
"Apanya yang tidak pantas! Aku jauh lebih cantik daripada mereka! Aku masih muda! Aku pendamping yang sempurna!"
Setelah menahan rasa sakit, wanita itu bangkit lalu menunjuk ke arah Saito dengan ekspresi marah. Tampak cukup gila. Mungkin karena melihat adanya Berto, dia menjadi lebih berani.
Berpikir kalau Saito tidak akan berani membunuhnya. Khususnya di dalam wilayah Silver Cross!
"Kamu berbeda dengan mereka. Setelah bertemu dengan orang itu, mereka mau berubah. Apakah kamu masih tidak paham?
Dulunya entah karena dipaksa atau ingin memenuhi kebutuhan mereka, para wanita ini menjajakan raga mereka. Kamu juga sama!l.
Setelah bertemu dengan orang itu (Vadim), kalian berjanji untuk berubah dan orang itu berjanji untuk tidak memedulikan masa lalu kalian.
Mereka menepati janji, tetapi kamu tidak. Itulah kenapa kamu tidak pantas."
Saito membalas dengan nada datar. Sama sekali tidak begitu peduli dengan wanita yang begitu emosional di depannya.
"Kamu tidak tahu betapa kerasnya kehidupan wanita di masa apocalypse ini, B-jingan!" teriak wanita itu.
"Orang itu (Vadim) telah berjanji, dan dia akan menepatinya. Kamu hanya tidak sabar, bahkan sama sekali tidak percaya.
Setelah pemerintahan baru dibuat, kalian jelas diberi jatah makanan. Meski hanya bubur encer. Hal tersebut masih bisa menyambung kehidupanmu.
Para wanita ini bersabar dan berani bertaruh. Sementara kamu ...
Aku tidak perlu melanjutkannya."
Saito menggelengkan kepalanya. Dia kemudian menyarungkan kembali pedangnya. Setelah itu, pria tersebut melirik ke arah Berto.
"Lebih baik kita pergi ke tempat berikutnya."
"AKU TIDAK TERIMA! AKU HARUS—"
"Singkirkan wanita gila ini. Jika masih memberontak ... maka buang saja." Saito berjalan pergi. "Mr Julian pasti tidak keberatan jika kita membersihkan satu atau dua sampah untuknya."
Lima belas orang di belakangnya langsung memberi hormat dan membalas serempak.
"DIMENGERTI!"
Dua orang kemudian menghampiri wanita itu lalu menyeretnya pergi.
Para wanita yang mengikuti Saito menjadi sedikit takut. Berto sendiri menggelengkan kepalanya. Meski merasa agak jengkel karena diabaikan, tetapi dia juga tidak memprotes.
"Sebelum ke tempat berikutnya, aku ingin meminta tolong, Mr Saito."
Mendengar ucapan Berto, Saito menoleh.
"Ada apa? Apakah kamu marah?"
"Tidak." Berto menggelengkan kepalanya. "Bukan soal wanita tadi."
"Lalu?"
__ADS_1
Melihat tepat ke mata Saito, Berto menarik napas dalam-dalam sebelum membungkuk.
"Tolong sampaikan kepada Mr Hades, kami, para anggota Silver Cross berharap dia bisa membantu ketua!"
"Hah?"
Saito tampak bingung. Dia kemudian menggaruk belakang kepalanya sambil berpikir.
Setelah beberapa saat, pria itu akhirnya membuka mulutnya.
"Maksudmu, Mr Julian mendapatkan banyak beban kerja dan membutuhkan bantuan Tuan Hades?"
"Meski benci mengakuinya, itu benar!" balas Berto.
"Memangnya kamu pikir hanya Mr Julian yang sibuk?"
"Eh??" Berto terkejut.
"Mr Joseph juga sibuk. Banyak ketua kelompok lain juga sibuk. Belum lagi Tuan Hades.
Lelaki itu terlalu sibuk untuk mengurus hal-hal sepele.
Mungkin kalian berpikir dia adalah lelaki dingin yang kejam dan keterlaluan. Namun di mata kami, anggota Sword of Sufferings. Dia adalah ketua sekaligus Raja kami.
Orang baik yang sangat memedulikan bawahannya."
"Maaf, aku hanya memikirkan kondisi ketua. Aku tidak memikirkan kondisi pemimpin kelompok lain, jadi—"
"Eh?"
Berto menjadi lebih bingung. Saito sebelumnya telah berkata seperti itu. Jadi dia pikir kalau orang itu akan menolak. Namun ternyata masih mau menerimanya.
