
Sementara itu, di markas Black Panther.
Pengumuman yang ‘mendebarkan’ terjadi, sama seperti di markas Silver Cross. Bukan hanya mendebarkan, tetapi pengumuman di tempat ini bahkan lebih panas. Saking panasnya membuat hati orang-orang terbakar. Menjadikan merasa ingin membunuh seseorang.
“Satu orang, tiga orang, lima orang, sepuluh orang, belasan orang, puluhan orang, atau seratus orang …”
Jay membuat gerakan menantang dengan tangannya.
“KALIAN BOLEH DATANG UNTUK MENANTANGKU!”
Melihat kegilaan Jay, Vadim yang dikirim untuk menemani Jay tidak bisa tidak tersenyum pahit. Dia tahu kalau wakil ketua mereka adalah orang yang ceroboh, tetapi gerakan untuk menantang seratus orang secara langsung itu lebih mirip dengan penghinaan daripada sebuah tantangan,
“Hahaha! Benar-benar pemuda berdarah panas.” Joseph tidak bisa tidak tersenyum ketika melihat Jay.
“Apakah orang-orang di Sword of Sufferings selalu segila ini?”
Berbeda dengan Joseph yang terhibur, Siegfried malah menatap ke arah Vadim yang memakai topeng dan jubah dengan ekspresi heran. Tampaknya tidak berpikir kalau Sword of Sufferings seperti itu.
“Tentu saja wakil ketua adalah pengecualian. Dia … sedikit unik,” balas Vadim dengan senyum masam di balik topengnya.
“Ya. Kamu benar. Dia memang … cukup unik.”
Meski membalas dengan tenang, sebenarnya Siegfried menahan diri untuk tidak mengatakan kata aneh atau gila. Lagipula, kalimat semacam itu biasanya tidak dikatakan oleh orang-orang normal. Menurutnya, pasti ada sekrup longgar dalam kepala wakil ketua Sword of Sufferings tersebut.
Melihat ekspresi rumit di wajah Siegfried, sudut bibir Vadim berkedut.
***
Keesokan harinya, di markas Sword of Sufferings.
“Waktunya untuk makan, Ketua.”
Sosok Abigail datang ke ruang belajar Ark sambil membawa nampan. Setelah masuk, dia melihat sosok pemuda yang duduk di kursinya. Di depan meja, tampak Natasha yang berdiri dengan ekspresi khawatir dan cemas di wajahnya.
Pada saat Abigail masuk, Ark dan Natasha langsung mengalihkan perhatian mereka ke arah Abigail.
“Apakah saya mengganggu?” tanya Abigail.
“Tidak.” Ark menggeleng ringan. “Hanya saja, aku sudah bilang kalau kamu tidak perlu lagi mengkhawatirkan aku. Meski tidak bisa digunakan untuk bertarung, tetapi kedua tanganku sudah bisa digunakan untuk makan, bahkan membuat potion.”
__ADS_1
“Saya akan mengurus makanan sampai anda sembuh total, Ketua.”
Mendengar ucapan Abigail, Ark hanya bisa tersenyum masam. Sedangkan Natasha sendiri memiliki ekspresi rumit di wajahnya ketika melihat kakak iparnya cukup dekat dengan Ark. Merasa agak kesal, dia kembali berkata dengan nada semakin dingin.
“Kenapa kamu mengirim DUA ORANG itu untuk melakukan tugas semacam ini, Ark? Bagaimana jika mereka mengacau?”
“Maksudmu Jay dan Lisa?”
“Kalau bukan dua pembuat masalah itu, siapa lagi?”
“Tenang saja. Bahkan jika mereka sedikit berdarah panas, mereka pasti berhasil membujuk orang-orang untuk melawan pasukan semut bermutasi.”
“Sedikit? Kamu bilang itu sedikit?” Natasha jelas tidak tenang. Dia takut dua orang itu mengacaukan apa yang telah disusun Ark sampai sekarang.
“Tenanglah, Natasha. Bahkan jika mereka sedikit ceroboh, keduanya masih merupakan eksekutif tinggi dari Sword of Sufferings sekaligus ketua dan wakil ketua Scarlet Knight. Mereka akan baik-baik saja.”
“Aku harap semua berjalan dengan lancar.”
Natasha hanya bisa menghela napas panjang karena semua telah terlanjur. Ark tampak santai. Dia malah memanggil Abigail dan menyuruhnya mendekat.
“Taruh saja di meja, aku akan memakannya sendiri nanti. Terima kasih, Abigail.”
***
Sementara Ark sedang menikmati hari dengan dua wanita cantik di kantornya, sesuatu yang cukup mengasyikkan terjadi di halaman depan markas Silver Cross.
“Ayolah, Paman! Bukankah kamu tadi sangat bersemangat? Kenapa kamu sudah lemas? Benar-benar lemas setelah disentuh? Apakah kamu benar-benar seorang pria?”
