Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Mana Yang Benar dan Mana Yang Salah


__ADS_3

Sekitar tiga sampai empat jam setelah pertarungan.


"Bagaimana perasaanmu, Darin?"


Melihat sosok Darin, Ark bertanya dengan santai.


"Luar biasa, Ketua. Tangan kiriku juga telah sembuh total. Sama sekali tidak masalah jika digunakan untuk bertarung."


Darin melemaskan otot-otot tubuhnya. Dia merasa luar biasa. Tidak pernah merasa senyaman ini semenjak apocalypse terjadi.


"Jadi, apa kemampuan yang kamu dapatkan?"


"Itu ..." Darin mengelus dagu. "Tidak begitu hebat. Aku merasa bisa meningkatkan kekuatan serangan, sama seperti ketika menyerap Miracle Root dari zombie merah. Namun tampaknya kekuatan dan dampaknya lebih kuat. Selain itu ... bakat memanjat?"


"???"


Tiga gadis menatap ke arah Darin dengan ekspresi bingung di wajah mereka.


"Tolong jangan lihat aku dengan cara seperti itu. Bukan hal unik seperti pengerasan tubuh, kamuflase, atau racun. Namun memang skill ini yang aku dapatkan."


Setelah mengatakan itu, Darin berlari menuju ke salah satu gedung. Dia kemudian melompat. Lompatannya cukup tinggi, tetapi bukan itu masalahnya.


Pemuda tersebut dengan mudah meraih bagian jendela, naik, melompat ke atas, lalu meraih jendela lain. Memanjat dengan cepat dan lincah. Tidak ada gaya elegan seperti seorang ninja atau ahli parkour, tetapi dia sangat cepat. Gerakannya juga begitu natural.


Dalam sekejap, Darin telah naik ke lantai empat!


"Kamu tidak perlu naik ke puncak gedung untuk membuktikannya, Darin. Turun!" ucap Ark dengan nada tak acuh.


Mendengar perintah Ark, Darin turun lalu berjalan kembali ke arah mereka.


"Benar-benar mirip Kera~" Lisa terkekeh.


"..."


Darin terdiam. Sudut bibirnya berkedut. Pemuda itu sebenarnya agak marah, tetapi sama sekali tidak bisa menyangkalnya.


"Memang tampaknya kasar dan ceroboh, tetapi skill ini sebenarnya sangat berguna.


Bayangkan saja kalian dikejar seribu zombie dan ada banyak tipe spesial di antara mereka. Daripada berlari lurus, memanjat dengan cepat lalu melompat dari satu gedung ke gedung lain lebih efektif. Bisa saja mengecoh dan meninggalkan mereka.


Cukup mudah digunakan untuk lolos dari berbagai macam bahaya."


Mendengar ucapan Ark, Darin yang awalnya merasa agak malu dan marah malah menjadi puas. Dia merasa kalau apa yang dikatakan ketuanya benar. Memang tidak begitu cantik, tetapi sangat berguna!


Lisa yang melihat ekspresi lega dan puas di wajah Darin hanya bisa cemberut. Di antara orang-orang yang pergi kali ini, hanya dirinya yang masih berada di tingkat pertama. Hal tersebut membuat Lisa merasa tidak nyaman, bahkan cukup cemburu.


Mengabaikan ekspresi kecewa Lisa, Ark kembali berkata.


"Aku rasa, kemampuanmu tidak hanya dua itu."

__ADS_1


"Apa maksudmu, Ketua? Aku tidak merasa ada perubahan lain. Mungkinkah kamu salah?" Darin tampak bingung.


Saat itu, sosok Ark mendekati Darin. Ketika pemuda itu tidak siap, dia tiba-tiba menarik belati dengan cepat dan langsung menebas leher Darin.


Merasakan krisis kematian, Darin tanpa sadar menghindar. Ya. Dalam sekejap mata, dia bisa menghindari serangan mendadak dari Ark.


"Ini ..."


Mata Darin terbelalak, tampak tidak percaya kalau dia berhasil menghindari serangan tiba-tiba dari Ark.


"Kemampuan refleks. Refleks yang kamu miliki sekarang lebih baik daripada sebelumnya. Hampir bisa dibilang sebagai refleks super."


Satu lagi skill yang tidak begitu tampak, tetapi semua orang dalam kelompok tahu betapa berharganya skill tersebut. Khususnya bagi mereka yang sering bertarung. Cocok untuk bertahan hidup di dunia yang kacau ini!


"Karena kalian sudah beristirahat, mari segera lanjutan perjalanan. Kita akan sampai di taman kota pada malam hari, mungkin cukup larut.


Jadi setelah tiba, kita akan tidur dan memulihkan energi semalaman. Masuk ke dalam taman kota untuk berburu di pagi harinya."


"Baik, Ketua!" jawab mereka serempak.


Ark dan rekan-rekannya pun melanjutkan perjalanan mereka menuju taman kota.


***


Sore di hari berikutnya.


Swoosh! Swoosh! Swoosh!


