
Situasi di perbatasan wilayah Golden Maple Group dan Imperial Phoenix semakin memanas.
Jarak antara kedua kelompok semakin mendekat. Namun mereka belum bergerak. Hanya saling mengawasi dengan tatapan sengit, tampaknya siap untuk bertempur kapan saja.
Melihat situasi tersebut, Chris memanggil Rhodez dan beberapa jenderal lain.
Setelah mereka semua berkumpul, dia meminta mereka untuk duduk dan bicara.
“Bagaimana? Apakah kalian memiliki pendapat? Dari situasinya, tampaknya Imperial Phoenix tidak bermaksud untuk menyerang.
Mungkin saja berita tentang pengkhianat dari kelompok itu memang benar. Jika benar, tidak bisakah kita meregangkan situasi. Melakukan gencatan senjata dan mundur ke tempat masing-masing untuk mengurus masalah sendiri.”
Mendengar ucapan Chris yang tampak begitu baik dan indah, para jenderal menggelengkan kepalanya. Mereka menganggap si ketua itu terlalu konyol. Meski bersikap optimis juga penting, tetapi mereka harus mempersiapkan kemungkinan terburuk.
Jadi, pemikiran Chris yang hanya mengarah ke akhir bahagia tidak dapat diterima.
“Menurutku, kita harus membalas dendam dengan menyerang duluan.”
“Ya. Jumlah kita lebih banyak dan kita memiliki ramuan yang berguna. Jika menyerang lebih awal dan berhasil mengejutkan musuh, itu akan menjadi pukulan berat untuk Imperial Phoenix.”
“...”
Melihat beberapa jenderal yang bersemangat untuk menyerang, ekspresi Chris tenggelam. Meski tidak sepenuhnya curiga, tetapi dia merasa kalau orang-orang itu sulit dipercaya. Mengalihkan pandangannya pada Rhodez, pria itu bertanya.
“Bagaimana menurutmu Rhodez?”
“Menurutku, lebih baik kita memilih bertahan. Kita memiliki keuntungan lingkungan, kita juga memiliki pertahanan lebih solid. Ditambah dengan ramuan yang tersedia, kita pasti memenangkan pertempuran jika Imperial Phoenix menyerang duluan.”
Rhodez berkata dengan ekspresi serius. Meski beberapa orang tampak tidak puas dengan jawabannya, tetapi sebagian juga tampak mendukung keputusannya. Pria itu menghela napas sebelum melanjutkan.
“Tentu saja, ada baiknya jika kita bisa berdamai seperti apa yang dikatakan Ketua.”
“Benar-benar mustahil!”
Salah satu jenderal langsung berkata dengan nada penuh kepastian. Merasakan tatapan yang diarahkan kepadanya, dia terus berkata.
“Orang-orang dari pemerintahan itu bukanlah orang baik. Mereka sudah berkhianat dan tidak pantas dipercaya! Kita harus maju terlebih dahulu dan melenyapkan mereka!”
“Diam!”
Chris langsung menyela dengan ekspresi tegas. Melihat ke arah pria itu, dia berkata dengan ekspresi sedih di wajahnya.
“Aku tahu kalau kehilangan putra satu-satunya itu berat, Teman. Namun aku juga berharap kamu tidak terbawa emosi. Jangan biarkan perasaan pribadi mengacaukan segalanya.”
Mendengar ucapan lembut Chris, pria paruh baya itu berkata dengan mata merah. Ekspresi penuh kemarahan serta kesedihan tampak di wajahnya.
“Kamu tidak tahu! Kamu tidak tahu apa-apa dan tidak kehilangan siapa-siapa! Putramu hidup sehat, kamu bahagia dengan istrimu, jadi bagaimana kamu tahu apa yang aku rasakan!”
“LAUIS!” teriak Rhodez dengan ekspresi tegas.
Mendengar teriakan Rhodez, pria paruh baya bernama Lauis tiba-tiba tersadar. Memegangi kepalanya, dia berkata dengan nada penuh penyesalan.
“Maaf. Aku ... Aku sama sekali tidak berniat mengatakan hal kejam semacam itu.”
Chris sama sekali tidak marah. Pria paruh baya tersebut menepuk bahu Lauis dengan lembut.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, Temanku. Aku memang tidak bisa mengerti apa yang kalian semua rasakan. Namun, jika kalian tidak keberatan, datang dan bicaralah padaku. Meski mungkin tidak memberi solusi, setidaknya kalian bisa mengatakan apa yang mengganjal dalam hati kalian.”
Mendengar ucapan Chris, suasana yang awalnya tampak suram menjadi lebih cerah. Mereka menatap ke arahnya dengan ekspresi penuh terima kasih. Walau cemburu dengan keberuntungan hidup Chris, mereka juga merasa kalau pria tersebut pantas mendapatkannya.
“Jadi, mari kita menunggu selama tiga hari. Jika mereka tidak menyerang dan tidak mengirim orang untuk bicara, kitalah yang akan memulai pembicaraan.
Aku tidak mau ini terjadi. Namun, apabila mereka menolak kebaikan ...”
Ekspresi Chris menjadi lebih tegas.
“Maka kita akan bertarung!”
***
Satu hari kemudian.
“Apakah laporanmu itu benar?”
