Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Mengumpulkan Lebih Banyak Informasi


__ADS_3

Sementara itu, di lantai tiga sebuah gedung yang ditinggalkan.


Lantai tersebut telah dibersihkan dan berbagai perabot rusak telah dibuang. Di sana, tampak Ark dan rekan-rekannya yang sedang beristirahat. Mereka semua telah melepas mantel dan mengeringkannya. Tampaknya sedang menikmati waktu santai yang begitu jarang dimiliki.


Berbaring di lantai hanya mengenakan celana pendek putih, Leon menatap langit-langit sambil bergumam.


“Ini benar-benar buruk.”


Mendengar ucapan pria itu, semua orang langsung mengalihkan pandangan mereka kepadanya. Tampaknya penasaran dengan apa yang mengganggu pikiran Leon yang biasanya paling bebal dan memiliki mental baja.


“Karena kita hidup lebih nyaman dibandingkan orang-orang lain, kita memiliki kebiasaan menjaga kebersihan. Ini benar-benar buruk. Jika harus bepergian jauh, sebagian isi tas pasti akan dipenuhi dengan pakaian. Jika tidak ...


Kita akan berakhir seperti ini.”


“Aku kira apa! Ternyata kamu malah mempedulikan hal-hal sepele seperti itu, Bodoh!”


“Siapa yang kamu sebut bodoh, Kadal?”


“Hah?!”


Leon dan Draco saling memandang dengan ekspresi kesal di wajahnya.


“Cukup. Berhentilah merusak momen santai ini.” Saito langsung menyela.


Leon dan Draco langsung melirik ke arah Saito dengan ekspresi tidak senang. Keduanya hanya memakai celana pendek dari sutera putih. Bukan hanya mereka bedua, tetapi dua puluh prajurit yang lain juga sama. Namun, Saito memiliki penampilan berbeda. Pria itu dan Ark masih memakai kemeja dan celana panjang mereka.


“Kenapa kalian menatapku dengan ekspresi seperti itu?” Saito mengangkat alisnya.


“Bukan apa-apa!” jawab Leon dan Draco dengan nada kesal.


“...”


Ark duduk santai di jendela sambil merasakan embusan angin. Dia menatap ke arah kota dengan ekspresi datar. Tampaknya sedang melamun, tetapi tidak ada yang tahu dirinya sedang memikirkan apa.


Di atap, banyak pakaian dan jubah yang dijemur karena basah oleh darah. Sambil menunggu pakaian kering, lebih dari dua puluh orang duduk santai. Kebanyakan dari mereka memiliki fisik yang baik. Bukan hanya tidak terlalu gemuk atau kurus, tetapi tubuh mereka juga terbentuk dengan baik karena latihan yang mereka lalui.


Khususnya Leon dan Draco. Tubuh Draco mirip dengan sosok pencipta Jeet Kune Do, tidak besar, tetapi padat dan penuh dengan otot. Ada juga beberapa bekas luka dan tato di tubuhnya. Sedangkan Leon, tubuhnya lebih mengerikan karena benar-benar mirip dengan monster humanoid. Belum lagi, tato dan luka yang dimiliki lebih banyak dibandingkan dengan Draco.


Berbeda depan para prajurit biasa yang jika berjalan akan menarik perhatian dan rasa kagum, tubuh kedua pria itu jelas membuat orang-orang menjadi ketakutan sampai-sampai tidak berani melihat langsung ke mata mereka.


“Omong-omong, apakah pakaian yang kita jemur sudah kering? Maksudku, kita menjemurnya sejak sore hari dan ini sudah tengah malam.”

__ADS_1


Mendengar ucapan Leon, Ark menoleh lalu membalas datar.


“Aku hanya menyuruh kalian untuk mengeringkannya dan menghilangkan bau mencolok. Sedangkan apa yang terjadi selanjutnya sama sekali tidak ada hubungannya denganku.”


Penjelasan itu langsung membuat orang-orang menatap ke arah Leon dengan marah. Meski tidak membuat mereka masuk angin, tetapi menghadapi angin dingin di malam hari hanya dengan celana pendek benar-benar tidak nyaman. Mereka langsung bangkit dan pergi mengambil pakaian mereka.


Sekitar setengah jam kemudian, semua orang telah kembali berkumpul dengan pakaian hampir lengkap. Karena tidak berencana keluar, mereka tidak memakai jubah dan topeng mereka.


“Apakah kita akan menyerang pos Crux of Shadow lainnya, Bos?” tanya Leon.


“Tidak sekarang.” Ark menggelengkan kepalanya. “Kita sama sekali tidak memiliki banyak informasi. Kita mungkin bisa menyerang beberapa pos yang jauh dari markas pusat, tetapi lokasi lebih dekat jelas tidak bisa dilakukan dengan asal-asalan. Juga, alasan kenapa kita menyerang hanyalah untuk menyebar ketakutan.”


