
"Indah ..." gumam Lisa sebelum menampar keningnya. "Bukan itu! Maksudku, kemampuan apa yang kamu dapatkan?"
Stacy menunjuk ke arah matanya sendiri.
"Dengan mata ini, aku bisa melihat dari jarak sangat jauh. Selain itu, aku bisa melihat dalam gelap.
Hal tersebut membuat efisiensi berburu di malam hari lebih baik. Sedangkan untuk skill lain ..."
Stacy tidak melanjutkan. Dia hanya tersenyum misterius. Jelas, Ark tidak mengizinkan setiap orang asal menyebarkan kemampuan kecuali pada dirinya sendiri. Meski mengetahui itu, Lisa merasa jengkel dan kesal.
Rasanya seperti membaca atau menonton film yang menyenangkan, tetapi tiba-tiba terputus pada saat penting!
"Hmph! Aku tidak peduli betapa cantiknya, yang terpenting adalah kekuatannya!"
Lisa mengangkat kepalanya dengan bangga.
Mengabaikan perdebatan antara keduanya, Natasha bertanya kepada Ark.
"Apakah kita tidak langsung kembali?"
"Panen beberapa barang berharga terlebih dahulu sebelum kembali. Biarkan Huginn dan Muninn memakan seluruh sisa burung hantu bermutasi. Hal itu sangat bermanfaat bagi mereka."
Ark mengelus dagu, menyatakan pemikirannya.
"Baik!" jawab anggota lain serempak.
Sementara mengurus tubuh burung hantu bermutasi, Ark menyuruh Finn untuk mencari pedang yang dia lempar sebelumnya. Dia juga menyuruh anggota lain berkemas.
Setelah semuanya selesai, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali.
Dalam perjalanan ini, Ark dan rekan-rekannya mendapatkan keuntungan besar. Bukan hanya mendapatkan dua Miracle Root, mereka juga mendapat bahan berharga dari dua binatang buas tingkat tiga.
Tidak hanya itu, mereka mendapatkan beberapa bahan berharga dari Black Panther. Terakhir dan tidak kalah penting, setelah memakan tubuh burung hantu bermutasi ...
Huginn dan Muninn maju ke tahap berikutnya!
Bahkan saat ini tinggi mereka sama dengan Lisa. Benar-benar membuat gadis itu menjadi anggota paling mungil (kecuali Nathan dan Nala yang masih anak-anak) di Sword of Sufferings.
***
Beberapa hari berlalu begitu saja.
Di markas Sword of Sufferings, semua berjalan seperti biasanya. Setiap anggota melakukan tugas mereka masing-masing. Ada yang berlatih bertarung, ada juga yang mengerjakan berbagai pekerjaan perbaikan lain.
Di kantornya, Ark duduk santai sambil melihat langit biru di luar jendela. Teh panas yang masih mengepul ada di atas meja, membuat ruangan penuh dengan aroma teh yang harum.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk."
__ADS_1
Bersama dengan ucapan Ark, pintu terbuka. Sosok Abigail masuk ke dalam ruangan.
"Bukankah kamu baru saja mengantar teh. Kenapa kembali lagi, Abigail? Apakah ada masalah?"
"Saya kemari untuk menyampaikan berita, Ketua." Abigail mengangguk sopan.
"Kalau begitu mendekat. Kenapa kamu hanya berdiri di dekat pintu?"
"..." Abigail tidak menjawab, dia juga tidak berani menatap ke arah Ark.
"Bukankah sebelumnya kamu yang mengambil inisiatif? Kenapa? Apakah kamu takut aku akan memakanmu?"
"I-Itu ..."
Telinga Abigail merah karena malu. Dia melirik ke arah Ark dengan ekspresi ragu. Mengigit bibirnya, dia akhirnya berjalan mendekat.
Sejak apa yang terjadi terakhir kali, Abigail merasa canggung dan malu ketika berduaan dengan Ark. Meski demikian, dia tidak begitu membenci perasaan tersebut.
"Apakah kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan, Abigail?"
"Eh?" Abigail terkejut ketika mendengar pertanyaan tersebut.
"Kamu masuk ke sarang binatang buas. Jadi kamu harus bersiap dimakan, keluar secara tidak utuh."
Mendengar itu, Abigail yang mengerti arti dibaliknya merasa lebih malu. Dia tidak bisa tidak bergumam dengan suara gagap.
"I-Ini masih siang ... Nathan dan Nala ..."
"Aku hanya bercanda. Duduklah.
Tidak perlu takut. Mari kita berbicara santai. Sangat jarang kita bisa berbicara seperti ini, kan?"
Ark bangkit dari kursinya. Dia kemudian mendekati Abigail, memegang tangannya lalu mengajaknya untuk duduk di sofa.
