
"Selain persoalan ini, aku ingin membicarakan hal lain."
Julian berkata dengan nada tegas. Tampaknya memang memiliki suatu hal penting yang ingin dibicarakan.
Melihat ekspresi serius di wajah Julian, Ark mengangkat alisnya.
"Biar aku tebak, kamu masih tidak menyerah. Kamu masih menginginkan 'itu' meski aku sudah beberapa kali menolak permintaanmu?"
Mendengar ucapan Ark, Julian mengangguk. Meski beberapa kali ditolak, dia sama sekali tidak menyerah. Pria itu merasa kalau ramuan evolusi sangat berpengaruh dalam kelangsungan hidup umat manusia. Jadi dia menjadi lebih keras kepala.
Ark melihat ke arah Julian. Mengetahui betapa keras kepalanya pria itu, dia tiba-tiba memiliki ide.
"Apa yang kamu inginkan sangat sulit dibuat. Namun jika kamu bisa membuktikan kekuatanmu, aku tidak keberatan memberimu sedikit."
"Benarkah?!" tanya Julian dengan ekspresi gembira di wajahnya.
"Tentu saja hanya ketika kamu bisa membuktikan kekuatanmu."
Perkataan Ark membuat ekspresi di wajah Julian menjadi lebih serius. Dia menghirup napas dalam-dalam. Setelah agak tenang, pria itu bertanya, "Aku harus melawanmu?"
Pertanyaan Julian membuat Ark memiringkan kepalanya. Pemuda itu bergumam, "Kamu? Melawanku?"
"Jika tidak?" ucap Julian dengan nada bingung.
"Tentu saja tidak." Ark menggelengkan kepalanya. "Kamu akan melawan dia."
Pandangan Julian jatuh ke arah Ark menunjuk. Ekspresi penuh keraguan tampak di wajahnya ketika melihat sosok Lisa yang ditunjuk oleh Ark. Sudut bibir Julian berkedut. Bagi orang-orang, gadis itu lebih mirip dengan maskot yang beruntung karena menjinakkan Black Doberman. Namun karena dirinya pernah dipukuli sebelumnya, pria itu sama sekali tidak akan tertipu dengan penampilannya.
"Jika kamu tidak berhenti menatapku dengan cara seperti itu, aku benar-benar akan mencongkel kedua mata itu, Paman!" Lisa berkata dengan nada marah.
"..."
Julian terdiam, benar-benar tidak menyangka kalau gadis kecil itu memiliki mulut lebih beracun daripada ketuanya.
Ark mengetuk kepala gadis itu sambil berkata, "Jaga sopan santunmu. Tidak baik bagi seorang gadis kecil berbicara soal mencongkel mata atau semacamnya."
"Hmph!"
Lisa mendengus dingin sebagai tanggapan. Dia sama sekali tidak berani membantah, tetapi masih tidak meng-iyakan pendapat Ark.
"Bagaimana, Julian? Apakah kamu mau menerima tantangan ini?"
"Apakah kamu tidak takut aku menyakitinya tanpa sengaja? Maksudku, aku tidak akan ceroboh seperti dulu," ucap Julian penuh keraguan.
"Pfft!"
Ark menahan tawa. Sementara itu, ekspresi Lisa benar-benar menjadi lebih gelap.
Ark melirik ke arah Lisa yang marah. Mengetahui kalau Julian pasti kurang beruntung, dia mengangkat bahu. Pemuda itu tersenyum di balik topengnya sambil berkata, "Kamu tidak perlu khawatir. Katakan saja, kamu berani atau tidak."
Mendengar ucapan Ark, Julian menatap ke arah Lisa dengan ekspresi sedikit enggan.
__ADS_1
"Maafkan aku, Adik Kecil. Meski sebenarnya tidak ingin menyakitimu, aku benar-benar membutuhkan 'itu'.
Aku sama sekali tidak memiliki rencana balas dendam atau semacamnya."
"Potong! Berhenti basa-basi dan lawan aku, Paman!"
Lisa berkata dengan ekspresi sabar. Benar-benar seperti gunung berapi kecil yang akan meletus kapan saja.
***
Setengah jam kemudian, di lapangan latihan tidak jauh dari markas Silver Cross.
"Sudah hampir gelap. Lebih baik segera memulainya."
Ark melihat ke arah Lisa dan Julian yang berdiri berhadapan. Selain dirinya, ada juga Darin, Kurona, Shirona, dan belasan anggota inti Silver Cross yang menonton.
Orang-orang dari Silver Cross menatap ke arah Lisa dengan ekspresi kasihan, tampaknya tidak tega jika gadis kecil yang ceria itu sampai dipukuli oleh ketua mereka. Kebanyakan dari mereka adalah anggota baru, sehingga tidak tahu betapa mengerikannya banteng kecil itu.
Sementara itu, anggota Dark Caravan hanya menatap kosong. Hadir sebagai formalitas karena sudah tahu hasil pertandingannya.
