Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Memperoleh Kepercayaan


__ADS_3

Dua hari kemudian.


“Apakah kalian sudah siap?”


Ark melihat ke arah adik serta rekan-rekannya. Melihat kalau semua orang sudah mengenakan pakaian lengkap sambil membawa tas besar penuh dengan bahan yang mereka dapatkan di kota ini. Bahan-bahan tersebut sebagian digunakan sebagai obat, sisanya adalah bahan makanan.


“Ya, Ketua!” jawab mereka serempak.


Ketika mendengar jawaban mereka, Ark mengangguk. Sesuai dengan permintaan Evans, Saito telah memindahkan para pengungsi (sisa anggota Spirit of Fire) ke tempat persembunyian.


Lokasi itu cukup tersembunyi seperti markas Spirit of Fire sebelumnya. Sebenarnya, Ark ingin menggunakan untuk markas pribadi Sword of Sufferings, tetapi akhirnya juga digunakan untuk menampung orang-orang itu. Jika bukan karena adiknya, dia tidak ingin begitu peduli dengan kelompok yang bahkan mencoba memeras adiknya itu.


Ark pergi bersama adik dan rekan-rekannya di malam hari. Meski pergerakan mereka harus lebih lambat karena faktor resiko lebih banyak, tetapi ancaman mereka hanya zombie dan berbagai binatang buas. Meski jenis binatang buas itu banyak, tetapi masih kurang berbahaya dibandingkan para manusia.


Untuk saat ini, Ark tidak ingin berurusan secara langsung dengan Crux of Shadow. Lagipula, bukan hanya merepotkan ketua mereka, tetapi Silvia yang berada di sana juga makhluk tingkat 4 yang sangat berbahaya. Belum lagi, sebagai pemilik slime, seharusnya wanita itu juga memiliki beberapa bawahan sendiri.


Ark yakin kalau Silvia tidak akan membentuk kelompok besar seperti sekte Crux of Shadow, karena begitulah sifatnya. Meski begitu, bukan berarti wanita itu tidak akan mengambil rute elit dengan mengambangkan beberapa orang dan membentuk tim pembunuh yang kuat miliknya sendiri.


‘Sekarang ... aku harus berpikir bagaimana cara memecah kerjasama antara Silvia dan Crux of Shadow.’


Sambil berlarik, Ark memikirkan berbagai cara. Namun mengingat kebencian mendalam Silvia di kehidupan sebelumnya dan tampaknya hanya hidup untuk membunuh dirinya membuat pemuda itu sakit kepala. Pada saat itu, Silvia selalu sendirian, ekspresinya tampak kosong, dan berubah menjadi penuh kebencian ketika bertemu dengannya.


Jika tatapan bisa membunuh, Ark yakin dirinya sudah dicabik-cabik oleh tatapan Silvia.


‘Masalahnya, kenapa dia bisa begitu membenciku di kehidupan sebelumnya?’


Ark merasa banyak pertanyaan di kepalanya. Ketika bertemu beberapa hari yang lalu, dia merasa kalau kebencian Silvia tidak begitu dalam. Tidak seperti lubang hitam yang mencoba menelannya. Jadi menurut Ark, ada kesempatan untuk ‘bicara baik-baik’ dengan wanita itu.


‘Sekarang bukan waktunya untuk memikirkan ini.’


Melihat bukit bebatuan di depan mereka, Ark menghela napas panjang. Dia, adiknya, dan rekan-rekannya akhirnya tiba di lokasi,


Lokasi persembunyian yang Ark temukan bukanlah sebuah gedung atau bangunan manusia, tetapi gua buatan binatang buas. Tempat itu dulunya adalah sarang beruang bermutasi tingkat tiga yang miracle rootnya diambil oleh Leon. Lokasi itu cukup strategis karena tempat itu cukup luas untuk aktivitas ratusan orang. Di depan gua, ada sebuah tanah lapang, dan di sekitarnya dipenuhi dengan pepohonan dan bukit bebatuan.

__ADS_1


Letaknya sendiri berada di luar kota, area pinggiran dimana tidak ada orang yang berkeliaran di sana!


Sampai di lokasi, Ark dan rekan-rekannya melihat gua besar dengan lebar sekitar delapan meter dan tinggi hampir sepuluh meter. Bentuk gua itu sedikit miring sehingga bagian dalam gua lebih rendah dibandingkan dengan bagian luar.


“Siapa?!”


Teriakan terdengar dari dalam gua. Saat itu, belasan orang bersenjata keluar dari gua. Pada saat keluar, ekspresi mereka berubah ketika melihat kelompok Sword of Sufferings yang baru saja tiba.


“Sebelum memindahkan kalian ke sini, Saito seharusnya telah memberitahu kalian. Tempat ini adalah markas sementara bagi Sword of Sufferings. Jika kalian berada di sini, berarti kalian memenuhi dua syarat. Bukan karakter busuk dan mau ikut dengannya secara sukarela.”


“Y-Ya!” jawab mereka dengan ekspresi gugup.


Pada saat hendak mengatakan sesuatu, Ark merasa kalau Evans terus menatapnya. Menghela napas dalam hati, dia berbicara dengan nada datar.


“Pergi beristirahat, besok pagi kalian akan mendapatkan pengaturan yang sesuai.”


“Y-Ya!”


