
Tanpa terasa, waktu berlalu seperti embusan angin yang datang dan pergi.
Dua kelompok akhirnya bertemu untuk menepati janji yang telah mereka buat.
"Maaf membuat kalian menunggu."
Julian berkata dengan ekspresi serius di wajahnya. Di depannya, Joseph datang dengan jumlah pasukan lebih banyak daripada dirinya sendiri.
"Maaf, aku hanya bisa membawa 200 orang."
Julian sekali berbicara. Meski jumlah anggota kelompoknya telah meningkat begitu banyak, orang paling berbakat dan bisa dia andalkan adalah 200 orang yang mengikutinya. Itupun tidak genap. Sebagian dari mereka masih dalam masa pelatihan, tetapi tetap dibawa karena jumlah juga penting dalam pertempuran.
"Aku hanya bisa membawa 300 orang. Kamu pasti tahu kalau jumlah anggota Black Panther sebenarnya masih banyak, tetapi mereka memiliki tugas masing-masing. Maaf ...
Aku tidak bisa mengeluarkan semuanya seperti kamu, Julian. Aku tidak bisa meninggalkan wilayah kekuasaan karena berbeda dengan area kekuasaanmu yang lebih aman, wilayahku lebih rentan mendapatkan serangan."
Joseph berkata dengan senyum minta maaf di wajahnya. Jumlah 500 orang, jika di dunia sebelumnya, itu hanya dianggap sebagai pasukan kecil. Namun di masa kacau dimana orang-orang yang tersisa tinggal sedikit, bahkan terus berkurang setiap hari, jumlah mereka cukup besar.
Hanya saja, pihak musuh memiliki pasukan lebih dari 1000 orang. Belum lagi bala bantuan dari Third Scars. Jumlah itu masih sulit ditangani oleh mereka.
Bisa dibilang ... orang-orang yang mengikuti ketua mereka sekarang adalah mereka yang siap mati dalam pertempuran!
"Omong-omong, senjatamu."
Joseph melihat pedang di pinggang Julian dengan ekspresi heran.
"Ini ..." Julian menepuk pinggangnya dengan senyum masam di wajahnya. "Hadiah dari Hades."
"Jangan bilang ..." Mata Joseph terbelalak.
"Ya. Seperti taruhan. Jika tidak berhasil, pedang ini yang akan digunakan untuk memotong leherku sendiri."
Ucapan Julian membuat Joseph tidak bisa berkata-kata. Dia cukup iri dengan apa yang didapatkan oleh Julian, tetapi mengingat tanggung jawab besar yang ditanggung di pundak pria itu membuatnya hanya bisa menggelengkan kepala.
Suara lembut seperti kicauan burung terdengar ketika Julian menghunus pedangnya. Pedang tersebut berwarna hitam legam dengan kilau dingin, tampak sangat tajam. Mereka tidak tahu terbuat dari bahan macam apa pedang tersebut. Namun satu hal pasti ...
Itu adalah pedang yang sangat baik!
Jika anggota Sword of Sufferings mengetahui kalau Ark telah memberikan pedang yang terbuat dari tanduk Raja Serigala Hitam tingkat tiga kepada orang di luar kelompok, mereka pasti merasa sangat iri. Lagipula, tidak ada dari mereka yang tidak tahu betapa perhitungannya Ark.
"Jangan selalu melihat semua dari sisi buruknya, Joseph.
Mungkin Ark berpikir kalau pedang ini akan menunjukkan kepada kita tentang kejamnya dunia. Namun aku pikir, dengan pedang ini ... mungkin kita bisa membukakan jalan lebih cerah untuk semua orang yang menunggu uluran tangan kita."
__ADS_1
Melihat senyum lembut di wajah tampan Julian, Joseph tertegun. Saat itu juga, dia akhirnya mengerti kenapa Ark melakukan semua ini.
Ark adalah orang yang percaya kepada "kenyataan". Itulah kenapa dia sangat tertarik kepada Julian, orang yang percaya dan memperjuangkan "impian".
Joseph pikir, pria itu hanya ingin membuktikan kebenaran tentang dua kepercayaan dalam hati mereka.
Daripada kebenaran, mungkin lebih tepat jika menyebutnya dengan "jalan lebih baik".
Joseph melihat ke arah Julian yang jauh lebih muda darinya. Menyadari beban yang harus ditanggung oleh pria itu, dia hanya bisa berharap.
'Semoga kamu bisa mencapai apa yang kamu inginkan, Julian.'
***
Di markas Imperial Tiger.
