
“Memang. Itu adalah penampilan yang bahkan membuatku terancam. Namun, apakah kamu atau aku yang akan mati belum bisa ditentukan. Lagipula ...
Itu adalah pedang bermata dua.”
Roh Pohon Dunia berkata pada Ark dengan ekspresi datar di wajahnya.
“...”
Ark sendiri tidak ingin banyak bicara karena sibuk mengontrol api yang menyelimuti tubuhnya sambil menahan rasa sakit karena dipanggang.
SWOOSH! BLARR!!
Bersama dengan ayunan pedang api berwarna hitam, ribuan kelopak bunga dan daun berhamburan. Sirna menjadi abu dan menghilang diterbangkan oleh embusan angin.
“Sungguh keras kepala.”
Melihat luka parah di tubuhnya, Roh Pohon Dunia masih tampak dingin. Beberapa saat kemudian, tubuhnya berangsur-angsur pulih seperti sebelumnya.
Bersama dengan jentikkan jarinya, puluhan ribu pisau daun melesat ke arah Ark.
SWOOSH!
Dengan ayunan keras, dedaunan langsung dimusnahkan. Setiap serangan Ark benar-benar bisa menahan bahkan membatasi kemampuan Roh Pohon Dunia. Hanya saja, semuanya tidak datang secara gratis.
“Sudah mulai kehabisan napas?”
Roh Pohon Dunia memiringkan kepalanya. Menatap Ark yang gerakannya mulai melambat.
Dikarenakan dipanggang, Ark merasa napasnya semakin berat. namun jika hanya bertempur dalam keadaan biasa, dia sama sekali tidak bisa mendapatkan keunggulan.
Bukan hanya karena belum menyerap miracle root level 5. Namun kekuatan Roh Pohon Dunia terlalu fleksibel dan sulit dibatasi.
‘Sekali! Cukup mendaratkan serangan fatal sekali saja!’
“AARRGGHH!!!”
Ark meraung dengan mata merah. Api di pedangnya berkobar dengan ganas. Samar-samar, suara ‘crack’ terdengar. Tampaknya senjata pemuda itu bahkan hampir tidak bisa menahannya.
SWOOSH!!
Sosok Ark melesat seperti kilat hitam. Muncul di depan Roh Pohon Dunia, dia berteriak sambil menebas dengan segala kekuatannya.
“BAKAR SEMUA MENJADI ABU!”
Roh Pohon Dunia merasakan ancaman kematian. Dia langsung mengendalikan sebanyak mungkin kelopak bunga dan daun untuk dijadikan perisai.
BLAARRR!!!
Ledakan keras tercipta, perisai yang Roh Pohon Dunia padatkan tidak mampu menahan serangan Ark. Tangan kirinya terptus dan dua sayapnya dipotong setengah. Langsung jatuh menghantam lantai zamrud dengan keras.
Di atas kanopi pohon dunia, api hitam mulai menyebar dan membakar semuanya.
Roh Pohon Dunia menunjuk ke arah Ark yang terjatuh akibat dampak. Potongan sayap dan puluhan ribu kelopak bunga memadat menjadi tujuh tombak, langsung melesat dan menikam Ark tepat di bagian fatal.
Menancap ke mata lalu menembus otak, leher, dua di dada, dua di perut, dan satu menghancurkan pedangnya.
BRUAK!
__ADS_1
Tubuh Ark jatuh ke lantai zamrud dengan keras. Tujuh tombak yang sebelumnya menancap langsung terbakar oleh api hitam. Namun darah terus keluar dan tubuh Ark terus berkedut.
“KENAPA KAMU MENCOBA MENENTANGKU, MANUSIA!”
Roh Pohon Dunia meraung marah. Belum pernah dia merasakan ancaman kematian seperti itu. Kali ini dia benar-benar dekat dengan kematian. Bukan hanya tubuhnya hampir hancur, energinya juga terkuras hampir habis.
Kemampuan penyembuhannya terkait dengan pohon dunia. Selama terus diserap dan kehilangan vitalitas, dia juga akan kehilangan kemampuan regenerasi.
“AKU BAHKAN TIDAK MENGENALMU DAN TIDAK MEMBUAT MASALAH DENGANMU!”
Mendengar itu, Ark yang berbaring dengan tubuh bersimbah darah tertawa.
“Jangan kira aku tidak tahu apa yang kalian inginkan.”
Menyebarkan kekuatannya, mengendalikan umat manusia, terus menaklukkan dan mencoba mengendalikan dunia.
Ya. Itulah yang coba mereka lakukan.
‘Rasanya mau mati. Benar-benar berbeda dengan kemampuanku dulu. Apakah aku terlalu tamak dan menginginkannya terlalu awal?’
Memikirkan itu, Ark yang hampir kehilangan kesadarannya merasa agak menyesal. Namun, kenangan tentang apa yang makhluk-makhluk tingkat tinggi itu lakukan di kehidupan sebelumnya muncul dalam kepala pemuda itu.
Roh Pohon Dunia, sosok yang dijuluki Ratu Alam. Makhluk tingkat tinggi yang mengendalikan banyak makhluk lain di bawahnya. Kekuatannya sendiri sama sekali tidak kalah dengan ‘Naga’ atau Raja Semut. Bukan sesuatu yang bisa dihadapi seseorang sendirian.
