
“K-Ketua???”
Evans tercengang. Dia benar-benar tidak menyangka kalau kakaknya secara tiba-tiba mendorongnya maju ke depan. Melihat tatapan orang-orang yang diarahkan kepadanya, pemuda itu merasa sangat gugup. Ada juga tatapan penuh kebencian yang ditunjukkan kepadanya.
Evans melihat ke arah sumbernya. Di sana, tampak sosok gadis cantik yang baru saja bangkit menatapnya dengan sengit.
‘Dia kan ...’
Melihat ke arah gadis itu, Evans mengingat Mr Adolf. Saat itu juga, perasaan bersalah langsung muncul dalam hatinya. Jelas, membenci pembunuh keluarganya menjadi hal yang wajar. Jadi saat merasakan kebencian itu, Evans hanya diam dan menerimanya.
Sekali lagi pandangan pemuda itu menyapu ke arah orang-orang yang menatapnya. Menarik napas dalam-dalam, Evans maju ke depan lalu mulai berkata dengan tegas.
“Aku tahu kalau kalian pasti marah, bahkan membenci Sword of Sufferings. Namun beginilah dunia saat ini ...
Bahkan jika tidak diambil oleh Sword of Sufferings, kalian mungkin telah dihabisi oleh Crux of Shadow.
Di dunia yang kacau ini, hanya dengan memiliki kekuatan, kita bisa memiliki hak untuk berbicara. Karena pada akhirnya, kebenaran hanya ditulis sang pemenang. Oleh karena itu, aku tidak tahan lagi berada di bawah dan diinjak-injak.
Aku memiliki kesempatan untuk bangkit, dan aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini! Aku ingin menghancurkan Crux of Shadow dan menulis aturan baru. Tidak perlu ada makhluk yang lebih tinggi karena kita sama-sama manusia. Semuanya hanya perlu dilihat dengan usaha mereka.
Biarkan orang-orang yang mau maju dan berjuang mendapatkan hak mereka. Biarkan orang-orang yang tidak ingin bangkit mati karena mereka tidak mau memperjuangkan diri sendiri.”
Ekspresi Evans menjadi semakin serius. Pada saat merasakan tatapannya, ekspresi semua orang menjadi lebih gugup. Setelah menarik napas dalam-dalam, pemuda itu kembali berkata.
“Aku yakin kalian yang berada di sini juga sama. Mr Saito membawa kalian kemari karena alasan yang sama. Aku ingin mengumpulkan orang-orang yang memiliki pemikiran sama denganku.
Kita harus bangkit dan melawan. Berhenti menganggap orang-orang kuat itu sebagai makhluk yang berbeda. Baik kita dan mereka adalah manusia. Aku sudah muak dengan peraturan yang mereka tetapkan. Pengorbanan gila untuk memuja Dewi Kegelapan yang tidak perlu seperti itu ...
Tidak perlu dilakukan lagi!
Aku yakin kalian memiliki pemikiran sama. Namun, kalian mungkin belum yakin dengan kekuatanku. Oleh karena itu, bagi yang keberatan ...”
Evans berteriak.
“KALIAN BOLEH MAJU DAN MELAWANKU!”
Mendengar itu, sudut bibir Ark melengkung ke atas. Saat pemuda itu melihat ke arah adiknya, dia mengingat sosok kecil yang suka menangis. Melihat perubahan itu, dia merasa cukup senang. Ark melirik ke arah orang-orang lalu melanjutkan.
“Kalian tidak perlu ragu karena Sword of Sufferings tidak akan melindungi Evans. Jika menang, kalian bisa menggantikannya sebagai ketua. Bahkan jika dia mati ...
Itu artinya dia tidak kompeten.”
Pada saat semua orang mendengar ucapan Ark, mereka terkejut. Setelah beberapa saat, banyak orang menjadi bersemangat. Melihat pemandangan itu, Ark menjentikkan jari.
Saat itu, beberapa orang berjalan ke tengah lapangan sambil membawa beberapa senjata. Ada pedang, belati, tombak, dan busur berserta anak panahnya. Pada saat orang-orang bingung, suara Ark kembali terdengar.
