Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Sampai Fajar Tiba


__ADS_3

"ARK!!!"


Mendengar teriakan Jay, Ark melirik dengan tatapan tak acuh. Tampaknya tidak begitu peduli dengan apa yang baru saja terjadi. Bahkan jika dia memuntahkan beberapa suap darah, pemuda itu tidak menganggapnya sebagai luka fatal.


"Tenang saja, ini bukan luka fatal."


Setelah mengatakan itu, Ark diam sejenak sebelum melanjutkan.


"Meski jumlah zombie dan binatang bermutasi yang datang ke arah kita telah banyak berkurang, sebaiknya kalian tetap waspada. Masih satu jam lebih sebelum sang surya tiba."


Setelah mengatakan itu, Ark tiba-tiba menjadi lebih fokus. Sosok banteng hitam yang ganas akhirnya bergegas ke arahnya. Namun tanpa pemuda itu sadari, sudut bibirnya sedikit terangkat ketika melihat sosok besar yang menyerangnya.


***


Sementara itu, di ruang bawah tanah markas Silver Cross.


BANG! BANG! BANG!


Suara tabrakan keras terdengar, orang-orang dalam ruang bawah tanah tampak pucat. Mereka telah menutup dan mengunci pintu besi, bahkan saluran ventilasi. Mereka juga telah menahan pintu dengan banyak benda berat. Namun suara pintu besi dipukul dan ditabrak oleh para zombie membuat mereka ketakutan.


Ruang bawah tanah tersebut sebelumnya adalah gudang bawah tanah yang digunakan untuk menyimpan barang. Namun ketika Silver Cross mengambil alih gedung tersebut sebagai markas, alih-alih menggunakannya sebagai gudang, mereka menggunakannya sebagai tempat perlindungan darurat.


Julian sendiri telah mengikut saran Ark untuk tidak menerima anggota secara membabi-buta. Meski anggota Silver Cross sekarang tidak sampai ratusan orang, tetapi jumlahnya masih sekitar delapan puluh orang.


Mereka semua berdiri berdekatan dalam ruangan yang sama karena ruang itu sendiri cukup sempit, jadi mereka tidak bisa duduk dengan kaki lurus apalagi berbaring. Mungkin terus berdiri cukup melelahkan, tetapi ...


'Jika terus seperti ini, semua orang akan mati.'


Pikir Julian ketika melihat orang-orang mulai gelisah. Dia sendiri percaya kalau zombie tidak mungkin menerobos. Karena jika menerobos, mereka semua tidak bisa melarikan diri. Mungkin berakhir saling menggigit dan menjadi zombie.


Hanya saja, tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama dengannya. Mereka semua gugup karena takut zombie masuk untuk mengakhiri semuanya. Disitulah letak masalahnya.


Pada saat manusia gugup, cara bernapas mereka mulai tidak beraturan. Dengan kata lain, mereka menghirup oksigen lebih banyak daripada saat normal. Sebagian mungkin lupa bernapas, tetapi setelah itu mereka tetap menghirup oksigen dengan rakus untuk menenangkan diri.


Di ruang bawah tanah dengan hanya sedikit ventilasi kecil untuk sirkulasi udara, oksigen sendiri terbatas. Bahkan jika mereka tidak gugup, bertahan di tempat semacam itu selama lebih dari empat jam sudah sangat berbahaya. Mereka tidak tahu kapan oksigen akan menipis lalu habis!


'Jika terus begini, bahkan jika tidak mati karena zombie, semua orang dalam ruangan akan mati karena kehabisan napas!'

__ADS_1


Otak Julian bekerja dengan cepat. Setelah mempertimbangkan banyak hal, dia akhirnya berkata dengan jujur.


"Tetap tenang, semuanya! Kita berada di ruang cukup tertutup dengan cadangan oksigen tipis. Jika kalian gugup, kita semua akan mati karena kehabisan oksigen!


Tenang dan percayalah kalau zombie tidak akan menerobos! Satu ... hanya dalam satu jam kita akan segera aman. Bisa hidup tenang sama seperti sebelumnya!"


Julian memberitahu rekan-rekannya dan mencoba menyemangati mereka. Meski tampak optimis, dia sendiri juga cukup pucat. Suhu ruangan agak naik karena tubuh orang-orang yang berdekatan. Mereka semua tidak hanya lelah, tetapi juga haus. Tenggorokan mereka kering dan merasa dehidrasi. Belum lagi, orang-orang itu merasa lebih sulit untuk bernapas. Dada mereka terasa sesak!


Saat itu, Julian mengingat sosok Ark. Lebih tepatnya, mengingat nasihat dan trik yang diberikan oleh pemuda itu kepadanya. Tersenyum pahit, dia mengeluh dalam hati.


'Apa yang dia katakan memang benar. Trik ini bisa membuat semua orang selamat dan melanjutkan hidup, tetapi juga bisa membuat semua orang mati tanpa terkecuali!'


Lima puluh banding lima puluh, apakah itu hidup atau mati!


***


Hampir satu jam berlalu begitu saja.


BRUAKKK!!!


Sosok Ark kembali terlempar dengan keras, tetapi semua orang telah mati rasa karena berkali-kali melihat pemandangan seperti itu sebelumnya.


