
Sekitar satu jam kemudian.
“Jadi ... apakah kalian sudah percaya sekarang?”
Dipukuli hitam dan biru tanpa dibunuh, sepuluh orang anggota tim duduk tegak sambil mendengarkan ucapan Jay. Mendengar pertanyaan itu, mereka mengangguk seperti ayam mematuk nasi.
“Namamu Kyle, kan?” tanya Jay.
Kyle, pria seusia Jay dengan tubuh tinggi dan perawakan kurus mengangguk ringan. Dia adalah orang yang bertugas sebagai pengawas. Orang yang Jay temui pertama kali.
“Aku sudah bilang kalau aku datang dengan damai, kan? Kenapa kamu sama sekali tidak mendengarnya?”
“...”
Kyle hanya diam. Dia tidak menjawab, membantah, atau mengeluh. Lagipula, di dunia berantakan semacam ini, tidak mungkin bagi mereka untuk mempercayai ucapan acak semacam itu.
“Dia melakukannya karena itu memang tugasnya. Sebagai seorang pengelana dan orang yang bertahan di alam liar begitu lama, seharusnya kamu tahu kalau terlalu banyak hal aneh di dunia ini. Selain itu, kita tidak bisa mempercayai seseorang hanya karena mereka manusia.”
Pria paruh baya yang memimpin tim, Brandon berkata dengan ekspresi serius. Dia terus mengamati Jay, tampaknya terus mencoba memastikan apakah pria itu benar-benar manusia atau monster yang menyamar.
Wajar saja jika Brandon curiga. Lagipula, tidak ada manusia normal yang memiki kekuatan, daya tahan, dan kecepatan semacam itu.
Walau kata-kata Jay begitu lugas dan terdengar bisa dipercaya, Brandon dan rekan-rekannya tidak langsung mempercayainya.
Jay juga tahu kalau orang-orang itu belum mempercayainya. Menyerah untuk melakukan hal-hal dengan cara lembut, pria itu akhirnya langsung bertanya tentang intinya.
“Sebagai warga kota, kalian pasti tahu Golden Maple Group, kan? Bagaimana dengan kondisi orang-orang itu? Pemilik Golden Maple dan para karyawannya?”
Mendengar ucapan Jay, ekspresi sembilan orang berubah menjadi serius. Mereka langsung menatap ke arah Jay dengan tatapan penuh kebencian. Sementara itu, satu orang lain, Brandon tertawa terbahak-bahak.
“HAHAHAHA!”
Mendengar tawa gila dari mulut Brandon, Jay merasa sangat marah. Entah kenapa, dia benar-benar merasakan firasat buruk.
Pria itu langsung menghampiri Brandon lalu menarik kerahnya dengan ekspresi marah.
“Apa yang lucu, Pak Tua?! Katakan! Katakan padaku apa yang kamu ketahui tentang Golden Maple Group!”
“HAHAHAHA!”
Bukannya takut, Brandon malah tertawa terbahak-bahak. Dia menatap ke arah Jay lalu berkata dengan ekspresi main-main.
__ADS_1
“Aku penasaran. Sepertinya kamu benar-benar tidak tahu tentang Golden Maple. Apakah kamu subjek gagal yang dibuang, mencoba mencari kebenaran? Atau kamu benar-benar datang dari luar kota?”
“KATAKAN SAJA YANG KAMU TAHU!” teriak Jay dengan ekspresi muram.
Brandon sama sekali tidak menjawab. Dia menatap ke arah Jay dengan senyum main-main. Saat itu juga, suara Kyle tiba-tiba terdengar.
“Tampaknya kamu benar-benar datang dari luar kota. Apakah kamu memiliki kerabat dalam Golden Maple Group? Jika benar, maka sebaiknya kamu menyerah saja untuk menemui mereka. Lagipula, sebagian dari mereka sudah mati.”
“Bukankah lebih tepatnya dijadikan kelinci percobaan?” ucap Brandon dengan nada penuh sarkasme. “Mereka menangkap orang-orang untuk dijadikan subjek uji coba pembuatan manusia super atau semacamnya. Mereka hanyalah orang-orang gila, jadi aku sarankan kamu tidak mencoba mendekati kelompok terkutuk itu.”
“TIDAK MUNGKIN!” teriak Jay dengan wajah marah dan tidak percaya.
Napas pria itu menjadi tak karuan. Tubuhnya gemetar, benar-benar tidak mempercayai apa yang dia dengar.
