Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Memberi Kejutan


__ADS_3

“Apa yang ingin aku lakukan?”


Evans bergumam. Menatap ke arah mata kakaknya, pemuda itu merasa linglung. Saat itu juga, berbagai kenangan buruk kembali muncul dalam kepalanya.


Evans mundur beberapa langkah lalu memegangi kepalanya sambil berteriak. Pemuda itu berkeringat deras. Setelah beberapa saat, dia kembali tenang. Evans kemudian menatap ke arah kakaknya lalu berkata.


“Aku tidak bisa ikut denganmu, Kak Archie.”


“Kenapa?” tanya Ark dengan ekspresi datar.


“Karena aku tidak akan pernah bisa tenang sebelum bisa membalaskan denam saudara-saudaraku.”


“Saudara?”


“Orang-orang yang mengorbankan nyawa mereka untuk melindungi orang sepertiku.”


Evans berkata dengan senyum masam di wajahnya. Dia merasa ingin menangis, tetapi menahan diri karena tidak ingin lagi air mata tumpah sia-sia.


“Apakah kamu memerlukan bantuanku?” tanya Ark.


“Eh?”


“Mungkin masih agak merepotkan untuk melawan Crux of Shadow. Namun Spirit of Fire belaka ... menghabisi mereka bukan masalah besar bagi kami.”


Mendengar itu, Evans langsung tergoda. Dia merasakan kebencian mendalam dan ingin menghancurkan mereka. Namun saat itu, pemuda tersebut menyadari kalau dirinya tidak bisa selalu berada dalam bayang-bayang sang kakak dan terlalu mengandalkannya. Selain itu, ini adalah dendamnya, jadi dia ingin membalasnya dengan tangannya sendiri.


“Maaf, Kak Archie. Aku ingin melakukannya dengan kedua tanganku sendiri.”


Pada saat mendengar jawaban Evans, Ark tersenyum. Dia menghampiri pemuda itu sambil berkata.


“Kalau begitu aku akan membantumu menjadi kuat lebih cepat. Dibandingkan dengan dirimu yang masih meraba-raba, aku sudah menemukan jalannya. Aku juga bisa mengajarkanmu beberapa trik kecil yang berguna.”


“Kak Archie, kamu ...”


Evans merasa agak terharu. Melihat senyum di wajah kakaknya yang begitu familiar, dia merasa lebih hangat. Meski sekali lagi kehilangan seseorang, tetapi dia masih memiliki keluarga yang bisa dia percaya. Hal tersebut membuat Evans merasa lega.


Ark mengampiri adiknya lalu menepuk kepala pemuda itu, berkata santai dengan senyum ramah di wajahnya.


“Bukankah itu gunanya seorang Kakak?”


***


Sementara itu, di markas Spirit of Fire.

__ADS_1


Dalam kantor, semua orang berkumpul untuk melakukan rapat. Duduk di kursi ketua, sosok pria paruh baya memiliki ekspresi suram di wajahnya. Hal tersebut membuat banyak orang tidak berani langsung menatap langsung ke arahnya.


“Jadi ... apa yang ingin kalian katakan tentang masalah ini?”


“Ini tidak seperti yang anda pikirkan, Mr Adolf. Seperti yang anda ketahui, kita memerlukan kekuatan untuk melawan Crux of Shadow. Bocah bernama Evans itu juga merupakan anggota Spirit of Fire. Sudah sepantasnya dia membantu. Jadi-“


“Panggil aku Ketua!” ucap Mr Adolf.


Melihat semua orang terdiam, pria paruh baya itu kemudian berkata dengan marah.


“Bahkan jika kalian ingin mengetahui rahasia, kalian bisa mendekatinya baik-baik lalu menanyakannya setelah lebih dekat. Apa-apaan dengan cara mengancam seperti itu? Apakah kalian semua bodoh?!


Seorang pemuda berbakat mati dan satu lagi yang memiliki kemampuan khusus melarikan diri! Apakah kalian tahu apa yang kalian lakukan?!”


“Dia hanya pemuda ceroboh dan naif, Ketua. Dia tidak akan-“


“BODOH! SEEKOR KELINCI PENURUT AKAN MENGGIGIT KETIKA TERPOJOK, APALAGI MANUSIA!”


“...”


“Kalian membunuh sahabatnya. Kalian semua membuat Spirit of Fire dalam masalah besar! Apakah sel-sel otak kalian mati karena terlalu banyak korupsi ketika menjabat, K-parat?! Ini bukan lagi tempat orang-orang yang hanya mengandalkan jabatan seperti kalian bisa terus berkuasa!


Katakan padaku, dimana mayat pemuda bernama Brian itu?! Selain itu, katakan padaku kenapa kalian mengambil keputusan beresiko untuk menyerang Evans secara langsung?!”


Mendengar laporan itu, ekspresi Mr Adolf menjadi lebih gelap. Saat itu, pintu ruang rapat terbuka. Sosok putri Adolf memasuki ruangan lalu mendekati ayahnya dengan ekspresi berat.


