Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Diawasi


__ADS_3

"Meski menarik, ini tidak terlalu penting."


Ark menghela napas panjang. Dia kemudian melirik ke arah orang-orang dengan tatapan main-main.


"Apa yang lebih penting saat ini adalah membunuh sebanyak mungkin ulat sutera raksasa. Pada musim semi kali ini, jumlahnya menjadi terlalu banyak. Padahal kita telah memburu dalam jumlah besar di tahun sebelumnya.


Jika hal semacam ini terus berlanjut, semuanya akan menjadi lebih merepotkan. Apabila tidak dihentikan, ulat akan berhasil menjadi ngengat sutera raksasa.


Dalam jumlah sedikit, itu bisa dimanfaatkan. Namun jika jumlahnya terlalu banyak dan menyebar ke seluruh kota atau bahkan luar kota. Itu adalah masalah besar.


Darin, tinggalkan kereta di sini. Kembali bersama Sansa kemudian suruh Lisa datang bersama 100 prajurit.


Kita akan membereskan semuanya sebagai tindakan pencegahan. Aku tidak ingin beberapa serangga yang sebenarnya bisa diurus malah membuat masalah di masa depan.


Kita kekurangan tenaga kerja, jadi tidak ada waktu untuk disia-siakan!"


"Dimengerti!"


Setelah memberi hormat, Darin langsung pergi.


Melihat sosok pemuda itu, Ark mengelus dagu. Dia tidak bisa tidak merasa khawatir. Entah kenapa, Ark memikirkan Jay.


'Aku memintanya untuk mengurangi jumlah gagak bermutasi di area luar. Dia tidak akan begitu sembrono untuk pergi begitu jauh ke Raven Tower, kan?'


Ark langsung menggelengkan kepalanya, benar-benar tidak ingin membayangkan sahabatnya yang berlarian di sekitar Raven Tower sambil memasang ekspresi bangga di wajahnya.


***


Siang di hari berikutnya.


Ark melihat Darin akhirnya tiba dengan seratus satu orang bersama dengannya. Tidak termasuk Debby yang menarik kereta lain.


"Ha-ha-ha! Aku tidak menyangka kamu juga bisa merasakan kerepotan, Kak!" suara Lisa yang begitu keras terdengar.


Beberapa orang yang ada di sekitar tampak terkejut. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau Sword of Sufferings membuat gerakan begitu besar. Selain tiga puluh lima prajurit sebelumnya ... sekarang mereka mengerahkan seratus prajurit lain!


Meski gerakan mereka tidak terlalu besar dibandingkan kelompok seperti Silver Cross atau Black Panther, tetapi baru kali ini Sword of Sufferings mengerahkan begitu banyak tenaga kerja. Hal tersebut jelas bukan sesuatu yang biasa.


Beberapa anggota Sword of Sufferings kemudian berkeliling dan meminta orang-orang di sekitar area taman kota untuk mundur. Tentu saja, mereka hanya membujuk dan tidak memaksa.


Beberapa orang memilih mundur karena mereka juga mengetahui betapa berbahayanya taman kota sekarang. Ada juga beberapa orang yang memaksakan diri untuk tinggal. Tampaknya tidak puas karena mata pencaharian mereka diambil.


Ark sama sekali tidak keberatan. Jika orang-orang itu bisa selamat, biarkan saja saja. Karena untuk saat ini, area taman kota memang belum secara resmi menjadi wilayah pribadi kelompok Sword of Sufferings.


"Hey, Kak! Kamu pasti akan terkejut dan takut jika melihat ekspresi si kembar dan gadis gila itu.

__ADS_1


Aku sarankan, jangan dekat-dekat dengan mereka. Itu mengerikan!"


Lisa berkata dengan nada ceria. Si kembar jelas mengacu pada Kurona dan Shirona. Sedangkan gadis gila, begitulah gadis tersebut memanggil Stacy jika mereka hanya berdua.


Ark langsung mengetuk dahi Lisa dengan jarinya.


"Aw! Bagaimana kamu melakukannya, Kak? Aku jelas memakai topeng, tetapi kenapa masih sakit pada titik yang kamu ketuk?"


"Jangan pura-pura bodoh. Juga, jangan membicarakan orang lain di belakang mereka. Hal semacam itu bukanlah sesuatu yang baik."


"Tapi itu kebenaran! Aku hanya menceritakan tentang kebenaran!


Ketika Darin datang dan berkata kalau kamu memanggilku alih-alih memanggil mereka, ketiga perempuan itu langsung menatapku dengan mata dingin. Tampaknya mereka menargetkan aku!"


