Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Gemetar Ketakutan


__ADS_3

“HENTIKAN!”


Mengabaikan teriakan orang-orang yang berlari ke arahnya, Draco meraih leher Serra kecil. Melihat ke arah gadis kecil yang menangis, ekspresi pria itu sedikit berubah. Meski begitu, gerakannya tidak berhenti. Saat itu juga, suara lain menggema di lorong.


“Misi selesai. Orang-orang sudah selesai diurus, Draco. Apa yang kamu lakukan di sini?”


Mendengar ucapan itu, gerakan Draco terhenti. Pria itu langsung melepaskan cengkeramannya.


Mattias langsung menangkap Serra. Dia langsung memeluknya sambil berguling. Caroline dan beberapa orang lain langsung menyerang Draco. Tanpa merubah ekspresinya, pria itu menghindari setiap serangan. Alih-alih membunuh, dia kemudian menendang dan memukul orang-orang itu.


Leon yang melihat pemandangan seperti itu terkejut. Dia kemudian melihat sosok gadis kecil yang menangis dalam pelukan ayahnya lalu ke arah Draco. Pria itu kemudian berteriak marah.


“APA YANG COBA KAMU LAKUKAN, DRACO?! APAKAH KAMU INGIN MELANGGAR PERINTAH BOS?!”


“Ketua sama sekali tidak mengatakan apa-apa, Leon. Dia-“


“CUKUP! Sudah cukup! Kamu bilang kepadaku untuk mengendalikan diri, tetapi kamu sendiri hampir kehilangan kendali.”


Leon berjalan ke arah Draco dengan ekspresi muram di balik topengnya. Pada saat dia lewat, semua orang langsung menyingkir. Mereka semua jelas merasa takut. Lagipula, menghadapi satu orang seperti Draco sudah merepotkan, apalagi ditambah orang lain yang hampir sama kuatnya.


Sampai di depan Draco, Leon kembali berkata.


“Aku tidak tahu misi apa yang Bos berikan padamu. Namun yang pasti, dia tidak akan memintamu membunuh anak kecil!”


BRUAK!


Leon langsung memukul Draco sampai jatuh ke tanah. Menerima pukulan semacam itu, Draco sama sekali tidak membalas. Dia hanya bangkit lalu berdiri diam.


Sementara itu, Leon langsung menghampiri Mattias yang memeluk Serra. Pria besar seperti beruang itu berjongkok di depan keduanya. Karena membuang senjatanya saat menangkap Serra, Mattias hanya bisa memeluk erat putrinya sambil menatap Leon dengan kejam.


Leon mengabaikan tatapan Mattias. Dia mengulurkan tangannya yang kasar dan penuh darah. Pria itu kemudian menggosok kepala gadis kecil itu dengan lembut sambil berkata.


“Sungguh gadis kecil yang pemberani. Apakah kamu berusaha melindungi keluargamu? Jika itu benar, kamu sangat luar biasa karena berhasil melakukannya. Tumbuh, terus tumbuh menjadi gadis yang kuat karena …


Dunia ini terlalu kejam bagi mereka yang bersikap lembut.”

__ADS_1


Mengatakan itu, Leon tertawa. Dia kemudian bangkit dan berjalan menuju ke arah Draco. Saat itu, Draco yang sedari tadi diam membuka mulutnya.


“Kalian tidak perlu memaafkan atau membuang kebencian kalian terhadap kami. Kami adalah pembunuh, dan akan selalu menjadi seperti itu. Namun kalian harus ingat, setiap keputusan yang kalian buat bisa saja berdampak besar terhadap semua orang di sekitar.


Contohnya kamu, pria yang merupakan ketua dari Emerald Goshawk.


Sebagai salah satu kelompok paling besar, kamu takut kekurangan kekuatan. Aku tahu kalau kamu adalah pria yang baik. Namun alih-alih menerima orang-orang yang memiliki pemikiran sama denganmu, kamu malah memilih untuk menerima beberapa preman acak karena mereka membuat kelompokmu lebih kuat.


Setiap keputusan memiliki sisi positif dan negatif. Di sisi positif, kekuatan kelompokmu memang meningkat. Namun di sisi lain, orang-orang seperti itu bisa saja memprovokasi musuh yang tidak bisa kalian tangani seperti kami.


Jika sejak awal kamu tidak menerima mereka, mungkin hasilnya tidak akan menjadi seperti ini.


Apakah itu menyakitkan? Mengetahui kalau sebenarnya kamu juga berperan untuk membunuh sahabat dan orang-orang kepercayaanmu?”


“DIAM!”


