
Beberapa jam setelah memulai perjalanan, orang-orang dari Sword of Sufferings mengerutkan kening.
Mereka semua merasa kalau Blade of Areia tidak bisa diandalkan. Rasanya, cara mereka memilih jalan juga terlalu acak. Vegetasi lebat, jalan tidak datar, dan berbagai halangan lainnya.
Walau tampak sepele, bagi orang-orang yang telah dilatih oleh Ark, hal semacam itu bisa menjadi pemborosan tenaga. Misalnya memotong pepohonan kecil, berjalan di medan tidak stabil, dan beberapa hal kecil yang bisa menghabiskan energi lebih cepat.
Entah bagaimana, mereka tiba-tiba berpikir bagaimana Blade of Areia bisa bertahan sejauh ini dengan skill yang begitu alakadarnya.
Jika tahu apa yang mereka pikirkan, Ark pasti sudah tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Sebagai orang yang menjalani dua kehidupan, Ark tahu kalau kelompok normal biasanya seperti Blade of Areia. Paling banter, bisa menemukan satu atau dua kelebihan seperti Imperial Phoenix atau Golden Maple Group.
Bicara tentang Golden Maple Group, Ark merasa cukup kecewa karena Jay belum kembali dari sana. Meski masih mempercayai sahabatnya, dia juga tetap selalu mewaspadainya. Lagipula, pemuda itu mewaspadai siapapun tanpa pengecualian. Hanya saja, kali ini kewaspadaannya pada Jay sedikit meningkat.
Pada saat berjalan, Ark melirik ke arah Scorpio yang berjalan di sampingnya. Pria itu tampaknya terus menatap punggung orang-orang dari Sword of Sufferings dengan penuh kerinduan.
“Aku tahu kalau kamu ingin menjadi lebih kuat dan mencoba bertarung di garis depan. Namun, sekarang kamu masih berada dalam masa ujian. Setelah menyelesaikan dasar-dasar latihan, ada tahap lain yang perlu kamu lewati.
Di dunia yang penuh krisis ini, kekuatan memang selalu dirindukan dan didambakan. Hanya saja, setelah bergabung dengan Sword of Sufferings, aku harap kamu bisa fokus pada latihan.
Sama sekali tidak perlu memikirkan hal lain.”
Mendengar ucapan Ark, Scorpio tertegun. Dia kemudian langsung menjawab.
“Ya, Ketua!”
Scorpio melirik ke arah Ark. Tidak tahu bagaimana dan apa yang dirasakan orang lain, tetapi baginya, pemuda berambut putih dengan mata bak rubi itu cukup baik kepada dirinya.
‘Apakah aku benar-benar masuk dalam standar ‘jenius’ yang dikatakan orang-orang?’
Scorpio menggelengkan kepalanya, mencoba untuk sadar diri. Bahkan jika dia menganggap dirinya sendiri jenius, itu tidak akan memberinya keuntungan. Sebaliknya, hal tersebut bisa membuatnya malas dan menyia-nyiakan kesempatan.
‘Kesempatan tidak datang untuk ke dua kalinya. Lebih baik menyelesaikan semua tugas dan ujian lalu masuk sebagai anggota resmi. Baru kemudian memikirkan hal lain.’
Pada saat berpikir, suara Dedric terdengar. Langsung membangunkan Scorpio dari lamunannya.
__ADS_1
“Kita sudah sampai tujuan!”
Melewati hutan, mereka sampai di tanah kosong yang cukup luas. Banyak orang termasuk Scorpio melihat pemandangan di depan mereka dengan ekspresi takjub dan agak takut.
Di kejauhan, tampak danau hitam yang tidak diketahui luas dan dalamnya. Penampilannya cukup mengerikan karena ada kabut kelabu yang menambah kesan misterius dimana mereka tidak bisa melihat kejauhan.
Tidak jauh dari pinggir danau, tampak gua besar dengan kemiringan sekitar 30 derajat. Mulut gua sangat lebar, sanggup dilewati oleh dua truk muatan besar. Sungguh menampilkan pemandangan aneh karena sebenarnya mereka masih di dalam sebuah kota.
Di sekitar gua, tampak banyak sekali kepiting dengan ukuran satu meter. Mereka benar-benar memiliki cangkang seperti koral yang berkilauan. Tampak cukup indah, tetapi juga terlihat mengancam karena penampilan mereka agak mengerikan khususnya di bagian capit raksasa.
Lebar sekitar satu meter, tinggi sekitar 40-50 centimeter. Sebenarnya, ukuran tersebut juga tidak menjadi ancaman. Tentu, karena banyaknya jumlah, masalahnya beda lagi.
“Apakah kita akan melawan makhluk-makhluk itu, Ketua?” tanya Scorpio.
Sebagai mantan anggota Cursed Berserkers, Scorpio sangat jarang berurusan dengan zombie dan binatang bermutasi. Kelompok itu lebih fokus untuk mencari bahan makanan yang diketahui atau merampok berbagai kelompok lain.
