Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Pulang


__ADS_3

"Apakah masih takut?"


Beristirahat di jalan karena ibu dan kedua anak itu perlu istirahat, Ark menatap ke arah gadis kecil yang bersembunyi di belakang punggung ibunya.


"..."


Gadis kecil itu mengintip Ark dari balik punggung Abigail sambil terus menatap pemuda tampan itu dengan dua mata bulat. Tampak penasaran sekaligus takut.


"Nala ..." gumam Abigail.


"Mama," bisik gadis kecil itu sambil menarik baju ibunya.


Memiliki ekspresi ragu, Abigail menatap ke arah Ark lalu berkata.


"Tuan Ark—"


"Tidak."


Ark langsung berkata dengan ekspresi datar.


"Jika dia ingin makan dan minum, gadis itu harus mengambilnya sendiri."


Ark duduk santai. Di depannya ada sebuah kantung berisi daging kering dan juga sebotol air. Di sisinya, tampak sosok Nathan yang makan daging dan minum dengan lahap.


Ark mengacak-acak rambut bocah itu sambil berkata.


"Jika kamu terus berlindung di belakang ibumu, kamu hanya akan membebani ibumu dan mungkin akan melukai ibumu kelak.


Jadi ambil dengan kedua tanganmu sendiri."


Ark berkata dengan ekspresi datar. Natasha dan Stacy yang duduk tidak jauh dari mereka juga hanya menonton. Meski apa yang dilakukan pemuda itu agak kejam, tetapi mereka tahu bahwa Ark memiliki niat baik.


"Tidak apa-apa, Nala. Paman ini tidak jahat. Dia yang menyelamatkan kita dari orang-orang jahat itu."


Nathan yang menelan daging dan selesai minum berkata dengan nada kekanak-kanakan. Awalnya dia ragu, tetapi setelah maju, bocah itu terkejut kalau Ark benar-benar memperbolehkan dirinya makan. Berbeda dengan orang-orang dari Kelompok Reaver yang hanya menggodanya dengan sepotong biskuit.


Hanya saja, Nathan tidak berdaya ketika Ark tidak mengizinkan dirinya memberi ibu dan saudarinya untuk makan ataupun minum.


Berbeda dengan Nathan, Nala memiliki sikap pengecut dan pemalu di depan orang asing. Gadis itu melirik ke arah ibunya yang hanya memberinya senyum lembut, sama sekali tidak tampak marah, apakah memaksanya untuk maju.

__ADS_1


Sadar bahwa ibunya tidak diperbolehkan makan kecuali dia dan saudaranya sudah makan, Nala akhirnya memberanikan diri untuk maju. Berjalan perlahan-lahan ke arah Ark, tubuh gadis itu gemetar. Sudut matanya mulai basah, benar-benar takut. Namun tanpa dia sadari, dia telah berdiri di depan sekantung daging kering dan air.


Gadis kecil itu berjongkok lalu mengulurkan tangannya. Sebelum menyentuh daging itu, dia menatap ke arah Ark. Pemuda itu tidak hanya tidak memarahi dirinya atau merebut kembali makanan, tetapi malah mengangguk.


Nala mengambil sepotong daging lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Merasakan rasa nikmat dari daging itu, dia menangis, tetapi terus mengambil dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Sampai tiba-tiba ... gadis itu tersedak.


Nala batuk-batuk dan memuntahkan beberapa daging yang dia makan.


Saat itu, suasana langsung menjadi sunyi. Abigail tampak pucat. Dia jelas mengerti betapa pentingnya makanan di dunia yang sudah kacau ini. Melihat Ark mengulurkan tangannya, wanita itu bangkit dan mencoba bergegas menuju putrinya.


Hanya saja, saat itu sudah terlambat. Nala menutup matanya sambil meringkuk, menutupi kepalanya dengan kedua tangannya. Siap untuk dipukul atau ditampar karena telah melakukan kesalahan.


Akan tetapi, bukannya pukulan, sebuah tangan yang agak kasar tetapi hangat menyentuh kepalanya dan mengelusnya dengan lembut.


"Kamu sudah berjuang dengan baik. Tidak perlu terburu-buru, minumlah terlebih dahulu."


Nada bicara Ark begitu datar, tidak terdengar seperti sedang menghibur. Namun entah bagaimana, Nala yang mendengar ucapan tersebut merasakan kehangatan dari perkataan Ark.


Membuka matanya, Nala melihat Ark menarik kembali tangannya dengan ekspresi datar seperti biasa. Pemuda itu membuka tutup botol lalu menyuruh gadis kecil itu minum.


Setelah Nathan dan Nala makan cukup daging (meski tidak terlalu banyak) serta minum, keduanya menatap ke arah Ark dengan cara rumit.


"Terima kasih banyak, Tuan Ark."


Nala berkata dengan suara kekanak-kanakan, tetapi sangat tulus.


