Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Penjajah atau Penyelamat


__ADS_3

Lisa langsung berlari menuju ke lokasi sumber suara.


Sampai di sana, gadis itu tampak kecewa. Melihat sekitar dua puluh zombie mengepung sebuah toko kecil, dia menggerutu.


“Aku pikir ada sesuatu yang menarik. Ternyata hanya beberapa kentang goreng (camilan).”


Lisa hendak berbalik. Namun saat itu dua puluh zombie melihat ke arahnya. Ekspresi liar tampak di wajah mereka. Makhluk-makhluk itu langsung berlari ke arah gadis tersebut dengan kecepatan penuh.


Melihat pemandangan seperti itu, Lisa menghela napas.


“Pantas saja Ketua Bau berkata kalau zombie tingkat rendah lebih buruk dari binatang bermutasi di tingkat yang sama. Mereka benar-benar tidak punya otak.”


Lisa langsung mengeluarkan pedang lebar dari punggungnya. Dia mencengkeram erat pedang di tangannya. Melihat enam atau tuju yang mendekat lebih awal, gadis itu langsung mengayunkan pedang dengan santai.


SWOOSH!


Enam atau tujuh tubuh langsung terpotong menjadi dua bagian dengan ayunan pedang. Melihat beberapa zombie masih bergegas ke arahnya, dia langsung maju ke depan. Dalam beberapa tebasan, makhluk-makhluk itu benar-benar langsung diselesaikan.


Melihat bagian tubuh yang masih terus berusaha bergerak, Lisa mulai berkeliling dengan santai untuk memenggal leher mereka. Setelah selesai, gadis itu mengangkat pedangnya lalu mengeluh.


“Memang, mini-BREAKER tidak sebagus BREAKER original. Tidak boleh membawanya karena merepotkan? Huh! Benar-benar menyebalkan.”


Senjata yang Lisa bawa sekarang bukanlah pedang raksasa yang biasanya dia bawa, tetapi pedang lebar dengan bentuk yang mirip tetapi ukuran berbeda. Ark melarang gadis itu membawa pedang yang dipanggil BREAKER itu karena mempersulit gerakan. Mereka tidak membawa kereta barang, jadi jika dibawa, Lisa harus membawanya sendiri dan itu merepotkan.


Selesai menghabisi para zombie dan membersihkan bilah pedangnya, Lisa hendak pergi. Saat itu telinganya sedikit bergerak. Gadis itu kemudian menoleh ke arah toko kecil. Setelah menyarungkan kembali pedangnya, dia berjalan menuju ke toko kecil.


Tanpa sedikit pun keraguan, Lisa langsung masuk ke dalam tokoh. Dia kemudian melihat toko yang begitu berantakan. Banyak sampah berserakan, rak besi yang sudah ambruk, dan beberapa hal berantakan lainnya. Melihat tidak ada lagi zombie, gadis itu berjalan menuju ke area belakang toko.


Sampai di sebuah lorong sempit dengan banyak barang yang menghalangi jalan, Lisa langsung menendangnya.


BRUAK!


Ketika barikade sederhana yang dibuat seadanya rusak, Lisa melihat sebuah pintu. Pintu gudang toko tersebut. Dia maju lalu membuka pintu. Saat itu juga, dia melihat tongkat kayu yang berayun ke arahanya.


Lisa langsung menangkap tongkat kayu tersebut dengan satu tangan. Dia melihat ada empat orang yang berada di sana. Pria paruh bayah, seorang pemuda, dan dua orang gadis di usia awal dua puluhan.


“Manusia?” Lisa memiringkan kepalanya.


Saat itu, sosok lelaki paruh baya yang membawa pipa besi dengan ujung runcing langsung maju, menusuk ke arah Lisa dengan sekuat tenaganya. Sebagai tanggapan, gadis itu sedikit menghindar lalu menebas pipa besi itu dengan tangannya.

__ADS_1


Klang!


Separuh pipa besi yang terpotong langsung jatuh ke lantai. Melihat gambar luar biasa seperti itu, pria paruh baya itu melompat mundur. Pemuda yang sebelumnya mencoba memukul Lisa dengan tongkat kayu juga langsung membuang tongkatnya.


“Kamu ... Kamu itu sebenarnya apa?”


Pemuda itu memandang ke arah Lisa dengan ekspresi terkejut dan ngeri. Lagipula, sekarang seluruh tubuh Lisa dibungkus oleh jubah hitam dan topeng. Sama sekali tidak menunjukkan penampilannya.


“Apakah kalian mengejekku?”


Lisa mengerutkan kening, jelas tidak senang dengan ucapan pemuda itu.


