Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Berkembang dan Kejutan


__ADS_3

Sementara itu, di depan gedung pusat pemerintahan baru.


“Tahan dia, Berto!”


Pada saat terlempar ke udara, Julian berteriak pada Berto. Ketika mendarat, dia langsung berlari menuju ke arah zombie level 3 yang sedang bertarung dengan Berto. Cakar di tangan pria itu berkilat dingin. Dia langsung membidik leher zombie yang telah terluka cukup parah.


Slash!


Darah memercik, tetapi leher makhluk itu sama sekali belum terpotong. Melihat itu, Julian berdecak tak puas. Pandangannya langsung beralih ke arah Siegfried.


“Sekarang!”


Sosok Siegfried langsung melesat. Pedang di tangannya langsung mengenai luka di leher zombie level 3. Merasakan leher yang sulit dipenggal, pemuda itu menggertakkan gigi. Otot-otot tubuhnya langsung menonjol. Bersama dengan hentakan dan ayunan keras, akhirnya kepala zombie level 3 pun terlempar lalu jatuh ke tanah.


“Huh!”


Napas ketiga orang itu langsung naik-turun. Julian kemudian berkata.


“Dengan ini, ketujuh zombie level 3 berhasil diselesaikan, kan?


“Memang. Namun, seharusnya ini belum berakhir. Dari jumlah zombie yang ada di rumah sakit, seharusnya ada puluhan zombie level 3 biasa. Bahkan ... kemungkinan ada zombie spesial level 3.”


Mendengar penjelasan Siegfried, ekspresi Julian dan Berto menjadi lebih berat. Bagi mereka, menghadapi tujuh zombie level 3 biasa sudah begitu merepotkan. Belum lagi zombie spesial level 3. Dengan kekuatan mereka sekarang, ketiga orang itu tidak yakin bisa mengalahkan jenis zombie spesial.


Pada saat mereka mengatur napas, mereka terkejut ketika merasakan tanah tiba-tiba berguncang. Mereka langsung saling melirik.


“Gempa bumi?” tanya Julian.


Berto langsung menggelengkan kepalanya, jelas tidak tahu apa yang sedang terjadi. Sementara itu, pandangan Siegfried mengarah ke tempat lain. Dia kemudian berkata.


“Tampaknya berasal dari sana.”


Mengikuti kemana Siegfried memandang, mereka langsung melihat asap tebal yang membumbung ke langit beberapa kilometer jauhnya. Meski tidak pasti dari mana, asapnya terlalu tebal sehingga mereka bisa menebak kira-kira berasal dari mana. Menurut arahnya, lokasi tersebut tampaknya berasal dari arah rumah sakit, tempat sarang zombie berada.


“Apakah menurut kalian ...”


Julian ingin berspekulasi, tetapi tiba-tiba Siegfried menyela.


“Jangan terlalu banyak berpikir, atau mungkin kita akan dikecewakan jika dugaan kita salah. Apa yang harus kita lakukan sekarang adalah melawan dan membersihkan sisa zombie. Kita bisa memeriksanya keesokan paginya.”

__ADS_1


Julian dan Siegfried saling memandang lalu mengangguk tegas.


“YA!” jawab mereka serempak.


Mereka bertiga pun kemudian membantu barisan pertahanan. Sengaja berurusan dengan para zombie level 2 sehingga anggota kelompok lain bisa menangani zombie lain lebih mudah.


Setelah pertarungan berlarut-larut, situasi bahaya akhirnya terpecahkan. Berkat kerja sama ribuan orang, akhirnya bahaya zombie bisa mereka selesaikan. Meski begitu, karena matahari belum muncul, mereka sama sekali tidak berani merayakannya.


Semua orang beristirahat sambil terus mengawasi jalan-jalan dimana para zombie biasanya muncul. Namun anehnya, tidak ada hal spesial yang terjadi. Sampai matahari terbit ...


Tidak ada gelombang zombie yang muncul dan melakukan serangan tiba-tiba.


Mereka benar-benar berhasil melewati krisis ini bersama-sama!


***


Beberapa jam berlalu begitu saja.


Selesai merayakan kemenangan mereka, Julian menyuruh orang-orang melakukan panen. Lagipula, dengan apa yang mereka dapatkan kali ini, setidaknya mereka tidak akan kebingunan soal makanan sampai pertengahan musim dingin. Ditambah cadangan makanan yang mereka persiapkan sebelumnya, mereka bisa melewati musim dingin dengan aman.


“Jadi, ini alasan kenapa Sword of Sufferings suka melakukan pertempuran besar. Selama cukup kuat, mereka tidak akan takut kekurangan makanan.”


Setelah itu, mereka akhirnya memutuskan untuk mengumpulkan seratus orang prajurit level satu. Ketiga orang itu pun akhirnya pergi menuju ke sumber ledakan sebelumnya. Meski merasa agak takut dan enggan, mereka tahu hal semacam itu perlu.


