Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Kekejaman Alam


__ADS_3

Di area selatan kota.


"Bagaimana ini bisa terjadi?!"


Sosok pria dengan seragam khusus menatap ke arah belasan orang yang tumbang dengan tubuh ditusuk. Daging mereka berwarna ungu, tampaknya telah diracuni dengan sangat parah.


"Haruskah kita mundur saja, Tuan Zander?"


"Tidak. Kita harus maju."


Zander berkata tegas. Kehilangan belasan pengungsi sama sekali bukan masalah bagi dirinya.


Pada saat itu, suara berdengung terdengar. Pasukan tersebut mengawasi kiri dan kanan. Namun sama sekali tidak menemukan apa-apa. Jadi mereka memutuskan untuk terus melanjutkan.


Dalam belasan meter, mereka kembali bersiap untuk bertarung. Namun sekali lagi, tidak ada musuh yang terlihat. Ketika benar-benar lelah dan bingung, tanpa sengaja salah satu anggotanya menyeka keringat sambil mendongak ke atas.


Saat itu juga, ekspresinya berubah menjadi pucat.


"T-Tuan Zander! Di ... Di atas!" ucap pria itu dengan nada gugup.


Zander dan anggota pasukan lainnya mendongak. Saat itu juga, ekspresi mereka berubah menjadi pucat.


Di pohon-pohon besar, tampak banyak tawon dengan tubuh kuning pucat dengan garis-garis merah seukuran bantal menempel pada pohon. Jumlahnya ratusan. Mereka semua menatap ke arah pasukan Imperial Tiger dengan tatapan dingin.


Jelas, mereka telah menganggap Zander dan anak buahnya sebagai mangsa. Target yang harus mereka habisi!


"BUAT FORMASI BERTAHAN! BERSIAP UNTUK SERANGAN!"


Para tawon pun langsung melesat ke arah mereka. Pertempuran berdarah akhirnya pecah!


***


Di area barat taman kota.


"Kalian semua bersiap. Jangan membuat terlalu banyak masalah, cobalah untuk berhati-hati."


Roxanne berkata dengan dingin. Dia berjalan bersama dengan dua puluh pembunuh yang sama dengan dirinya. Di bagian depan barisan, ada anggota kelompok menengah yang wanita itu minta untuk berada di depan.


Tentu saja, untuk melindungi para wanita cantik yang lemah, mereka mau melakukannya.


Para pria dari kelompok Golden Rose yang berada di barisan belakang hanya bisa melihat mereka dengan ekspresi penuh penghinaan. Mengejek mereka karena bodoh, mengira para gadis cantik itu begitu tidak berdaya.


Mereka akhirnya sampai dia area penuh lumpur. Tidak tampak begitu dalam, tetapi karena suasananya suram dan gelap. Tempat tersebut tampak sedikit mengerikan.


"Tampaknya di depan ada area berisi air. Namun tampak jernih dan tidak begitu dalam. Namun kedalaman lumpur tidak diketahui.


Haruskah kita mengambil jalan memutar, Nona Roxanne?"


Ucap salah satu pria yang berada di barisan depan dengan nada menyanjung.


"Tolong biarkan satu pejuang pemberani untuk mencoba melewatinya. Jika lumpurnya dalam, kita bisa memutar.


Jika tidak ada yang mau, biarkan—"


Melihat ke arah Roxanne yang tampak lemah lembut, salah satu pria di barisan depan menyela.


"Tenang saja, Nona Roxanne! Biarkan saya mencobanya!"

__ADS_1


"Wow! Sungguh pria sejati yang hebat!"


Mendengar ucapan kagum dan melihat tatapan berbinar di mata Roxanne dan para wanita cantik, banyak orang merasa iri. Satu per satu orang maju untuk mencoba.


Setelah sampai tengah, sama sekali tidak terjadi apa-apa.


"Lumpur kira-kira hampir mencapai lutut. Ditambah air, sama sekali tidak dalam. Hanya sampai pinggang."


Mendengar itu, Roxanne tampak lega.


Area berair tersebut agak luas dan panjang. Kira-kira lebih dari seratus meter. Seluas lapangan sepak bola.


Karena beberapa orang berhasil menyeberang, semua barisan mulai menyeberang. Setiap baris terdiri dari sepuluh orang. Dengan jarak agak lebar satu sama lain.


Mereka berbaris rapi seperti tentara elit. sepuluh, dua puluh, tiga puluh ... seratus.


Ketika semua orang menyeberang di saat bersamaan dan berjalan di depan, tiba-tiba mereka merasa "tanah" yang mereka injak runtuh. Membuat ketinggian air sampai di dada. Ditambah lumpur yang cukup dalam, mereka semua bergerak lebih lambat dibandingkan sebelumnya.


Saat itu juga, mereka merasa "tanah" yang mereka injak menggeliat.


"SEGERA MENUJU KE DARATAN!"


Roxanne langsung memberi perintah karena sudah mengetahui kalau ada yang salah. Namun, mereka benar-benar terlambat.


Puluhan orang tiba-tiba tenggelam. Saat itu juga tampak puluhan, mungkin ratusan makhluk dengan tubuh berwarna hitam setebal ember muncul. Makhluk-makhluk tersebut memiliki tubuh dipenuhi lendir.