Setelah mengalami kehidupan lebih baik usai kedatangan Vadim, berita yang baru saja tiba membuat para tetua menjadi terkejut. Mereka semua langsung memanggil para orang-orang penting dalam militer. Para prajurit yang ditugaskan untuk memimpin pasukan.
"Akhirnya kalian semua datang!" ucap salah satu tetua dengan ekspresi khawatir.
Di depan para tetua, tampak tujuh prajurit yang berbaris. Mereka semua adalah orang yang dianggap sebagai "prajurit super" oleh para tetua, yaitu Vadim, Zander dan 5 orang lainnya.
"Apa maksud dengan kedatangan para pemberontak bau itu! Mereka jelas menentang kita dan meminta perang!
Tujuh prajurit saling memandang dengan ekspresi aneh. Saat itu, sosok wanita yang tampaknya adalah sekertaris mulai menjelaskan.
Tampaknya tim pengintai telah menemukan keberadaan barisan pasukan dari Silver Cross dan Black Panther. Mereka berbaris menuju ke markas Imperial Tiger. Mengepung dari empat arah berbeda.
Julian memimpin seratus orang, menyerang dari depan. Berto memimpin seratus orang, menyerang dari kiri. Joseph memimpin dua ratus orang, menyerang dari belakang. Siegfried memimpin seratus orang, menyerang dari kanan.
Meski jumlah tidak begitu banyak, mereka jelas berniat habis-habisan!
"Aku ingin membagi tugas. Kita masih memiliki 1200 pasukan. Meski sebagian direkrut paksa dan kurang baik, tetapi masih bisa menambah jumlah.
Kecuali Vadim, masing-masing dari kalian memimpin dua ratus orang. Satu orang di kiri dan kanan markas, dua orang di depan dan belakang markas."
Setelah tetua mengatakan itu, para prajurit saling memandang. Saat itu, Vadim mengangkat tangannya.
"Mohon maaf, Pak. Kenapa saya tidak ikut turun tangan? Jika saya ikut, saya pasti bisa membantu dan—"
"Tikus-tikus itu pasti mengirim kelompok kecil untuk menyerang secara sembunyi-sembunyi! Tugasmu adalah menjaga para tetua!
Apakah kamu mengerti, Vadim?"
__ADS_1
"Baik, Pak!" ucap Vadim dengan hormat.
Mendengar itu, enam orang lain menyeringai. Mereka jelas tidak senang dengan kedatangan Vadim. Jika pria itu diizinkan untuk memimpin banyak pasukan, mereka pasti merasa tidak nyaman. Karena, setelah perang selesai dan dimenangkan, pasti orang itu memiliki lebih banyak pasukan.
Hal tersebut akan mengancam posisi mereka dalam Imperial Tiger.
"Viper ... bocah itu juga sudah pindah ke sini, kan? Kenapa dia masih belum muncul?!
Biarkan dia mengeluarkan para berandalan untuk membantu. Bahkan jika tiga ratus orang, itu masih membantu."
Ya. Sejak beraliansi dan bergabungnya Vadim, dua kelompok tinggal di lokasi yang sama. Meski sedikit merepotkan karena wilayah mereka sedikit menyempit dan sering terjadi gesekan, tetapi dalam segi kekuatan ...
Aliansi dua kelompok itu juga sangat kuat!
Sekali lagi Vadim mengangkat tangannya.
"Haruskah saya menghubungi Viper, Pak?"
"Tidak! Kamu harus tinggal di sini!" ucap tetua dengan tegas.
Meski hubungan Vadim dan Viper baik sehingga bisa segera mengerahkan bantuan dari Third Scars, para tetua memiliki keraguan. Jika Vadim pergi, ada kemungkinan besar kalau pria itu akan melarikan diri.
Pertarungan memang memiliki kemungkinan besar untuk dimenangkan, tetapi ada juga kemungkinan besar dimana musuh kuat akan menyusup dan mengancam nyawa para tetua.
Ya ... orang-orang itu ketakutan!
"Apa yang kalian tunggu?! Pergi! Pergi bersiap untuk perang!
Kekalahan sama sekali tidak diperbolehkan!"
"YA, PAK!!!" jawab keenam orang serempak.
Mereka memberi hormat. Saat berbalik dan hendak pergi, orang-orang itu melirik Vadim dengan seringai di wajah mereka.
Merasakan tatapan itu, Vadim hanya memasang ekspresi datar. Tampaknya tidak peduli dengan provokasi mereka.
Suasana markas Imperial Tiger dan Third Scars, serta tempat pengungsian menjadi kacau.
Pasukan dari dua kelompok lain akan segera tiba.
Perang akan datang!
>> Bersambung.
__ADS_1