Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Pergerakan Sword of Sufferings


__ADS_3

Sampai di pusat pemerintahan, Ark bersama dengan dua belas orang lainnya langsung diundang masuk.


"Sangat jarang bagimu untuk berkunjung, Ark. Apakah ada masalah?"


Melihat Ark yang berkunjung, Julian tidak bisa tidak bertanya.


"Tanyakan saja pada wakilmu yang telah kamu buat khawatir."


Ark berkata dengan nada datar. Dia kemudian langsung duduk di kursi, bersandar sambil melepas topengnya sebelum menghela napas panjang. Setelah itu, dia menatap Julian dan kembali berkata.


"Selain itu, memang ada hal penting yang harus kita lakukan sekarang."


"Apakah ada masalah serius, Ark?"


Mendengar ucapan Ark jelas membuat Julian khawatir. Setelah berpikir keras, dia akhirnya mengingat sesuatu.


"Maksudmu ... keberadaan makhluk raksasa itu?"


"Itu tidak sepenuhnya salah."


Ark memijat pelipisnya. Tampaknya pemuda itu agak lelah dan pusing karena masalah yang semakin lama justru semakin menumpuk.


"Lalu apa yang kamu maksud?"


"Lebih baik kamu mengirim beberapa orang untuk mengawasi area perbatasan kota. Jika ada sesuatu yang janggal, kamu bisa langsung menghubungiku.


Tentu saja, Sword of Sufferings juga akan bertindak. Kita juga akan meminta Joseph untuk membantu mengawasi area perbatasan kota."


Julian menatap Ark dengan ekspresi rumit di wajahnya. Dia jelas mengetahui kalau pemuda tampan itu menyembunyikan sesuatu. Namun dirinya tidak menanyakannya karena takut Ark tersinggung dan membuat hubungan antara tiga kelompok menjadi semakin tegang.


"Aku akan melakukannya," ucap Julian.


"Terima kasih." Ark mengangguk ringan. "Kalau begitu, mari kita urus masalah pemerintahan. Tampaknya kamu masih lembek seperti biasanya."


Julian merasa sedikit malu setelah mendengar ucapan Ark. Meski keamanan cukup berkembang dan tidak ada kelompok jahat yang berani bermunculan seperti sebelumnya, situasi masih cukup kacau.


Pria itu menatap Ark dengan ekspresi rumit.


"Apakah kamu memiliki saran, Ark?" tanya Julian.

__ADS_1


"Pertama-tama, kamu telah mengumpulkan banyak anggota baru. Jadi buat saja mereka sebagai tentara. Lagipula, orang-orang itu telah dilatih oleh Joseph.


Ke dua, aku sarankan untuk membuat kelompok administrasi kecil beranggotakan para anggota yang setia kepadamu sejak awal. Beri tugas yang penting kepada mereka.


Ke tiga, menyangkut yang ke dua, tugas penting itu adalah mendaftarkan semua orang. Lebih tepatnya, sensus penduduk dimana kamu harus menghitung jumlah orang di pemerintahan baru beserta data mereka. Mungkin agak rumit, tetapi masih berguna.


Ke empat, jika ada yang menolak untuk mendaftar, buang mereka dan jangan beri subsidi makanan. Buat hanya anggota terdaftar yang bisa mendapatkannya. Meski membuat publik marah, tetapi hal tersebut masih penting agar kamu bisa lebih mengenal mereka dan juga mengendalikan mereka.


Ke lima, buat sistem poin. Setelah orang itu menjadi "penduduk", mereka dapat mulai bekerja untuk mendapatkan poin. Dengan poin tersebut, mereka bisa menukar makanan, dan hal-hal lainnya. Batasi subsidi makanan dan minuman menjadi tiga hari sekali. Buat mereka bekerja jika ingin mengisi perut mereka. Ingat, Julian! Tidak ada yang gratis di dunia ini! Khususnya di dunia yang kacau seperti ini!


Selama kamu bisa melakukan lima poin dasar yang aku sebutkan itu, seharusnya pondasi pemerintahan baru akan mulai terbentuk lebih baik. Setelah dikembangkan lagi, kamu bisa memperkuatnya dan membangunnya lebih tinggi."


Bukan hanya Julian, tetapi semua orang dalam ruangan terpana dengan ucapan Ark. Meski idenya cukup kasar dan menambal di sana-sini dengan kekerasan serta penekanan pada masyakarat. Namun dengan beberapa poin tersebut, pemerintahan jelas bisa dijalankan lebih baik.