Setelah mengatakan itu, Ark langsung membawa rekan-rekannya masuk ke dalam. Ketika masuk ke dalam gua, mereka langsung disambut dengan pemandangan gelap. Kecuali beberapa orang yang sudah memiliki penglihatan dalam gelap seperti Ark atau beberapa anggota tingkat tiga yang bisa melihat, sisanya melihat pemandangan remang-remang. Tentu saja, jika orang biasa, mereka hanya akan melihat kegelapan.


Jadi setelah sampai di sana, Ark dan rekan-rekannya langsung memilih untuk beristirahat.


***


Keesokan harinya.


Pagi hari saat matahari mulai menyinari dunia, Ark dan anggota Sword of Sufferings lain telah bangun. Setelah bersiap, mereka langsung keluar. Tak lupa, mereka juga menyuruh para pengungsi untuk keluar dan berbaris.


Karena seriap ruangan memiliki bentuk lingkaran, dengan diameter 10 meter, ruangan paling kecil memiliki luas sekitar 78,5 meter persegi. Ruangan tersebut cukup untuk ditinggali sekitar 30 orang lebih selama mereka berbaring dengan rapi untuk tidur. Tentu saja, bisa saja ditinggali 50 orang lebih jika mereka tidur sambil duduk dan memeluk kaki mereka. Namun Sword of Sufferings tidak akan memperlakukan mereka dengan cara berlebihan seperti itu kecuali tidak ada pilihan lain.


Dari belasan ruangan, terkumpul sekitar 500 orang. Mereka semua telah diseleksi, jadi kebanyakan dari mereka tidak terlalu tua. Kebanyakan yang memiliki usia hampir tiga puluh adalah para ibu dengan anak. Sedangkan yang memiliki usia lebih dari 30 tahun kebanyakan pria dengan beberapa pengalaman di bidang kerja tertentu yang sengaja dibiarkan ikut oleh Saito.


Melihat ke arah orang-orang yang berbaris dengan rapi, Ark langsung menatap mereka dengan ekspresi tak acuh di balik topengnya. Kecuali Evans yang berpakaian biasa, sisa anggota Sword of Sufferings sama seperti dirinya, memakai jubah dan topeng.

__ADS_1


“Pada awalnya, aku sama sekali tidak ingin menerima kalian karena membuka cabang di kota ini pasti merepotkan. Namun karena ada yang ingin bertanggung jawab atas cabang, aku memutuskan untuk membentuknya.


Di sini, aku tidak perlu kalian memujaku sebagai utusan Dewi atau Dewa. Kalian tidak perlu menganggapku sebagai makhluk yang lebih tinggi. Aku, Hades, juga manusia biasa seperti kalian.


Apa yang aku inginkan dari kalian adalah kepatuhan kalian. Aku ingin kalian bekerja sesuai dengan arahan. Sebagai gantinya, kalian mendapatkan pelatihan yang sesuai dan jatah makan. Seberapa banyak yang kalian dapatkan tergantung seberapa banyak kontribusi kalian.


Aku tidak peduli apakah dulunya kalian anak pejabat, anak pengusaha kaya, anak polisi, atau bahkan seorang tunawisma. Di sini, semuanya sama. Selama kalian mau berkontribusi, kalian akan mendapatkan apa yang pantas kalian dapatkan. Sedangkan yang akan bertanggung jawab atas kalian adalah dia ...


Evans, orang yang sempat dianggap sebagai pengkhianat Spirit of Fire karena keserakahan atasan kalian!”


Mengatakan itu, Ark menepuk pundak Evans. Alasan kenapa Ark tidak menyebutkan kalau Evans adalah adiknya sebenarnya sederhana. Selain kerahasiaan, dia ingin adiknya membangung prestise tersendiri dan tidak hanya melangkah di belakang bayang-bayangnya.


“Saya keberatan!”


Saat itu, ada sosok yang berani mengangkat tangannya. Semua orang menatap ke arah orang itu dengan ekspresi terkejut. Dia adalah sosok gadis cantik, putri dari ketua Spirit of Fire sebelumnya.


“Katakan alasanmu menolak.” Ark membalas datar.


“Kami jelas tidak keberatan jika pemimpin cabang adalah anggota Sword of Sufferings karena sekarang kami tahanan kalian. Namun saya merasa kalau ‘orang luar’ seperti Evans sama sekali tidak cocok sebagai pemimpin.


Daripada dia, seharusnya anda meminta beberapa orang yang memiliki pengalaman dan lebih pantas sebagai ketua.”


PLAK!


Sosok gadis itu langsung terhempas dan berguling-guling di tanah. Saat itu, sosok Draco berdiri di posisi gadis itu sebelumnya. Pria itu kemudian berkata dengan dingin.


“Jaga cara bicaramu. Kalian sendiri tahu kalau kami tidak begitu mempedulikan nyawa kalian. Jika membuat masalah, aku tidak keberatan mengurangi satu.”


“Cukup, Draco.”


Ark langsung menyela, pemuda itu kemudian berkata dengan nada malas.


“Jika kamu ingin melihatnya, maka aku akan mengizinkannya. Kamu bilang Evans tidak pantas, kan? Kalau begitu ...”

__ADS_1


“Biarkan dia sendiri yang meyakinkan kalian.”


>> Bersambung.


__ADS_2