“Semua orang menyingkir ke pinggir lapangan. Bagi orang yang ingin menantang, kalian bisa maju dan memilih senjata. Senjata sama-sama baik, jadi apakah kalian bisa menang tergantung kepada diri kalian sendiri.
Aku tidak ingin ada yang mengeluh seperti pengecut di belakang, jadi majulah.”
__ADS_1
Mendengar ucapan Ark. Semua orang langsung menyingkir. Mereka semua mundur ke pinggi halaman luas. Ark dan rekan-rekannya juga memilih tempat terbaik di pinggir lapangan. Duduk di atas batu besar sambil menatap Evans yang berdiri di tengah lapangan sendirian.
Pada saat banyak orang hanya saling memandang tanpa ada yang berani maju. Sosok pemuda berusia di awal dua puluhan tinggi berkulit hitam dan rambut keriting yang dipotong pendek maju. Dia menggaruk kepalanya sambil mengeluh.
“Para pengecut yang hanya berani mengeluh di belakang ini ...”
Pemuda itu kemudian pergi ke tempat senjata diletakkan lalu mengambil tombak. Melihat sikapnya, Ark merasa sedikit tertarik.
Orang itu berhenti sekitar tujuh meter dari Evans. Dia memiliki ekspresi malas di wajahnya saat berkata.
“Aku setuju dengan ucapanmu, Evans. Aku juga tahu kalau kamu adalah teman Brian. Dia adalah lelaki yang baik dan memiliki kemampuan. Jadi untuk memastikan semuanya tidak kacau, aku ingin memastikan kekuatanmu.
Tidak apa-apa?”
“Tentu saja,” ucap Evans dengan ekspresi serius.
“Omong-omong, namaku Saul. Dan, ya ... aku mulai.”
Setelah mengatakan itu, Saul langsung mendekati Evans. Tombaknya berayun dengan cepat. Melihat gerakan itu, Evans langsung menangkis serangannya dengan pedangnya.
Klang!
Evans kemudian melesat ke depan. Menebas Saul dari kanan. Sebagai tanggapan, lelaki itu mengubah postur tubuhnya. Dia kemudian melempar tombak dari tangan kanan ke tangan kiri. Memutar tombaknya lalu membantingnya ke arah Evans.
Melihat tombak tepat di depan wajahnya, Evans langsung merubah posisinya. Dia langsung menangkis ayunan tombak itu.
Ding!
Ark sendiri mengangguk ringan. Meski Evans tidak mengerahkan seluruh kekuatannya, tetapi dia jelas lebih baik daripada kebanyakan prajurit. Jadi pemuda bernama Saul yang tampak santai dan bebas itu memang cukup kuat. Selama dilatih beberapa waktu, dia bisa menjadi prajurit yang tangguh.
Klang! Klang! Klang!
Melihat keduanya terus bertarung dengan serangan yang kuat dan cepat, banyak orang merasa terkejut. Ekspresi Evans bahkan menjadi lebih serius. Dia sekarang membatasi diri agar memiliki kekuatan setara dengan Saul, tetapi sama sekali tidak memiliki kelebihan. Memikirkan kalau ternyata banyak orang berbakat yang tersisa, dia menghela napas panjang.
Evans menambah kekuatannya lalu membanting pedangnya dengan keras.
BANG!!!
Saul terseret mundur lebih dari lima meter. Melihat kedua tangannya yang mati rasa, pemuda itu mengangkat kedua tangannya.
“Aku menyerah.”
Mendengar ucapan Saul, Evans merasa agak rumit. Dia mengangguk ringan. Setelah Saul mundur, satu per satu orang mulai menantangnya. Namun setelah bertarung lebih dari tiga puluh kali, tidak ada yang bisa mengalahkannya.
Pada saat itu, sosok putri Adolf berjalan maju. Dia kemudian mengambil sebuah pedang dan sebuah pisau. Gadis itu membawa pedang di tangan kanannya dan pisau dipegang secara terbalik di tangan kirinya.