Mereka perlu memastikan apa yang sebenarnya terjadi sehingga bisa membuat rencana berikutnya. Apakah mereka harus tinggal dan bertahan, menyerang lawan, atau mungkin melakukan evakuasi jika sampai hal-hal tidak diinginkan terjadi.


Setelah berjalan cukup lama, siang harinya, mereka akhirnya melihat gedung rumah sakit. Namun, sama sekali tidak tampak bekas ledakan atau hal semacamnya. Namun, pemandangan luar biasa membuat mereka semua tercengang.


Di depan gedung rumah sakit, tampak sebuah bukit daging penuh dengan darah. Selain itu, ada juga beberapa bagian yang masih belum dihancurkan menjadi pasta. Ada potongan tangan, kaki, dan beberapa bagian tubuh lainnya. Bisa dibilang ...


Pemandangan itu cukup berdarah sehingga banyak orang tidak tahan akhirnya muntah-muntah di tempat.


“Apa-apaan ini? Apakah sesuatu yang dilakukan oleh monster?” ucap Berto dengan ekspresi takut dan waspada.


“Seharusnya perbuatan manusia,” balas Siegfried.


Mendengar ucapan Siegfried, banyak orang langsung menoleh ke arahnya dan memandangnya dengan ekspresi tidak percaya. Mereka sama sekali tidak berpikir hal semacam itu bisa dilakukan oleh manusia.


Mengabaikan tatapan semua orang, Siegfried mendekat lalu melihat ke arah bekas tebasan yang dilakukan oleh Ark sebagai pembatas. Meski terkejut, pemuda itu masih bergumam.

__ADS_1


“Mungkinkah ... bekas pedang?”


Melihat bekas kerusakan, celah dengan lebar kurang dari 40 centimeter tetapi memiliki panjang beberapa meter dan cukup dalam, mereka semua merasa kalau ucapan Siegfried menjadi semakin aneh. Membayangkan kalau hal semacam itu benar-benar dilakukan oleh manusia, mereka langsung takut. Namun setelah beberapa saat, orang-orang itu menjadi tenang karena kekuatan Julian, Berto, dan Siegfried juga cukup kuat.


Ya ... meski tidak sampai membuat kerusakan seperti itu dengan satu serangan.


Saat itu juga, Siegfried mengambil sesuatu di tanah lalu menunjukkannya kepada Julian, Berto, dan para prajurit lain.


“Itu ... puntung rokok?” tanya Julian bingung.


“Rokok seharusnya sudah tidak ada. Jadi, jika ada yang bisa dan membuatnya tanpa takut keracunan ...” Mata Siegfried menyempit. “Seharusnya Sword of Sufferings.”


Mendengar itu, semua orang langsung terkejut. Saat itu juga, suara Siegfried kembali terdengar.


“Apakah kamu ingin memeriksa bagian dalam, Julian?”


Jika dalam situasi normal, Julian pasti akan menjawab kalau hal semacam itu hanyalah ide bodoh. Namun, saat ini dia merasa sangat penasaran. Benar-benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Kita bertiga akan memeriksanya.”


Mendengar ucapan Julian, Siegfried dan Berto mengangguk. Mereka bertiga pun akhirnya memasuki rumah sakit.


Ketika masuk ke dalam, mereka langsung disambut pemandangan yang lebih ‘mengejutkan’ dibandingkan di halaman depan. Meski sudah cukup terbiasa, mereka masih merasa cukup pusing. Menggertakkan gigi, mereka pun memilih untuk tetap melanjutkan pemeriksaan.


Setelah hampir satu jam memeriksa area sekitar. Mereka melihat beberapa hal luar biasa. Hampir semua tubuh zombie level 1 dan level 2 benar-benar hancur. Beberapa zombie level 3 dipotong-potong dengan mudah. Ada juga beberapa zombie spesial level 3 yang tubuhnya lebih utuh. Selain dipenggal, hanya ada bekas luka di dada, dimana jantung mereka digali.


Usai melakukan pemeriksaan, mereka pergi ke tempat jejak kaki berdarah pergi, yaitu lantai atas tempat kantor utama berada. Masuk melewati pintu kantor, ketiganya langsung terbelalak. Embusan angin langsung menerpa wajah mereka.


“Siegfried? Aku tidak sedang bermimpi, kan”


“Sayang sekali, Julian. Aku juga berharap kalau ini mimpi.”


Di depan mereka, tampak pemandangan yang bisa dibilang luar biasa.


Dari tengah lantai sampai dinding, tampak dampak kerusakan yang terlihat seperti garis, bekas dipotong dengan sesuatu. Masalahnya ... apa yang dipotong bukan hanya ruangan itu.


Bekas potongan yang lebar dan dalam memotong dari kantor ke lantai satu bagian rumah sakit, terus memotong menuju ke halaman belakang, dan akhirnya berhenti di tengah taman. Dimana ada sebuah pohon besar yang terbelah menjadi dua di sana.


Membayangkan guncangan yang terjadi tadi malam lalu melihat kerusakan di depan mereka, ketiga orang itu langsung membeku di tempat. Keringat dingin langsung membasahi seluruh tubuh mereka.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2