
Setelah melalui perjalanan cukup panjang, Ark dan tiga orang lainnya sampai di markas Sword of Sufferings.
Turun dari kereta, ekspresi datar tampak di wajah Ark. Sosok Kurona dan Shirona berdiri di kiri-kanan pemuda itu. Membuatnya diam-diam menghela napas panjang dalam hati.
Melihat ke arah semua anggota Sword of Sufferings termasuk para perempuan yang menatapnya dengan tatapan membara, sudut bibir Ark berkedut.
"Kami kembali," ucap pemuda itu.
"Selamat datang di rumah, Ketua!"
Semua orang berkata serempak.
"Lanjutkan pekerjaan kalian. Nanti malam kita akan mengadakan pesta. Kami berempat akan beristirahat."
Merasakan tatapan beberapa orang, Ark kembali berkata.
"Kalian ikuti aku ke ruang rapat."
Tanpa menunggu mereka merespon, Ark pergi masuk ke dalam markas. Membiarkan Jay mengatur anggota Scarlet Sword untuk membongkar dan menata muatan ke gudang penyimpanan.
Setelah duduk di kursi ketua dalam ruang rapat, Ark mendengar suara ketukan pada pintu.
"Masuk."
Mendengar ucapan Ark, beberapa orang masuk ke dalam ruangan.
Stacy, Natasha, Abigail, Kurona, Shirona, dan Roxanne.
"..."
Melihat mereka berenam, sudut bibir Ark berkedut. Setelah beberapa saat, dia menghela napas lalu berkata.
"Duduk."
Ark menatap ke arah enam perempuan yang duduk di kursi dengan ekspresi aneh. Dia merasa ruang rapat tiba-tiba menjadi medan pembantaian. Pemuda itu bahkan mulai meragukan imajinasinya sendiri.
'Mereka ... tidak akan saling membunuh atau semacamnya, kan?'
Melihat ke arah keenam perempuan itu, Ark kemudian pura-pura batuk lalu memulai pembicaraan.
"Pertama-tama, aku minta maaf karena telah berpura-pura tidak mengetahui apa yang kalian rasakan. Aku juga berterima kasih karena kalian memiliki perasaan semacam itu kepadaku."
Ark tersenyum lembut. Melihat senyumnya keenam perempuan itu merasa senang, tetapi juga merasa rumit. Mereka merasa senang karena tampaknya Ark juga memiliki minat yang sama, tetapi merasa rumit karena mereka harus berbagi.
Rasanya ... benar-benar membengkokkan apa yang mereka pegang teguh dalam masa sebelum apocalypse.
Hanya saja sebelum mereka mengucapkan sepatah kata, ekspresi terkejut muncul di wajah mereka ketika Ark tiba-tiba bangkit dari kursinya. Pemuda itu sedikit membungkuk sambil berkata.
"Maaf! Aku tidak bisa menerima perasaan kalian."
__ADS_1
"..."
Enam perempuan itu langsung tercengang. Benar-benar tidak menyangka ada seorang lelaki yang menolak mereka!
Sosok Stacy tiba-tiba mengangkat tangannya sambil bertanya, "Apakah anda memiliki penyakit dalam 'hal itu', Tuan?"
Sudut bibir Ark langsung berkedut.
"Tidak. Aku sehat, bahkan sangat sehat!"
"Lalu, anda memiliki selera lain? Suka ... jenis yang sama, mungkin?"
Ekspresi Ark menjadi gelap. Dia benar-benar merasa ingin marah karena orang lain memiliki pikiran bengkok semacam itu tentang dirinya.
"Tentu saja aku tidak memiliki preferensi aneh atau hobi aneh. Aku 100% normal, menyukai wanita cantik bertubuh bagus!"
"Lalu ... kami tidak cantik?" Stacy memiringkan kepalanya.
"Tentu saja kalian cantik. Namun kalian pasti tahu, bukan itu yang sedang aku bicarakan."
"Lalu—"
"Diam sebentar, Stacy."
Ark kembali duduk di kursinya dengan ekspresi berat. Pemuda itu memijat pelipisnya dengan wajah lelah.
"Seperti yang kalian ketahui, cinta itu seperti bunga. Perlu waktu untuk tumbuh.
Cinta yang tulus itu memerlukan waktu untuk tumbuh dan mekar seperti bunga. Dengan berjalannya waktu, akan banyak cobaan seperti angin dan hujan melanda. Saat itu, banyak pasangan yang merasa kalau mereka tidak cocok dan memilih berpisah. Sementara cinta sejati seperti tangkai kecil yang melawan angin dan hujan, sampai benar-benar tiba saatnya musim semi dan waktunya bagi bunga itu bermekaran.
Apa yang kalian rasakan kepadaku, atau aku rasakan kepada kalian mungkin bukan cinta.
Mungkin kalian berpikir aku memiliki selera aneh atau semacamnya. Mungkin juga bertanya-tanya kenapa aku tidak melakukan hal yang dilakukan para lelaki lain di luar sana. Jika boleh jujur ... Aku hanya tidak ingin bermain-main.
