Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Hadiah Kecil dan Berangkat Berburu


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, Ark kembali ke rumah sambil menggendong Lisa yang tertidur lelap di punggungnya.


"Tampaknya kalian sudah berbaikan, Ketua."


Melihat ke arah Abigail, Ark mengangguk ringan. Dia kemudian mengantar Lisa kembali ke kamarnya. Setelah membaringkannya di ranjang dan menutupinya dengan selimut, pemuda itu pergi.


Keluar dari kamar, Ark melihat Old Franky yang datang dengan senyum lega di wajahnya.


"Terima kasih banyak, Ark. Maaf selalu membuat kamu kerepotan."


"Bukan apa-apa."


Ark menggelengkan kepalanya. Dia melewati Old Franky sambil menepuk bahu pria tua itu.


"Sebaiknya kamu juga beristirahat."


Setelah itu, Ark turun ke lantai pertama. Dia menuju ke dapur, tetapi terkejut ketika melihat Abigail yang membawa secangkir teh panas.


"Kamu tampak lelah, Ketua."


Abigail meletakkan cangkir tersebut di depan Ark. Dia kemudian duduk di kursi dekat pemuda itu.


"Terima kasih," ucap Ark.


Pemuda itu duduk santai lalu menyesap teh. Meski masih panas dan tidak manis, aroma teh yang lembut membuatnya lebih tenang. Pemuda itu kemudian melirik Abigail dengan senyum di wajahnya.


"Apakah Lisa baik-baik saja?" tanya Abigail.


Sebagai seorang ibu, wanita itu menganggap Lisa sebagai anak-anak. Meski usianya terbilang dewasa dan bisa dianggap sebagai loli legal, tetapi gadis pendek itu memang bersikap seperti anak-anak.


"Dia baik-baik saja." Ark berkata dengan lembut. "Alasan kenapa dia bisa bersikap seperti itu karena kehilangan kedua orang tua lebih awal. Old Franky sendiri pasti sibuk dengan pekerjaannya sebelum pensiun tidak lama sebelum apocalypse. Bisa dibilang, gadis itu kurang kasih sayang."


"Tampaknya kamu benar-benar mengenalinya, Ketua."


"Bisa dibilang begitu."


Ark kembali menyesap teh. Setelah meletakkan cangkir ke atas meja, dia menoleh ke arah Abigail.


"Tampaknya kamu juga mengkhawatirkannya. Jika aku lihat, dibandingkan dengan orang lain yang merasa iri atau cemburu karena Lisa diperlakukan spesial ... kamu sama sekali tidak merasakan hal semacam itu.


Jadi, apa alasanmu, Abigail?"


Abigail menatap ke arah Ark dengan senyum lembut di wajah cantiknya.


"Intuisi seorang Ibu, mungkin?"


"Kalau begitu kamu adalah seorang ibu yang baik." Ark berkata santai.


"Apakah itu pujian?" tanya Abigail lembut.


"Kamu bisa menganggapnya seperti itu."


Ark berkata santai lalu bersandar di kursi sambil memejamkan mata. Setelah beberapa saat, pemuda itu bertanya.


"Apakah Nathan dan Nala sudah tidur?" tanya Ark.

__ADS_1


"Ya." Abigail mengangguk ringan.


"Mereka berdua juga telah berusaha keras. Meski belum diperbolehkan untuk meminum ramuan evolusi, mereka sama sekali tidak putus asa.


Kamu mendidik mereka dengan baik, Abigail."


"Apakah itu benar?"


"Ya."


"Kalau begitu ..." Abigail menunduk. "Bolehkah aku meminta hadiah, Ketua?"


"Hadiah?" Ark membuka matanya lalu menoleh. "Apa yang kamu inginkan? Kamu sudah melakukan banyak kontribusi. Jika tidak begitu berlebihan, aku tidak akan menolaknya."


Mendengar itu, Abigail menatap tepat di mata Ark. Rona merah mewarnai pipinya.


"Sungguh?" gumam Ark.


Melihat mata Abigail, tentu saja Ark yang agak tumpul soal perasaan masih mengerti. Melihat bagaimana wanita itu mengangguk, dia menghela napas panjang.


Ark langsung mencubit dagu Abigail, mengecup lembut bibirnya.


Beberapa saat kemudian, kedua bibir terpisah. Abigail menatap ke arah Ark dengan ekspresi tidak percaya. Wajahnya benar-benar merah seperti tomat matang. Napasnya mulai naik-turun tidak stabil.


"Aw!"


Abigail terkejut ketika Ark tiba-tiba menyentil dahinya. Memegangi dahi dengan ekspresi tidak puas, dia mendengar suara Ark.


"Tidak lebih dari ini, okay?"


Tidak ingin terbawa suasana, Ark segera bangkit lalu berjalan pergi. Ketika menaiki tangga, dia tak lupa berkata.