Jadi, sebelum semuanya terjadi, Ark ingin menghentikan makhluk-makhluk tingkat tinggi yang membuat banyak kekacauan di masa depan.
Ketika Ark merasa hampir kehilangan segalanya, kebencian yang terukir dalam jiwanya menunjukkan keengganan. Saat itu juga, tubuhnya mulai beregenerasi secara gila-gilaan.
Memaksa diri untuk bangkit, Ark yang seluruh tubuhnya mengucurkan darah membuat suara geraman. Suaranya begitu dalam dan penuh dengan kebencian. Rasanya seperti bisikan dari kedalaman neraka.
“Tidak mungkin melindungi segalanya.”
“Bukan melindungi, tapi mencegah.”
Tubuh Ark gemetar ketika daging busuk berjatuhan dan mulai beregenerasi dengan yang baru.
“OVERLORDS tidak bisa berkembang.”
“Raja Serangga.”
“Ratu Alam.”
“Raja Naga.”
“Kaisar Api.”
“...”
Ark terus menggumamkan nama yang tidak seorangpun kecuali dirinya ketahui. Suaranya semakin serak dan dalam.
“OVERLORDS ... Bunuh OVERLORDS!”
“TELAN.”
“LAHAP.”
“JATUHKAN.”
__ADS_1
“TIDAK BOLEH ... BANGKIT.”
Armor di tubuh Ark menggeliat, menunjukkan garis-garis tajam dan solid. Tanduk melengkung muncul di atas helmnya. Empat sayap hitam yang terbuat dari daging dan darah tumbuh di punggungnya. Otot-otot seperti serat hitam yang menggeliat tampak di setiap celah armor.
Uap panas terus muncul dari balik helmet hitam. Mata merah darah menatap ke arah Roh Pohon Dunia dengan dingin seperti iblis yang ingin melahap jiwa.
“MONSTER INI!”
Baru saja tubuhnya mulai kembali beregenerasi, Roh Pohon Dunia merasakan ancaman kuat dari Ark yang sama sekali tidak lagi terlihat seperti manusia.
SWOOSH!
Dua sosok, satu hitam dan satu putih bertabrakan dengan kuat.
BLARR!!!
Ledakan keras tercipta dan Pohon Dunia mulai bergetar hebat. Setiap kali keduanya berbenturan dengan sekuat tenaga, kota di bawah mereka ikut bergetar karena Pohon Dunia berguncang.
Tidak tahu berapa lama, banyak orang-orang akhirnya sampai di lingkaran luar dan hampir bisa keluar kota. Awalnya mereka berpikir kalau kabut mulai menipis karena mereka hampir keluar. Namun ekspresi mereka langsung berubah ketika kabut benar-benar menghilang.
Di bawah kilau cahaya bintang, orang-orang itu melihat Pohon Dunia yang berwarna hitam legam. Tampaknya benar-benar kehilangan vitalitasnya.
Bunga-bunga putih tak terhitung jumlahnya berguguran, menyebar ke seluruh kota bersama dengan embusan angin. Menampilkan pemandangan indah di bawah jutaan cahaya bintang yang tak bisa mereka lupakan.
Di atas Pohon Dunia, pertarungan antara Ark dan Roh Pohon Dunia juga telah mencapai akhirnya.
Berdiri di tengah-tengah altar, Ark yang telah kehilangan armornya dan hanya memakai pakaian hitam compang-camping memeluk erat tubuh Silvia. Tidak ada sayap, tidak ada halo (cincin) di atas kepala, hanya wanita cantik yang memakai gaun rusak penuh noda darah.
“Tampaknya aku tidak bisa menyembunyikan semuanya darimu.”
“Pada akhirnya, aku juga tidak bisa menepati janjiku.”
Silvia bersandar di dada Ark sambil memejamkan matanya.
“Apakah kamu tahu, Ark? Aku mengambil nama Eira yang berarti salju agar bisa mengenang saat kita bersama di utara.”
“En.” Ark mengangguk.
“Apakah kamu tahu, Ark? Aku benar-benar kesepian dan merasa tidak berdaya ketika Eira melihat anak lain bersama kedua orang tua mereka.”
“En.”
“Apakah kamu tahu, Ark? Aku benar-benar membencimu. Sangat membencimu.”
Silvia mendongak lalu mengecup lembut bibir Ark dengan air mata berlinang di wajahnya. Wanita itu kemudian bersandar sambil memejamkan mata, mencengkeram erat pakaian Ark sembari berkata.
“Jika kamu menyakiti Eira, aku tidak akan memaafkanmu. Kamu harus ingat itu.”
“Aku berjanji akan menjaganya.”
Mendengar janji Ark, Silvia tersenyum lembut. Tampaknya sangat lega karena bisa melepaskan semuanya.
“Kalau begitu ... aku benar-benar merasa lega.”
Terbaring dalam pelukan orang yang dia sayangi untuk terakhir kalinya, Silvia pun mengembuskan napas terakhirnya dengan lega.
Sementara itu, Ark yang merasakan tubuh Silvia mulai mendingin dalam pelukannya memejamkan matanya. Saat itu juga, air mata mengalir melalui pipinya.
__ADS_1
Merasa menyesal karena tidak bisa menjaga apa yang dia miliki, tetapi juga sadar kalau pada kenyataannya ... dia hanyalah manusia kecil yang tak mungkin bisa menentang alam semesta seisinya.
>> Bersambung.