“Jangan mengajukan pertanyaan yang bodoh, Scorpio. Mulai sekarang, kamu akan melihat bagaimana Sword of Sufferings bekerja.
Kita akan memburu zombie, kanibal, dan binatang bermutasi. Tidak seperti mereka yang bersembunyi dan mencoba hidup aman, cara bertahan kita adalah mengalahkan musuh, memperkuat diri, melawan musuh lebih kuat, lalu mengulangnya lagi.”
Mendengar jawaban yang dingin dan tegas dari mulut Ark, Scorpio terkejut. Dia jelas merasakan ketegasan dari setiap kata pemuda itu. Jelas meminta dirinya untuk merubah pola pikir terus menghindari zombie dan binatang bermutasi.
Ark mengangguk ringan lalu diam sejenak. Dia kemudian melirik ke arah Dedric dan pasukannya. Pemuda itu memberi isyarat, apakah Sword of Sufferings atau Blade of Areia maju duluan.
“Karena sudah sampai sini, mari kita maju bersama-sama!” ucap Dedric dengan tegas.
“Dimengerti.”
Setelah mengatakan itu, Ark memejamkan mata. Menarik napas dalam-dalam mengeluarkan perlahan, pemuda itu memberi perintah.
“Kita lewat dari sisi kanan. Semua tim bersiap pada tempat masing-masing. Lawan adalah makhluk level 1 dan tidak akan menjadi masalah. Namun, kalian juga tetap harus berhati-hati dengan cangkang dan capitnya.
Omong-omong, coba potong celah di antara tubuh dan capit besar makhluk tersebut karena jika berhasil memotongnya, mereka akan kehilangan banyak kekuatan tempur.
Tidak boleh ada kecerobohan. Semuanya harus dilakukan dengan baik dan bersih. Laksanakan!”
__ADS_1
“Ya, Ketua!”
Mengikuti perintah Ark, sepuluh tim langsung melesat ke depan secara berurutan. Bergerak cepat tetapi juga rapi tanpa mendahului orang lain atau merusak formasi.
Saat itu juga, suara Ark terdengar di telinga Scorpio.
“Lihat baik-baik cara mereka bertarung. Hal itu akan bermanfaat untukmu.”
“Dimengerti!” Scorpio mengangguk.
Melihat kedatangan makhluk asing ke wilayah mereka, para kepiting koral biru langsung menyerbu. Mereka tampaknya tidak memiliki rasa takut. Hanya ada tekad untuk bertarung melawan invasi yang sedang terjadi. Berusaha melindungi sarang mereka mati-matian.
Setiap tim dari Sword of Sufferings membuat formasi melingkar dengan satu atau dua orang di tengan serta lima prajurit di sekeliling. Orang-orang itu menjaga jarak stabil, tidak begitu dekat tetapi tidak begitu jauh. Cocok untuk bertarung.
Mereka yang berada di tengah membantu bagian yang mengalami serangan dari lebih banyak musuh. Para prajurit membawa pedang sementara para porter atau koki membawa tombak.
Ding!
Memukul cangkang kepiting koral biru, suara dentingan logam terdengar. Ekspresi orang-orang menjadi lebih serius dibandingkan sebelumnya.
Mengikuti pelajaran yang pernah diajarkan oleh Ark dan para petinggi saat latihan, orang-orang itu membidik celah/ruas di antara bagian tubuh satu dengan tubuh lainnya. Bukan hanya bagian capit besar, tetapi juga kaki kepiting koral biru.
Pada awalnya, pertempuran tampak sulit karena jumlah kepiting lebih banyak dan kesulitan membiasakan diri.
Setelah beberapa waktu, perubahan telah terjadi. Orang-orang dari Sword of Sufferings mulai menemukan titik lemah. Bukan hanya membuat mereka dengan mudah membunuh para kepiting, orang-orang itu juga mulai maju ke depan untuk membersihkan jalan.
Melihat koordinasi dan kekompakan setiap tim, Scorpio benar-benar tercengang. Dia sama sekali tidak menyangka kalau melawan kepiting koral biru bisa begitu sederhana. Namun, hanya sesaat kemudian, pria itu merasa kalau wajahnya ditampar keras.
“Ini ...”
Ekspresi penuh kejutan muncul di wajah Scorpio ketika melihat ke arah orang-orang dari Blade of Areia berada.
Di sana, tampak Dedric dan orang-orangnya yang kewalahan bertarung dengan para kepiting koral biru karena jumlah mereka (kepiting) yang begitu banyak.
Kualitan senjata Blade of Areia lebih buruk, tidak bisa membuat banyak luka pada tubuh kepiting. Belum lagi, kebanyakan dari mereka tidak kompak dan menyerang secara asal. Bisa dibilang ...
__ADS_1
Malah buang-buang tenaga!
>> Bersambung.