
‘Kenapa? Kenapa hal semacam ini harus terjadi kepadaku? KENAPA?’
Sambil terus melarikan diri menjauh dari markas Spirit of Fire, berbagai pertanyaan muncul dalam kepala Evans. Meski dirinya tidak begitu ingat kenapa dia terus berlari, tetapi pemuda itu tidak bisa berhenti. Air mata terus mengalir membasahi wajahnya ketika mengingat kejadian yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Adegan yang ingin dia lupakan tetapi tidak bisa.
***
Beberapa yang lalu.
Dalam tempat tinggal Evans dan Brian, banyak orang berkumpul. Mereka menyandera Brian agar Evans mengungkapkan rahasianya.
“Kamu tidak perlu mengatakan semuanya karena mereka pasti tidak akan menepati janji, Evans.”
“Diam! Jika kamu bicara lagi-“
Pria paruh baya itu berteriak kejam untuk mengancam, tetapi langsung terdiam ketika melihat apa yang dilakukan Brian. Dia menahan tangan orang yang menyanderanya. Mengarahkan bilah itu ke lehernya sendiri dengan senyum penuh percaya diri.
“Apa yang kamu lakukan, Brian?” tanya Evans dengan mata terbelalak.
“Aku hanya melakukan apa yang aku perlu lakukan, Evans. Kamu telah membuat keputusan yang tepat, jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri. Mungkin sedikit sembrono, tetapi tidak ada yang perlu disesali.”
“Apa yang kalian coba kalian lakukan?!” Pria paruh baya itu berkata dengan nada marah.
“Aku tidak melakukan apa-apa, Pak Tua. Kamu hanya menyandera orang yang salah. Apa kamu pikir aku takut mati? Bahkan jika aku yang paling menyedihkan dari delapan bersaudara, tetapi aku bukan pengecut.”
Brian mengalihkan pandangannya ke arah Evans.
“Kamu tidak mungkin membawaku pergi karena luka ini, jadi ...
Evans, kamu harus lari dan pergi dari sangkar kecil ini! Dunia luar yang lebih luas menunggumu!”
Brian tersenyum lembut. Memiringkan kepalanya sambil menatap tepat ke mata Evans, dia kembali berkata.
“Teruslah hidup dengan baik, Kawan!”
Setelah mengatakan itu, Brian langsung mencengkeram erat tangan orang yang menyanderanya lalu menggorok lehernya sendiri.
BRUK!
Tubuh pemuda itu jatuh ke lantai. Darah mulai mengalir membasahi lantai ruangan. Kejadian itu begitu cepat sampai-sampai semua orang tidak sempat merespon.
Evans langsung jatuh berlutut di depan tubuh Brian yang bersimbah darah. Saat itu juga, para tetua langsung memberi perintah.
“Kelilingi dia! Jangan biarkan dia kabur!”
Seketika, banyak orang memenuhi ruangan dan mengarahkan senjata mereka ke arah Evans.
Memiliki ekspresi kosong di wajahnya, Evans bangkit seperti robot. Dia mengingat pesan terakhir dari sahabatnya. Alih-alih membantai orang di sekitar, pemuda itu langsung menerobos pengepungan lalu melompat lewat jendela.
Langsung melesat pergi dari markas Spirit of Fire.
__ADS_1
***
Setelah semua itu, Evans berlari. Pemuda itu terus belari tanpa menghiraukan kakinya yang mulai terluka dan berdarah.
‘Terus hidup dengan baik, Kawan!’
Kalimat itu merobe-robek kewarasan Evans. Dia berlari sambil tersenyum, tetapi air mata tidak bisa berhenti mengalir.
‘Bahkan jika dunia ini menjadi begitu gila dan kejam, kita pasti bisa mengatasinya bersama!’
Mengingat delapan orang yang berjanji untuk terus bersama, Evans menutup wajahnya dengan tangan kirinya sambil terus berlari. Dia tersandung sampai jatuh, tetapi langsung bangkit dan kembali berlari. Sepertinya takut kalau ada yang akan mengejarnya.
Hanya saja, Evans sendiri tidak merasa sedang melarikan diri dari kejaran Spirit of Fire. Namun melarikan diri dari masa lalunya sendiri.
Mengingat sosok pemuda pirang yang selalu berperilaku sebagai seorang kakak, membawa sebuah tombak sambil menoleh ke arahnya dan enam orang lainnya sebelum pergi untuk menarik perhatian ratusan zombie, Evans berlari dengan tubuh gemetar.
‘MAAF!’
Mengingat sosok pemuda dengan potongan rambut seperti batok kelapa dan tampak cupu dengan kacamata, tubuh Evans kembali gemetar. Pemuda yang tampak lemah itu menyuruhnya bersembunyi di sebuah lemari sementara dia sendiri bertarung dengan para kanibal dan berakhir dipotong-potong. Mengingat senyum itu, mata Evans menjadi semakin merah.
‘MAAF!’
Sosok pemuda dengan tubuh kekar dan selalu berkata bahwa dirinya akan menjadi petinju profesional muncul dalam benak Evans. Pemuda yang memiliki pemikiran sederhana dan lebih polos dibandingkan orang lain dalam kelompok itu berdiri tenang dengan luka bekas gigitan di lehernya. Dia menyuruh Evans dan empat orang lainnya pergi karena mengetahui dirinya tidak bisa bertahan lagi.
Memilih untuk menghadang para binatang buas untuk mengulur waktu bagi teman-temannya!
‘MAAF!’
‘MAAF!’