Daripada bermain-main dengan perasaan, aku lebih suka melakukan transaksi adil. Seperti membeli jasa dengan harga lalu melupakannya di hari berikutnya."
"Lalu kenapa anda tidak melakukannya, Tuan?"
"Apa?" Ark melirik Stacy dengan curiga.
"Saya juga tidak keberatan dengan hubungan semacam itu.
Anda telah banyak membantu saya. Jadi sebagai gantinya, saya akan memberi 'jasa pelayanan' kepada anda. Saya rasa itu cukup adil."
Mendengar ucapan Stacy, sudut bibir Ark berkedut. Pemuda itu jelas tidak cukup gila untuk main-main dengan wanita di kelompoknya dan membuat rencana yang dia buat menjadi berantakan.
"Aku tidak ingin memiliki hubungan 'kasar' semacam itu dengan kalian."
"Lalu kita bisa memulai hubungan serius, Tuan."
__ADS_1
"Sudah aku bilang, hubungan semacam itu—"
"Kita bisa mulai menanam benih dan menumbuhkan perasaan itu bersama."
"Tidak!"
Ark menjawab dengan tegas. Melihat ke arah enam perempuan yang tampak bingung dan kecewa, dia melanjutkan.
"Bagaimana jika orang-orang luar mendapatkan kebocoran informasi bahwa kalian adalah 'Kekasih Hades'? Bagaimana jika kalian mulai ditargetkan untuk diculik atau dibunuh?
Bahkan jika kalian berkata tidak apa-apa, aku sama sekali tidak tahan. Aku tidak bisa membuat kalian membawa resiko tinggi seperti itu.
Masing-masing dari kalian cantik, kenapa tidak mencari lelaki lain di luar sana? Tidak hanya ada satu lelaki di dunia, kan? Mungkin ada yang bisa lebih setia.
Seperti yang kalian ketahui, bahkan jika aku memilih untuk menerima ... aku tidak bisa memilih salah satu dari kalian.
Jadi lebih baik kita lupakan saja, okay?"
Mendengar ucapan Ark, mata keenam perempuan itu berbinar. Meski lelaki itu tidak membicarakan kesetiaan, tetapi mereka tahu kalau dia tipe yang sangat mementingkan pasangan dan tidak ingin pasangannya mengalami kerugian.
"Saya tidak memiliki keberatan untuk menunggu, Tuan! Sejak anda memberi saya kehidupan baru, jiwa dan raga saya adalah milik anda, Tuan." Stacy berkata dengan lembut, tetapi penuh dengan rasa percaya diri.
"Aku dan Shirona adalah milik Senior sejak dulu. Akan selalu menjadi seperti itu sampai kapanpun~" ucap Kurona.
"Kurona benar, Senior. Tanpa Anda, kami berdua mungkin telah mati kedinginan di pinggir jalan sejak dulu!" tambah Shirona.
"S-Saya tidak keberatan menjadi janda sampai akhir hayat saya. Namun ..." Abigail menunduk sambil menyembunyikan rasa malunya. "S-Saya akan merasa sangat senang jika anda mau menerima saya, Ketua. Jadi tolong izinkan saya menunggu."
"Dibandingkan para b-jingan yang lebih memikirkan apa yang ada di antara kedua kaki mereka, kamu memiliki tujuan lebih besar. Jadi aku tidak keberatan menunggu kamu menyelesaikan tujuanmu!" ucap Natasha dengan nada keras kepala. Dia memalingkan wajahnya karena malu. Tipe 'tsundere' yang tidak mau mengakui perasaannya secara langsung.
"S-Saya tidak pandai membuat alasan. Seperti Stacy, saya merasa kalau jiwa dan raga saya milik anda karena telah menyelamatkan saya dari kekejaman yang menanti.
Saya juga tidak keberatan untuk menunggu."
Roxanne berkata dengan suara pelan, tidak berani berbicara keras karena menganggap dirinya 'pendatang baru' jika dibandingkan dengan perempuan lainnya.
"..."
Ark diam di tempatnya. Dia benar-benar diam tanpa sepatah kata, bahkan mulai merasakan pandangan dunia di kepalanya benar-benar hampir runtuh.
'Tidak bisakah kalian bermain sesuai rutinitas? Bukankah seharusnya kalian menamparku lalu berkata kalau aku 'b-jingan' lalu pergi dengan marah?
Bukankah daripada fokus diterima atau tidak, seharusnya kalian fokus pada diduakan atau tidak?!
Apa-apaan dengan wajah bangga itu? Bisakah para wanita di masa ini menjadi begitu terbuka dan berani?! Itu keterlaluan!
Seharusnya kalian marah sehingga aku membujuk dan memperbaiki hubungan. Mengubah musuh karena cinta menjadi teman sekaligus rekan kerja!
Kalian benar-benar merusak rencana yang aku buat mati-matian!'
__ADS_1
Ark tidak bisa tidak mengeluh dalam hatinya. Merasa benar-benar tertekan karena telah menghadapi jalan buntu di depannya!
>> Bersambung.