Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Mengejar Bangau


__ADS_3

Siang di hari berikutnya.


“Apakah kamu yakin makhluk itu ada di tempat seperti ini?”


Ark dan Saito berjalan di area hutan luar kota. Tidak terlalu jauh, seharusnya tempat yang pernah mereka bersihkan sebelumnya. Jadi pemuda itu tidak bisa tidak merasa ragu.


“Saya memang melihatnya tidak jauh dari sini, Tuan.” Saito mengangguk.


“Tampaknya targetmu adalah makhluk yang suka bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Jika kita tidak bisa menemukannya, makhluk itu seharusnya telah pindah. Keputusanmu untuk segera melapor sama sekali tidak salah.”


Ark dan Saito terus berjalan. Mereka kemudian sampai di sebuah sungai.


“Seharusnya tidak jauh dari sini, Tuan.”


Mengikuti Saito, Ark berjalan menyusuri pinggiran sungai. Beberapa jam berlalu, dan akhirnya mereka menemukan apa yang Saito cari.


Makhluk yang Saito cari terlihat sedang berdiri di atas batu kecil di tengah sungai.


Makhluk itu memiliki penampilan seperti bangau biasa. Hanya saja, berbeda dalam ukuran dan warna. Dia memiliki kaki, wajah, dan paruh berwarna hitam. Matanya seperti zamrud, dan seluruh bulu di tubuhnya berwarna putih bersih tanpa setitik pun warna lain. Tingginya sekitar empat meter dengan kaki yang ramping dan panjang.


Bangau itu ... tampak cukup suci seperti dalam dongeng-dongeng dari timur.


Meski tampak cantik, tetapi Ark yakin alasan kenapa Saito memilih bangau tersebut bukan hanya karena penampilannya.


Saat itu, bangau tersebut melihat kedatangan Ark dan Saito. Bukannya langsung menyerang dengan ganas, makhluk itu malah memperhatikan mereka dengan mata seperti zamrud. Bangau itu kemudian membuka sayapnya lebar-lebar.


“EH? Hilang?”


Melihat bangau bermutasi yang tiba-tiba menghilang, Ark merasa bingung. Dia jelas belum menemui makhluk itu di kehidupan sebelumnya. Itu berarti, setidaknya seperti Abyssal Shadow Lynx yang merupakan satu-satunya mutasi. Merasakan embusan angin, pemuda itu menyadari sesuatu.


“Bukan hilang, tapi cepat?”


Ark melihat ke arah Saito. Merasakan tatapannya, pria itu mengangguk dengan ekspresi serius.


“Makhluk itu penakut, Tuan. Namun ... dia benar-benar sangat cepat.”

__ADS_1


“Menarik.”


Ark mengangguk dengan ekspresi serius. Menurutnya, kecepatan bangau bermutasi itu setidaknya lebih cepat dibandingkan kecepatannya ketika menggunakan miracle root Abyssal Shadow Lynx di level 5. Belum lagi, dia sama sekali tidak mengetahui senjata makhluk itu.


‘Bahkan tanpa kemampuan lain, kecepatan itu benar-benar sudah lebih dari cukup.’


Saat itu juga, Ark menyadari hal penting. Meski kemampuan tubuh biasa sudah seimbang, dia masih kekurangan miracle root jenis kecepatan. Abyssal Shadow Lynx memang sudah cepat, tetapi kemampuan utamanya adalah kamuflase yang berkembang dengan baik dengan kemampuan kamuflase Kraken. Setidaknya, sekarang dia tidak jauh lebih buruk dari Saito dalam hal kamuflase.


Ark langsung menggelengkan kepalanya. Pemuda itu merasa sifat serakahnya kembali muncul. Setelah beberapa saat berpikir, dia cukup yakin kalau kecepatannya sendiri sudah sangat baik. Hanya saja, bangau itu memang makhluk jenis kecepatan yang sangat langka.


“Kamu benar-benar beruntung, Saito.”


Ark berkata dengan nada datar. Dibandingkan dengan dirinya yang mengincar makhluk tingkat penguasa karena pengalaman dari masa lalu, Saito memang sangat beruntung. Bukan hanya beruntung, tetapi memiliki bakat yang sangat baik.


“Kalau begitu kita akan melacaknya dengan serius. Jangan sampai ketahuan.”


Mengatakan kalimat tersebut, sosok Ark mulai memudar lalu menghilang. Setelah mengangguk, sosok Saito juga memudar dan menghilang. Mereka berdua pun pergi untuk melacak bangau bermutasi. Keduanya hanya meninggalkan sedikit tanda sehingga bisa mengetahui posisi satu sama lain.