Keduanya duduk bersebelahan. Abigail yang berada di samping Ark menjadi semakin gugup.
"Katakan. Ada berita apa? Tidak perlu begitu ragu.
Apakah kamu tidak suka berbicara denganku? Padahal aku senang berbicara denganmu."
"Eh?"
Abigail terkejut. Dia menatap ke arah Ark dengan ekspresi bingung. Jantungnya berdetak kencang. Namun dia merasa bingung. Di satu sisi, wanita itu merasa kalau Ark hanya bercanda. Di sisi lain, dia berharap hal itu benar.
"Dibandingkan perempuan lain di Sword of Sufferings, aku paling nyaman berbicara denganmu. Aku sama sekali tidak berbohong tentang itu.
Kurona dan Shirona mungkin sering berada di sisiku. Apapun yang aku katakan, mereka semua akan setuju tanpa memikirkan apa-apa. Pikiran Stacy agak rumit, tetapi pada dasarnya dia sama dengan mereka.
Roxanne juga terlalu patuh dan tidak memiliki banyak pengalaman hidup kecuali membunuh.
__ADS_1
Sedangkan Natasha, daripada berbicara, mungkin kami lebih sering berdebat. Untuk Lisa ...
Kamu seharusnya tahu sendiri.
Abigail, kamu lebih dewasa dan tenang. Kamu adalah pendengar yang baik. Kamu patuh tetapi juga bisa memberi pendapat. Aku rasa ... aku menyukai hal itu."
Mendengar pujian Ark, kulit Abigail menjadi merah. Dia merasa tubuhnya panas, bahkan merasa agak pusing.
"Lupakan hal tadi. Omong-omong, apa yang ingin kamu katakan?" ucap Ark santai.
'Mana bisa saya melupakannya!'
Abigail mengeluh dalam hati. Setelah menarik napas dalam-dalam dan menenangkan diri, dia akhirnya berkata.
"Kekacauan terjadi di kota, Ketua.
Banyak orang mati karena kelaparan. Di tanah yang tertutup salju tebal, mereka tidak bisa mencari makanan. Jumlah kematian karena kelaparan dan dingin sangat tinggi.
Selain itu, zombie dan binatang buas juga menjadi lebih aktif. Tampaknya mereka tidak tahan lagi untuk bersembunyi di sarang. Mereka menjadi lebih ganas daripada sebelumnya.
Juga, banyak yang berkata kalau Imperial Tiger dan Third Scars menjadi lebih tenang akhir-akhir ini. Tidak ada yang tahu apa yang mereka pikirkan."
Abigail kemudian menatap Ark yang masih tampak tenang ketika mendengar ucapannya. Pemuda itu tiba-tiba menghela napas panjang.
"Jadi kekacauan sudah dimulai."
"Eh???" Abigail terkejut.
"Aku sudah menduga kalau cepat atau lambat zombie dan para binatang buas akan menjadi ganas."
'Lagipula, itu juga terjadi di kehidupan sebelumnya.'
Pikir Ark dengan tenang. Mengingat betapa mengerikannya mereka, dia bertanya-tanya apakah sekarang dirinya bisa menghentikan makhluk-makhluk tersebut. Lagipula, di kehidupan sebelumnya, tidak ada karakter (orang) yang memiliki kekuatan luar biasa.
Mereka semua adalah manusia yang lemah dan dikejar-kejar untuk dijadikan pengganjal rasa lapar. Namun kali ini berbeda. Dia tidak lagi selemah dulu.
"Binatang buas dan zombie memang penting, tetapi ada yang lebih penting. Kita tidak perlu memikirkan perihal kelompok lain.
Namun, kita harus memfokuskan diri dengan apa yang akan terjadi selanjutnya."
"Apakah ada yang lebih penting dari itu, Ketua?" tanya Abigail dengan ekspresi heran.
"Badai salju." Ekspresi Ark menjadi lebih serius. "Badai salju yang kuat dan tidak bisa dihentikan makhluk hidup manapun."
Sekuat apapun makhluk hidup, mereka hanya hal kecil dibandingkan dengan kengerian alam. Sebuah fenomena yang sama sekali tidak bisa dihentikan bahkan jika sudah mengetahuinya.
Mengingat banyaknya nyawa makhluk hidup menghilang dalam waktu itu, ekspresi Ark menjadi agak suram. Dia bahkan mengingat jelas bagaimana semua orang menyebutnya.
Bencana Putih.
__ADS_1
Bukan suatu hal yang dilakukan zombie atau makhluk bermutasi, tetapi tidak kalah dahsyat dibandingkan kekacauan yang ditimbulkan oleh mereka.
>> Bersambung.