Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
PERMAINAN IBLIS!


__ADS_3

Viper menatap sosok yang muncul di depannya dengan ekspresi tidak percaya di wajahnya. Memegangi lengannya yang terputus, pria itu tergagap.


"Leon? Draco? Bagaimana kalian—"


"Bagaimana kami berdua masih hidup?"


Draco menatap Viper dengan senyum penuh ejekan wajahnya. Di belakangnya, tampak sosok Leon yang menyeringai.


Melihat senyum di wajah kedua orang itu, Viper terkejut. Saat itu juga, dia berteriak.


"Hades ... Itu pasti Hades!" teriak Viper dengan ekspresi tidak percaya. Tampaknya enggan menerima kenyataan.


"Tampaknya kalian bersenang-senang."


Suara dingin sekaligus tak acuh terdengar.


Saat itu juga, tiga orang itu melihat sosok lelaki yang menatap mereka dengan mata dingin. Tangan kirinya selalu memegang sarung katana di pinggang kirinya. Meski tampak santai, pria itu jelas siap bertempur kapan saja.


"Tidak bisakah kami berdua membalas dendam dengan ketenangan, Saito?" Leon tersenyum.


"Kalian boleh saja bersenang-senang. Namun kalian juga harus ingat waktu ...


Jangan biarkan Ketua menunggu."


Saito membuat gerakan mengusir dengan tangan kanannya. Melihat itu, Draco dan Leon saling memandang.


Mereka kemudian menghampiri Viper dengan senyum kejam di wajah mereka.


"A-APA YANG KALIAN COBA LAKUKAN?!"


Viper mencoba mundur, tetapi saat itu juga suara retakan yang memekakkan telinga terdengar.


"ARGHHH!!!"


Tanpa perubahan ekspresi di wajahnya, Leon langsung menginjak kaki kanan Viper langsung sampai hancur.


"Jangan banyak bergerak. Membuatku sulit membawamu!" ucap Leon tidak puas.


"Hancurkan saja kaki lainnya," kata Draco.


CRACK!


"ARGHHH!!!"


Melihat Viper berteriak dengan ekspresi ngeri, Leon melirik ke arah Draco.


"Haruskah kita potong lidahnya?"


"Bawa dia ke tempat lain dan kamu bisa melakukannya di sana. Lakukan apa saja, asalkan dia tetap hidup dan bisa bicara. Jangan main-main atau Ketua akan marah."


Saito langsung menyela. Draco dan Leon saling memandang, mereka mengangguk dan menjawab bersamaan.


"BAIK!"


Setelah mengatakan itu, mereka berdua menyeret Viper yang tangan kanannya putus dan kedua kakinya patah pergi dari tempat itu.


***


Di markas Imperial Tiger.


"Tampaknya orang itu benar-benar melakukan pembersihan secara total, Tuan."


Menatap lorong penuh darah, Kurona melirik ke arah Ark dengan ekspresi sedikit terkejut.


"Dia melakukan semuanya tanpa membuat keributan. Bakatnya memang cukup bagus."


Shirona menambahkan dengan nada monoton yang khas.


"..."

__ADS_1


Ark tidak mengatakan apa-apa. Dia terus berjalan di lorong penuh dengan darah dengan ekspresi tak acuh.


Pemuda itu menaiki tangga menuju ke ruang rapat. Lantai pertama, lantai dua, lantai tiga ... semua lorong penuh dengan darah dan banyak mayat di berbagai tempat.


Sampai di lorong terakhir, Ark berjalan menuju ke sosok yang telah berdiri di depan pintu dengan ekspresi kosong. Melihat kedatangannya, orang itu langsung berlutut.


"KETUA!!!"


Ark melihat Vadim yang berlutut sambil menunduk dalam diam. Dia mengulurkan tangannya lalu menepuk pundaknya beberapa kali.


"Mengkhianati orang yang paling penting bagimu. Bertindak sebagai b-jingan padahal bukan itu yang kamu mau. Memakai topeng dan berpura-pura menjadi orang lain sambil menyembunyikan jati dirimu ...


Kamu pasti kesulitan, Vadim."


Tubuh Vadim sedikit gemetar, tetapi dia langsung menjawab tegas.


"Ini adalah tugas mulia bagi saya, Ketua!"


"Angkat wajahmu."


Mendengar ucapan Ark, Vadim mendongak. Melihat mata biru di balik topeng, tubuhnya menggigil hebat.


Ark menepuk ringan kepala Vadim sambil berkata.


"Terima kasih atas kerja kerasmu, Vadim."


"Ini tugas saya, Ketua!"


Setelah berbicara dengan Vadim, Ark membuka pintu. Namun sebelum dia masuk, suara Vadim yang gemetar terdengar.


"Maafkan ketidaksopanan saya, Ketua! Darin dan Yonas ... mereka ..."


Mendengar itu, langkah Ark terhenti.


"Tenang saja. Mereka tidak serapuh yang kamu bayangkan."


Setelah mengatakan itu, Ark masuk ke dalam ruangan. Kurona dan Shirona mengikutinya lalu menutup pintu.


"Tampaknya Vadim telah mengatur semuanya sesuai dengan seleraku. Ya ... tidak buruk."