Jika hanya mendengar suara manis gadis itu, mungkin para lelaki akan bersemangat. Namun melihat pemandangan berdarah di depan mereka, orang-orang itu merasa agak ketakutan.
Di tengah halaman yang dikelilingi banyak penonton, Lisa berdiri dengan tenang. Saat ini dia melepas jubahnya. Gadis itu memakai kaos lengan pendek berwarna hitam, mengenakan rompi anti peluru, celana panjang khas militer, sarung tangan, dan sepatu kulit. Dia juga mengenakan topeng, rambut panjangnya di sanggul ke atas, meski mungil, tetapi masih terlihat menawan.
Di depan Lisa, tampak pria paruh baya dengan tubuh sebesar gorilla penuh dengan otot. Hanya saja, pria itu meringkuk di tanah sambil memegangi dadanya. Dia merasa kalau beberapa tulang rusuknya patah ketika mendaparkan sentuhan ringan dari Lisa.
“Hey, belasan lelaki benar-benar sangat rapuh. Kenapa laki-laki sekarang begitu rapuh? Tsk, tsk, tsk … terlalu menyedihkan.” Lisa mendecak dengan ekspresi tidak puas sambil menggeleng ringan. “Berikutnya!”
“…”
“Aku bilang berikutnya!” tegas Lisa.
__ADS_1
Melihat banyak orang yang hanya menonton dan tidak berani maju, Lisa kembali menggelengkan kepala. Dia menggosok belakang leher sambil menghela napas panjang. Setelah itu, gadis tersebut berkata dengan nada kecewa.
“Bukankah pagi tadi banyak orang yang antre untuk dikirim ke pusat pengobatan? Kenapa orang-orang itu tiba-tiba lenyap seperti awan? Jika tidak ada lagi yang menantang, itu berarti sisanya setuju. Jika kalian setuju, berarti tidak perlu ada pelanggaran lagi.
Ingat, bagi yang mengabaikan perintah, akan ada hukuman. Berat atau ringan, itu terserah pada para petinggi. Namun aku harap kalian tidak ada di bagian yang sama dengan Sword of Sufferings karena hukumannya terlalu berat. Sama sekali tidak cocok untuk para lelaki rapuh yang langsung jatuh hanya karena disentuh.”
“Mohon tunggu sebentar, Nona Tamer!” Sosok lelaki tua memanggil.
Lisa menoleh untuk melihat pria itu. Dia kemudian memiringkan kepalanya sambil bertanya, “Apa?”
“Bagaimana dengan para lansia seperti kami, Nona Tamer? Kami sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk bertarung. Jika para lansia maju, akhirnya hanya akan mengganggu pertarungan.”
“Bukankah kalian punya tangan dan kaki? Gunakan itu dengan baik! Kalian bisa melilitkan perban kepada orang-orang yang terluka dalam pertempuran. Bahkan jika kalian maju, kalian akan disuruh untuk menjaga pos, jadi tenang saja.
Tentu saja, jika ada yang begitu keras kepala untuk membuat masalah, aku tidak keberatan untuk mengirimnya ke barisan paling depan untuk dijadikan umpan meriam.”
“…”
Para lansia benar-benar tertegun, mereka tidak menyangka gadis kecil itu memiliki mulut yang benar-benar keras.
“Bagaimana dengan anak-anak? Ah! Maaf, aku tahu mereka cukup lincah dan bisa membantu. Aku tidak jadi bertanya.”
Lisa jelas melihat cara lelaki tua itu menatapnya. Ekspresi lelaki tua itu tampak terkejut dan dipenuhi tatapan penuh pengertian. Rasanya memaklumi kalau para anak-anak menjadi kasar karena kerasnya dunia saat ini. Ya … tatapan itu bukanlah tatapan penuh keinginan, tetapi rasa kasihan ketika lelaki tua melihat anak kecil. Seorang anak di bawah umur.
“Aku sudah dewasa!” teriak Lisa tidak puas.
“Ya, ya, ya. Kamu sudah dewasa. Kamu sudah dewasa dan tumbuh menjadi pejuang yang sangat baik, Nona Lisa.” Lelaki tua itu berkata dengan ekspresi penuh pengertian.
“Grrrr …”
Lisa menggertakkan gigi. Benar-benar ingin memukul lelaki tua di depannya. Namun saat itu Stacy menghentikannya.
“Tenang, Lisa. Itu bukanlah hal yang akan dilakukan perempuan dewasa.”
Mendengar ucapan Stacy, Lisa hanya bisa menelan amarahnya. Merasa kesal, dia menghentakkan kakinya ke tanah sebelum pergi dengan mood buruk.
Hanya saja, hal tersebut membuat orang-orang menjadi salah paham. Mereka semua bahkan menjadi semakin yakin kalau Lisa adalah gadis kecil di bawah umur!
>> Bersambung.
__ADS_1