"Tidak apa-apa." Ark berkata dengan santai. Dia kemudian menatap sosok Abigail. "Apa yang kamu tunggu? Makanlah secukupnya. Setelah beristirahat sejenak, kita semua akan melanjutkan perjalanan."


Abigail menatap ke arah Ark dengan ekspresi rumit. Dia benar-benar tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh lelaki tampan. Hal itu membuat dirinya agak was-was. Lagipula, wanita itu tahu ...  semua ini pasti tidak gratis dan memiliki harga yang harus dia bayar.


Khususnya di dunia yang menjadi semakin kacau ini.


Melihat ke arah Nathan dan Nala yang tampak dalam suasana hati yang lebih baik, Abigail merasa lebih rumit. Mengalihkan pandangannya ke arah Ark, tangannya mengepal. Namun dia masih mengangguk dan membalas.


"Saya mengerti."


***


Pagi harinya.

__ADS_1


Setelah melewati perjalanan cukup panjang dimana mereka harus sering beristirahat karena kondisi ibu dan kedua anak ataupun serangan zombie, mereka akhirnya sampai di tujuan.


Natasha, Abigail, Nathan, dan Nala terkejut ketika melihat sebuah rumah besar tiga lantai yang tampak cukup bersih (meski tampak tua). Mereka tidak menyangka kalau Ark benar-benar tinggal di tempat yang cukup tersembunyi ini.


Ya ... dibandingkan kebanyakan orang yang pergi ke pusat kota untuk mencari bantuan, pemuda itu benar-benar memilih pilihan sendiri. Sebuah pilihan yang jarang dipilih oleh orang lain.


Perumahan elit tersebut memiliki lima puluh rumah dengan standar sangat baik dan sepuluh rumah dengan standar terbaik. Tempat yang Ark pilih jelas salah satu dari yang terbaik karena dirinya ingin menetap di lokasi tersebut dan membangun kekuatan di sana.


Tentu saja, karena perumahan elit itu sangat luas dengan ukuran puluhan hektar, satu rumah dengan kualitas baik saja biasanya memiliki total luas lahan sekitar 5625 m² (75 x 75). Bahkan untuk sepuluh rumah terbaik, luas tanah kira-kira 10000 m² atau satu hektar (100 x 100). Tentu saja, itu bukan hanya luas bangunannya (rumah), tetapi mencakup semuanya.


Untuk ukuran rumah di kota dengan harga tanah yang mahal, ukuran tersebut sudah dianggap sangat luas. Itulah kenapa rumah mereka tidak berdekatan satu sama lain. Itu juga alasan kenapa ... Ark dan Jay belum sepenuhnya membersihkan seluruh perumahan.


Jumlah rumahnya terlalu banyak dan areanya terlalu luas!


Hanya saja, Ark memanfaatkan kondisi dimana perumahan elit ini belum dibuka terlalu lama. Hanya sebagian rumah yang telah dibeli. Jadi tempat ini termasuk sepi dan kurang padat penduduk. Belum lagi karena dinding tinggi yang mengelilingi seluruh perumahan, membuatnya menjadi sebuah benteng alami jika bisa dikembangkan dengan baik.


Tentu saja, alasan utamanya adalah ...


Di kehidupan sebelumnya, tempat ini akan menjadi lokasi perlindungan terakhir di kota.


Ya. Setelah pertempuran zombie dan binatang mutan yang terus berkelanjutan, manusia dipaksa untuk terus mundur dan akhirnya berkumpul di tempat ini. Dengan upaya dan pengorbanan banyak orang, tempat ini akhirnya bisa dikembangkan menjadi salah satu benteng terkuat yang ada di dunia.


Setidaknya itulah rumor yang beredar di kehidupan Ark sebelumnya.


Sedangkan untuk memastikannya, hal tersebut tidak mungkin. Dunia menjadi lebih luas, di luar kota ... medan akan berubah beriringan dengan berjalannya waktu.


Gurun, hutan, tanah bebatuan ... dan masih banyak lagi.


Untuk manusia yang terus ditekan di bagian bawah rantai makanan, jangankan untuk mengetahui luasnya dunia dan menjelajahi semuanya. Bertahan hidup dan tidak musnah dalam seleksi alam pun sudah membuat mereka bersyukur.


Pada saat Ark dan anggota kelompok baru masuk melewati gerbang, mereka disambut oleh Jay dan Darin.


"Selamat datang di rumah, Kawan-kawan."


Mendengar ucapan Jay, Ark sedikit tergerak. Sebagai penyendiri yang selalu berpindah-pindah, kata "rumah" benar-benar tidak begitu cocok baginya. Hanya saja, pemuda itu benar-benar puas ketika sekarang dirinya memiliki rumah ... tempat dia akan kembali.


Memiliki senyum di wajahnya, Ark berkata.


"Kami pulang."

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2