang.


Itulah sebabnya, Ark merasa kalau Jay sengaja mengganggu dirinya karena mengajak berbicara. Hal tersebut jelas membuat konsentrasinya pecah. Belum lagi, suara Jay juga sangat mengganggunya. Membuat pemuda itu semakin sulit untuk menentukan semuanya secara bersamaan.


"Cukup."


Ark berhenti lalu berkata dengan nada datar. Pemuda itu kemudian membuka penutup matanya. Menatap ke arah wanita di depannya, dia mulai menghibur.


"Kamu sama sekali tidak melakukannya dengan buruk. Gerakanmu lebih baik daripada sebelumnya."


"Bagaimana kamu bisa tahu? Kamu menutup mata, Ark."


Ucapan Jay membuat sudut bibir Ark berkedut. Menghela napas, dia membalas.


"Tentu saja aku "melihat" dengan cara lain. Jika tidak, bukankah seharusnya aku sudah dipukuli?"

__ADS_1


"Itu tidak salah." Jay memegang dagu sembari mengangguk ringan.


"Terima kasih semuanya, aku akan berlatih lebih baik lagi!"


Abigail berkata dengan ekspresi lembut di wajahnya. Merasa berterima kasih atas kebaikan mereka semua.


"Karena Tuan dan Kak Abigail sudah selesai latihan, bagaimana kalau kita juga berlatih, Kak Jay?"


Sosok Stacy yang sebelumnya berlatih sendiri menoleh ke arah Jay yang sedang duduk sambil bermalas-malasan.


"Aku benar-benar tidak sedang dalam mood baik. Aku cukup heran, kenapa kamu begitu bersemangat setelah melakukan evolusi pertama?"


"..."


Mendengar Jay yang berkata dengan nada senior ke junior, sudut bibir Ark berkedut.


'Tampaknya itu tidak pantas dikatakan oleh seseorang yang melompat-lompat karena semangat setelah berevolusi. Belum lagi, orang itu juga memiliki semangat membara dalam berburu zombie.'


Pikir Ark ketika menatap ke arah Jay.


Merasakan tatapan Ark, Jay bingung harus berkata apa. Tentu saja pria itu malu karena sahabatnya sendiri yang tahu seperti apa dirinya ketika melewati evolusi pertama. Hanya saja, dia benar-benar tidak mau meladeni gadis nakal itu, Stacy.


"Jay harus melatih Darin, jadi lebih baik kamu berlatih dengan Natasha."


Ark berkata dengan nada santai. Dia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Natasha lalu melanjutkan.


"Tentu saja, kamu harus menahan diri. Jika tidak, kamu mungkin akan dimarahi karena melukai Nona Polisi ini."


"..."


Mendengar sindiran Ark, Natasha menggertakkan gigi. Dia hanya bisa memelototi pemuda itu tanpa benar-benar melawan. Lagipula, setelah mengetahui kalau Ark telah melakukan evolusi pertama ... jelas Natasha tahu bahwa dirinya belum bisa melawannya.


Belum lagi, tampaknya Ark memiliki banyak keterampilan bertarung. Bahkan jika Ark belum melakukan evolusi, Natasha tidak akan berani menyepelekannya. Apalagi sekarang setelah mengetahui kenyataannya.


'Tunggu saja! Aku akan membalasmu!'


Pikir Natasha ketika mengingat perlakuan yang telah dia dapatkan dari Ark.


Hanya saja, sebuah kejadian penting yang terjadi setelah makan malam.


"Kita butuh nama!!!"


Jay menggebrak meja dengan ekspresi serius di wajahnya. Hal tersebut membuat Nathan dan Nala terkejut lalu memeluk ibu mereka.


Menyadari bahwa dirinya mengagetkan anak-anak, Jay menggaruk belakang kepalanya dengan ekspresi canggung. Pura-pura batuk, dia segera menatap Ark lalu berkata.


"Maksudku ... nama kelompok kita. Seperti yang kalian ketahui, kita telah menemui dua kelompok lain. Bahkan jika hanya sekumpulan preman, mereka masih memiliki nama kelompok.


Ya ... meski aku tidak ikut, tetapi aku tahu bahwa kita memerlukan nama. Lagipula, tidak mungkin kita hanya berkata "kelompok kami" kepada orang-orang yang bertanya, kan?"


Ark tidak terlalu peduli, tetapi melihat bagaimana anggota lain setuju, dia hanya mengangkat bahu dan berkata.


"Kalau begitu kalian memberi saran."


"King of Kings!!!" ucap Jay dengan penuh percaya diri.


"Terlalu arogan dan mencolok, ditolak."


Ark berkata dengan ekspresi datar.


"Pfft ... tampaknya kamu tidak memiliki bakat dalam membuat nama." Natasha berkata dengan ekspresi mengejek. "Mighty Warriors! Bukankah terdengar bagus?"


"Terdengar agak norak, tidak memiliki arti yang dalam, ditolak."


