Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Jalanmu dan Jalanku


__ADS_3

"Kamu tidak tinggal?"


Melihat Stacy yang memilih untuk menyusul dirinya membuat Ark sedikit terkejut. Padahal pemuda itu menduga kalau Stacy akan memilih tinggal. Lagipula, Ark dan Stacy belum mengenal terlalu lama. Selain itu, dia juga telah bilang bahwa kelompok Julian masih bisa diandalkan.


"..."


Stacy tidak menjawab. Gadis itu malah berlari lalu memeluk Ark dari belakang. Dia kemudian meraih tangan pemuda itu lalu menggigitnya.


Meski gigitan Stacy tidak membuat Ark merasa sakit, dia masih terkejut.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Saya marah, Tuan!"


"..."


Melihat Ark terdiam, Stacy kembali berkata.


"Anda benar-benar kejam."


"Jika aku kejam, kenapa kamu tidak—"


"Karena saya yakin, bersama dengan anda akan membuat saya lebih kuat. Lebih kuat sehingga bisa melindungi orang lain dan tidak lagi kehilangan orang-orang yang saya sayangi."


"Kamu tahu dasar-dasarnya. Bahkan jika ikut Julian, kamu juga akan membaik."


"Apakah anda mengusir saya, Tuan?" tanya Stacy sambil cemberut.


"Tidak juga."


"Anda bilang Silver Cross tempat yang baik, kan?"


"Memang."


"Kalau begitu, biarkan Juana ada di sana. Bahkan jika kami berpisah, kami tetap masih hidup. Tidak tahu kapan, pasti ada masa dimana manusia membaik. Tidak perlu takut pada zombie-zombie itu.


Saat itu, tidak akan terlambat untuk bertemu dengan Juana lagi."


Stacy tersenyum cerah, membuat Ark tertegun di tempatnya. Tangannya mengepal erat.


'Jadi begitu ...'


Pikir Ark ketika melihat senyum Stacy. Jelas, gadis di depannya ini berpikir bahwa masa depan akan begitu indah dan cerah karena mereka bisa melewati tahap awal yang begitu mengerikan sekaligus kejam.


Memang, banyak yang berharap bahwa hari indah akan segera datang, habis gelap terbitlah terang ... dan pemikiran optimis lainnya. Hal itu jelas membuat seseorang memiliki semangat kuat untuk terus hidup.


Ark memejamkan matanya, beberapa kenangan terlintas dalam benaknya. Tubuhnya sedikit gemetar.


'Bisa ... karena memiliki awal lebih baik dan memiliki semua ilmu yang dibutuhkan untuk bertahan, kami pasti bisa bertahan.'


Ark membulatkan tekad. Bukan hanya untuk dirinya sendiri atau orang-orang yang dia sayang, pemuda itu juga ingin membuka jalan untuk orang-orang yang ingin bertahan dan melawan!


"Apakah anda baik-baik saja, Tuan?"


Pertanyaan Stacy langsung menyadarkan Ark dari lamunannya.


Melihat ke arah gadis itu, Ark mengulurkan tangannya lalu mengelus kepala Stacy dengan lembut.


"Terima kasih, Stacy."


Ucapan Ark langsung membuat Stacy memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung di wajahnya. Namun melihat sedikit senyum di wajah pemuda tampan tersebut membuatnya juga ikut bahagia.


"Kita akan mencarinya di lantai pertama."

__ADS_1


"Baik! Kemana kita harus pergi, Tuan?"


"Ke area belakang."


Ark berjalan menuju area belakang diikuti oleh Stacy.


Benar saja, di sana tampak beberapa orang yang berpakaian kumuh. Pandangan Ark langsung tertuju ke arah tiga orang yang berada di sudut. Seorang wanita yang tampak kotor dan dua anak kecil berusia sekitar tujuh atau delapan tahun.


Meski laki-laki dan perempuan, keduanya tampak mirip ... ya, anak kembar.


Melihat ke arah Ark yang berjalan ke arah mereka, wanita itu menunduk sambil memeluk kedua anaknya. Sementara itu, anak perempuannya terisak. Sedangkan anak laki-laki itu bangkit, melepaskan diri dari pelukan ibunya.


Berdiri di depan ibu dan saudarinya, bocah itu membuka lebar kedua tangannya. Menghadang Ark dan Stacy.


"Pergi, Orang Jahat!"


Suara laki-laki yang begitu kekanak-kanakan terdengar.


Saat itu juga, orang-orang di sekitar langsung menjauh ketakutan. Bahkan ibu bocah itu juga tampak pucat. Dia hendak meraih putranya, tetapi dikejutkan oleh Ark yang berdiri di depan mereka bertiga sambil memandang rendah dengan ekspresi datar.


"Bahkan jika kamu menutupi wajahmu dengan debu dan kotoran, permata dalam lumpur masih cukup menyilaukan."


"Jangan ganggu ibuku, Orang Jahat!"


"N-Nathan!"


Ibu bocah itu panik ketika melihat ke arah anak kecil yang mencoba menyerang Ark. Belum sempat meraihnya, bocah itu sudah bergegas maju.


