
Tiga hari berlalu sejak pertempuran Ark bersama Jay, Kurona, dan Shirona melawan Raja Semut.
Pada saat ini, suasana cemas menyelimuti seluruh kota. Bahkan situasinya lebih buruk daripada ketika orang-orang mencba menjatuhkan Julian. Meski orang-orang itu telah mati, tetapi saat ini sisanya masih begitu cemas. Alasannya sebenarnya sederhana, yaitu kejatuhan Hades.
Bagi banyak rang, Julian mungkin adalah pemimpin pemerintahan, tetapi Hades adalah pilar kemanusiaan. Kunci bagi manusia bisa bertahan dan berkembang sampai sekarang. Meski banyak orang mungkin memiliki alasan khusus, tetapi mereka semua sangat peduli dengan keselamatan Ark.
Orang-orang juga mulai bertanya apa yang harus dilakukan Julian atau Joseph. Hanya saja, mereka semua tidak memberi jawaban pasti. Mereka menunggu beberapa saat karena yakin Ark akan kembali. Namun orang-orang yang begitu cemas jelas tidak ingin menunggu.
Jadi, saat ini seluruh kota diselimuti dengan suasana cemas dan resah.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Kak?”
Lisa duduk di kursi, menghadap ke tempat tidur tempat dimana Ark berbaring dengan tenang. Mata pemuda itu terbuka dan penampilannya telah pulih. Hanya saja, tangan kirinya memerlukan waktu untuk tumbuh kembali. Penampilannya agak aneh karena meski tubuhnya adalah lelaki dewasa, tetapi lengan kirinya adalah lengan bayi.
Ark menutupinya agar tidak menakut-nakuti orang lain. Meski dia telah mempercayai mereka, tetapi dia masih tidak ingin mengungkapkan segalanya kepada mereka. Namun, dia masih menunjukkan beberapa kemampuannya pada beberapa orang terdekat, yaitu mereka yang tinggal bersamanya. Kecuali mereka, hanya Lisa yang mengetahuinya.
Jay sebenarnya juga mengetahuinya. Namun saat ini dia masih tidak sadarkan diri. Kurona dan Shirona sudah sadar, tetapi tubuh mereka belum bisa digunakan karena kerusakan parah pada otak mereka membuat syaraf mereka terganggu. Bahkan sulit untuk menggerakkan jari, apalagi bertarung. Jelas tidak mungkin.
“Aku hanya memikirkan dua cara, tetapi masih bingung harus menggunakan yang mana.”
Ark bangkit dari tempat tidurnya lalu memakai kemeja lengan panjang yang bisa menutupi lengan kirinya yang saat ini dianggap putus. Dia kemudian pergi ke lemari pakaian untuk mengambil jubah.
“Kamu mau pergi ke mana, Kak?”
“Memeriksa Kurona dan Shirona.”
Setelah mengatakan itu, Ark pergi meninggalkan ruangan. Melihat ke arah pintu yang telah tertutup, Lisa menghela napas panjang. Dia jelas melihat kalau sejak Ark sadar, pemuda tersebut selalu menanyakan kondisi Jay, Kurona, dan Shirona. Tampaknya merasa bersalah dan khawatir terhadap kondisi ketiganya.
__ADS_1
Sementara itu, Ark pergi ke ruangan Kurona dan Shirona berada. Melihat dua gadis cantik yang berbaring di ranjang tanpa bergerak, ekspresinya menjadi lebih lembut. Melihat mereka mengedipkan mata dan tampak bingung, dia berkata.
“Aku hanya datang untuk memeriksa kalian. Tidak kurang, tidak lebih.”
Setelah itu, Ark duduk di tepi ranjang sambil menceritakan beberapa kenangan lama. Melihat ekspresi kedua gadis itu menjadi lebih baik, pemuda tersebut tersenyum. Dia kemudian menghampiri mereka lalu mengecup lembut kening mereka sebelum pergi.
“Kalau begitu aku pergi dulu.”
Setelah mengatakan itu, Ark kemudian pergi keluar dari kamar mereka berdua. Pada saat keluar dari kamar, dia melihat Stacy lalu mengangguk ringan.
Stacy yang melihat Ark pergi memiliki ekspresi rumit di wajahnya. Pada saat dia masuk ke kamar Kurona dan Shirona, gadis itu berkata dengan lembut.
“Kalian beruntung mengenalnya sebelum apocalypse terjadi.”
