Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Mengejar Bayangan


__ADS_3

Melihat ke arah Anthony yang tertawa terbahak-bahak, Evans sedikit gemetar.


Entah kenapa, Evans tiba-tiba membayangkan kakak serta rekan-rekannya dikepung dan berada dalam posisi sulit. Dia merasa ingin mundur lalu membuat sinyal bahaya. Namun, pemuda itu tahu dirinya tidak boleh mengacaukan rencana.


Mengingat apa yang Ark katakan kepadanya sebelum misi dimulai, Evans menarik napas dalam-dalam. Dia kemudian menatap tepat ke mata Anthony. Ekspresi penuh tekad muncul di wajah pemuda itu saat memasang posisi bertarung.


Saat itu, tekanan kuat muncul dari sosok Evans.


“Kata-katamu tidak akan mempengaruhiku, Anthony.”


Anthony yang sebelumnya tertawa terbahak-bahak diam. Dia menatap Evans beberapa detik. Dengan senyum mengerikan di wajahnya, pria itu berkata.


“Menarik! Benar-benar menarik! Dalam beberapa hari, kamu sekali lagi melanggar batasan!


Berapa banyak? Berapa banyak yang telah kamu bunuh, Evans? Aku sama sekali tidak menyangka, sosok yang aku kira tikus kotor ternyata seekor anak kucing liar. Sekarang kucing liar itu sudah dewasa dan mencoba untuk melawan!


Oh! Sungguh luar biasa! Terlalu indah sampai-sampai aku ingin menitikkan air mata!”


Anthony menyeka air mata dengan tangan kiri sambil memegang cambuk panjang dengan tangan kanannya.


Melihat perubahan emosi Anthony yang terjadi berkali-kali dalam waktu singkat, Evans mengerutkan kening. Sekarang dia benar-benar yakin, bukan hanya memiliki sisi psikopat, orang itu memang sudah gila.


Membuang segala keraguan, Evans langsung berlari ke arah Anthony dengan cepat. Saat itu juga, dia langsung melihat bayangan melesat ke arahnya. Tanpa sedikit pun kepanikan, pemuda itu langsung mengelak ke arah kiri.


Tatapan Evans selalu berpindah pada tiga titik, yaitu mata Anthony, tangan Anthony, lalu pada ujung cambuk yang dimodifikasi.


Swoosh! Klang!


Evans langsung menangkis ujung cambuk. Pada saat jaraknya menjadi lebih dekat, pemuda itu menginjak tanah lebih kuat sebagai tumpuan, langsung melesat sampai ke sisi Anthony. Tanpa merubah ekspresinya, dia langsung menebas leher Anthony.


Klang!


Anthony menahan serangan Evans dengan belati di tangan kirinya. Dia terpental beberapa meter dan terhuyung. Pria itu kemudian berkata dengan nada penuh cemooh.


“Aduh! Aku benar-benar hampir mati. Kucing liar ini terlalu galak!”


Setelah mengatakan itu, Anthony langsung menggenggam erat cambuk di tangan kanannya lalu mengayunkannya dengan cepat.


SWOOSH!


Pupil Evans langsung mengecil saat melihat cambuk hitam yang rasanya berubah menjadi ular ganas yang mencoba menggigitnya. Saking cepatnya, dia benar-benar tidak bisa menangkisnya. Namun pada akhirnya, pemuda itu masih bisa sedikit mengubah posisinya.


Slash!

__ADS_1


Ujung cambuk langsung menggores bagian pipinya. Pada detik itu juga, sebuah ingatan singkat muncul di kepalanya.


***


Dalam gua yang gelap, Evans merasa sulit bernapas seolah-olah ada yang mencekiknya. Dia menatap sosok yang berdiri di depannya.


‘Sebenarnya ... berapa banyak orang yang sudah kamu bunuh dengan kedua tanganmu, Kak?’


Evans ingin bertanya, tetapi sama sekali tidak bisa berbicara apa-apa. Padahal, Ark hanya berdiri di depannya tanpa mengatakan atau melakukan apapun. Hanya saja, penampilannya sudah membuat adiknya merasa kewalahan.


Evans melihat wajah kakaknya. Tidak ada ekspresi dingin, malas, atau ramah seperti biasanya. Hanya ada ekspresi datar dan tatapan kosong. Mata merah itu tampak begitu keruh. Daripada melihat manusia, dia merasa kakaknya lebih mirip dengan boneka hidup.


“Kamu boleh membenciku dan tidak perlu memaafkanku.”


Mendengar ucapan kakaknya, Evans tiba-tiba memikirkan bagaimana seorang bocah dipaksa untuk menjadi pembunuh agar bisa hidup. Dia sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang dirasakan oleh Ark kecil saat itu. Satu hal yang pasti.