Bukannya Mattias, tetapi Caroline yang berteriak keras untuk menyela ucapan Draco. Menatap dua pria itu dengan ekspresi penuh dengan kebencian, dia kembali berkata.


“JANGAN MEMBUAT ALASAN BODOH UNTUK MENGALIHKAN DOSA KALIAN! KALIAN MEMBUNUH RATUSAN ORANG, DAN FAKTA ITU TIDAK AKAN BISA DIUBAH!”


“Kami memang membunuh ratusan orang. Namun menurut kami, hal tersebut memang sesuatu yang harus dilakukan.”


“Ya. Itu temanmu, bukan teman kami.


Kami hanya melihat gambaran lebih besar. Mungkin kami membunuh ratusan orang, tetapi kami juga menyelamatkan ribuan orang untuk menghindari kematian sia-sia.


Dengan pengorbanan ini, kelompok lain tidak akan mencoba untuk membuat masalah dengan kami. Mereka bahkan akan memikirkan baik-baik apakah mengorbankan banyak orang untuk melawan kami pantas dilakukan atau tidak.


Jika kalian tidak berkorban, mungkin beberapa kelompok akan bersatu untuk menentang kami karena tidak yakin bisa memenangkan kami sendirian. Pada saat itu, dua ribu orang? Tiga ribu orang? Jumlah itu akan mati di tangan kami.


Dengan mengorbankan ratusan orang, mungkin tiga ratus atau empat ratus, kami bisa mencegah pertempuran besar yang mungkin terjadi dan mencegah lebih dari dua ribu orang kematian. Bisa dibilang, dari 100%, kami mengorbankan 20% untuk menyelematkan 80% sisanya.


Bukankah itu hebat?”


Draco membuka kedua tangannya lalu tertawa seperti orang gila. Saat mendengar tawanya, orang-orang di sana langsung gemetar ketakutan.

__ADS_1


“DASAR ORANG GILA!” teriak Caroline.


“Kalian mungkin menganggap kami gila, tetapi di dunia yang sudah gila ini … apa artinya kegilaan? Hal semacam itu tidak ada artinya.


Setelah ini, berita kejatuhan Emerald Goshawk akan menyebar. Saat itu, kalian bisa membuat pilihan. Pertama, kalian bisa menyatukan semua orang di kota untuk menyerang kami. Atau pilihan lainnya … yaitu menjauhi dan mengingatkan orang-orang agar tidak membuat masalah dengan kami.


Selamat! Sekarang kalian adalah pahlawan yang mengorbankan nyawa untuk menyelamatkan lebih banyak orang! Jadi, berikutnya … tanggung jawab ribuan nyawa ada di tangan kalian!


Omong-omong, aku akan mengingatkan sesuatu yang penting.”


Draco mencabut kembali tombaknya lalu berbalik pergi sambil berkata.


“Di bawah Ketua, selain aku dan Leon … ada empat orang yang setara, atau bahkan lebih kuat dari kami.”


Setelah mengatakan itu, Draco berjalan pergi melewati lorong yang dipenuhi dengan mayat dan darah. Leon tidak mengatakan apa-apa, hanya mengikuti Draco untuk pergi dari tempat itu.


Pada saat mereka lewat, tidak ada yang berani menghalangi mereka. Semua orang menyingkir dan menunduk, bahkan tidak berani melihat ke arah mereka.


Sampai di lantai bawah, tiga puluh orang lain sudah menunggu. Mereka semua berbaris rapi dengan jubah yang dipenuhi dnegan darah. Menyarungkan pedang, mereka mengikuti Draco dan Leon pergi dari markas Emeral Goshawk yang begitu sunyi.


Menyisakan keheningan yang bercampur dengan rasa sakit dan keputusasaan.


***


Sekitar lima jam kemudian, pada saat matahari terbit.


“Apakah kamu sudah puas, Draco?”


Melihat tubuh zombie yang berserakan di sepanjang jalan, Leon menghela napas panjang. Dia kemudian menatap ke arah Draco yang berdiri menghadap timur sambil merasakan sinar mentari. Mencoba menghangatkan tubuh dan hatinya yang menjadi semakin dingin.


Draco menancapkan tombak ke tanah lalu jatuh berbaring. Mengabaikan darah yang membasahi jubah dan rambutnya, pria itu membuka topengnya. Saat itu, wajah penuh bekas luka dan tampak sedih menatap ke arah langit kemerahan dalam diam.


Setelah beberapa saat, dia membuka mulutnya.


“Hey, Leon. Apa yang kita lakukan ini … adalah sesuatu yang benar, kan?”

__ADS_1


Meski nada berbicaranya datar dan dingin, tetapi ada jejak keraguan dalam ucapannya.


>> Bersambung.


__ADS_2