Melihat ekspresi ketakutan di wajah pada tetua, Ark berjalan menuju ke kursi ketua lalu duduk di sana. Melepaskan topengnya lalu meletakkannya di atas meja, pemuda itu bersandar dengan santainya.


"Bukankah ini hari yang membahagiakan, Tuan-tuan?!"


Melihat ruangan sunyi dan senyap, Ark memiringkan kepalanya.


"Ah! Aku lupa kalau mulut mereka ditutup! Kalian berdua ... buka penutup mulut mereka."


Setelah mulut para tetua dibuka, suara marah langsung terdengar dalam ruangan.


"APA YANG COBA KAMU LAKUKAN, B-JINGAN!!!"


Ark menatap orang itu sambil menopang dagu. Menghela napas ringan, dia berkata.


"Orang tua itu sama sekali tidak bisa menghargai tamu. Kurona ... potong lidahnya."


Setelah beberapa saat, jeritan memekakkan telinga menggema dalam ruangan. Sesaat kemudian, ruangan kembali sunyi.


"Baiklah. Aku tidak ingin ada yang berbicara jika aku tidak bertanya. Tolong jawab pertanyaanku dengan jujur karena aku tidak suka pembohong.


Jadi ... mari mulai dengan pertanyaan pertama!"


Ark menunjukkan senyum ramah di wajahnya.


Satu jam kemudian.


Dalam ruangan, tubuh para tetua yang digantung terbalik tampak penuh dengan luka. Ada luka tebasan, ada luka tusukan, dan ada beberapa bagian tubuh mereka yang membusuk karena racun.


Bisa dibilang ... orang-orang itu tampak lebih mengerikan dari zombie. Mereka merasa kalau satu jam yang mereka alami lebih buruk daripada kematian!

__ADS_1


Ark berdiri memunggungi semua orang sambil menatap ke luar jendela.


"Karena kalian telah bekerjasama, aku akan memberikan kalian kesempatan.


Apakah kalian ingin menanyakan sesuatu? Atau kalian ingin segera dikirim pergi?"


"Uhuk! Uhuk!"


Salah satu tetua yang hendak berbicara tersedak darah di tenggorokannya. Setelah beberapa saat, lelaki tua itu akhirnya bertanya.


"Hades ... Sebenarnya ... Sebenarnya apa yang kamu inginkan?"


Meski serakah, para tetua jelas tidak bodoh. Hades yang mereka kenal saat ini jelas tidak mengincar posisi tinggi atau semacamnya. Selain itu, orang itu juga hampir memiliki segalanya.


Itulah yang membuat mereka tidak bisa menemukan jawabannya.


"Aku ingin perubahan."


Ark berkata tanpa menoleh ke belakang. Setelah beberapa saat, dia mulai melanjutkan.


"Di dunia yang pucat ini, kita membutuhkan pahlawan. Namun, pahlawan tidak akan pernah muncul tanpa adanya sebuah alasan.


Eksperimen manusia, kejahatan perdagangan manusia, kekotoran yang merajalela ... aku rasa itu hal biasa di dunia yang kacau ini.


Jadi bagaimana jika jika membuat pahlawan sendiri?


Memilih orang suci lalu membesarkannya. Membuat berbagai ujian untuk mengasahnya. Memberi poin-poin jahat kekuatan agar mempersulit jalannya.


Memancing perang besar antara kebaikan dan kejahatan sehingga lahan berdarah membuat mekar bunga paling indah ...


Bukankah itu luar biasa?!"


Ark berbalik, menatap par tetua dengan senyum di wajahnya.


"Para rakyat akan melihat adanya harapan."


"Semua orang akan disatukan."


"Bersatu ... Bersatu untuk meneruskan harapan umat manusia!"


Ark membuka kedua tangannya dengan senyum gila di wajahnya.


"Untuk mencapai semua itu, kita memerlukan PENGORBANAN. Ya ...


PENGORBANAN besar yang bisa merubah akhir umat manusia!"


Saat itu, Ark langsung membungkuk hormat layaknya seorang bangsawan sambil berkata dengan nada sangat tulus.


"Jadi, terima kasih atas kerjasama kalian, Tuan-tuan!"


Setelah itu, Ark mengangkat wajahnya. Ekspresi pemuda itu kembali tenang seperti sebelumnya.


Sementara itu, para tetua benar-benar ketakutan. Saat ini mereka memiliki pemikiran yang sama di kepala mereka.


IBLIS!


Ternyata selama ini mereka semua menari di atas telapak tangan iblis!


"Kirim mereka pergi!"


Ark berkata dengan ekspresi tak acuh. Pemuda itu kemudian keluar ruangan.


Beberapa saat kemudian, Kurona dan Shirona juga keluar dari ruangan. Melihat Vadim telah pergi, mereka bertiga berjalan meninggalkan lokasi.


Saat itu, Kurona yang berjalan di belakang Ark menatap punggung ketuanya sebelum bertanya.


"Setelah ini, apa yang akan kita lakukan, Tuan?"


Mendengar itu, mata Ark berkilat dingin. Saat itu juga, suara tenang menggema di lorong gelap dan suram.

__ADS_1


"Tentu saja, kita akan melanjutkannya ke tahap berikutnya."


>> END OF BOOK-01


__ADS_2