“Kenapa kita harus menyebar ketakutan, Bos?” tanya Leon.


“Agar mereka tidak lupa.”


Ark menjawab dengan tenang. Namun tidak semua orang mengetahui arti yang dimaksud oleh sang ketua. Mungkin hanya sebagian kecil dari mereka yang mengerti maksudnya. Belum sempat mencerna semuanya, suara Ark kembali terdengar.


“Hari ini kita beristirahat. Mari gunakan wantu orang-orang di kota panik dan berjaga-jaga untuk memulihkan energi kita. Lagipula, kita telah melakukan perjalan panjang, dan ya ...”


“Biarkan orang-orang itu menunggu sampai lelah selama kita menikmati waktu istirahat ini.”


Siang di hari berikutnya.


Evans yang selesai melakukan latihan dan perburuan akhirnya kembali. Pada saat dia sampai di tempat tinggalnya dan Brian, pemuda itu terkejut melihat sahabatnya yang selesai berkemas.


“Kenapa kamu memakai perlengkapan seperti itu? Apakah kamu benar-benar akan pergi?” tanya Evans.


“Apa yang kamu katakan Evans? Aku dikirim keluar untuk melakukan misi pelacakan.”


Brian berkata santai. Dia tersenyum ramah seperti biasanya.


“Melacak? Siapa?”


“Maaf, Kawan. Misi ini memiliki sifat rahasia, jadi aku tidak bisa mengatakan apa-apa soal ini.”


“Berapa lama kamu akan pergi?” tanya Evans.


“Tidak tahu. Mungkin tiga hari sampai satu minggu.”


“Haruskah aku ikut pergi denganmu?”

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu, Brian tersenyum. Dia menatap ke arah sahabatnya dengan penuh perhatian lalu menepuk pundak pemuda itu sambil berkata.


“Sebenarnya aku senang kamu mau menemaniku. Hanya saja, ini misi untuk satu orang. Jadi aku tidak bisa menerima tawaran itu.”


“Bagaimana jika aku menyelinap sehingga kita bisa-“


“Terima kasih, Evans. Namun hal semacam itu tidak perlu. Selain itu, aku juga harus memberimu nasihat penting.” Mengatakan itu, ekspresi Brian menjadi lebih serius. “Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di luar, tetapi aku harap kamu bisa menahan diri dan tidak asal keluar-masuk markas agar tidak dicurigai sebagai pengkhianat.”


“Aku tidak mungkin berkhianat karena-“


“Orang-orang di atas tidak peduli dengan itu, Evans! Mereka sekarang mencurigaimu dan mulai mengawasimu, jadi lebih baik kamu berhati-hati. Jangan sampai membuat masalah besar dan berakhir karena trik orang-orang itu.”


“Apakah kamu mencurigai pemimpin kelompok kita sendiri, Brian?”


“Tentu saja tidak. Namun ada juga banyak petinggi. Meski tidak tahu apakah mereka baik atau buruk, tetapi lebih baik untuk terus berhati-hati. Lagipula, yang paling bisa kita percaya hanyalah diri kita sendiri.”


Melihat ekspresi serius di wajah sahabatnya, Evans mengangguk.


“Aku mengerti. Aku pasti akan baik-baik saja.”


“Kalau begitu aku bisa tenang!” ucap Brian dengan senyum di wajahnya.


“Apakah kamu akan berangkat sekarang?” tanya Evans.


“Ya. Semakin cepat berangkat, seharusnya aku bisa cepat kembali.”


“Kalau begitu jaga dirimu, Brian.”


“Kamu juga harus menjaga diri dengan baik, Evans.”


Setelah mengatakan itu, Brian berangkat. Evans yang melihat punggung sahabatnya menghilang di kejauhan menghela napas panjang. Sekarang pemuda itu akhirnya menembus belenggu level 2. Meski belum sekuat para bawahan yang dibawa Ark ke kota ini, tetapi dia jelas lebih kuat dibandingkan orang-orang di Spirit of Fire.


Evans mengepalkan tinjunya sambil berpikir.


‘Jika bisa terus menjadi lebih kuat, aku pasti bisa melindungi orang-orang yang penting bagiku. Mungkin suatu saat ... aku juga bisa mencari kakak.’


Sementara itu, Brian yang telah keluar dari markas membuang senyum di wajahnya. Memiliki ekspresi bersalah, pemuda itu berpikir.


‘Jika dalam misi ini aku bisa bertemu dengan Sword of Sufferings, mungkin aku tidak akan kembali. Jadi ... ini bisa jadi perpisahan, Kawan.’


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2