Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Pahlawan


__ADS_3

"Pertama-tama, perkenalkan ... namaku Julian."


Pria tampan itu berkata dengan nada sopan. Dia menatap sosok Ark yang tidak merubah ekspresinya. Menarik napas dalam-dalam, ekspresi Julian menjadi lebih serius ketika berkata.


"Maaf jika kurang sopan, tapi, aku melihat kalian pergi menuju ke arah markas Kelompok Reaver. Jika kalian dalam perjalanan dan tidak mengetahui kelompok tersebut, aku sarankan untuk memilih rute lain. Jikalau kalian bersedia, kalian bisa pergi ke arah timur.


Meski aku tidak bisa menjamin bahwa kehidupan di sana nyaman, tetapi aku yakin tempat itu lebih baik daripada dalam Kelompok Reaver. Khususnya untuk para perempuan."


Julian menekankan kalimat terakhir dengan ekspresi serius. Jelas, dia tahu apa yang dilakukan oleh anggota Kelompok Reaver kepada para perempuan.


"Akan tetapi, jika kalian memang menuju ke arah markas Kelompok Reaver atau bahkan anggota dari kelompok tersebut ..."


Mata Julian langsung menyempit.


Pada saat itu, sembilan orang lain langsung mengeluarkan senjata mereka. Tampaknya siap untuk bertarung kapan saja.


"..."


Ark menatap ke arah pria tampan itu tanpa mengucapkan sepatah kata.


Julian, Hero of Barren Land.


(Pahlawan dari Tanah Tandus)


Ya. Begitulah orang-orang di kehidupan sebelumnya menyebut pria tampan itu. Dibandingkan dengan Ark yang seorang serigala penyendiri, pria tersebut sama ... bahkan lebih baik daripada Natasha yang memimpin banyak orang di belakangnya.


Berbeda dengan Natasha dari sebuah kelompok persatuan kota yang kebanyakan anggotanya adalah mantan polisi, tentara, dokter, dan beberapa pegawai negeri sipil lainnya. Julian adalah seorang pria yang membuat kelompoknya sendiri.


Sebuah kelompok besar yang disebut Silver Cross.


Mengambil semua orang lemah, orang buangan, orang tua, perempuan, dan anak-anak. Berbeda dengan kelompok lain yang begitu pilih-pilih dalam mengambil anggota, mereka benar-benar tulus untuk menanggung beban orang-orang terlantar itu.


Sedangkan kelompok lain, kebanyakan mereka (yang dalam kategori baik) masih memilih anggota mereka karena masalah makanan dan air. Jika ada orang yang cukup kuat, mereka bisa masuk sambil membawa keluarga mereka. Tentu saja, syaratnya orang itu juga harus mengambil beban kerja yang dimiliki anggota keluarga, teman, atau kekasihnya.


Meski agak kasar, tetapi hal tersebut dianggap sebagai simbiosis mutualisme, dimana kepentingan kelompok dan pribadi harus saling melengkapi dan menguntungkan.


Sedangkan Silver Cross, tempat itu seperti "surga" di tanah yang tandus ini.


Kelompok tersebut diisi oleh orang-orang baik yang ingin menolong yang lemah. Bahkan jika mereka hanyalah parasit yang menyedot darah sampai habis, membebani punggung mereka. Orang-orang itu masih menolong mereka, karena mereka lemah, tak berdaya, dan butuh pertolongan.


'Ya ... benar-benar tipe orang yang aku benci.'


Menatap ke arah Julian, mata Ark menyempit.


Bahkan jika kelompok itu baik, bahkan sangat baik ... Ark tetap membencinya. Bukan karena kelompok itu berisi orang-orang baik, tetapi karena mereka terlalu memanjakan para parasit k-parat. Ya ... itulah yang dia benci.


Bahkan jika lemah atau cacat, setiap orang masih memiliki kelebihan. Bahkan mereka tua, anak-anak, atau penyandang disabilitas, mereka masih memiliki kegunaan.


Mereka bisa membantu untuk membuat batu bata. Mereka bisa membantu untuk menjahit pakaian atau selimut. Mereka bisa membantu menyiram tanaman. Mereka bisa membantu memasak. Banyak hal yang masih bisa mereka lakukan.

__ADS_1


Setidaknya, itu bisa dianggap kerja dan mereka pantas untuk mendapatkan upah berupa makanan serta minuman.


Mengeluh bahwa mereka tidak berdaya dan menunggu seseorang menjejalkan makanan serta minuman ke mulut mereka ...


Orang-orang seperti itu adalah orang yang sangat Ark benci!