Bayangan dua orang pemuda yang menyuruh dirinya dan Brian bersembunyi muncul dalam benak Evans. Sementara dikhianati karena kesalahannya, mereka berdua memilih untuk menanggung bebannya. Bagaimana mereka diseret pergi anggota Crux of Shadow tampak jelas di kepala Evans.
‘MAAF!’
Gambar berubah menjadi sosok Brian yang tersenyum ke arahnya. Dengan ekspresi paling bahagia di wajahnya setelah mengucapkan kata-kata terakhirnya, pemuda itu langsung memotong tenggorokannya sendiri.
Mengingat bahwa dirinya telah mendapatkan kekuatan tetapi sama sekali tidak bisa menyelamatkan pemuda yang selalu dia anggap sebagai saudaranya, Evans tertawa dengan ekspresi gila.
‘MAAF! MAAFKAN AKU!’
BRUAK!
Pemuda itu tersandung sebuah batu besar lalu berguling-guling di jalanan. Berbaring terlentang sambil melihat langit, tubuhnya gemetar. Senyum, tangis, sedih, bahagia, sakit ... ekspresinya terus berubah ketika mengingat berbagai kenangan yang muncul dan mencabik-cabik kewarasannya.
Pada saat itu, Evans melihat lebih dari dua puluh grey hound muncul dan mengelilinginya. Entah kenapa, pemuda itu merasa kalau makhluk-makhluk itu tersenyum ke arahnya. Senyum penuh penghinaan dan rasa jijik.
Evans pun tertegun sejenak. Dia kemudian bangkit sambil tertawa gila.
“HAHAHAHA! KALIAN! BAHKAN BINATANG SEPERTI KALIAN MENERTAWAKAN KEBODOHANKU!”
__ADS_1
“AKU BENAR-BENAR BODOH!”
Setelah mengatakan itu, Evans langsung melesat. Dia langsung bertarung dengan para grey hound tanpa mempedulikan kondisi fisiknya. Bahkan ketika tangan atau kakinya digigit, dia hanya terus memukul kepala para grey hounda sampai kepalan tangannya penuh dengan darah.
“BODOH! BODOH! BODOH!”
Evans berteriak dan memukul dengan kejam dan liar.
“MATI! MATI! MATI!”
Setelah memukuli lebih dari dua puluh grey hound sampai mati, Evans berbaring terlentang di jalanan yang dipenuhi genangan darah. Tampaknya benar-benar tidak mempedulikan kondisi tubuhnya yang penuh dengan luka.
Sementara itu, di beberapa bangunan sekitarnya, lebih dari dua puluh orang berjubah mengawasinya. Pandangan mereka tertuju ke arah tertentu. Di sana, tampak sosok pemuda dengan pakaian serba putih berjalan di jalan yang penuh dengan darah dengan ekspresi tak acuh.
‘Ketua ...’
Semua orang menghirup napas dingin, sama sekali tidak mengerti apa yang ingin dilakukan oleh sosok yang dijuluki iblis putih itu.
Ark berjalan mendekat dan berhenti beberapa meter di depan Evans. Saat itu juga, suasana langsung menjadi sangat sunyi.
“Apakah itu kamu, Kak Archie? Hah?! Apakah aku gila karena berhalusinasi?”
“Kenapa kamu begitu putih, Kak Archie? Apakah ini surga? Eh? Bahkan jika aku sudah mati, apakah orang sepertiku pantas masuk surga?”
Evans merangkak perlahan tapi pasti. Sampai di depan Ark, dia memegang kaki pemuda itu dengan ekspresi penuh keraguan. Namun saat dia benar-benar bisa menyentuh tubuh kakaknya dan menyadari kalau semuanya bukan ilusi, air mata kembali pecah.
“Itu benar-benar kamu, Kak Archie! HAHAHAHA!”
“Sungguh! Itu benar-benar kamu!”
“Apakah kamu kecewa kepadaku, Kak Archie? Adikmu ini benar-benar mengecewakan, bukan? Dia benar-benar membunuh orang-orang yang dia anggap sebagai saudaranya!”
Evans memeluk kaki Ark seperti anak kecil yang melaporkan kesalahan setelah pulang ke rumah. Sambil terisak dengan penampilan berlumur darah, pemuda itu bertanya dengan suara serak.
“KATAKAN PADAKU, KAK? APAKAH ... APAKAH ORANG SEPERTIKU BENAR-BENAR PANTAS UNTUK HIDUP?”
Melihat ekspresi mengerikan dan kejam di wajah adiknya, Ark hanya diam. Dia jelas sadar kalau apa yang dilakukannya terlalu kejam. Namun pemuda itu tidak begitu peduli karena hal ini akan membuat adiknya tumbuh. Bahkan tumbuh lebih cepat.
Kebencian akan menjadi bahan bakar bagi Evans untuk terus berjuang menggapai kekuatan. Pengalaman menyakitkan itu juga akan membuatnya sadar betapa sakitnya kehilangan orang-orang yang berharga baginya, sehingga dia lebih menghargai orang-orang yang mempercayainya.
Rasanya Ark seperti menjatuhkan adiknya sendiri ke dalam jurang gelap.
Jatuh ke jurang yang begitu dalam, lalu kembali merangkak keluar hanya untuk membalas dendam!
Melihat adiknya yang tampak begitu menderita, memeluk kakinya dengan tubuh penuh luka sambil menangis, ekspresi Ark tampak begitu datar. Melihat adiknya yang hampir hancur berkeping-keping, dia hanya berpikir.
‘Bahkan jika kamu membenciku karena melakukan ini, aku akan tetap melakukannya, Evans.’
‘Karena ... aku melakukan ini untuk kebaikanmu sendiri.’
__ADS_1
>> Bersambung.