Benar-benar tidak bisa dilacak dengan mudah.


Beberapa jam kembali berlalu.


Pada saat matahari hendak terbenam dan mereka berpikir tidak berhasil melacaknya, keduanya sekali lagi bertemu dengan makhluk tersebut.


Sosok bangau bermutasi berdiri dengan tenang di atas bukit batu dengan tenang. Makhluk itu memejamkan matanya, tampaknya menikmati hangatnya cahaya mentari di sore hari. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Ark langsung bergerak menuju ke arah makhluk itu perlahan tapi pasti.


Pada saat mencapai jarak 50 meter, Ark melihat makhluk itu langsung membuka mata dan menoleh ke arahnya.


‘Bukan hanya cepat, tetapi memiliki kemampuan deteksi yang kuat?’


Ark menyeringai. Sosoknya langsung melesat, hanya dalam beberapa napas, dia langsung muncul di depan bangau bermutasi. Sebelum pemuda itu bisa meraihnya, bangau tersebut telah mengepakkan sayapnya dan menghilang. Tiba-tiba muncul puluhan meter jauhnya.


Sosok Ark tidak lagi mempertahankan kamuflase. Sebaliknya, tubuhnya langsung diselimuti oleh uap panas. Matanya menyala dengan warna merah terang. Keringat mulai muncul di permukaan kulitnya. Saat itu juga, dia langsung melesat ... mengejar bangau yang terbang dengan kecepatan penuh.


Saat itu juga, Saito yang hendak mengejar hanya melihat bayangan putih dan bayangan hitam-merah melesat menghilang di kejauhan.

__ADS_1


‘Belum! Masih belum cukup!’


Ark terus mengejar burung bangau dengan kecepatan penuh. Matanya fokus pada bangau dan lingkungan sekitar. Dia terus berlari, menginjak cabang pohon, atas batu, tanah ... tanpa sedikit membuat kesalahan sehingga bisa tersandung dan jatuh.


Jika sampai jatuh dengan kecepatan ini, Ark berpikir kakinya bisa bengkok ke arah lain dan perlu beberapa waktu untuk melakukan regenerasi. Jika orang lain jatuh pada kecepatan ini, kaki mereka mungkin akan patah, bahkan putus.


Empat garis hitam muncul di punggung Ark. Saat bangau terbang lebih tinggi, pemuda itu langsung menggunakan tanah sebagai tumpuan dan melesat ke langit seperti peluru yang ditembakkan. Pada saat itu juga, empat sayap hitam tipis terbuka di punggung Ark.


Melihat Ark yang bersikeras mengejarnya, makhluk itu langsung bermanufer di udara. Dia memutar tubuh, lalu menambah kecepatannya.


Ekspresi Ark langsung berubah ketika melihat burung bangau yang dia kejar muncul di depannya dengan paruh setajam pedang langsung mengarah ke jantungnya.


KLANG!


Sosok Ark menangkis paruh bangau bermutasi dengan tangan kanan yang diselimuti armor. Namun dampak serangannya membuat pemuda itu berputar di udara lalu meluncur ke bawah dengan cepat. Empat sayap langsung bergerak untuk menstabilkannya agar tidak jauh.


“Memiliki anggota tubuh tambahan memang sulit dikendalikan karena belum terbiasa.”


Ark mengeluh ketika melihat dirinya hampir jatuh.


“Meski begitu, ini semua sepadan.”


Melayang di udara, Ark berkata dengan ekspresi datar. Tatapannya kemudian jatuh kepada bangau yang melayang beberapa meter jauh darinya. Tubuh makhluk itu diselimuti oleh cahaya merah, ditekan oleh telekinesis sehingga tidak bisa lagi terbang dengan bebas.


“Mencoba menyerangku adalah kesalahan besar, Bangau Kecil. Belum lagi, selain kecepatan dan kemampuan deteksi luar biasa, sisanya sangat buruk untuk makhluk level 4.”


Bangau itu tidak memiliki fisik kuat, tidak memiliki kemampuan regenerasi, dan serangan yang dia andalkan hanyalah paruh setajam pedang paduan. Mungkin cukup luar biasa jika melawan makhluk lain, tetapi tidak dengan Ark.


Berhadapan dengan gabungan banyak monster seperti Ark, nasib bangau putih telah ditentukan sejak dia tertangkap.


Menarik keluar pedangnya, pemuda itu menatap ke arah bangau bermutasi dengan ekspresi tak acuh.


“Menyerahlah. Semua perjuanganmu sia-sia.”


Mengatakan itu, pedang di tangannya langsung dilapisi dengan energi warna merah darah. Dengan begitu, akhir bangau bermutasi pun telah ditetapkan.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2