“Kamu, berbicara dengan bahasa manusia?”


“KARENA AKU MANUSIA, BODOH!”


Lisa benar-benar ingin maju untuk mengalahkan seseorang. Namun setelah melihat penampilan kurus kering mereka, dia hanya menahannya. Lagipula, Lisa yakin pemuda itu akan langsung menjadi beberapa serpihan jika dia mengetuknya sedikit lebih keras.


Menyadari sesuatu, mata Lisa langsung berbinar.


“Hey! Ini benar-benar bagus! Aku tidak menyangka akan menjadi yang pertama menemukan manusia di kota ini.” Lisa mengelus dagu. “Ketua Bau pasti terkejut dan tidak menyangka.”


“Kalian berempat, ikuti aku!”


Pada saat pemuda itu hendak mengatakan sesuatu, pria paruh baya langsung menghentikannya. Saat itu juga, dia memberi isyarat agar mereka mengikuti Lisa dengan patuh jika ingin selamat. Pada akhirnya, keempat orang itu memutuskan untuk mengikuti gadis tersebut.


Melihat ke arah empat orang yang mudah dibujuk, Lisa mengangguk dengan ekspresi puas di balik topengnya.


***


Sekitar setengah jam kemudian, Lisa dan empat orang tiba di depan gedung.


“Hey, Kak! Lihat yang aku bawa!”


Melihat Ark yang duduk santai sambil mengawasi beberapa orang yang sedang membersihkan tubuh zombie yang mereka lawan ketika dia pergi, Lisa langsung melambaikan tangan. Dia tidak sabar menunggu ekspresi rerkejut di wajah Ark. Siapa sangka, semua tidak berjalan sesuai ekspektasinya.


“Dari mana saja kamu? Kenapa kamu malah pergi bermain tanpa mengucap sepatah kata? Apakah kamu mencoba memberi contoh buruk atau semacamnya?”


“Hentikan! Hentikan itu!”

__ADS_1


Mendengar Ark yang mulai mengomel, Lisa langsung menutup telinganya.


Ark melihat Lisa lalu menghela napas panjang. Dia kemudian mengalihkan perhatiannya kepada empat orang yang gadis itu bawa.


“Jadi, siapa mereka?”


“Ah! Itu ...” Lisa menoleh ke arah empat orang. “Perkenalkan diri kalian!”


Mendengar ucapan Lisa, sudut bibir Ark berkedut. Dia sangat yakin kalau gadis itu asal membawa keempat orang itu. Tidak menanyakan nama mereka, apalagi informasi lainnya.


Saat itu, sosok pria paruh baya maju lalu membungkuk sopan dan berkata dengan nada hormat.


“Perkenalkan, nama saya Russell. Gadis itu bernama Hannah, putri saya. Lalu pemuda itu adalah Tyler, putra saya. Sedangkan wanita muda itu adalah kekasih putra saya, Lexie.”


Mengikuti perkenalan Russel, Ark melihat tiga orang lain.


Hannah adalah seorang gadis seusia Lisa, tetapi lebih tinggi dengan rambut coklat panjang bergelombang. Dan ya, alasan kenapa Ark berkata mirip Lisa karena ... mereka sama-sama datar.


Tyler adalah pemuda kurus dengan kulit kecoklatan dengan rambur coklat pendek, agak mirip dengan Russell tetapi jauh lebih muda. Sedangkan Lexie sendiri adalah gadis cantik berambut hitam lurus panjang. Sebelumnya, dia jelas cantik dan memiliki tubuh yang cukup bagus. Namun menjadi kurus dan pucat karena mengalami kehidupan berat selama lebih dari satu setengah tahun.


Melihat Ark menatap Lexie, Tyler langsung tampak waspada. Dia melirik ke arah ayahnya dengan ekspresi tidak puas, tetapi tidak mengatakan apa-apa.


Pada saat itu, Russell mengangkat tangannya dengan ekspresi ragu di wajahnya.


“B-Bolehkah saya bertanya, Tuan?”


“Katakan.” Ark membalas singkat.


“Kalian ... Kalian sebenarnya siapa? Kenapa kami belum pernah menemui kalian? Lagipula, jubah hitam dan topeng yang kalian pakai seharusnya mencolok. Bahkan jika belum bertemu, seharusnya kami pernah mendengarnya.”


“Oh?”


Ark menatap lelaki paruh baya itu dengan ekspresi datar. Setelah beberapa saat, dia kembali berkata.


“Kalian bisa menganggap kami penjajah atau penyelamat ...”


“Itu tergantung dari sudut mana kalian melihatnya.”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2