Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Perubahan Dunia Luar


__ADS_3

Pagi, satu minggu kemudian.


"Sudah waktunya untuk mempraktikkan keterampilan yang kalian pelajari."


Ark yang mengenakan pakaian rapi, lengkap dengan dua katana di kanan-kiri dan sebuah belati di belakang pinggangnya memandang ke arah rekan-rekannya.


"Menggunakannya dalam pertarungan nyata. Menggunakan keterampilan tersebut untuk menghabisi musuh-musuh kita."


Ucapan Ark membuat Jay tersenyum. Selain Jay, ada juga Stacy, Darin, Yonas, dan Vadim. Mereka berlima adalah orang yang dipilih oleh Ark. Membentuk tim yang akan keluar bersama dengannya untuk mencari bahan pembuatan ramuan evolusi tingkat dua.


Bukan hanya itu. Mereka juga akan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang perubahan yang terjadi di kota.


"..."


Natasha hanya menatap tim yang dipimpin oleh Ark dengan tangan mengepal. Abigail cukup kuat, tetapi harus tinggal untuk merawat tanaman dan menjaga kedua anaknya. Shani, Lisa, dan Old Franky sendiri bisa dibilang lemah karena belum mengonsumsi ramuan evolusi.


Yonas dan Vadim sendiri sekarang telah meminum lima porsi ramuan, membuat mereka lebih bisa diandalkan. Bahkan jika Ark tidak memerlukan kekuatan mereka untuk bertarung, keduanya masih diperlukan untuk membantu membawa dan memindahkan barang.


Berbeda dengan Shani, Lisa, dan Old Franky yang lemah. Natasha juga berbeda dengan Abigail yang memiliki alasan kuat untuk tetap berada di markas. Namun, wanita itu benar-benar ditinggalkan di markas untuk sementara memimpin pertahanan.


Ya. Begitulah bagaimana Ark menjawab pertanyaan anggota lain yang penasaran kenapa Natasha tidak ikut pergi.


"Pembohong itu ..."


Natasha bergumam pelan. Dia menatap Ark dengan tangan mengepal erat. Wanita itu sebenarnya telah menanyakan alasannya.


Jawaban itu juga berbeda dengan apa yang dikatakan kepada anggota lain.


***


Malam sebelumnya.


"Apa maksudmu dengan keputusan ini, Ark?"


Selesai rapat, Natasha segera menghampiri Ark. Dia benar-benar tidak terima dengan keputusan yang dibuat oleh ketua dari Sword of Sufferings tersebut.


Ark menoleh ke arah Natasha dengan ekspresi datar. Sama sekali tidak tampak peduli.


"Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya? Aku memintamu untuk tinggal dan menjaga markas. Berjaga-jaga atas serangan yang mungkin dilancarkan oleh musuh."


"Berhenti bercanda! Kelompok lain bahkan bingung untuk mencari tempat berlindung dan makanan, siapa yang ingin menyerang tempat ini!"


"Zombie atau binatang buas," ucap Ark datar.


"Lokasi jelas telah dibersihkan! Bahkan jika ada beberapa zombie, mereka pasti bisa ditangani oleh Kak Abigail.


Kenapa kamu tidak meminta Stacy untuk tinggal? Bukankah dia juga cukup?


Selain itu, aku lebih kuat daripada gadis itu. Aku jelas lebih bisa diandalkan!"


"Ya. Dalam menghadapi zombie dan binatang buas, kamu lebih bisa diandalkan."


Ark membalas dengan ekspresi tak acuh.

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


Natasha mengangkat alisnya, menatap ke arah Ark dengan ekspresi tidak puas.


"Seperti yang aku bilang, kamu hanya lebih baik dalam menangani zombie dan binatang buas. Kamu tidak bisa diandalkan dalam berbagai situasi nyata."


"Aku—"


"Jika bertemu dengan orang lain dan aku memintamu untuk menghabisi nyawa mereka, apakah kamu bisa melakukannya?"


Ark menatap tepat ke mata Natasha. Gadis itu langsung menggertakkan gigi. Tangannya mengepal erat. Dia kemudian membalas dengan nada kesal.


"Tentu saja kita tidak bisa membunuh orang lain tanpa alasan!"


"Itulah yang aku maksud," ucap Ark dengan ekspresi datar.


"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada di kepalamu. Kenapa kamu perlu melakukan hal semacam itu!"


"Kamu terlalu banyak berpikir. Aku tidak perlu membawa orang sepertimu dalam misi semacam ini."


Ark berjalan ke sofa. Dia duduk santai lalu kembali menatap Natasha dan melanjutkan.


"Ketika aku berkata habisi, yang perlu dilakukan adalah menghabisi. Ketika aku berkata ambil, yang perlu dilakukan adalah mengambil.