“HEHEHEHE! Tampaknya kamu mengenal beberapa orang dengan jabatan tinggi, Nak.” Brandon menyeringai. “Orang baik hati, suka menolong orang-orang yang membutuhkan itu tidak lagi menjadi seseorang yang kamu kenal. Jika kamu tidak percaya, lebih baik kamu memeriksanya dengan mata kepalamu sendiri!”
BRUAK!
Jay langsung menghajar Brandon sampai wajahnya bersimbah darah. Pria itu kemudian mundur beberapa langkah dengan tubuh gemetar. Sama sekali tidak bisa membayangkan kalau Golden Maple, perusahaan milik keluarganya melakukan hal semacam itu.
Jay paling membenci praktik semacam itu. Ibunya selalu mengajarkannya perilaku baik, jadi sama sekali tidak percaya ketika mendengar Golden Maple Group melakukan uji coba pada tubuh manusia.
Jay sangat membenci Imperial Tiger yang dulu melakukan percobaan semacam itu. Menganggap mereka seperti iblis dan memusuhi mereka. Namun, sekarang dia benar-benar mendengar kalau orang tuanya melakukan hal semacam itu.
“Jangan salahkan Pak Brandon. Alasan kenapa dia seperti itu setelah mendengar nama Golden Maple karena putranya ditangkap dan dijadikan sebagai kelinci percobaan.
Bukan hanya Pak Brandon. Cukup banyak rekan kami yang menjadi korban Golden Maple. Banyak orang di kota ini mengetahui itu. Bahkan jika menemukan tim atau kelompok lain, jawaban mereka pasti juga sama.”
“...”
Mendengar itu, Jay diam saja. Ekspresinya berubah menjadi lebih tenang. Jejak kesedihan muncul di matanya.
Setelah beberapa saat, pria itu menatap ke arah Kyle lalu berkata.
“Bisakah kamu menujukkan arah tempat di mana markas Golden Maple Group baru berada? Ada sesuatu yang ingin kupastikan dengan mata kepalaku sendiri.”
Mengatakan itu, Jay menunjukkan senyum lembut bercampur dengan kesedihan di wajahnya.
***
Sementara itu, di suatu area perbatasan antara lingkaran luar dan tengah.
__ADS_1
“Cih! Kenapa kamu tidak mengusir wanita itu, Bos?!”
“Ya. Lihat saja penampilannya. Benar-benar membuat kita tidak bisa makan! Benar-benar menjijikkan!”
“...”
Beberapa orang berkerumun. Saat itu, mereka melirik ke arah sudut ruangan luas. Di sana, tampak sosok yang duduk menyendiri.
Penampilan wanita itu tampak sangat berantakan. Rambutnya acak-acakan. Separuh kepalanya dibungkus oleh kain hitam. Wajahnya ditutupi dengan kotoran. Pakaiannya sangat usang, dipenuhi dengan tambalan.
Sosok pria yang merupakan ketua dari kelompok itu berkata.
“Meski penampilannya sangat buruk, tetapi dia sangat berguna. Wanita itu memiliki kemampuan untuk melawan zombie dan binatang bermutasi. Dia berani bertarung dengan kejam.
Itu menjadi alasan kenapa dia bisa tinggal di tempat ini.”
“Hahaha. Ternyata kamu bisa begitu kejam, Ketua!”
“Ya. Bahkan jika adalah satu-satunya wanita di kelompok, tidak akan ada yang mau menghabiskan malam dengannya.”
“Angelica? Wajah busuk dan jelek semacam itu benar-benar masih dipanggi malaikat?”
“...”
Mendengar gelak tawa, Angelica sama sekali tidak memprotes. Dia hanya duduk di sudut sambil memakan buah berbentuk aneh seukuran kepalan tangan dalam diam.
Pada saat itu juga, suara panik tiba-tiba terdengar dari luar bangunan.
“Musuh! Serangan musuh!”
“...”
Suara menghilang dan suasana langsung menjadi sunyi. Orang-orang dalam ruangan langsung menjadi serius. Mereka mengambil senjata lalu keluar dari ruangan.
Keluar dari ruangan, semua orang langsung terkesiap ketika melihat banyak tubuh yang terpotong-potong dan darah menggenang di seluruh lantai. Saat itu juga, tatapan semua orang jatuh ke sosok yang berdiri menghalangi pintu keluar.
Rambut putih panjang diikat ke belakangan. Mata merah bagai rubi menatap mereka dengan pandangan tak acuh. Rokok menyala menggantung di bibirnya.
Mengambil rokok dengan tangannya lalu mengembuskan asapnya, sosok pemuda itu kemudian berkata.
“Orang-orang yang masih hidup, kah?”
__ADS_1
>> Bersambung.