"Segera tidur dan jangan lupa pakai selimut. Pastikan dirimu tetap hangat."


Mendengar itu, Abigail yang sebelumnya cemberut akhirnya menunjukkan senyum di wajahnya.


***


Dua hari kemudian.


"Apakah kalian siap?"


Ark melihat ke arah Jay, Lisa, Stacy, dan Natasha. Kali ini mereka yang akan pergi. Karena mencoba berburu binatang bermutasi tingkat tiga, mereka harus melakukannya dengan hati-hati.


Selain itu, mereka berlima masih membawa Debby, Finn, dan Michi untuk dijadikan bala bantuan. Mereka juga membawa kereta untuk mengangkut bagian tubuh berharga dari binatang bermutasi.


"Sudah lama aku tidak keluar. Tentu saja aku bersemangat!" ucap Jay dengan senyum percaya diri di wajahnya.


"..." Natasha tidak banyak bicara, tetapi tekad terlihat jelas di matanya.


"Senang bisa mengikutimu, Ketua." Stacy berkata dengan senyum di wajahnya.


"Kita akan mendapatkan banyak hadiah dari Black Panther karena membantu mereka menyingkirkan masalah kan, Kak?"


"???"

__ADS_1


Semua orang langsung menatap ke arah Lisa dengan ekspresi aneh. Saat itu, Ark membalas santai.


"Tentu saja mereka akan membayar. Sudah jelas kalau leopard bermutasi membuat mereka kerepotan. Jadi, selain mendapatkan Miracle Root dan bahan yang baik, kita juga akan mendapatkan hadiah dari Black Panther.


Menjatuhkan tiga burung dengan satu lemparan batu."


"???"


Jay, Stacy, dan Natasha memandang Ark serta Lisa bolak-balik. Setahu mereka, keduanya saling berselisih. Namun siapa yang menyangka, ternyata keduanya sudah berbaikan dan malah menjadi lebih dekat daripada sebelumnya.


Lisa melirik ke arah Stacy dan Natasha, matanya berkilat. Dengan senyum di wajahnya, gadis itu berlari lalu melompat ke arah Ark. Hendak memberi pemuda itu pelukan hangat.


Ark langsung menghindarinya dengan terampil lalu meraih kerah belakang leher gadis itu.


"Turunkan aku!"


"Apa lagi yang coba kamu lakukan? Bukankah kamu bilang akan lebih patuh dan tidak membuat masalah untukku?"


"Maaf~" ucap Lisa dengan lesu.


Melihat Lisa menyesal, Ark menghela napas panjang. Dia tahu kalau gadis itu labil. Namun pemuda itu juga cukup pusing untuk terus mengurusnya.


Ark kemudian menurunkan Lisa sambil berkata, "Kembalilah ke tempatmu."


"Sedikit membungkuk, Kak! Aku ingin membisikkan sesuatu yang penting."


"Apa?"


Melihat kalau Lisa tidak memiliki niatan jahat, Ark sedikit membungkukkan tubuhnya.


Saat Lisa hendak berbisik di telinga, gadis itu tiba-tiba mengecup pipi Ark lalu mundur. Dia kemudian menatap ke arah Stacy dan Natasha dengan seringai penuh provokasi.


Crack!


Lantai di bawah Stacy langsung retak. Dia menatap ke arah Lisa dengan ekspresi dingin. Jika tatapan bisa membunuh, gadis pendek itu pasti sudah mati beberapa kali.


"..."


Natasha sendiri tidak begitu banyak merespon. Dia memegang gagang pedang dengan erat, tampaknya ingin menghunuskan pedangnya kapan saja. Namun perempuan itu mengingatkan diri.


'Tidak apa-apa. Itu hanya pipi, aku dan Ark sudah melakukan sesuatu yang lebih.'


Melihat keduanya, Jay tanpa sadar bergeser beberapa langkah ke samping. Mencoba menjauh dari arena pembantaian yang bisa terjadi kapan saja.


Meski para wanita sudah sepakat kalau Ark adalah "milik bersama", tetapi dalam hati mereka tetap memiliki ego dimana ingin menjadi yang paling disayangi.


Sementara itu, Jay tidak mengetahui kalau Ark adalah lelaki yang bisa mendapatkan harem kapan saja memiliki pikirkan berbeda ketika melihat Natasha yang siap mencabut pedangnya atau Stacy yang siap menikam kapan saja. Dalam kepalanya, pemuda itu bertanya-tanya.


'Mungkinkah membuat harem secara normal itu mustahil? Mungkinkah aku akan ditikam sampai mati oleh Mona jika mencoba melakukan hal-hal aneh semacam itu?'


Ark yang tertegun sejenak menatap ke arah Lisa dengan ekspresi tidak percaya. Melihat gadis itu menjulurkan lidahnya, dia menghela napas panjang.


"Berhentilah membuat masalah. Kembali ke tempatmu!"


"Segera bersiap untuk berangkat!"

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2