Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Tidak Memiliki Alasan


__ADS_3

Setelah memberi instruksi kepada orang-orangnya untuk melakukan sesuatu, Ark langsung menghampiri Demonte.


“Di antara mereka, apakah ada temanmu? Atau mungkin, orang yang kamu anggap baik?”


Mendengar pertanyaan dari Ark, Demnte sedikit terkejut. Dia kemudian menatap ke arah pemuda itu dengan ekspresi curiga. Senyum yang sebelumnya selalu terpasang di wajahnya kali ini menghilang. Pria itu menjadi sedikit khawatir, bahkan agak cemas.


“Bagaimana dengan orang-orang yang akan datang? Apakah ada teman atau keluargamu di sana?”


Ark melihat ke arah Demonte. Melihat ekspresi pria itu, dia sedikit tersenyum.


“Jadi begitu …”


Setelah mengatakan itu, Ark berbalik. Belum sempat berjalan beberapa langkah, suara cemas Demonte terdengar dari belakang.


“Apa yang akan kamu lakukan?”


“Karena tidak ada kenalanmu, aku memutuskan untuk melakukan beberapa permainan kecil. Lagipula, aku sedang sedikit bosan.”


“…”


Demonte menatap ke arah Ark dengan ekspresi bingung. Namun, dibandingkan kebingungannya, rasa penasaran pria itu lebih tinggi. Dia penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh lelaki berjubah dan bertopeng itu.


Ark kemudian menghampiri Saito lalu berkata dengan tenang.


“Tinggalkan dia, bunuh dua orang lain. Sisa satu orang … lepaskan.”


Setelah mengatakan itu, Ark kemudian memilih pergi. Dia berhenti sejenak lalu menambahkan.


“Untuk yang terakhir, patahkan satu atau kedua tangannya sebelum kamu melepaskannya.”


Setelah mengatakan itu, Ark benar-benar pergi.


***


Sekitar satu setengah jam kemudian.


Di depan sebuah toko tiga lantai yang terbengkalai, sosok pria yang tampak garang berjalan sambil tertatih. Satu tangannya hilang, sementara tangan lainnya bengkok ke arah lain. Dia menggertakkan gigi dengan ekspresi penuh dengan kemarahan dan kebencian.


Melihat ke arah bangunan tiga lantai di depannya, pria itu tampak lega. Saat itu juga, beberapa orang keluar dari tempat itu lalu menghampirinya.


“Apa yang terjadi?”


“Aku ingin melapor!”


“Apakah ada yang salah dengan hutan?”

__ADS_1


“Kamu diam dulu. Jelas yang membuatnya seperti ini bukanlah binatang buas.”


Saat itu, sosok pria botak kurus dengan tubuh penuh tato dan tindik di tubuhnya keluar dengan ekspresi marah. Dia segera menghampiri pria itu. Namun, alih-alih menghiburnya atau meminta pertolongan agar segera diobati, dia malah menendang pria itu sampai berguling-guling di lantai.


“Wakil ketua?” Sosok penjaga menatap pria itu dengan ekspresi terkejut.


“Dia sangat bodoh.” Pria botak itu menggaruk kepalanya dengan ekspresi kesal. “Dimana tamn-temanmu yang lain? Mereka mati, kan?”


“I-Iya.” Pria yang jatuh itu menjawab sambil menahan rasa sakit.


“Kemudian, aku tanpa sengaja berhasil lolos. Kamu pikir kamu beruntung, lalu kembali untuk melapor dan membalas dendam, bukan?”


“B-Benar, Wakil Ketua.”


“Itulah kenapa aku bilang kamu bodoh! Orang-orang yang menangkapmu jelas ingin melacak keberadaan kami. Apa yang kamu lakukan adalah memimpin mereka ke arah kami!”


Setelah mondar-mandir sebentar, pria botak itu langsung memberi perintah.


“Kumpulkan orang-orang. Kita semua akan pergi!”


“T-Tapi Wakil Ketua, mereka sama sekali bukan dari kelompok terkenal. Jumlah mereka juga kalah banyak jika dibandingkan dengan kita.”


Mendengar itu, si botak tampak terkejut. Dia kemudian menatap ke arah pria itu dengan ekspresi serius.


“Saya yakin kalau mereka sama sekali bukan dari kelompok besar. Juga, jumlah mereka sekitar 50 orang. Separuh dari jumlah kita.”


Pria botak itu tertegun. Dia kemudian memikirkan beberapa alasan. Setelah beberapa saat, pria itu menyeringai.


Menurutnya, Ark dan teman-temannya berpikir kalau jumlah mereka yang datang saat ini sedikit, padahal jumlahnya lebih dari seratus orang. Memikirkan kalau musuhnya berpura-pura menjadi serigala padahal hanyalah domba, pria botak itu merasa senang.