Ark menopang dagunya sambil menjawab datar.


Saat itu, sosok Nala mengangkat tangannya dengan ekspresi malu-malu. Semua orang menatapnya, membuat gadis itu merasa agak takut.


"Katakan saja pendapatmu, Nala."

__ADS_1


"B-Bagaimana kalau Thousand Sunflowers?"


"Seribu bunga matahari, terdengar indah dan cerah."


Mendengar ucapan Ark, Nala tersenyum.


"Hanya saja, terlalu cerah dan indah untuk dunia yang suram ini. Maaf, ditolak."


"..."


Nala langsung merasa kecewa. Sementara itu, Jay dan Natasha tercengang. Mereka benar-benar tidak menyangka Ark akan menggoda dan membuat sedih gadis kecil tidak bersalah!


"Anu ..." Abigail mengangkat tangannya.


"Iya?"


Ark dan anggota lain menatap ke arah Abigail. Ibu dua anak itu agak gugup, tetapi masih berbicara.


"Tampaknya anda sudah memilih nama, Tuan Ark. Kenapa tidak langsung mengatakannya saja?"


"..."


Ucapan Abigail langsung membuat Natasha dan Jay tertegun. Mereka langsung menatap ke arah Ark dengan ekspresi marah.


"Kenapa kamu tidak bilang saja, Ark! Kamu membuat kami memikirkan nama-nama itu!"


"Sebenarnya aku tidak ingin terlalu memikirkan hal ini. Aku ingin memberi nama Gods Slayer, Gods Eater, atau semacamnya. Namun aku sendiri tahu nama itu terlalu mencolok dan berlebihan. Jadi ...


Kita sebut saja Sword of Sufferings."


"Hah?! Nama macam apa itu?"


Natasha langsung tidak setuju. Sementara itu, Jay berkata.


"Bagaimana kalau Sword of Destiny? Sword of Freedom? Sword of Hope?


Maksudku, nama-nama itu membawa harapan. Sufferings (Penderitaan) ... nama itu agak terlalu suram."


Ark masih menopang dagu sambil menjawab.


"Sudah diputuskan, nama kelompok kita adalah Sword of Sufferings. Jika ada yang tidak setuju ...


Kalian boleh melawanku. Jika menang, kalian boleh mengganti nama sesuai apa yang kalian inginkan."


"..."


Mendengar ucapan Ark, mereka semua tidak bisa berkata-kata. Jelas, mereka sadar bahwa mereka tidak bisa mengalahkan si ketua. Apa yang membuat mereka terkejut adalah sikap Ark yang begitu teguh untuk memakai nama suram itu.


Karena tidak ada yang menentang, mulai saat itu juga ... nama kelompok mereka adalah Sword of Sufferings.


Tentu saja, Ark memilih nama ini bukan karena suatu keisengan. Dia juga belum menggunakan nama ini di kehidupan sebelumnya. Namun, pemuda itu memiliki alasan kuat untuk menggunakan nama tersebut.


Nama tersebut dibuat Ark berdasarkan pengalaman hidupnya.


Mereka, umat manusia jatuh ke rantai makanan paling bawah. Mereka, umat manusia selalu menderita pada saat dunia berubah.


Ark sebenarnya tidak ingin hidup dengan cara seperti ini. Dia ingin mengalami kehidupan damai. Bahkan dia sudah membuat tujuan hidup.


Setelah adiknya wisuda dan bekerja, Ark berencana untuk pensiun dari pekerjaannya. Dia ingin menggunakan uang tabungannya untuk membeli tanah dan membangun rumah di pedesaan. Hidup di sana dengan damai sambil bertani dan beternak. Tidak perlu menjadi kaya, tetapi bisa santai dan menikmati hidupnya. Dia bahkan juga berpikir untuk memelihara seekor kucing yang akan menemani hari-harinya.


Hanya saja, semua rencananya rusak karena apocalypse.


Ark tidak ingin bertarung, tetapi dunia memaksa dirinya untuk menggenggam pedang dan bertarung. Ark tidak lagi ingin melihat darah, tetapi dia selalu menginjak genangan darah dalam setiap langkahnya. Apa yang Ark inginkan adalah harapan dan kebahagiaan, tetapi yang dia dapatkan adalah keputusasaan dan penderitaan.


Jadi, nama itu sebenarnya Ark gunakan untuk mengingat.


Mengingatkan bahwa dirinya hanya makhluk kecil yang mencoba menghancurkan semua keputusasaan dan penderitaan dengan pedang di tangannya. Bahkan jika dia mendapatkan banyak pencapaian, dia juga akan terus mengingat bahwa dirinya bukanlah apa-apa dihadapan kejamnya dunia. Membuat dirinya terus merasakan pahitnya ...


Sehingga dia akan terus berusaha terus maju ke depan apapun yang terjadi. Bukannya malah merasa sombong dan berpuas diri.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2