Meski dirinya kuat, pada awalnya, dia juga hanyalah bocah jalanan yang kehilangan tempat tinggal. Sama sekali tidak kuat. Namun demi dirinya dan adiknya, dia berjuang dan bangkit dari gang kotor penuh lumpur.


Menjadi dirinya yang sekarang!


Alasan Ark membenci Julian adalah karena kebaikan pria itu. Baginya, Julian mirip dengan Jay. Mereka berdua baik ... sangat baik karena selalu peduli dengan sesama.


Ark sendiri yakin, jika Jay tidak dia pengaruhi di awal, pria itu akan menjadi seperti Julian. Asalkan terus bertahan, dia akan menjadi seorang pemimpin kelompok yang hebat ... seorang pahlawan.


'Hanya saja, di dunia yang kacau ini ... terlalu baik hanya akan mendatangkan bencana pada diri sendiri.'


Ark mengingat jelas akhir cerita Julian. Bahkan jika dianggap sebagai pahlawan, dia akhirnya jatuh bukan ditangan para zombie atau binatang mutan ... tetapi malah di tangan rekan-rekannya sendiri.


Ya! Karena terlalu percaya ... Julian benar-benar tidak berdaya ketika dikhianati!


"Apakah kalian dari kelompok Silver Cross?"


"Hah?!"


Mendengar pertanyaan datar Ark, ekspresi terkejut muncul di wajah Julian.


"Tentu saja." Ark mengangguk. "Kami sempat bertemu orang yang menyebutkan kelompok kalian. Kelompok yang berisi orang-orang baik dan mau melindungi orang-orang lemah."


"Eh? Benarkah???" Julian menggaruk belakang kepalanya dengan ekspresi malu. "Lalu, orang itu—"


"Maaf, dia telah mati di mulut zombie."


"Sangat disayangkan."


Julian memiliki ekspresi kasihan di wajahnya. Entah kenapa, hal tersebut membuat Ark merasa jijik. Rasanya, pria tampan tersebut benar-benar terlalu naif.


"Senang mendengar kalau kelompok kami disebut kelompok baik. Ya, meski sebenarnya tidak sebaik atau sebesar itu.


Jadi, apakah kalian ingin pergi ke Silver Cross? Jika benar, kalian bisa pergi bersama dengan kami nanti."


"Tidak." Ark menggelengkan kepalanya. "Kami akan pergi menuju ke arah Kelompok Reaver."


"Kenapa?! Apakah kalian—"


"Kami bukan anggota Kelompok Reaver."


"Lalu ... Kalian?" tanya Julian dengan ekspresi ragu.


"Seharusnya tujuan kita sama."

__ADS_1


Mendengar ucapan Ark, Julian langsung tercengang. Memiliki ekspresi penuh keraguan di wajahnya, pria itu berkata.


"Kalian ... ingin melawan Kelompok Reaver? Hanya dengan tiga orang?!"


"Lebih tepatnya, dua orang. Karena satu orang lain adalah penonton."


"..."


Natasha langsung cemberut ketika mendengar ucapan Ark.


Sementara itu, Julian memandang ke arah Ark, Stacy, dan Natasha dengan ekspresi rumit. Dia tampak marah.


"Kalian mencoba untuk membalas dendam?! Benar-benar ceroboh!"


"Kamu tidak perlu peduli atau khawatir tentang urusan kami, Julian."


"Apa kamu bilang? Aku tidak khawatir! Aku—"


"Ucapanmu sama sekali tidak akan memengaruhi keputusan kami."


"..."


Melihat ke arah Ark yang dingin dan tegas, ekspresi Julian menjadi lebih lunak. Menghela napas berat, pria itu berkata.


"Lalu kita akan pergi bersama."


"..."


"Kenapa kamu diam? Apakah kalian senang? Ya ... karena kita memiliki tujuan yang sama, lebih baik kita melakukan semuanya bersama-sama, kan?


Bukan berarti aku mengkhawatirkan kalian atau apa! Aku—"


"Jujur saja, kamu terlalu berisik dan mengganggu, Julian."


"..."


Julian yang pada awalnya malu-malu langsung terdiam ketika mendengar ucapan Ark. Dia hanya memandangi pria dengan katana di tangannya tanpa mengucap sepatah kata.


Ark menyarungkan katana miliknya. Dia berjalan melewati Julian dengan ekspresi datar, diikuti oleh Stacy dan Natasha.


Ketika berjalan beberapa langkah melewati Julian, Ark berbicara lirih.


"Lebih baik kamu tidak menghalangi jalanku."


Mendengar itu, Julian terkejut. Menoleh ke arah Ark, pria itu menatap punggung yang semakin menjauh sambil bergumam.


"Orang ini ..."


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2