Julian menatap Ark dengan ekspresi rumit. Setelah beberapa saat, dia akhirnya berkata.


"Ark, aku rasa kamu lebih cocok memimpin dibandingkan denganku. Bukankah lebih baik jika kamu—"


"Aku tidak memiliki waktu untuk mengurus masalah kemanusiaan dan membicarakan hal-hal tentang perasaan manusia, Julian.


Aku juga tidak memiliki waktu untuk bermain rumah-rumahan dan menendang wajah beberapa oknum nakal."


Tanpa menoleh ke arah Julian, mata Ark berkilat dingin. Menarik napas dalam-dalam, dia kemudian menjelaskan secara terus terang.


Aku akan menyeret banyak orang bodoh keluar lalu memotong leher mereka dan menggantungnya di dinding kantor pemerintahan.


Menyisakan beberapa orang yang patuh dan tidak lagi mencoba membuat masalah. Jika seperti itu, ratusan orang mungkin akan mati dalam waktu singkat."


Ark kemudian melirik ke arah Julian dengan senyum sedikit mengejek.


"Aku yakin itu sesuatu yang tidak ingin kamu lihat, bukan?"


***


Setelah berbicara dengan Julian dan tinggal markas Silver Cross satu malam, Ark dan rekan-rekannya segera kembali.


Cara mereka kembali jelas cukup terburu-buru. Hal tersebut membuat para petinggi Silver Cross juga bingung. Bahkan Julian juga melaporkannya kepada Joseph.


Dua hari kemudian, semua orang langsung dikejutkan oleh gerakan yang tiba-tiba dilakukan oleh Sword of Sufferings.

__ADS_1


Berbeda dengan kondisi seperti sebelumnya dimana mereka menutup diri, cukup banyak anggota Sword of Sufferings keluar dari markas untuk mencari sesuatu. Namun, tidak ada yang tahu apa mereka cari.


Dalam kantor Sword of Sufferings, Ark dan anggota inti kelompok berkumpul. Mereka semua menatap ke arah sang ketua dengan wajah serius.


"Apakah belum ditemukan?" tanya Ark.


"Belum, Kak." Lisa berkata dengan nada bingung. "Memangnya kita sebenarnya mencari apa? Bukankah kita harusnya lebih mengkhawatirkan keberadaan monster raksasa di luar kota?"


"Apakah begitu?" Ark mengangkat alisnya.


Menurut ingatannya, setelah kemunculan Nature Guardian, akan ada makhluk lain yang muncul. Bukan hanya satu tetapi banyak. Sangat banyak sampai-sampai orang-orang harus melarikan diri. Pergi dari kota ini dan mencari kota lain untuk ditinggali.


Semua orang dalam ruangan tampak serius. Beberapa dari mereka, seperti Jay dan Old Franky malah merasa aneh. Bagi mereka, Ark adalah orang yang sangat tenang dan tak acuh. Bahkan ketika menghadapi gelombang monster, pertumbuhan berlebih beberapa binatang bermutasi, dan hal-hal lainnya, dia masih tenang.


Sedangkan sekarang, pemuda itu tampaknya agak paranoid.


Bagi mereka, jelas tidak ada suatu hal yang terjadi. Namun, tampaknya Ark sedikit khawatir kemunculan binatang bermutasi yang kuat secara tiba-tiba. Mereka percaya Ark menjadi paranoid karena kemunculan binatang raksasa yang seharusnya tidak ada.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" ucap Ark.


Pintu ruang rapat terbuka, sosok Draco yang hanya memiliki satu tangan masuk ke dalam ruangan. Semua orang jelas sangat mengenalnya karena pria itu adalah mantan ketua Third Scars. Belum lagi, meski Draco kehilangan salah satu tangannya ... dia masih kuat!


"Ada apa, Draco? Apakah ada perkembangan?"


Mendengar pertanyaan Ark, Draco mengangguk. Setelah itu, dia berkata.


"Leon, bawa benda itu masuk."


Setelah ucapan Draco selesai, semua orang langsung mengalihkan pandangan mereka ke pintu. Saat itu juga, suara tidak senang Leon terdengar.


"Bisakah kamu berhenti memerintahku? Kita partner, aku bukan bawahanmu."


Leon tampak tidak puas. Namun dia masih masuk ke dalam ruangan lalu meletakkannya benda cukup besar di atas meja.


BRUK!


Semua orang menatap ke arah benda yang ada di atas meja. Saat itu, mata Ark langsung menyempit.

__ADS_1


'Mereka benar-benar ada di sini!'


>> Bersambung.


__ADS_2