Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Naga Tanpa Sayap?


__ADS_3

BRUAK!


Selesai menyerap miracle root, Leon langsung keluar dari gedung. Dia langsung menerobos jendela lantai dua lalu jatuh ke jalan dengan keras. Pria itu kemudian langsung menendang dan memukul bangkai mobil dengan keras.


Mobil demi mobil diterbangkan dengan mudah oleh setiap serangannya.


Leon langsung meraung puas. Tampaknya kekuatan baru membuatnya lebih bersemangat. Dia kemudian melirik ke arah Draco yang sudah keluar dari gedung sambil berkata.


“Kamu tertinggal jauh, Draco! Dengan kekuatanku yang sekarang-“


“Kekuatan murni penting, tetapi bukan segalanya, Leon. Bahkan jika kuat, seranganmu benar-benar masih mudah diprediksi. Jika berurusan dengan musuh di level yang sama ... kamu pasti tampak payah.”


Draco langsung menyela. Melihat Leon yang hendak meledak marah, dia menambahkan.


“Sebaiknya kamu mencari miracle root dengan atribut ‘otak’ ke depannya, Leon. Semakin lama, bukannya semakin cerdas, aku rasa otakmu semakin mengecil. Sebaiknya kamu buru-buru sebelum otakmu menghilang sepenuhnya.”


“Setidaknya pria kurus sepertimu tidak menjadi lawanku, Kadal Buntung!”


“Coba katakan sekali lagi, Kucing Gemuk?!”


“...”


Melihat keduanya hendak ribut, Ark menghela napas. Dia langsung berkata.


“Cukup. Karena urusan di tempat ini telah selesai, kita langsung pergi ke tempat berikutnya.”


“YA!” jawab keduanya serempak.


Ark hanya menggeleng ringan. Dia merasa kurang mengerti hubungan Leon dan Draco. Keduanya jelas berteman dekat, tetapi sering ribut. Hampir selalu bertarung, tetapi tidak benar-benar membenci. Kata ‘rival’ tampaknya cocok untuk mereka berdua.


Setelah mendapatkan miracle root untuk Leon, Ark langsung mengajak mereka pergi ke tempat berikutnya.


Pergi mencari miracle root untuk Draco!


***


Beberapa jam kemudian, Ark dan kedua rekannya akhirnya tiba di lokasi.


Tempat yang mereka datangi adalah sebuah bangunan empat lantai yang dipenuhi dengan lumut dan rerumputan. Dibandingkan beberapa bangunan di sekitarnya, tempat tersebut masih cukup mencolok.


Melihat Huginn dan Muninn berputar-putar di langit, Ark tahu kalau target mereka masih berada di tempat. Sama sekali tidak melarikan diri dari sana.


Ark langsung bergegas pergi menuju ke lokasi. Tidak cepat atau lambat, dia dan dua orang lain mengamati area sekitar untuk memastikan semuanya aman dan tidak ada sergapan musuh. Akhirnya, mereka pun melihat makhluk itu di atas atap gedung.

__ADS_1


Jika diperhatikan, makhluk itu mirip dengan monitor lizard dengan ukuran yang lebih besar. Hanya saja, jika dilihat sekilas, makhluk itu jelas memiliki perbedaan besar jika dibandingkan dengan monitor lizard.


Reptil tersebut memiliki memiliki tubuh panjang dan ramping. Ekornya lebih panjang daripada tubuhnya. Sisiknya tampak tidak rata, terkesan menonjol dan tidak beraturan. Tampak duri-duri besar tepat di sepanjang tulang punggungnya, membuat makhluk tersebut terlihat lebih ganas.


Ada juga sepasang tanduk di kepala yang melengkung ke belakang, membuat bagian kepalanya sedikit mirip dengan naga barat dalam cerita-cerita.


“Benar-benar terlihat tampan, mirip dengan Naga.”


Draco bergumam dengan mata berkilau, tampaknya sangat puas dengan penampilan makhluk yang ditargetkan sebagai miracle root ke 4 miliknya.


“Apanya yang Naga? Paling banyak, itu hanya kadal dengan tubuh diperbesar secara acak.”


Leon berkata dengan nada acak dan tidak puas. Menurutnya, hanya satu makhluk yang pantas dianggap sebagai Naga yang sebenarnya. Ya ... sosok Naga Hitam yang pernah melewati kota sebelumnya.


Leon tidak tahu apakah ada Naga lain di luar sana, tetapi apa yang ada di depan mata mereka bukanlah Naga. Paling banyak, hanya makhluk tiruan versi lite. Sama sekali tidak ada apa-apa jika dibandingkan dengan aslinya.


“Kamu hanya iri.” Draco berkata dengan ekspresi penuh percaya diri.


“Terserah.” Leon mengangkat bahu.


Mengabaikan kedua orang yang tampak bersemangat, Ark terus memandang ke arah lawan. Melihat sosok kadal bermutasi level 4 yang tampak unik tersebut, dia menjadi lebih serius.