Ark dengan santai memegang atas kepala bocah itu dan sedikit menekannya, membuat bocah bernama Nathan tidak bergerak dari tempatnya. Bahkan jika berusaha keras, bocah itu hanya memukul udara dengan ekspresi keras kepala. Tampak agak konyol.


Melirik ke arah Nathan, Ark langsung melihat luka memar di beberapa bagian tubuh bocah itu. Ekspresinya tidak berubah, tetapi dia tiba-tiba menarik tangannya, lalu menutup mulut dan hidung bocah itu. Membuatnya kesulitan bernapas. Saat itu juga, Ark menggunakan tangan lainnya untuk mengetuk belakang leher Nathan.


Saat itu juga, Nathan langsung tak sadarkan diri.


"N-Nathan! Apa yang kamu inginkan dari putraku?! Dia hanya anak kecil! Dia tidak bermaksud—"


Ark mengabaikan ibu bocah itu yang tampak putus asa. Dia menggendong Nathan lalu berkata.


"Gendong putrimu dan ikuti aku. Natasha sudah menunggumu. Dia yang akan menjelaskan semuanya."


"Eh?"


Ekspresi terkejut tampak di wajah wanita itu saat mendengar nama Natasha disebutkan.


"Sudah kuduga, kamu ada di sini Kak Abigail!"


Suara khawatir dan lega terdengar ketika sosok Natasha muncul.


Melihat Natasha yang tidak menutupi wajahnya, Abigail tampak terkejut. Dia kemudian menatap ke arah Natasha dan Ark bolak-balik dengan ekspresi curiga.


"Aku akan menjelaskannya nanti, Kak. Untuk sekarang, kita harus pergi."


Natasha berkata dengan senyum lembut di wajahnya.


"Lebih tepatnya, mengambil beberapa panen lalu pergi."


Setelah mengatakan itu, Ark kemudian berjalan sambil menggendong Nathan. Saat itu, beberapa orang mulai bertanya.


"Bolehkah kami ikut dengan anda, Pak?"


"Kami kelaparan dan butuh makanan, Pak"


"Kami ..."

__ADS_1


"..."


Mendengar ucapan mereka, ekspresi Ark langsung menjadi dingin.


"Diam. Ada kelompok bernama Silver Cross yang telah mengalahkan Kelompok Reaver. Mereka akan membawa kalian, para korban untuk pergi berlindung ke tempat yang lebih aman dan lebih stabil.


Jadi tunggulah."


"Tapi kami membutuhkan bantuan anda. Kami—"


Seorang pria paruh baya yang tampak kuyu menghadang Ark. Saat itu juga, Ark langsung menarik keluar katana lalu menebas dengan ekspresi dingin.


Slash!


Ketika mayat tanpa kepala jatuh ke lantai, semua orang langsung ketakutan. Abigail menutup mata putrinya, sementara dia sendiri menatap ke arah Ark dengan wajah pucat.


"Jangan mengemis kepadaku. Aku bukan pahlawan yang kalian harapkan." Ark kemudian melirik ke belakang. "Kita pergi."


Keluar dari minimarket, mereka disambut oleh sepuluh orang yang dipimpin oleh Julian.


Mereka semua telah menyingkirkan semua mayat dan mengumpulkan semua senjata.


"Kamu menjemput seorang wanita dan dua anak?"


Julian bertanya kepada Ark dengan nada curiga.


"Ya."


Mendengar jawaban singkat tersebut, Julian diam sebentar. Dia kemudian berkata.


"Kamu mengambil item yang kamu perlukan terlebih dahulu."


Ark mengangguk ringan lalu melihat tumpukan senjata. Pada akhirnya, dia memilih satu pernah milik Borin dan empat belati. Dia kemudian menyuruh Natasha untuk membawanya.


Melihat sisa senjata yang masih menumpuk, Julian berkata.


"Kamu memberikan semua ini kepada kami?"


"Aku tidak bisa membawa semuanya. Selain itu, aku tidak kekurangan senjata. Lagipula ... kalian lebih membutuhkannya, kan?"


Mendengar itu, Julian menatap ke arah Ark dengan ekspresi tegas.


"Bahkan jika kamu memberikan ini, aku tidak akan menganggap apa yang kamu lakukan itu benar!"


"Terserah."


Ark berkata dengan ekspresi tak acuh.


"Jalanmu dan jalanku berbeda, Julian. Apa yang kita anggap benar juga berbeda. Namun, aku harap kalian tidak memusuhinya kami. Maka kamu juga tidak akan peduli dengan apa yang kalian lakukan.


Ingatlah ... ini peringatan."


Mendengar ucapan Ark, Julian dan teman-temannya merinding. Meski ucapannya tampak sepele, mereka masih mengingat dengan jelas alasan kenapa Kelompok Reaver dimusnahkan.


Ya ... karena mereka mengabaikan peringatan dari Ark!


"Jika tidak ada hal lain, kami akan pergi sekarang."


Setelah mengatakan itu, Ark hendak pergi tetapi akhirnya berhenti sejenak dan menoleh ke arah Julian. Memiliki senyum santai di wajahnya, pemuda itu berkata.


"Berhati-hatilah pada lawan maupun kawan, karena aku harap aku masih bisa bertemu denganmu lain kali ...


Hero of Barren Land."

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, Ark kemudian pergi bersama orang-orangnya.


>> Bersambung.


__ADS_2