Ya ... Mereka adalah lintah raksasa!


Salah satu lintah membuka mulutnya yang dipenuhi dengan taring tajam. Kemudian langsung menelan kepala salah satu orang. Gigi-gigi tajamnya langsung menembus tenggorokan. Sementara bagian tubuh dari leher ke bawah meronta dan mencoba untuk membebaskan diri. Lintah raksasa terus menghisap darah mereka.


"TOLONG! SELAMATKAN AKU!"


"ARGH!!! KENAPA KAMU MENEBASKU!"


"..."


Roxanne berjuang dengan ekspresi marah, takut, dan putus asa. Dia terus mencoba menuju ke seberang. Berusaha tetap hidup bagaimanapun caranya!


Melihat kekacauan dan kematian di mana-mana ...


Wanita cantik itu merasa sedang ada di neraka dunia!


***


Sementara itu, di area tenggara.


Ark dan kelima rekannya, ditambah dengan 53 orang dari Silver Cross berjalan dengan tenang.


Tidak melihat apa-apa di sekitar, anggota kelompok Silver Cross tampak lega. Namun saat itu, Ark tiba-tiba berkata.


"Sebaiknya kalian waspada. Kita berada di area musuh. Jika tidak berhati-hati ..." Ark menoleh ke arah mereka. "Kalian akan terluka."


Glup!


Orang-orang itu menelan ludah dengan ekspresi gugup. Mengabaikan penampilan mereka, Ark melanjutkan.


"Katakan padaku, setelah berjalan cukup lama dan tidak menemukan musuh. Apa yang bisa kalian temukan?

__ADS_1


Sepuluh detik dari sekarang!"


Setelah menghitung sepuluh detik, Ark mulai menunjuk dengan acak.


"Kamu, kamu, kamu! Kalian semua tidak bisa menjawabnya? Apakah otak kalian berhenti bekerja setelah dunia menjadi kacau?"


Sudut bibir orang-orang itu berkedut. Mereka benar-benar merasa agak marah, tetapi lebih ke malu karena tidak bisa menjawab. Namun saat itu, Jimmy mengangkat tangannya.


"Okay! Wakil ketua Silver Cross. Katakan apa yang kamu temukan."


"Tidak ada jejak di tanah. Tetapi ada bekas aneh di batang pohon dan juga banyak daun lebar yang digerogoti."


Mendengar jawaban Jimmy, Ark mengangguk. Dia menghargai kemampuan observasi pria tersebut.


"Pintar!" ucap Ark santai. Melirik ke arah Jimmy, dia berkata, "Kamu cukup bisa diandalkan. Meskipun tidak bisa langsung mengundangmu, aku bisa memberi ujian masuk lebih mudah jika ingin mendaftar. Jadi ... apakah kamu sudah memikirkannya? Mendaftar untuk bergabung dengan kami?"


"Enyah! Berhenti mencoba merampok orang-orangku tepat di depan mataku, K-parat!"


Julian langsung menunjuk ke arah Ark dengan ekspresi kesal.


"Aku hanya bertanya," ucap Ark santai tanpa sedikitpun rasa bersalah.


Ark hendak berjalan ke depan, tetapi tiba-tiba menghindar ke samping.


Saat itu, sebuah benang lengket jatuh di tempat Ark tadi berdiri. Semua orang langsung menatap ke sumber serangan. Namun hanya melihat pohon dengan dedaunan lebat.


"Menarik," gumam Ark.


Ark langsung menarik satu pedang dan melompat. Dia menginjak batang pohon sebelum melompat ke salah satu cabang pohon. Pemuda itu kemudian menebas.


BRUK!


Satu ranting penuh dengan daun jatuh ke tanah. Namun suaranya begitu keras.


Ark juga melompat turun, dan mendarat dengan mudah.


Orang-orang kemudian melihat dedaunan yang cukup lebar dan padat tersebut. Ekspresi mereka tiba-tiba berubah ketika melihat makhluk aneh menempel di sana.


Makhluk itu berpenampilan mirip dengan ulat sutra, tetapi tubuhnya hijau mirip dengan daun. Kepalanya lebih besar daripada ulat normal, mulutnya dipenuhi dengan taring-taring tajam. Belum lagi ... panjangnya sekitar satu meter.


Ulat sutra raksasa itu menggeliat dengan cara aneh. Tampak cukup menjijikkan. Namun ketika mereka lengah, makhluk itu tiba-tiba membuat gerakan melompat. Langsung mencoba mengigit salah satu anggota Silver Cross di dekatnya.


Swoosh!


Sebuah pedang memotong makhluk tersebut dengan mudah. Darah hijau yang bau langsung terciprat ke wajah dan pakaian orang itu.


Mengabaikan penampilan orang itu, Ark mengibaskan pedangnya untuk membuang darah yang menempel pada bilahnya.


Ketika merasakan tatapan orang-orang yang diarahkan kepadanya, Ark menyarungkan kembali pedangnya sambil berkata.


"Bahkan jika itu tampak lemah dan menjijikkan, kalian tidak boleh meremehkannya. Itu karena ..."


Ark menatap orang-orang itu dengan tatapan dingin.


"Ceroboh di alam liar berarti bunuh diri."


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2