
Cara halus dan kasar, begitulah bagaimana Ark menyebutnya.
Ark selalu memperlakukan seseorang sesuai kadarnya. Terkadang dia mendorong keras, terkadang dia menyentuhnya dengan lembut. Begitulah cara pemuda itu memperlakukan orang lain.
Jika diibaratkan, Ark adalah air. Jika ditaruh dalam gelas, dia akan berbentuk seperti gelas. Jika ditaruh dalam teko, dia akan berbentuk seperti teko. Dia bisa menjadi keras dan kuat seperti es, air yang didinginkan. Dia juga bisa bersikap ringan dan membawa kehangatan seperti uap, air yang dipanaskan.
Begitulah Ark ... berubah-ubah, tetapi memiliki sebuah inti yang tidak bisa diubah.
Melihat ke arah Abigail yang berbaring di ranjang, Ark merasa tergelitik. Dia benar-benar ingin menjatuhkan gadis cantik dan naif itu, tetapi akhirnya menggelengkan kepalanya.
Menghadapi wanita seperti Abigail, cara kasar bukanlah solusinya. Wanita itu terlalu rapuh, jika ditekan keras, layaknya cermin tipis ... dia akan hancur berkeping-keping. Tidak mungkin percaya kepada orang lain, apalagi setia kepada orang lain. Bahkan, kepribadian Abigail mungkin akan berubah total.
Bahkan jika Ark bisa membuat Abigail tetap berada di sisinya dengan cara kasar, tetapi apa yang membuat pemuda itu tidak ingin melakukannya sebenarnya sederhana. Wanita itu memiliki sikap baik, jadi dia tidak ingin merubahnya.
Berbeda lagi dengan Stacy. Gadis itu benar-benar licik dan suka memanfaatkan orang lain. Bisa dibilang, sifatnya sangat buruk. Itulah alasan Ark menekannya dengan keras, menghancurkan sifat-sifat itu, menyisakan sebuah alasan kenapa gadis tersebut sebelumnya bisa menjadi seperti itu.
Stacy berubah karena dirinya kurang kasih sayang dan perhatian, jadi setelah menghancurkan sikap-sikap busuk dari gadis itu, Ark memberinya kasih sayang dan perhatian. Memberi apa yang Stacy butuhkan.
Mungkin terdengar kejam, tetapi Ark melakukan semua itu untuk melindungi dirinya sendiri. Lagipula ...
Tak seorangpun di dunia ini yang suka dikhianati!
Tentu saja, pengecualian untuk orang gila, yang sudah kehilangan akal sehat mereka.
Ark menatap sosok Abigail sejenak. Setelah itu, dia menutup tubuh wanita tersebut dengan selimut. Kemudian Ark pergi meninggalkan ruangan lalu menutup pintu.
Setelah meninggalkan ruangan Abigail, Ark pergi ke halaman belakang. Dia kemudian berdiri dengan tenang sambil menatap langit malam tanpa awan, dihiasi oleh jutaan bintang.
Ark kemudian memandang ke arah rembulan yang menggantung di langit. Merasakan angin malam menerpa wajahnya dan meniup rambutnya, ekspresi pemuda itu menjadi lebih dingin.
"Besok adalah bulan purnama pertama ... kah?"
Bergumam pelan, tangan Ark mengepal erat. Dia kemudian kembali ke dalam rumah. Naik ke lantai tiga, dia mengambil dua katana dan sebuah belati. Setelah berganti pakaian serta mempersiapkan diri, pemuda itu turun ke lantai pertama.
"Mau kemana, Ark?"
Ark menoleh ke sumber suara. Melihat Jay dan anggota lain yang baru saja tiba, dia malah balik bertanya.
"Apakah zombie yang kalian temukan jumlahnya lebih banyak dari biasanya?"
"Eh? Bagaimana kamu tahu?"
__ADS_1
"..."
Melihat ke arah Ark yang diam, Jay mengeluh.
"Kami benar-benar kurang beruntung. Bukankah seharusnya para zombie di area sekitar sudah dibersihkan? Kenapa banyak sekali zombie yang tiba-tiba muncul? Apakah mereka melakukan migrasi atau semacamnya?!"
Mendengar keluhan Jay, Ark menatap ke arah sahabatnya dengan ekspresi serius.
"Kalian membawa mayat-mayat zombie kembali seperti biasa?"
"Eh? Kamu bilang itu akan digunakan sebagai pupuk, kan? Kami membawanya kembali? Ya ... aku akui bahwa idemu untuk memelihara tanaman merambat beracun itu bagus, tapi—"
"Kalian tidak menguburnya langsung?"
"Seperti biasa, kami meletakkannya di dekat dinding. Biarkan Natasha dan Stacy yang melakukannya besok."
Mendengar ucapan Jay, bukan hanya Natasha dan Stacy, Ark yang biasanya tenang mengerutkan kening. Karena terlalu fokus pada latihan dan pembangunan markas, dia melupakan beberapa detail kecil.
