Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Sementara Yang Lama Gugur, Yang Baru Mekar


__ADS_3

Joseph berdiri sambil menatap pintu yang sedikit terbuka dengan ekspresi dingin di wajahnya. Sosok Kurona dan Shirona menjaga kanan dan kiri pintu, sementara darah terus mengalir keluar dari dalam ruangan melewati celah pintu.


Menginjak lantai yang basah karena darah, Joseph sekali lagi melirik ke celah pintu sebelum berkata.


"Aku mengerti."


Selesai mengucapkan dua kata pendek tersebut, Joseph berbalik pergi. Dia terus berjalan kembali ke lantai pertama, naik ke lantai dua, dan seterusnya. Semakin lama berjalan, ekspresi pria paruh baya tersebut menjadi semakin berat.


Sampai di lantai teratas bangunan, Joseph berjalan menuju ke sebuah ruangan. Ruangan tempat ketua Black Panther berada.


Menarik napas dalam-dalam, Joseph kemudian mendorong pintu sampai terbuka. Saat dia masuk ke dalam ruangan, suara hangat menyambutnya.


"Akhirnya kamu tiba ... Joseph."


Pandangan Joseph langsung menyapu ruangan. Ada tiga orang lelaki tua yang duduk dalam ruangan. Dua di antaranya duduk bersandar di sofa sambil memejamkan mata. Sedangkan satu orang lain duduk di kursi ketua, menatap ke arah Joseph dengan senyum lembut di wajah tuanya.


***


Bertahun-tahun yang lalu, di sebuah kota kecil perbatasan.


BLARRR!!!


Suara ledakan terdengar dari pinggiran kota. Kota itu sendiri tidak terlihat baik-baik saja. Banyak bangunan rusak, puing-puing bangunan berserakan di mana-mana. Menjadi zona perang, kecuali beberapa orang yang memaksakan diri untuk bertahan atau mereka yang kurang beruntung sehingga tidak bisa pergi meninggalkan kota, hanya para tentara berseragam yang membawa senjata menghuni kota ini.


"Apa yang kamu lakukan di sana, Carl?!"


Seorang tentara dengan tubuh penuh otot seperti Hercules dan memakai kacamata hitam berkata kepada sosok tentara yang keluar dari barisan dan malah pergi ke rumah bobrok. Jenis yang tidak bisa dikatakan sebagai tempat tinggal. Sebuah bangunan yang bisa runtuh kapan saja.


Di dalam rumah, Carl berdiri di depan sebuah lemari tua yang terbuka. Di sudut lemari, tampak anak kecil kurus yang tampaknya telah kehilangan seluruh kekuatannya. Namun tatapan sengit tampak jelas di matanya. Bukan hanya itu, dia juga tetap memegang pisau dapur dengan segenap kekuatan yang tersisa.


"Siapa namamu, Nak?"


"..."


Bocah itu sedikit membuka bibirnya yang kering dan pecah-pecah, tetapi tidak ada yang keluar dari mulutnya. Membaca gerakan bibir bocah itu, Carl tersenyum lembut. Dia mendekati bocah itu sambil bertanya.

__ADS_1


"Namamu Joseph? Dimana keluargamu?"


"..." Bocah itu sedikit menggelengkan kepalanya.


"Jadi kamu yatim piatu, ya?" ucap Carl dengan ekspresi iba.


Pria itu kemudian membungkuk sambil mengulurkan tangannya.


"Apakah kamu ingin pergi dari tempat terkutuk ini? Jika kamu mau, tidak perlu banyak bergerak, jatuhkan saja pisau di tanganmu."


Bocah itu menatap ke arah tentara dengan tatapan curiga, tidak begitu mudah percaya kepada sosok asing seperti itu.


Hanya saja, hatinya tergerak ketika melihat senyum secerah mentari pagi di wajah pria itu. Setelah ragu-ragu sebentar, dia akhirnya memutuskan untuk menjatuhkan pisau di tangannya. Tanpa bocah itu sadari ...


Pilihan tersebut benar-benar merubah hidupnya.


Satu bulan pertama setelah keluar dari kota kecil itu, Joseph yang dirawat di rumah sakit akhirnya sudah bisa berbicara dan bergerak dengan normal. Setelah itu, Carl akhirnya memutuskan untuk mengadopsinya.


