Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Keberangkatan Jay


__ADS_3

“Suhu sudah cukup tinggi. Meski tidak begitu berguna jika digunakan melawan makhluk tingkat tinggi, tetapi senjata ini memiliki kegunaan lain.”


Ark menarik kembali pedangnya. Tangan pemuda itu menggenggam gagang lebih erat.


Saat itu juga, api berwarna jingga menyelimuti seluruh bilahnya. Tampak lebih stabil, dan memancarkan panas luar biasa.


“Suhunya sekitar 1100 derajat, jauh lebih panas dari sebelumnya.”


Setelah menatakan itu, energi merah darah menyelimuti seluruh pedang. Api yang menyelimuti pedang pun dimatikan.


“Ini hanya bisa dilakukan dengan bantuan kekuatanku. Bisa dibilang, pedang ini hanya bisa menunjukkan kekuatan aslinya di tanganku. Oleh sebab itu, meski kamu bisa menggunakannya, tetap ada syaratnya.”


Ark menatap ke arah Jay dengan ekspresi serius.


“Dalam perjalanan ini, kamu akan membawa tiga pedang. Pedang utama milikmu, pedang cadangan dengan kualitas lebih rendah, dan Burning Star Sword I.


Untuk menghadapi musuh biasa, kamu menggunakan pedang cadangan. Kamu hanya boleh menggunakan pedang utama ketika melawan makhluk level 3 dan di atasnya. Sedangkan untuk Burning Star Sword I ...


Kamu hanya boleh menggunakannya ketika dikepung oleh musuh dalam jumlah terlalu banyak.”


“Kenapa?” tanya Jay bingung.


“Karena senjata ini berbahaya. Pertama, meski menggunakan masker, tetapi kamu tidak mungkin bisa 100% mengisolasi udara. Ke dua, kamu tidak memiliki kemampuan khusus sepertiku, jadi tidak bisa mematikan api secara langsung.


Ya ... api ini tidak mudah padam, jadi harus digunakan hati-hati. Alasan aku bisa mematikannya karena menutup seluruh pedang dengan energi tanpa sedikitpun celah, tanpa udara, api akan mati.


Dalam keadaan normal, api akan mati dalam 15 menit. Terdengar tidak lama, tetapi sebenarnya sangat lama dalam pertarungan nyata. Cukup untuk mati puluhan kali.


Alasan kenapa aku memberikan pedang ini kepadamu hanya untuk memastikan kamu bisa memiliki kartu truf ketika menghadapi bahaya. Gunakan senjata ini untuk membuka celah dan melarikan diri.


Apakah kamu mengerti?”


“Aku mengerti!” jawab Jay tegas.


“Kalau begitu ambil.”


Jay mengangguk, lalu menerima pedang dari Ark. Menyentuh bagian bilahnya, pria itu terkejut karena bilah itu tidak panas. Berbeda dengan penampilan membara sebelumnya.


Melihat ke arah pedang indah yang dikerjakan hati-hati, Jay berkata.


“Terima kasih banyak, Ark.”


Ark sama sekali tidak menanggapi rasa terima kasih sahabatnya, tetapi terus menjelaskan dan memastikan pria itu mengingat semua informasi penting.


“Selain 3 bahan bakar yang digunakan sebelumnya, masih ada 27 bahan bakar. Gunakan dengan bijaksana. Ingat, nyala api 15 menit! Gunakan dalam keadaan bahaya, bukan untuk bergaya atau main-main!”


“Aku tahu, aku tahu! Pokoknya terima kasih karena telah membantuku, Sobat!”

__ADS_1


“Pergilah. Jangan lupa untuk berpamitan dengan Mona. Selain itu, apakah kamu benar-benar tidak ingin Huginn atau Muninn menemanimu?”


“Biarkan kedua burung itu mengawasi area sekitar markas dengan cermat. Aku sudah cukup kurang ajar meninggalkan Mona sendirian. Setidaknya, biarkan kedua burung itu menjadi pengawas sehingga aku bisa tenang.”


“Kamu bisa tenang, ada Roxanne dan rekan-rekannya.”


Mendengar itu, Jay langsung mendekati Ark. Dia kemudian menepuk pundak sahabatnya sambil menatap dengan ekspresi serius.


“Aku tahu kalau kamu menjaga jarak dengan orang lain, Ark. Meski semua anggota dekat denganmu, ada tirai transparan di antara kamu dan mereka. Karena itu, aku benar-benar minta tolong ...


Berjanjilah padaku, jaga Mona, okay?!”


Melihat ekspresi serius di wajah Jay, Ark sedikit terkejut. Dia menampik tangan pria itu lalu berkata dengan nada datar.