“Suruh semua orang berbariis dan bersiap. Jika kita tidak bisa menaklukkan mereka dengan damai, kita harus menghancurkan mereka.”


Setelah semua orang berkumpul dan menunggu cukup lama, pria botak itu merasa kalau ada yang salah. Dia curiga kalau bawahannya ternyata memang melarikan diri karena keberuntungannya. Namun ekspresinya berubah ketika melihat satu orang yang berjalan dari kejauhan.


Ya. Hanya satu orang.


Orang itu memakai jubah dan topeng hitam. Di tangan kirinya, dia menyeret tong sampah berkarat yang dipenuhi dengan kerikil. Suara logam diseret itu jelas membuat mereka semua memperhatikannya. Lagipula, suaranya begitu berisik dan mengganggu telinga.


Saat semua orang masih bingung dan belum bereak, orang itu terus berjalan dan akhirnya berhenti sekitar tiga puluh meter dari mereka.


Saat itu juga, suara malas dan monoton terdengar.


“Angkat tangan atau aku akan menembak.”


Mendengar itu, semua orang tertegun. Melihat ke arah sosok berjubah dan banyak kerikil berukuran satu ruas jari di tempat sampah, mereka semua kemudian tertawa terbahak-bahak. Salah satu dari mereka bahkan langsung berkata.

__ADS_1


“Menembak? Dengan apa? Kerikil kecil di sampingmu?”


BANG!


Kepala pria itu tiba-tiba meledak. Merasakan darah, daging, dan serpihan tulang yang terciprat ke orang-orang di sekitarnya, mereka semua langsung terdiam. Mereka kemudian melirik sosok berjubah yang mengambil satu kerikil dari tempat sampah lalu memiringkan kepalanya. Saat itu juga, bulu kuduk mereka langsung berdiri.


LARI!


Itu adalah satu kata yang langsung terlintas dalam benak mereka. Namun sebelum mereka bertindak, suara malas dan monoton kembali terdengar.


“Diam di tempat dan angkat tangan kalian.”


Mendengar kalimat tersebut, ekspresi mereka semua berubah. Mereka menatap ke arah Ark dengan ngeri. Merasa bingung apakah yang sedang mereka hadapi saat ini masih manusia atau bukan. Namun karena merasakan krisis, mereka akhirnya memilih untuk angkat tangan dan diam di tempat.


“Siapa kamu dan apa yang kamu inginkan dari kami?”


Melihat Ark hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa setelah mereka diam, pria botak itu langsung bertanya. Dia merasa bingung sekaligus marah. Jelas, dari tindakannya, pihak lain tidak memiliki dendam atau alasan khusus untuk menyerang mereka. Jadi tindakan pemuda itu benar-benar membuat mereka lebih bingung.


“Tidak ada.” Ark menggelengkan kepalanya. “Bukankah kalian juga tidak memiliki alasan kuat ketika merampok, menjarah, atau menculik wanita?”


“…”


Ucapan datar pemuda itu membuat mereka terdiam. Meski suaranya begitu monoton, tetapi mereka semua merasa sedang diejek. Hal tersebut membuat mereka semakin marah.


“Jika tidak ada, kenapa kamu membuat masalah dengan kami? Apakah kamu pikir kami takut? Kamu pikir kamu kuat? Jadi apa? Kami memiliki 100 orang di sini!”


“Kalian boleh menyerangku jika kalian mau.”


Mendengar ucapan Ark, mereka semua menjadi bimbang. Mereka jelas marah, tetapi mereka juga tidak bodoh. Pasti ada alasan kenapa pemuda tersebut bisa begitu santai menghadapi lebih dari seratus orang. Itulah yang membuat mereka waspada.


Hanya saja, ucapan si botak langsung membuat mereka tidak memiliki pilihan.


“Maju! Bunuh dia! Meski kuat, dia hanya satu orang. Dia juga hanya membunuh satu orang. Itu pasti trik bodoh yang digunakan untuk membuat kita takut! BUNUH DIA!!!”


Bersama dengan ucapan pria botak itu, lebih dari seratus orang langsung menarik senjata dan berlari ke arah Ark dengan ekspresi penuh kemarahan.


Pada saat itu, Ark langsung mengambil segenggam kerikil. Dia langsung memasang gaya layaknya seorang pelempar bola dalam permainan baseball. Melihat semua orang masuk dalam jarak 10 meter, dia langsung melempar kerikil dengan sekuat tenaga.


Swoosh! Crash! Bang!


Beberapa kepala diledakkan. Beberapa tangan atau kaki terputus. Bahkan, ada beberapa orang dengan perut dilubangi.


Melihat belasan orang jatuh ke jalanan, sebagian mati dan sebagian berteriak kesakitan, orang-orang yang awalnya berniat membunuh Ark langsung berhenti berlari. Mereka hanya bisa melihat ke arah pemuda itu dengan ekspresi ngeri.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2