Jay, Darin, Yonas, dan Vadim. Mereka cukup tegas untuk melakukan hal semacam itu. Sedangkan Stacy ... kamu sendiri pasti mengetahuinya. Bahkan jika aku menyuruh dirinya untuk melompat dari atap gedung, dia akan melakukannya.


Aku akan mengatakannya sekali lagi. Kebaikan, rasa tulus, belas kasihan, aku sama sekali tidak memerlukan hal-hal semacam itu. Aku tidak akan membawa variabel yang mungkin mengacaukan semuanya hanya karena perasaannya.


Orang sepertimu ... tidak diperlukan dalam tim ini."


"Apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan, Ark?"


Natasha bertanya dengan nada berat.


Ark yang mendengarkan pertanyaan tersebut memejamkan mata. Setelah beberapa saat, dia menghela napas lalu menjawab.


"Hidup."


***


Ark dan timnya akhirnya keluar dari wilayah mereka.


Keluar dari area perumahan elit, mereka melihat gedung-gedung tua yang tampak mengerikan. Mereka melihat kota sepi seperti kota hantu. Pemandangannya sama sekali tidak begitu berubah.


Hanya saja, tampak perbedaan di tempat-tempat tertentu. Selain ada banyak tumbuhan liar dan lebih suram, tampak banyak noda hitam pada dinding atau jalan.


Ya ... itu adalah bekas noda darah yang telah mengering.


"Hey, Ark. Apakah menurutmu Debby bisa dikendarai? Maksudku, tubuhnya sedikit lebih besar daripada kuda, kan? Aku yakin kekuatan dan kecepatannya pasti lebih cepat dibandingkan dengan kuda pada umumnya."


Ark dan timnya berjalan untuk menghemat tenaga. Jay berbicara untuk memecah keheningan. Karena zombie dan binatang buas jarang muncul di siang hari, mereka bisa melakukan perjalanan lebih aman. Mengurangi sedikit kewaspadaan.


"Hal tersebut mungkin," balas Ark datar.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Tentu saja benar."


Ark masih berjalan dengan ekspresi datar, tidak menoleh ke arah Jay yang bersemangat. Dia kemudian menambahkan.


"Asalkan makhluk itu bisa menerimamu. Juga, kamu juga harus memiliki kemampuan menunggang yang baik. Jika tidak, mungkin kamu akan jatuh lalu mematahkan lehermu.


Ada juga kemungkinan jatuh lalu diinjak-injak sampai mati."


"..."


Jay tidak bisa berkata-kata. Saat itu, suara agak ragu dan penasaran Darin terdengar.


"Jika boleh tahu, kita akan pergi ke mana, Ketua?"


"Kamu tampaknya mengamati dengan baik, Darin." Ark membalas dengan nada datar.


"Tentu saja tidak mungkin kita berkeliling tidak jelas untuk mencari informasi. Selain itu, saya melihat kalau langkah anda cukup tegas, mengisyaratkan kalau anda tidak bingung. Memiliki tempat yang ingin dituju."


Darin berkata dengan ekspresi serius. Sementara itu, Jay hanya mengerjap. Dia hanya mengikuti Ark tanpa banyak berpikir. Lagipula, pria itu merasa bahwa memikirkan hal tersebut bukan tugasnya.


Benar-benar tipe pria riang yang begitu santai. Ikut pergi ke mana angin membawanya.


"Pintar." Ark berkata datar, tetapi jelas memberi pujian.


"Jadi, kita akan pergi ke mana, Ketua?"


Tidak langsung membalas, Ark balik bertanya.


"Menurutmu, dimana tempat paling banyak ditumbuhi tanaman di kota ini?"


"Tanaman ..." gumam Darin.


Setelah cukup lama berpikir. Dia akhirnya menatap ke arah Ark dengan ekspresi terkejut.


"Apakah itu taman kota, Ketua?"


"Yap." Ark membalas singkat.


"Bukankah banyak orang yang berkumpul di sana ketika apocalypse terjadi?


Juga, pasti banyak orang yang lewat di area sekitar untuk mencari persediaan makanan di toko-toko terdekat. Bahkan jika ada pohon buah-buahan atau tanaman berharga, bukankah sudah diambil oleh orang lain?"


"Kamu sedikit salah, Darin."


"Maksud anda, Ketua?"


"Memang benar, banyak orang yang berkumpul dan mencari di sana. Namun bukan berarti mereka semua selamat dan berhasil. Ada juga kemungkinan dimana mereka semua tidak selamat karena serangan zombie atau binatang mutan."


Pada saat itu, Ark berhenti berjalan lalu menoleh ke arah rekan-rekannya. Sudut bibirnya sedikit terangkat. Menunjukkan senyum sinis di wajah datarnya.


"Kemungkinan besar, orang-orang itu telah menjadi pupuk untuk menyuburkan tanaman di taman kota ...

__ADS_1


Membuat sebuah tempat unik dan berbahaya di tengah kota hantu ini."


>> Bersambung.


__ADS_2