Satu tahun kemudian, Joseph yang merasa tidak nyaman dengan kehidupan normalnya meminta ayah angkatnya untuk melatihnya. Carl adalah sosok tentara luar biasa, pahlawan dan teladan bagi banyak orang. Sosok yang sangat Joseph kagumi. Setelah banyak perdebatan, Carl akhirnya memilih untuk melatihnya.


Bertahun-tahun kemudian, setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Joseph akhirnya memutuskan untuk mengabdikan diri pada ketentaraan.


Meneruskan tujuannya, melangkah lebih dekat ke tujuannya ... menjadi pahlawan dan teladan seperti Carl!


***


"Kamu bukan lagi anak kecil, Joseph. Hentikan tangisanmu karena hal tersebut tidak akan merubah apapun."


BRUK!


Mendengar ucapan lelaki tua tersebut, Joseph jatuh berlutut di lantai. Air mata membasahi wajahnya. Benar-benar berbeda dengan penampilan tegas dan kuat seperti biasanya.


"Tuan ... Bisakah aku-"


"Jangan berperilaku bodoh, Joseph. Kamu telah berjalan sejauh ini, jangan pernah berpikir untuk kembali."

__ADS_1


Saat lelaki tua itu berbicara, dua orang lainnya akhirnya membuka mata. Salah satunya adalah lelaki tua dengan tubuh penuh otot, bekas luka tampak di wajahnya. Beliau memakai kacamata hitam. Sementara satu orang lainnya adalah lelaki tua kurus dengan kepala botak. Meski telah kehilangan kejayaannya (sudah tua), tatapan matanya masih membuat banyak orang menggigil ketakutan.


"Berhentilah menjadi pengecut, Nak Joseph! Aku tidak pernah mengajarimu untuk jadi cengan dan plin-plan!" ucap lelaki tua berkacamata hitam.


"Ya ... Sudah waktunya bagi lelaki tua seperti kami beristirahat dengan tenang. Sudah waktunya untuk memberikan tongkat estafet pada generasi berikutnya," ucap lelaki tua botak itu.


Sementara itu, ketua Black Panther terus menatap ke arah Joseph dengan senyum lembut di wajahnya. Setelah menghela napas panjang, dia akhirnya mulai meyakinkan.


"Jika kamu berhenti di sini, banyak anggota yang tidak yakin kepadamu. Jika kamu berhenti di sini, kursimu akan goyah dan semuanya akan menjadi kacau. Jika kamu berhenti di sini, banyak orang yang berusaha membuat kekacauan karena lelaki tua ini.


Jangan pikir kami bertiga takut menghadapi akhir. Justru sebaliknya, kami bertiga lega karena telah mendapatkan penerus yang bisa diandalkan. Kamu tidak berencana untuk membuat kami bertiga kecewa kan, Joseph?


Setelah ini, mungkin kamu akan menghadapi banyak masalah. Namun jangan pernah ragu untuk menghadapinya.


Hidup mungkin seperti langit yang tidak selalu terlihat biru. Terkadang berwarna jingga, terkadang tertutup awan kelabu, terkadang gelap dengan jutaan keping cahaya bintang yang menyertainya. Namun, aku harap hatimu tetap menjadi seperti langit ...


Tetap luas (lapang), meski warna kehidupan akan terus berubah."


DUG! DUG! DUG!


Joseph bersujud tiga kali, membenturkan dahinya ke lantai sampai berdarah. Banyak ucapan terima kasih yang ingin dia ucapkan, tetapi hanya dengan ini dia bisa mengungkapkan. Saat itu juga, suara lembut kembali terdengar di telinganya.


"Pada saat yang lama gugur, yang baru akan mekar."


"Sudah saatnya kamu mengirim kami pergi, Joseph."


Joseph bangkit. Pria itu menatap lurus ke depan dengan wajah penuh darah dan air mata. Menggigit bibirnya sampai berdarah ... dia akhirnya menghunuskan pedangnya.


***


Beberapa menit kemudian, Joseph keluar dari kantor sambil terhunyung.


Baru saja berjalan beberapa meter, pria paruh baya itu jatuh duduk ke lantai. Melihat dua tangan penuh dengan darah orang yang dia hormati sekaligus dia anggap sebagai keluarga, air mata kembali mengalir. Menutup wajahnya dengan kedua tangannya, Joseph bergumam dengan suara yang hanya bisa dia dengar.


"Ini ... Pilihan yang benar, kan?"

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2