Setelah berpikir sebentar, Ark akhirnya bertanya.


Mendengar pertanyaan itu, Leon dan Draco langsung menatap ke arah Ark dengan ekspresi terkejut. Mengubah ekspresi dengan senyum penuh niat bertarung, keduanya membalas serempak.


“Ya, Bos!”


Ark melihat tekad di mata mereka berdua. Pemuda itu mengangguk ringan lalu berkata.


“Kalau begitu cobalah.”


Mengikuti perintah Ark, keduanya langsung bangkit. Mereka berdua langsung bergegas mendekati kadal bermutasi dari dua arah berbeda.


Draco berjalan ke arah lawan dengan perlahan tapi pasti. Mengendap-endap seperti pemburu yang licik.


Sedangkan Leon berjalan dengan gayanya sendiri. Meski tidak begitu frontal, tetapi dia berjalan lewat depan dengan tegap. Sama sekali tidak berhati-hati seperti orang normal. Tampak tidak memiliki sedikitpun rasa takut.


Lebih tepatnya, merasa tidak perlu berhati-hati karena ada orang yang bisa dia andalkan di belakang.


Mendengarkan langkah kaki yang menaiki tangga, makhluk itu membuka matanya. Pada saat dia bangkit, sisik-sisik tidak beraturan di tubuhnya bergesekan. Benar-benar menimbulkan suara seperti beberapa batu yang bergesekan.


Makhluk itu kemudian melihat ke arah anak tangga gelap tempat suara berasal. Saat itu juga, ekornya tiba-tiba berayun cepat.

__ADS_1


Anehnya, ekor makhluk itu tidak berayun ke arah Leon yang berjalan lewat tangga, tetapi malah menyerang ke arah Draco yang mendekat secara sembunyi-sembunyi.


BRUAK!


Dinding langsung dirobohkan, asap dan salju langsung bertebaran. Sosok bayangan hitam langsung melesat pergi dari tempat itu.


“Cih! Apakah itu bau atau deteksi panas?” gumam Draco dengan nada tidak puas.


“HAHAHAHA! Sudah kubilang, saat berhadapan dengan lawan kuat ... menghadapi secara langsung adalah pilihan terbaik!”


Sosok Leon langsung melesat. Jubah dan bajunya telah dilepas, hanya mengenakan celana panjang. Tubuhnya membengkak, tumbuh menjadi lebih dari tiga meter.


Tubuh pria itu dipenuhi otot padat, kuku di tangan dan kaki digantikan cakar melengkung yang tajam. Matanya berubah seperti binatang buas, bahkan taring tajam muncul terlihat di mulutnya. Rambutnya tumbuh panjang, bergoyang sepertu surai singa yang diterpa angin.


Leon langsung bergegas ke arah monitor lizard bermutasi dengan ganas. Dia mengayunkan cakarnya, menyebabkan suara keras ketika angin dipotong. Namun, mata makhluk itu hanya menatapnya dengan tenang.


Saat itu juga, sisik-sisik pada tubuh monitor lizard bermutasi bergoyang, menyebabkan suara gesekan keras. Kemudian, tubuh makhluk tersebut membengkak. Seketika, sisik yang awalnya tampak tidak beraturan tiba-tiba tersusun rapi, bahkan memancarkan kilau.


KLANG!


Melihat cakarnya gagal menembus pertahanan lawan, ekspresi terkejut muncul di wajah Leon.


Bukan hanya Leon, bahkan Draco juga terkejut. Meski agak membenci pria itu, dia masih mengetahui kemampuannya. Biasanya, cakar Leon bisa memotong besi seperti pisau panas memotong mentega. Itu juga yang membuat pria tersebut berpikir tidak memerlukan senjata.


Siapa sangka, cakar setajam senjata yang dia banggakan benar-benar ditangkis dengan mudah oleh lawan.


Ekor makhluk itu berayun dengan kecepatan luar biasa. Langsung mencambuk Leon tepat di perutnya. Membuat pria itu terhempas keras, menabrak dan menghancurkan dinding.


Pada saat Draco tertegun, dia melihat ekor panjang penuh duri telah melesat ke arahnya. Pria itu langsung memasang posisi bertahan dengan tombaknya.


BANG!


Memiliki kekuatan lebih rendah dibandingkan Leon, Draco juga langsung dihempaskan.


Leon dan Draco langsung bangkit. Keduanya langsung meludahkan sesuap darah. Setelah menyeka darah di mulutnya, mereka berdua menjadi lebih tenang. Tidak seperti biasanya dimana mereka santai ketika menindas lawan yang lebih lemah.


Saat menghadapi musuh yang jauh lebih kuat ...


Keduanya masih bersikap lebih serius!


Di tempat lain, Ark menonton pertunjukan itu sambil menopang dagu. Tanpa merubah ekspresi datar di wajahnya, pemuda itu bergumam.


“Sekarang ... apa yang akan kalian lakukan?”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2