"Bukankah kita dalam hubungan aliansi yang saling menguntungkan? Kalian telah membantu kami, jadi kami akan membantu kalian.
Terlebih lagi, ketua sendiri juga telah memberi tugas."
Saito tersenyum. Melihat Berto yang bingung, dia melanjutkan.
"Sudah aku bilang, dia adalah lelaki yang baik."
***
Sementara itu, di saluran air bawah kota.
"Sudah aku duga dia membawa kita ke sini karena harus melakukan hal-hal menyebalkan semacam ini!"
Lisa berteriak sambil berputar seperti gasing. Pedang besar di tangannya memotong puluhan, bahkan ratusan makhluk yang menyerbu dari depan.
Tikus sebesar husky normal, bulu hijau tua, mata merah, gigi dan cakar tajam. Ditambah dengan racun, bau menyengat, dan penampilan berantakan ...
Makhluk-makhluk itu langsung menjadi salah satu binatang bermutasi yang Lisa benci!
__ADS_1
"Bisakah aku beristirahat sejenak, Bung? Tanganku mulai mati rasa ... aku hampir tidak bisa merasakan tanganku sendiri!"
Bukan hanya Lisa, Jay juga mulai mengeluh. Dia terus memukul dan menghancurkan banyak tikus yang lewat. Jumlah yang dia bunuh saja pasti sudah lebih dari seratus.
"Semangat~ Kalian bisa melakukannya. Aku sudah bisa melihat ujung gerombolan tikus bermutasi ini."
Ark berkata dengan nada monoton, sama sekali tidak terdengar seperti orang yang memberi semangat. Tampaknya benar-benar tidak peduli dengan ekspresi penuh keluhan di wajah Lisa dan Jay.
Sementara itu, sisa prajurit yang berada di belakang bertugas untuk menghabisi tikus yang lolos dari serangan Lisa dan Jay. Sama sekali tidak mengizinkan makhluk itu melarikan diri ke permukaan.
Sedangkan Ark sendiri ...
Dia hanya berdiri di tengah barisan. Pemuda itu menunjuk sana-sini sambil memberi instruksi dan dukungan dengan nada datar. Sama sekali tidak turun tangan dalam melakukan pembantaian ini!
'IBLIS!'
Lisa dan Jay berteriak dalam hati. Gadis kecil itu tampaknya menjadi pusing dan mual setelah berputar terlalu lama. Pria itu sendiri merasa kakinya kram karena memasang kuda-kuda. Tangannya juga hampir tidak bisa dirasakan karena terus memukul ke depan.
Mereka jelas menyesal karena mau ikut dengan Ark! Sangat-sangat menyesalinya!
"Ayolah~ Lebih semangat. Ini demi kebaikan dan perkembangan kalian ke depannya. Bukankah aku baik?"
Mendengar ucapan datar yang khas itu, semua orang langsung berteriak dalam hati.
'BAIK KEPALA BAPAKMU!'
Waktu berlalu begitu saja. Potongan tubuh tikus berserakan di mana-mana. Serpihan kecil daging menempel pada dinding dan darah mengalir seperti sungai.
Setelah tikus terakhir dihabisi, orang-orang langsung menjatuhkan diri ke lantai. Duduk di antara tumpukan tubuh tikus tanpa memedulikan betapa mengerikan dan menjijikkannya hal tersebut.
"Apakah tanganku masih di sana? Aku benar-benar tidak bisa merasakannya!"
Jay yang memejamkan mata langsung berkata dengan nada tanpa daya.
"BLEEERRGGHH!"
Lisa berjalan ke sudut lalu memuntahkan isi makan siangnya. Gadis itu tampak pucat. Cara dia berjalan begitu sempoyongan seperti sedang mabuk karena terlalu banyak minum.
"Kak Ark! Kamu—"
Lisa menunjuk ke arah Ark dengan kesal. Namun dia segera berbalik dan kembali membungkuk.
"BLEEERRGGHH!"
Melihat pemandangan itu, Ark menggeleng ringan. Dengan tatapan santai, dia berkata, "Tidak perlu berterima kasih. Sudah tugasku untuk membimbing kalian."
Mendengar ucapan Ark yang tenang tetapi begitu tidak tahu malu, orang-orang benar-benar hampir pingsan karena ledakan amarah yang begitu tiba-tiba.
Jika Berto berada di sini, dia pasti akan mempertanyakan ucapan Saito.
'Kamu bilang ... Hades ini orang baik?'
__ADS_1
>> Bersambung.