Mendengar laporan dari tim yang menjaga barisan depan, ekspresi Chris tampak lebih serius.
“Benar, Ketua. Orang-orang dari Imperial Phoenix semakin mendekat. Bisa dibilang, mereka bersiap untuk bertempur kapan saja.”
“...”
Chris bersandar pada kursinya. Pria itu memejamkan mata lalu menghela napas panjang. Diam-diam dia berpikir dengan perasaan kecewa.
‘Padahal aku tidak ingin melakukan hal-hal semacam ini.’
Setelah beberapa saat diam, Chris membuka matanya. Dia bangkit dari kursinya lalu menatap ke arah prajurit yang melapor.
“Baik, Ketua!”
Setelah mengatakan itu, Chris langsung pergi menuju ke tempat Rhodez berada.
“Rhodez!”
“Ketua?”
Melihat ekspresi serius Chris, Rhodez tampak terkejut. Tampaknya tidak menyangka kalau hal serius telah terjadi.
“Bawa sema peralatanmu dan kumpulkan orang. Kita akan datang ke barisan terdepan untuk memeriksa. Bersiap untuk melakukan pertempuran skala besar.”
Mendengar itu, ekspresi Rhodez berubah menjadi serius. Pria itu mengangguk dengan ekspresi tegas di wajahnya.
“DIMENGERTI!”
Setelah mengatakan itu, Rhodez segera mengambil peralatannya. Pria itu kemudian memanggil orang-orang yang paling bisa diandalkan. Mereka semua pun berangkat menuju ke barisan paling depan. Berniat untuk memeriksa kondisi dengan mata kepala mereka sendiri.
Sesampainya di sana, ekspresi Chris dan rekan-rekannya berubah.
Memang, jumlah musuh meningkat. Namun jelas ada yang salah karena penjaga dari Golden Maple Group tampaknya kurang dan cukup tersebar.
“Kumpulkan orang-orang di sekitar tempat ini segera! Buat formasi melingkar besar dan bersiap untuk bertarung.” teriak Chris.
Swoosh! Swoosh! Swoosh!
__ADS_1
Saat itu juga, suara anak panah merobek udara terdengar. Dari kabut kelabu, puluhan demi puluhan anak panah terus ditembakkan.
Melihat serangan yang begitu tiba-tiba, Chris langsung berteriak.
“Serangan musuh! Tahan dengan hati-hati! Lihat ke sekeliling dengan waspada dan jangan sampai ceroboh!”
“Ya, Ketua!” jawab mereka serempak.
Berhasil menangkis beberapa serangan dari para pemanah, ekspresi Chris dan rekan-rekannya menjadi berat. Saat itu juga, Rhodez bertanya.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang Ketua?”
Mendengar pertanyaan Rhodez, semua orang menatap ke arah Chris.
Chris mendengarkan suara pertempuran di depan. Tidak bisa menahan diri, pria itu akhirnya berkata.
“Tentu saja kita akan maju untuk membantu! Kita harus membantu rekan-rekan kita untuk bertahan sampai bala bantuan di sekitar tiba!”
Mendengar itu, orang-orang mengangguk berat. Mereka semua langsung menuju ke depan untuk membantu.
Benar saja. Di bagian depan, para prajurit Golden Maple Group telah berhadapan dengan orang-orang dari Imperial Phoenix.
“Serang! Bunuh! Bunuh mereka yang telah menyakiti saudara-saudara kita!”
Mengikuti perintah Chris, semua orang langsung menyerang.
Dipimpin oleh Rhodez di barisan paling depan, Chris dan rekan-rekan lainnya membunuh cukup banyak orang-orang dari Imperial Phoenix. Namun, saat itu sesuatu yang tidak mereka duga tiba-tiba terjadi.
Swoosh! Swoosh! Swoosh!
Berbeda dengan puluhan panah sebelumnya. Jumlah panah yang muncul kali ini adalah ratusan, datang terus-menerus dan membuat mereka sulit bertahan.
“Urgh!”
Beberapa orang mulai jatuh karena panah yang mengenai mereka. Melihat rekan-rekannya yang terluka, Chris berteriak.
“Tahan! Sebentar lagi bala bantuan akan tiba!”
Jleb!
Saat itu, anak panah tiba-tiba menembus leher dan dada Chris. Jatuh ke tanah, dia berjuang untuk bertahan. Pria itu ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak bisa karena tenggorokannya rusak.
Beberapa saat kemudian, bala bantuan akhirnya tiba.
Rhodez yang terkena banyak anak panah melindungi tubuh Chris. Pria itu berteriak dengan nada marah dan penuh kebencian.
“BUNUH! BUNUH MEREKA SEMUA DAN BALASKAN DENDAM KETUA!”
Mendengar teriakannya, semua orang menggila dan menyerang ke arah musuh dengan penuh niat membunuh. Namun, mereka sama sekali tidak tahu adanya perbedaan pada Rhodez.
Tubuh Rhodez memang terkena banyak anak panah, tetapi jika diperhatikan, sama sekali tidak ada anak panah yang mengenai titik vital.
Melihat ke arah sahabatnya yang memiliki ekspresi dingin, tangan Chris mengepal erat sambil memaksakan diri untuk berkata.
“KENAPA?”
__ADS_1
>> Bersambung.