“Ini benar-benar berita buruk, Ayah.”


“Ada apa?” tanya Mr Adolf.


“Tampaknya ada orang luar yang telah mengetahui jalan menuju ke markas.”


“Apa maksudmu?” Mr Adolf menggebrak meja.


“Ada seseorang yang melukai Brian sangat parah. Orang itu tampaknya sangat pandai bersembunyi. Dia mengikuti Brian dan masuk ke markas.


Menurut dugaanku, surat misterius yang aku temukan di salah satu ruangan tetua ada hubungannya dengan orang itu. Sepertinya dia dengan sengaja mengungkapkan kekuatan Evans dan membuat orang-orang serakah yang tidak sabaran ini mencoba menangkapnya. Selanjutnya, membiarkan Brian terbunuh dan membuat Evans memiliki kebencian mendalam terhadap Spirit of Fire.


Juga, tampaknya pria berjubah hitam itu juga yang membawa kabur mayat Brian. Alasannya sama sekali tidak diketahui. Yang pasti, dia jelas dengan sengaja menjebak Spirit of Fire.”


PYARRR!


Mr Adolf langsung membanting gelas ke lantai dengan wajah suram. Dia menatap ke arah putrinya. Setelah beberapa saat, pria paruh baya itu menghirup napas dalam-dalam lalu bertanya.

__ADS_1


“Menurutmu siapa orang itu dan apa alasan dia sampai melakukan semacam itu?”


“Dari penampilannya, orang itu seharusnya anggota Sword of Sufferings. Sedangkan alasannya, aku sama sekali tidak mengetahuinya.”


“Sword of Sufferings? Sejak kapan anggota kita membuat masalah dengan kelompok itu?” Dia mengalihkan pandangannya kepada para tetua. “Apakah kalian memberi pemuda itu misi lain yang memprovokasi kelompok itu?”


“Tidak, Ketua! Kami sama sekali tidak melakukan hal semacam itu.”


Mr Adolf jelas tidak sepenuhnya mempercayai mereka. Spirit of Fire jelas telah dibuat kerepotan dan bersembunyi seperti tikus oleh Crux of Shadow. Sekarang mereka juga harus menghadapi Sword of Sufferings dan seorang pemuda dengan kemampuan aneh yang memiliki dendam kepada mereka.


Memikirkan itu semua, wajah Mr Adolf tampak menjadi beberapa tahun lebih tua.


***


Sementara itu, dalam sebuah bangunan dua lantai di pinggiran kota.


“Apakah kamu sudah bisa bicara? Jika belum bisa, lebih baik tidak memaksakan diri untuk melakukannya.”


Saito yang menggantung jubah di gantungan pakaian dan melepaskan topengnya bertanya dengan ekspresi datar. Dia kemudian melirik ke arah sosok pemuda yang berbaring di atas ranjang tua yang telah dibersihkan. Hampir seluruh bagian tubuhnya dililit oleh sebuah kain sutera yang dipotong menjadi perban. Selain itu, aroma herbal kuat tercium dari tubuh pemuda itu.


Ya. Sosok yang terbaring di atas ranjang adalah sahabat terbaik Evans, Brian!


Melihat pemuda itu, Saito tersenyum.


“Meski ketua berkata kalau kamu harus pura-pura bunuh diri, aku tidak menyangka kalau kamu akan memotong lehermu dengan kejam. Jika aku tidak di sana, kamu pasti sudah mati. Apakah kamu benar-benar ingin membalas dendam?”


“...”


Brian yang sudah sadar tetapi masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya hanya bisa menatap ke arah Saito. Meski tidak mencolok dibandingkan dengan Hades yang seperti matahari dan dua orang lain yang seperti binatang buas, tetapi Brian tahu kalau Saito itu sangat penting bagi Hades.


Bisa dibilang, orang ini sudah mirip dengan bayang-bayang Raja Dunia Bawah tersebut!


Apa yang membuat Brian lebih mengagumi Saito adalah teknik pedangnya yang sangat kuat dan keterampilan muncul-menghilang layaknya hantu. Jika menemui musuh seperti itu, Brian yakin kemungkinan untuk melarikan diri hampir mendekati nol. Mendapat pujian dari orang semacam itu, dia merasa cukup senang. Namun kalimat berikutnya membuat Brian menjadi lebih terkejut.


“Tuan telah menyuruhku untuk memberimu penilaian. Karena totalitas yang kamu lakukan dan rasa tidak takut ketika menghadapi kematian, aku menganggapmu layak. Jadi mulai sekarang kamu akan menerima misi baru ...”


Saito tersenyum sambil berkata.


“Kamu akan berlatih di bawahku sampai layak menjadi tangan kanan Evans.”


“Bersiaplah memberinya kejutan ketika kalian bertemu kembali.”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2