“Jangan berbicara seolah-olah kamu akan mati. Namun kamu tidak perlu khawatir. Mona dan bayi dalam tubuhnya, aku akan mengawasi mereka.”


“Bukan mengawasi, tapi melindungi!”


“Baik, baik ... kamu menang. Aku berjanji akan melindungi mereka. Apakah kamu puas sekarang?”


Melihat Ark yang begitu ala kadarnya, Jay tertawa. Meski perkataan sahabatnya terdengar tidak meyakinkan, tetapi Jay tahu kalau pemuda itu tidak akan mengingkari janjinya. Itu membuatnya merasa lega.


Memiliki senyum penuh di wajahnya, Jay berkata.


“Terima kasih, Kawan!”


***


“Si bodoh itu benar-benar tidak memilih untuk kembali.”


Melihat ke arah luar jendela, Ark menghela napas panjang.


Pemuda itu kemudian mengalihkan pandangannya ke meja kerjanya. Menyeka keringat di dahinya, dia bergumam.


“Meski masih prototipe, tetapi bentuk pertama hampir selesai. Dibandingkan Burning Star Sword I yang bisa digunakan orang lain, hanya aku yang bisa menggunakan benda ini.”


Setelah menyimpan ‘mainan baru’ miliknya, Ark pergi keluar ruang kerjanya.


Pemuda itu kemudian pergi ke salah satu ruangan lalu mengetuk pintu. Beberapa saat menunggu, pintu kamar pun terbuka.


Melihat Roxanne yang membuka pintu, Ark berkata.


“Apakah Mona sudah makan? Masih cemas karena si bodoh itu belum kembali?”


“Begitulah.” Roxanne mengangguk ringan dengan wajah kuyu.


“...”

__ADS_1


Mendengar konfirmasi dari Roxanne, Ark terdiam. Untuk melindungi keselamatan orang dan bertarung dengan musuh, pemuda itu sama sekali tidak merasakan tekanan. Namun hal-hal seperti menghibur dengan ramah sama sekali bukan keahliannya.


Entah kenapa, Ark juga merasa agak tertekan.


“Apakah kamu memiliki solusi?” tanya Ark.


“...”


Roxanne tertegun. Gadis itu diam-diam menghela napas dalam hati. Jika memiliki solusi, dia jelas telah menyelesaikan masalah itu.


Walau sempat mendapatkan kasih sayang keluarga, tetapi Roxanne sendiri juga masih gadis dan belum memulai keluarga. Jadi, dia sama sekali tidak mengerti perasaan Mona yang sedang mengandung dan ditinggal kekasihnya.


Ark mengelus dagu.


“Bukankah ini mirip dengan kasus dimana istri di rumah sementara suami pergi kerja ke luar kota? Ya ... tetap saja berbeda. Jika bekerja seperti biasa, keamanan memang bisa dijamin. Sedangkan dalam kondisi dunia yang seperti ini ...


Sulit menyakinkan seseorang baik-baik saja jika tidak melihat dengan mata kepala sendiri.”


Mendengar itu, Roxanne ikut menghela napas panjang.


“Khususnya bagi orang yang benar-benar khawatir.”


***


Sementara itu, dalam sebuah bangunan di wilayah lingkaran tengah.


“Apakah ini rasanya berada di medan perang sendirian? Aku benar-benar merindukan makanan hangat.”


Bersandar pada dinding dengan jubah menutup hampir seluruh tubuhnya, Jay memakan biskuit kering sambil menghela napas.


Dalam tiga hari ini, Jay menyadari betapa pentingnya anggota tim, khususnya Ark. Tanpa orang lain, dia sama sekali tidak bisa memasak.


Sebenarnya dia bisa membuat rebusan daging, tetapi ragu akan membuatnya mencolok karena tidak pandai memilih tempat. Akhirnya, bukan hanya tidak makan sesuatu yang enak, tetapi membuatnya dalam bahaya.


Di alam liar, api memang bisa menjadi sumber cahaya dan kehangatan. Namun, jika tidak hati-hati, itu hanya akan mengundang petaka.


“Benar-benar merepotkan.”


Setelah memakan dua keping biskuit lain, Jay menghela napas panjang. Meski merasa tidak kenyang, dia masih bersyukur karena bisa makan biskuit berasa.


“Ya ... setidaknya tidak hambar.”


Usai makan, Jay bersiap melanjutkan perjalanan. Memastikan semuanya dibawa dan dalam kondiri baik, pria itu mengangguk tegas lalu pergi. Arah tujuannya tampak sangat jelas karena ...


Jay telah menemukan jejak kehidupan manusia satu hari sebelumnya!


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2