Sementara itu, setelah kembali dari kamar Kurona dan Shirona, Ark langsung memakai perlengkapannya. Dia membawa senjata, memakai sepatu, berganti jubah, dan memakai topeng. Setelah itu, pamuda itu pergi ke tempat Finn berada.
“Antarkan aku ke suatu tempat, Finn.”
Ark kemudian memanggil orang untuk memasang pelana. Setelah itu, dia langsung pergi keluar dari markas Sword of Sufferings.
Meski banyak orang yang bingung kenapa ketua mereka tiba-tiba keluar, pada akhirnya tidak ada yang berani menghentikannya. Lisa, Stacy, dan para anggota inti juga hanya bisa melihat kepergian Ark dari balik jendela. Membiarkan sang ketua pergi untuk menenangkan dirinya.
Setelah melakukan perjalanan cukup panjang, Ark dan Finn akhirnya tiba di lokasi. Huginn dan Muninn juga mengikuti mereka.
Melompat turun dari punggung Finn, Ark melihat tempat yang sangat familiar. Tempat itu adalah … rumah sakit jiwa.
Ark berjalan melewati pintu gerbang yang bobrok. Dia terus berjalan ke depan dengan ekspresi tenang. Dia tidak masuk ke dalam bangunan rumah sakit, tetapi berjalan melewati jalan setapak di pinggir bangunan, langsung menuju ke halaman belakang rumah sakit.
__ADS_1
Melihat taman penuh rerumputan dan banyak benda-benda berserakan, Ark sama sekali tidak peduli. Dia langsung berjalan menuju ke arah sebuah pohon mawar bermutasi yang dipenuhi dengan bunga, bahkan banyak bunga berguguran di bawahnya.
Di bawah pohon mawar bermutasi yang rimbun tersebut, tampak sebuah batu cukup besar dan tidak pada tempatnya. Meski tampak seperti batu acak, tetapi itu adalah tanda. Sebuah nisan sederhana dimana ada sosok yang disemayamkan di bawah sana.
Ark langsung berjalan ke tempat itu lalu berdiri dengan tenang di sana untuk beberapa saat. Saat itu, Finn tiba-tiba menggsokkan kepalanya ke tubuhnya. Tampaknya merasa tidak nyaman ketika melihat mata sedih tuannya.
“Aku baik-baik saja, Finn.” Ark berkata lembut sambil mengelus kepala makhluk itu.
Ark kemudian duduk dua meter di depan batu. Lalu pemuda itu mengeluarkan dua cawan keramik kecil dan sebuah botol porselen dari dalam tas kecil di pinggangnya. Meletakkan dua cawan kecil di depannya dan di depan batu, dia kemudian menuangkan anggur buatannya sendiri.
“Kamu bilang suka meminum anggur yang aku buat karena sedikit manis dan tidak memabukkan sehingga tidak mengganggu misi, kan? Aku membawanya untukmu.”
Ark membuka topengnya. Dengan sentuhan kesedihan di wajahnya, pemuda itu menyesap anggur perlahan. Meletakkan cawan lalu kembali menuang anggur karena hanya satu tangan yang bisa dia gunakan. Setelah meminum beberapa cawan kecil, pemuda itu kemudian berkata.
“Aku benar-benar yang terburuk. Padahal kamu sudah tenang di sana, tetapi aku masih datang untuk mengeluh padamu.”
“Hey, aku benar-benar sangat jahat, bukan? Bahkan setelah kembali, aku tidak bisa menyelamatkanmu. Aku juga hampir kehilangan Kurona dan Shirona. Kamu tahu? Pada saat aku benar-benar terpojok …
Aku sempat memikirkan untuk meninggalkan mereka. Padahal aku menganggap mereka sebagai keluargaku. Aku juga sempat ingin meninggalkan sahabatku. Padahal aku bilang dia sudah seperti saudaraku.”
“Karena merasa takut tidak bisa melindungi mereka, aku malah ingin berlari.”
“Bukankah aku yang terburuk?”
Ark langsung meneguk anggur dalam sekali jalan. Ekspresi lemah dan sedih tampak di wajahnya yang tampan. Berbeda dengan Hades yang selalu tampil seperti keberadaan puncak yang tidak bisa disentuh, kuat, dan penyendiri. Saat ini …
Dia tampak seperti lelaki biasa yang juga memiliki sisi lemahnya.
__ADS_1
>> Bersambung.