"Kalian ikut aku untuk menguburkan mayat zombie sekarang juga."
"Hah?! Apakah kamu bercanda, Ark?"
Ark tidak banyak menjelaskan. Hanya saja, melihat betapa seriusnya ekspresi pemuda itu, mereka merasa bahwa ada masalah.
Mereka semua kemudian keluar dari rumah dan mulai mengubur semua zombie. Hanya saja, karena jumlahnya cukup banyak dan tidak seperti biasanya. Pada akhirnya, mengubur zombie memakan lebih banyak waktu daripada yang Ark perkirakan.
"Bawa air untuk menyiram semua bekas darah zombie dan sisa-sisa daging."
Mendengar perintah Ark, anggota kelompok lain tampak agak bingung. Namun mereka masih melakukannya karena sangat mempercayai keputusan pemuda itu.
"Kamu mau pergi ke mana, Ark? Jangan bilang kamu akan jalan-jalan sementara kami harus membersihkan jalanan?!"
"Ada hal penting yang harus aku lakukan."
Setelah mengatakan itu, Ark segera pergi meninggalkan teman-temannya yang kebingungan.
Pemuda itu mengikuti jejak darah dimana Jay dan yang lainnya membawa zombie. Dia terus berjalan menuju ke lokasi. Namun akhirnya terhenti di tengah perjalanan.
"Untungnya masih jauh."
Ark bergumam pelan. Dia kemudian menatap beberapa makhluk yang ada di jalanan. Apa yang pemuda itu lihat adalah tikus. Tidak! Lebih tepatnya ... tikus bermutasi.
__ADS_1
Seekor tikus seukuran Golden Retriever, bulu cokelat panjang tampak berantakan dan kotor. Kuku-kuku di kaki makhluk itu tampak tajam. Bukan hanya kuku, mulutnya juga diisi oleh puluhan taring tajam. Mata tikus itu berwana merah, melotot dengan air liur yang terus menetes dari mulutnya.
Tampak menjijikkan, sangat bau, dan beracun.
Itulah bagaimana Ark menggambarkan para tikus mutan.
Makhluk tersebut adalah salah satu makhluk yang paling dibenci oleh Ark. Bukan hanya karena penampilannya, tetapi juga karena masalah yang disebabkan oleh mereka. Belum lagi ... tidak ada bagian dari tikus bermutasi yang bisa dimakan!
Melihat ke arah Ark, beberapa tikus bermutasi mencicit. Mereka melihat ke arah pemuda itu dengan tatapan gila, seperti predator yang melihat mangsanya.
Menatap ke arah tikus-tikus bermutasi yang bergegas menuju dirinya, Ark langsung menarik katana dari pinggangnya. Memastikan jumlah tikus di area sekitar, ekspresi pemuda tersebut berubah menjadi lebih dingin.
Ark langsung bergegas maju. Tikus yang berada di posisi paling depan langsung melompat tinggi, membuka mulutnya yang dipenuhi dengan taring dan air liur. Ingin segera mencabik-cabik Ark!
Ark mengelak ke samping sambil mengayunkan pedangnya. Dia langsung memenggal kepala tikus tersebut. Namun dia juga menghindari darah tikus yang terciprat. Bukan karena akan meracuni dirinya, tetapi darah makhluk itu sangat bau!
Sangat bau sekaligus baunya sulit dihilangkan!!!
Melihat para tikus yang terkejut dan panik, Ark sama sekali tidak melepaskan kesempatan. Dia langsung bergegas maju dan membunuh semua tikus bermutasi.
Selesai membunuh, Ark tampak cukup lega. Namun ekspresinya tiba-tiba berubah ketika melihat seekor tikus yang tadi tidak sempat dia hitung.
Melihat ke arah tikus yang berusaha melarikan diri, Ark langsung bergegas mengejarnya. Mata pemuda itu langsung berubah.
Mata dengan pupil seperti mata kucing berwarna biru yang berkilau dalam kegelapan muncul. Kecepatan pemuda itu langsung meningkat. Tangan kanan yang memegang katana langsung mencengkeram erat. Warna kelabu yang samar dan tampak aneh menutupi bilah pedangnya. Saat itu juga, Ark langsung menebas.
Slash!
Tikus yang berjarak beberapa meter di depan Ark langsung terpotong menjadi dua. Bukan hanya tikus, tetapi sebuah bekas tebasan juga muncul di jalan beraspal.
Melihat tikus terakhir dibunuh, Ark menghela napas lega. Dia menyarungkan kembali katana miliknya. Matanya kembali normal.
Ark kemudian menatap ke arah mentari yang membawa sinarnya, mewarnai dunia dengan warna merah menyala pertanda fajar telah tiba.
Cahaya mentari yang menyinarinya sama sekali tidak membuat hati Ark menjadi lebih hangat. Sebaliknya, pemuda itu malah memejamkan mata dengan khidmat.
"Hari ini akhirnya tiba ..."
Gumam Ark dengan ekspresi rumit di wajahnya.
>> Bersambung.
__ADS_1