“Oh?” Ark memiringkan kepalanya.
“Ada apa, Ketua?”
__ADS_1
“Ini sedikit menarik.” Ark berkata datar.
Mendengar jawaban Ark, banyak orang langsung memfokuskan diri kepada gadis itu. Lagipula, tidak banyak orang yang dianggap menarik bagi sang ketua. Bahkan ketika melihat Saul yang cukup berbakat, dia diam saja.
Melihat gadis cantik itu, semua orang merasa ragu. Jelas, sekarang mereka berpikir alasan Ark tertarik bukan karena keterampilan, tetapi penampilannya.
Sementara itu, Evans dan gadis itu berdiri berhadapan di tengah lapangan.
“Apakah kamu ingin beristirahat terlebih dahulu?” ucap gadis itu dingin.
“Tidak perlu.” Evans membalas datar.
“Kalau begitu aku tidak akan ragu. Ingatlah, orang yang akan mengalahkanmu adalah aku ... Natalia.”
Setelah mengatakan itu, Natalia langsung bergegas maju ke depan. Pedang langsung menebas dengan kejam. Pada saat Evans menangkis serangannya, tangan kiri gadis itu langsung menikam tepat ke jantung Evans.
Sebagai tanggapan, Evans langsung melompat mundur. Namun Natalia langsung mengejar dengan cepat.
Swoosh! Klang!
Melihat ekspresi dingin Natalia yang hanya berjarak kuran dari sepuluh centimeter dari wajahnya, Evans terkejut. Dia langsung menggeser tubuhnya untuk menghindari tikaman, tetapi saat itu tendangan keras langsung mengenai perut Evans.
Terseret mundur beberapa meter, ekspresi pemuda itu berubah menjadi serius.
Sekali lagi Natalia mulai mengejar. Melihat pertarungan sengit antara keduanya, banyak anggota Sword of Sufferings menatap dengan ekspresi bingung.
“Adolf mengajarinya dengan baik. Selain pandai dalam bela diri dan menggunakan pedang, niat balas dendamnya membuat serangannya semakin sengit dan kuat. Bahkan tidak menyadari kalau sedang melukai dirinya sendiri.”
Tidak seperti orang lain yang berpikir mereka imbang, Evans juga memiliki pengamatan cukup baik. Dia jelas mengetahui luka yang muncul di tubuh Natalia. Melihat gadis yang terus menyerang dengan ekspresi penuh kebencian, Evans menghela napas panjang.
Momentum kuat muncul dari tubuh Evans. Pemuda itu kemudian menebas dengan keras.
KLANG!
Pedang di tangan Natalia terlempar. Pada saat gadis itu kehilangan keseimbangannya, Evans langsung menendangnya dengan keras.
Ketika gadis itu jatuh dengan keras di tanah, dia tidak bisa bangkit sekuat apapun dirinya mencoba. Jika diperhatikan baik-baik, telapak tangan yang digunakan untuk memegang pedang dan pisau melepuh, bahkan berdarah. Selain itu, beberapa bagian sendi tampaknya memar dan agak merah. Jelas mengalami cedera karena bergerak dengan cara berlebihan.
“Kamu kalah.” Evans berkata santai.
“Bunuh aku.” Natalia membalas dingin.
Mendengar itu, Evans hanya diam. Setelah beberapa waktu, dia berkata dengan nada lembut.
“Aku tidak akan minta maaf dan kamu boleh membenciku. Namun kamu selalu tahu kebenarannya, kan? Ini bukan salahku atau salahmu. Bukan salah siapa-siapa, karena memang beginilah cara dunia berkerja.”
“...”
Natalia tidak mengatakan apa-apa, hanya memandangi langit biru yang luas dengan mata berlinang air mata. Dia mengerti kalau semuanya menjadi seperti ini karena reaksi sebab-akibat berantai, dan sumber masalahnya adalah kedatangan apocalypse yang merusak segalanya. Tetap saja ...
__ADS_1
Kehilangan seseorang yang sangat berarti dan disayangi masih sangat menyakitkan.
>> Bersambung.