"Tetap saja, membicarakan keburukan orang lain bukanlah hal yang pantas untuk dilakukan."


"Hmph!"


Lisa tidak langsung setuju, tetapi hanya mendengus dingin sebagai tanggapan.


Ark sendiri tidak peduli. Dia malah melihat ke arah Darin lalu memberi perintah.


"Apakah kamu membawa ember kayu yang aku perintahkan untuk dibawa?"


"Bagus." Ark mengangguk. "Biarkan orang-orang beristirahat satu jam. Kita akan langsung memasuki area taman kota dan mulai melakukan pembersihan."


"Dimengerti!" jawab Darin.


Satu jam bukanlah waktu yang lama. Detik dan menit berlalu begitu saja, tanpa terasa sudah waktunya untuk memulai perburuan.


Ark berdiri di depan orang-orang yang berbaris rapi dan tampak serius. Pemuda itu kemudian berkata dengan nada datar.


"Bentuk tim berisi lima orang. Pastikan selalu siap dan waspada ketika memasuki taman kota.


Selain itu, 35 anggota baru, kalian mengerti tugas kalian, bukan?"


"YA, KETUA!!!"


Para anggota baru menjawab serempak. Mereka semua membawa ember kayu. Mereka juga memakai sarung tangan yang berbeda, serta beberapa botol potion diikatkan pada sabuk mereka.


"Kalau begitu bersiap! Ingat satu perintah sekaligus pesanku ...


Jangan mati!


KITA BERANGKAT!"

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Ark langsung berjalan menuju ke dalam taman kota.


Masuk ke dalam taman kota, mereka semua langsung disambut oleh pepohonan rindang seperti dalam hutan yang tak terjamah manusia. Hanya saja, pemandangan kali ini sedikit menggelitik kulit kepala mereka.


Di rerumputan, batang pohon, dan daun ... banyak sekali ulat sutera raksasa! Jumlahnya berkali-kali lipat dibandingkan ketika mereka pertama kali ke tempat ini.


"BUNUH!" ucap Ark dengan tegas.


Mengikuti ucapan Ark. Semua orang langsung bergegas maju. Para ulat sutera juga langsung menekuk tubuh mereka dan melesat ke arah orang-orang. Ada juga yang menembakkan jaring sutera.


Pemandangan kacau terlihat di mana-mana. Pada saat itu, ada beberapa ulat yang menyerang Ark. Namun, sebelum dia mengeluarkan pedangnya, dua orang muncul di depannya lalu menebas dengan kejam.


"Anda bisa tenang, Ketua. Biarkan kami yang membereskannya." Draco berkata dengan ekspresi tenang.


"Draco benar, Ketua. Keroco belaka ... kamu tidak perlu menghunus pedang sendiri. Jika bukan karena anggota baru kurang cepat, aku juga tidak akan repot-repot ikut bertarung.


Aku menginginkan musuh yang lebih kuat!"


Leon menyeringai dengan senyum kejam di wajahnya. Tubuhnya yang tinggi dan besar seperti beruang benar-benar tampak mendominasi.


"..."


Ark menghela napas panjang. Tangannya memegang gagang pedang dengan santai. Mengetuk ujungnya dengan ringan. Pemuda itu tampaknya benar-benar bosan karena dia sendiri tidak perlu turun tangan.


Pada akhirnya, Ark hanya memberi komando.


"Singkirkan tubuh ulat sutera raksasa. Bedah dan ambil bagian putih seperti slime di dalamnya.


Jangan lupa memakai sarung tangan dan mengoleskan ramuan di permukaan sarung tangan agar tidak lengket.


Bagi yang menemukan kepompong, ambil dan bawa kembali."


Kepompong ulat sutera jelas akan diproses untuk membuat benang sutera. Sedangkan zat lengket seperti slime atau getah itu bisa digunakan dijadikan karet setelah diproses.


Sebelumnya Ark tidak mengambilnya karena kekurangan tenaga kerja. Pada tahap awal, hal-hal semacam itu tidak begitu dibutuhkan. Namun saat ini berbeda ...


Setelah memiliki cukup banyak orang baik pejuang dan pekerja, dia bisa mencoba membuat karet. Karet-karet tersebut bisa diproses lagi untuk membuat banyak hal ke depannya.


'Mesin tenun tradisional juga telah selesai, jadi para perempuan bisa mulai dipekerjakan untuk membuat kain sutera. Dengan demikian, kita bisa selangkah lebih maju dibandingkan sebelumnya.'


Pada saat berpikir, Ark tampak sedikit terkejut. Dia langsung melirik ke arah tertentu lalu bergumam.


"Perasaan ini ... diawasi?"


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2