Jika diperhatikan, apa yang mengejar Ark adalah laba-laba. Seekor laba-laba dengan ukuran tubuh besar berwarna hitam dan merah. Apa yang lebih mengerikan adalah kaki laba-laba tersebut yang memiliki panjang tidak cocok dengan tubuhnya, kurang-lebih dua setengah meter!


Saat itu, Ark tiba-tiba berbalik. Tampak sepuluh kerikil seukuran ibu jari di tangan kanannya. Pemuda itu langsung membuat gerakan layaknya sedang melemparkan bola baseball.


Swoosh! Swoosh! Swoosh!


Kerikil melesat cepat seperti peluru yang merobek udara. Langsung mengincar bagian kanan kepala laba-laba raksasa tersebut. Laba-laba yang bergegas maju itu secara refleks menghindar, melompat ke pohon yang ada di sisi kiri.


"SEKARANG!"


Mendengar ucapan Ark, sosok Darin yang bersembunyi di pohon langsung melompat ke arah laba-laba raksasa sambil membanting tombaknya sekuat tenaga.


Swoosh! Crack!


Suara retak muncul ketika keempat kaki di kiri laba-laba membengkok dengan cara aneh. Namun saat itu, ekspresi Darin berubah.


Laba-laba raksasa berhasil menghindari serangan fatal yang seharusnya memotong keempat kakinya. Memutar tubuhnya sebelum jatuh, kaki kanan setajam tombak langsung melesat ke arah Darin.


Darin mencoba menghindar, tetapi kesulitan karena berada di udara.


JLEB!

__ADS_1


Satu kaki menggores pipi, satu kaki menembus bahu kiri, dan dua kaki menusuk perut Darin.


BRUK!!!


Keduanya jatuh ke tanah dengan keras. Saat itu, suara Ark kembali terdengar.


"NATASHA!"


Sosok Natasha yang dikelilingi oleh kabut kemerahan muncul dari semak. Langsung bergegas ke tempat laba-laba raksasa jatuh.


Bukan hanya dia, Ark juga langsung bergegas maju karena semua sedikit melenceng dari rencana.


Pada saat laba-laba raksasa hendak bangkit, sosok Ark dan Natasha muncul di sisi kanan dan kirinya. Menebas tepat pada ruas kaki yang tidak terlindungi exo-skeleton keras.


SLASH!!!


Delapan kaki dipotong dengan rapi, membuat laba-laba raksasa tersebut membuat suara melengking yang menyakiti telinga.


Melihat kalau mereka akhirnya berhasil menjatuhkan laba-laba raksasa, Ark tampak cukup lega.


Karena musuhnya merepotkan, mereka menggunakan taktik provokasi dan melukai sedikit demi sedikit.


Lisa memprovokasi, setelah itu Stacy muncul dan menyerang. Ketika terluka, laba-laba raksasa akan mengejar Stacy. Setelah beberapa saat, Ark muncul dan membuat luka lebih fatal. Kemudian pemuda tersebut menggiringnya ke posisi Darin dan Natasha menunggu.


Menaklukkan makhluk tersebut bersama-sama!


Ark melihat ke arah laba-laba raksasa tanpa kaki. Luka bekas potongan di delapan kakinya sembuh dengan cepat. Bukan hanya luka bekas kaki di potong, tetapi luka tebasan dari Stacy atau lemparan batu dari Ark di tubuhnya juga sudah sembuh. Untung saja, meski sembuh dengan cepat, makhluk tersebut tidak bisa dengan mudah menumbuhkan kaki-kakinya.


Ark berdiri di depan laba-laba raksasa tersebut. Makhluk itu memiliki delapan mata besar, tampak cukup mengerikan.


Pemuda tersebut merasa kalau delapan mata laba-laba raksasa tersebut menatapnya dengan rasa takut dan penuh kebencian. Lebih ekspresif, bahkan sedikit manusiawi. Hal itu membuat Ark diam-diam berpikir.


'Apakah apa yang aku lakukan benar? Apakah membunuh makhluk-makhluk ini dibilang kebenaran?


Sebelum apocalypse, manusia berada di atas rantai makanan. Mereka membunuh banyak binatang termasuk serangga karena menganggap mereka hama. Membunuh untuk mengambil bulu, kulit, taring, gading, tanduk, dan lainnya.


Lalu ketika apocalypse tiba, para binatang buas membalas dan membantai manusia. Apakah binatang buas itu salah?


Mana yang benar? Mana yang salah?"


Ark menatap sosok laba-laba raksasa dengan ekspresi kosong. Dia memegang gagang pedang dengan kedua tangan secara terbalik lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.


'Ini bukan lagi soal mana yang salah dan mana yang benar.'


Pedang tajam langsung menusuk kepala laba-laba raksasa dan mengakhiri hidupnya. Darah hijau terciprat ke wajah Ark. Pemuda itu menunduk dalam diam.


'Untuk terus hidup.'


'Alasan sederhana semacam itu sudah cukup untuk membuatku terus melangkah maju.'

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2