Evans sama sekali tidak membenci kakaknya!


Selain itu, alasan kenapa Ark menunjukkan sisi ini karena permintaan Evans sendiri. Sebagai seorang adik, dia benar-benar ingin lebih mengenal kakaknya. Pada saat itu juga, pemuda itu mengerti suatu hal yang sangat penting.


***


‘Alasan kenapa semua ini terjadi karena aku lemah!’


SLASH!


“Eh?!”


Anthony yang melompat mundur beberapa meter mendarat lalu menyentuh luka di dadanya. Melihat cairan merah membasahi tangannya, pria itu langsung menoleh ke arah Evans. Saat itu, dia tertegun.


Evans masih dalam posisi menebas seperti sebelumnya, tetapi posisi kakinya agak bengkok, benar-benar terkilir sangat parah karena membuat gerakan yang sangat cepat dan berhenti secara tiba-tiba. Luka di kaki pemuda itu benar-benar sembuh dengan kecepatan luar biasa. Namun bukan itu yang membuat Anthony terkejut.


Apa yang membuatnya terkejut adalah ... wajah Evans!


Ekspresi dingin, tatapan kosong, dan niat membunuh yang menutupi emosi lain. Melihat itu, Anthony benar-benar terkejut. Dia kemudian tertawa terbahak-bahak.


“HAHAHAHA! Begitu! Begitulah seseorang yang aku hargai!”


Anthony langsung membuang cambuknya. Dia mengeluarkan belati lain, kemudian langsung melesat ke arah Evans.


Meski kakinya belum sembuh sepenuhnya, Evans langsung menyambut serangan Anthony dengan tenang. Setelah itu, suara tabrakan dua pedang pendek dan dua belati langsung memenuhi seluruh area sekitar.


Klang! Klang! Klang!

__ADS_1


Kedua serangan itu semakin cepat, dan menjadi lebih cepat.


Melihat sedikit celah, Anthony tiba-tiba membuka tangan kirinya. Debu langsung menerpa wajah Evans. Saat gerakan pemuda itu sedikit terpengaruh, dia langsung menebas pada bahu Evans yang sempat memiliki celah. Pria itu kemudian menendang Evans sampai terpental belasan meter.


“HAHAHA! Apakah itu menyenangkan, Evans?”


Setelah terpental belasan meter dan berguling-guling di tanah, Evans langsung berdiri. Memiliki ekspresi yang masih sama persih seperti sebelumnya, pemuda itu mengabaikan luka yang mulai sembuh. Dia memiringkan kepalanya sambil berkata dengan nada datar seperti kakaknya.


“Apakah kamu mengatakan sesuatu?”


Mendengar itu, seringai gila kembali muncul di wajah Anthony. Dia kemudian berteriak.


“Bagus, Evans! Mari lanjutkan permainan ini!”


“Tidak.” Evans menggelengkan kepalanya.


“Hah?” Anthony terkejut.


“Semua sudah selesai, Anthony. Aku sama sekali tidak memiliki waktu untuk bermain denganmu. Lagipula, kamu tidak bisa lagi menggerakkan tubuhmu.”


Mendengar itu, Anthony mencoba menggerakkan tubuhnya tetapi terkejut ketika merasakan sakit yang mengerikan. Dia kemudian melihat bekas-bekas luka tipis di berbagai tempat pada kakinya.


“Sejak kapan?”


“Sejak awal bertarung, aku mengincar kakimu karena meski tidak begitu cepat, kamu terlalu fleksibel. Selain itu, racun kuat pun tidak begitu berguna padamu.”


“JANGAN KIRA LUKA KECIL SEPERTI INI BISA MENGHENTIKANKU!”


“Aku tidak perlu menghentikanmu. Memperlambatmu sudah cukup karena ...”


Evans mengambil posisi menyerang. Pemuda itu tiba-tiba kembali menghilang. Ketika muncul, dia sudah berada di belakang Anthony.


“Aku cepat.”


Tepat Evans menyelesaikan ucapannya, kepala Anthony langsung jatuh ke tanah. Melihat kalau Anthony mati di tangannya karena terlalu banyak main-main dan belum mengeluarkan kekuatan sepenuhnya, pemuda itu menggelengkan kepalanya. Dia kemudian berjalan menjauh sambil berkata.


“Aku sangat membencimu dan ingin balas menyiksamu, Anthony. Namun aku sama sekali tidak memiliki waktu untuk melakukan hal bodoh seperti itu karena ...”


Evans menghela napas panjang.


“Jika aku terlalu lama berhenti, aku tidak akan pernah bisa mengejar bayangan orang itu.”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2