"Kedua orang bersiap di posisi kalian. Pertandingan akan dimulai dalam hitungan tiga, dua, satu ..."
"MULAI!"
Mendengar ucapan Ark, Julian langsung maju. Bergegas ke arah Lisa dengan pedang kayu (pedang latihan) di tangannya. Dia bersikeras tidak menggunakan senjata tajam karena takut melukai lawan. Melihat Lisa hanya diam, orang-orang dari Silver Cross berpikir Lisa tidak melawan karena ketakutan.
'Tampaknya aku benar-benar telah jauh melampauinya.'
Ekspresi Julian tiba-tiba berubah ketika melihat sosok kecil Lisa menangkap pedang kayu dengan mudah.
CRACK!!!
Gadis kecil itu mematahkan pedang kayu dengan mudah. Dia mendengus dingin sambil melirik ke arah Julian. Lisa kemudian berkata, "Apakah kamu belum sarapan, Paman? Ganti pedang asli jika kamu tidak ingin dipukuli."
"Kamu ..."
Julian menatap pedang kayu patah di tangannya dengan ekspresi tidak percaya. Dia tidak menyangka kalau gadis kecil itu benar-benar lebih kuat dibandingkan dirinya.
Ya. Itu karena Julian tidak tahu kalau manusia bisa 'naik level' beberapa kali. Jadi dia mengira evolusi menjadi 'manusia super' adalah batasnya.
"Aku menarik kata-kataku, Gadis kecil." Julian mundur sambil membuang pedang kayu di tangannya. "Kamu kuat. Tarik keluar senjatamu lalu bersiaplah untuk bertarung!"
"Jangan banyak bicara, Paman! Aku tidak perlu senjata untuk melawan orang sepertimu."
Lisa langsung bergegas maju. Dia langsung mengayunkan tinju kecilnya. Mengincar tepat ke dada Julian.
Melihat serangan Lisa, Julian langsung menyilangkan tangan dalam posisi bertahan di depan dadanya.
BAM!!!
Sosok Julian langsung terpental beberapa meter. Pria itu merasakan sakit di tangannya. Dia terkejut ketika mengetahui tulangnya retak karena pukulan acak dari gadis kecil seperti itu!
__ADS_1
"Kalau begitu aku tidak akan menahan diri!"
Julian langsung bergegas ke arah Lisa. Tanpa senjata, pria itu memukul dan menendang.
Pukulan dan tendangannya memang kuat, tetapi Lisa yang telah dilatih oleh Ark bisa melihat banyak kekurangan dalam sekali pandang. Gadis itu sama sekali tidak balik menyerang, tetapi terus menghindari serangan Julian. Tampaknya sengaja menguras stamina dari ketua Kelompok Silver Cross tersebut.
Swoosh! Swoosh! Swoosh!
Tinju demi tinju dilemparkan, tetapi sama sekali tidak ada yang mendarat di tubuh Lisa.
Meski gadis itu tidak terlalu cepat jika dibandingkan makhluk level 2 lain, dia masih lebih baik daripada Julian. Belum lagi tubuh kecilnya cukup sulit dibidik.
"Sungguh membosankan."
Pada saat mendengar ucapan itu, Julian tiba-tiba merinding.
Sosok Lisa menghindari pukulan Julian dengan menunduk. Dia maju ke depan lalu melakukan tiga pukulan berat tepat di perut. Sebelum tubuh pria itu terpental mundur, Lisa langsung melakukan upper cut!
BRUAK!!!
Sosok Julian langsung jatuh ke tanah dengan keras. Pria itu telah kehilangan kesadarannya.
Semua penonton dari pihak Silver Cross benar-benar terpana ketika melihat pemandangan ajaib di depan mereka.
***
Membuka matanya, Julian melihat langit-langit kamarnya.
"Aku sekali lagi dipukuli gadis kecil," gumam pria itu dengan ekspresi rumit.
"Saya rasa itu wajar, Ketua. Tamer adalah salah satu anggota inti Dark Caravan, sudah sewajarnya jika dia kuat dan terus bertambah kuat."
Mendengar itu, Julian menoleh ke samping. Di sana, tampak sosok Berto yang duduk dengan tenang sambil bersandar pada dinding. Jelas pria itu yang merawatnya ketika pingsan.
"Tetap saja, dipukuli gadis kecil sangat tidak menyenangkan."
"Anda benar."
"Omong-omong, apakah Dark Caravan tinggal?"
"Tidak. Setelah mampir untuk menyelesaikan urusan, mereka pergi."
"Apakah Hades mengatakan sesuatu sebelum pergi?"
"Ya."
Berto menatap ke arah Julian dengan ekspresi serius sebelum berkata.
"Lebih baik fokus pada yang kamu miliki saat ini daripada mengejar sesuatu yang tidak pasti."
>> Bersambung.
__ADS_1