Alasan kenapa Ark bertarung satu lawan satu dengan banteng raksasa secara langsung adalah keinginan untuk menempa fisiknya. Meski manusia mendapatkan peningkatan atribut ketika melakukan proses evolusi, tetapi bagi Ark, itu hanya angka.


Kenapa Ark membayangkannya sebagai angka? Atau lebih tepatnya, potensi?


Bayangkan saja seekor cheetah dan seekor kelinci. Jika dilihat sekilas, yang pertama akan membunuh yang terakhir dengan mudah karena perbedaan atribut baik kekuatan, kecepatan, serta lainnya. Namun bayangkan kalau si cheetah pemalas, tidak melatih tubuh, dan tidak peduli dengan medan di sekitarnya. Sebaliknya, si kelinci sering berlatih dan menghapal area sekitar dengan baik. Ketika bermain kejar-kejaran, siapa yang akan menang?


Kemungkinan besar si kelinci. Kenapa? Karena otot-otot cheetah yang tidak dilatih dengan baik akan bermasalah jika digunakan secara berlebihan. Belum lagi, si kelinci bisa saja menggiringnya ke tempat-tempat yang merugikan si cheetah seperti area bebatuan cukup padat sehingga hanya si kelinci yang bisa melarikan diri lewat celah-celahnya.


Intinya, memiliki kelebihan tanpa praktik dan pertarungan nyata tidak lebih dari sekadar bunga dalam kotak kaca!


Tampak megah dan indah, tetapi tidak berakar kuat. Terpaan badai akan langsung menghabisinya!


Itulah kenapa Ark sering menyuruh Jay, Kurona, Shirona, dan anggota lain berburu sendiri. Bertarung melawan makhluk bermutasi untuk mendapatkan Miracle Root. Bukannya dia tidak memedulikan mereka, tetapi kecuali dalam kasus khusu dimana musuh terlalu sulit untuk dihadapi, Ark ingin menggunakan pengalaman tersebut untuk melatih mereka. Tentu saja, pada akhirnya Ark akan membantu mereka untuk mengalahkan musuh karena target mereka bukanlah makhluk biasa. Namun, setidaknya mereka sudah dilatih sampai batasnya.


Itu juga alasan kenapa Ark ingin menempa diri sendiri. Melawan musuh kuat tanpa bantuan orang lain.

__ADS_1


Selain berlatih, Ark juga merasa kalau banteng raksasa ini cocok dengan kriteria yang diinginkan Lisa. Sedangkan alasan kenapa Ark tidak meminta gadis itu bertarung untuk mencoba? Itu karena Lisa sibuk dengan pekerjaannya dan ...


Ark tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika si kecil itu ditabrak banteng raksasa.


Terpental ratusan meter? Dikirim terbang ke bulan? Langsung dilindas sampai gepeng?


Bahkan Ark tidak mau membayangkannya!


Ark melihat sosok banteng raksasa terhuyung. Pemandangan tersebut membuat pemuda itu mengangkat sudut bibirnya.


"Tampaknya latihanku sama sekali tidak sia-sia," ucap pemuda itu.


BRUK!


Sosok banteng jatuh ke tanah sambil menatap Ark dengan heran. Jelas, dalam satu jam banteng tersebut mengejar dan menghajar Ark. Namun sekarang tiba-tiba terjatuh dan sekarat. Itu tidak hanya mengejutkan banteng, tetapi orang-orang yang melihatnya.


Alasan kenapa sosok banteng itu tumbang sebenarnya mudah. Ya ... itu disebabkan oleh racun.


Dalam baku hantam, Ark tidak cukup bodoh untuk menikmati rasa sakit seperti orang dengan kecenderungan 'tipe m'. Sebaliknya, dia malah memanfaatkan setiap tabrakan untuk memperkuat otot-ototnya sambil sedikit melukai banteng raksasa. Makhluk itu sama sekali tidak merasakan sakit karena racun itu tidak terasa ... hanya berefek setelah beberapa waktu berlalu.


Mengumpulkan berbagai buah beracun, meramu pil beracun, mencampurnya dengan anggur dan membuat anggur beracun. Minum anggur beracun seperti orang gila untuk meningkatkan resistensi racun tubuh sekaligus meningkatkan kandungan racun dalam serangannya.


Semua itu jelas terbayar.


Ark berjalan ke arah banteng raksasa dan berdiri di depannya. Makhluk itu tampak marah, melenguh, dan berusaha bangkit untuk menyerangnya. Hanya saja, semua itu sia-sia. Banteng raksasa sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Sebelumnya, banteng raksasa bertarung hanya dengan kekuatan dan kekerasannya. Bahkan belum sempat menggunakan skill karena dalam kepalanya merasa tidak perlu. Padahal Ark tahu, makhluk itu bisa membuat kulitnya lebih keras daripada logam biasa. Bahkan memiliki skill berserk!


Hanya saja, sebelum disadari, semuanya telah terlambat.


Begitulah mengerikannya racun khusus.


"..."


Ark menatap ke arah banteng raksasa dalam diam. Makhluk itu mendongak. Meski kesadarannya cukup kabur, saat ini dia merasa takut.


Benar-benar sadar kalau telah melakukan kesalahan fatal ...

__ADS_1


Yaitu bermain-main dengan iblis yang sebenarnya!


>> Bersambung.


__ADS_2