Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Mempercepat Rencana


__ADS_3

Mentari akhirnya menampakkan wujudnya. Dalam sinar merah fajar yang seharusnya membawa kehangatan, pemandangan mengerikan tampak di depan markas Golden Crown.


Di sana, tampak seorang lelaki bertopeng berdiri dengan tenang. Pakaian yang awalnya serba putih dipenuhi dengan bercak darah berwarna merah. Di belakangnya, tampak sosok serigala putih raksasa yang menggeram, mengancam musuh-musuhnya.


Di sekitar lelaki itu, banyak mayat yang dipotong-potong atu dicabik-cabik berserakan. Membuat jalanan dipenuhi dengan darah. Mata merah di balik topeng itu memandang ke arah orang-orang dengan dingin. Lelaki itu kemudian menyarungkan kembali senjatanya.


“Aku selesai menyapa. Selain itu, aku juga telah mendapatkan apa yang aku cari. Jadi sekarang, aku hanya membutuhkan beberapa hal terakhir. Pertama … Golden Crown?”


Ark menatap ke arah sosok ketua Golden Crown yang menatapnya dengan mata merah dan ekspresi marah, tetapi tidak berani menyerang. Pria itu berdiri puluhan meter jauhnya darinya. Tampaknya benar-benar tidak berani mendekat.


“Apa yang kamu inginkan?!”


“Aku hanya membalas salam. Dengan ini, kita impas. Aku ingin semuanya berakhir di sini. Sword of Sufferings tidak akan lagi mengganggu kalian. Sebaliknya, Golden Crown juga harus melakukan hal yang sama.


Tentu saja, jika kalian tidak setuju, kami bisa memberi kalian sambutan hangat. Silahkan datang kapan saja.”


“…”


Mendengar ucapan Ark yang mengatakan kalau lebih dari seratus nyawa hilang hari ini seolah bukan apa-apa, orang-orang dari Golden Crown jelas marah. Meski marah, mereka juga masih bisa berpikir jernih. Walau enggan dan merasa tidak nyaman, orang-orang itu jelas tahu kalau mereka hanya bisa menelan perasaan tersebut dalam diam. Jika tidak, bencana yang lebih buruk pasti akan terjadi pad kelompok Golden Crown.


Melihat orang-orang dari Golden Crown diam saja, Arthur mengalihkan pandangannya kepada orang-orang dari Crux of Shadow.


“Kalian berdua jenderal dari Crux of Shadow, kan? Meski cara mengorbankan rekan kalian itu cukup buruk, tetapi sungguh ajaib kalian bisa bertahan sampai sekarang. Sebagai hadiah, kalian boleh pergi. Tentu saja, maksudku … pergi meninggalkan kota ini.”


Ark berkata dengan tenang. Meski begitu, ucapannya membuat Renal dan George terkejut. Keduanya jelas tidak menyangka kalau sosok misterius itu akan melepaskan mereka. Namun, suara tak acuh sekali lagi terdengar dan langsung membuat keduanya tertegun.


“Tentu saja, sebagai ganti biaya tiket perjalanan … kalian bisa meninggalkan salah satu lengan sebagai bayaran.”


Ekspresi Renal dan George langsung berubah menjadi lebih buruk. Renal melirik ke arah George yang tampak kebingungan. Pendekar pedang yang tampan dan elegan itu maju beberapa langkah lalu berkata dengan ekspresi serius.

__ADS_1


“Saya percaya anda akan menepati janji anda. Seperti rumor yang telah menyebar tentang anda.”


Setelah mengatakan itu, George langsung menebas tangan kirinya dengan kejam. Dalam sekali tebasan, tangannya benar-benar langsung terputus dan jatuh ke tanah. Dia juga jatuh berlutut sambil menggertakkan gigi, menahan rasa sakit karena kehilangan tangan kirinya.


Saat itu, semua orang berjalan ke arah George yang berlutut. Pemuda itu berhenti di depan George. Pada saat semua orang berpikir kalau lelaki itu akan mengingkari janjinya, dia mengeluarkan sebotol ramuan dari balik jubahnya.


Ark membuka tutup botol lalu menyiramkan ramuan tersebut tepat di luka George.


“ARGHHH!!!”


Pria itu langsung meraung kesakitan. Ekspresi di wajahnya menjadi lebih pucat. Namun saat itu juga, semua orang melihat kalau luka di tangan George berhenti berdarah.


Pria tersebut mendongak ke atas hanya untuk melihat sepasang mata merah menatapnya. Menahan sisa rasa sakit, dia berusaha keras untuk mengatakan sepatah kata.


“Ke .. Kenapa?”


Ark berkata dengan tenang. Pandangannya kemudian beralih ke arah Renal yang memanfaatkan kesempatan untuk melarikan diri. Pemuda itu jelas sudah menghilang, tetapi Ark masih tampak tenang.


“Finn.”


Ark berkata dengan nada tak acuh. Saat itu juga, Finn langsung melesat pergi. Segera menghilang dari tempat itu. Pada saat itu juga, semua orang yang awalnya takut dengan sosok serigala raksasa itu memikirkan beberapa rencana dalam kepala mereka. Hanya saja, saat melihat sepasang mata merah yang tampak begitu tenang menyapu ke arah mereka … orang-orang itu langsung membuang berbagai pemikiran untuk menyerang.


Meski ada kemungkinan untuk menang jika semua orang maju bersama, tetapi tatapan Ark membuat mereka takut. Cara pemuda itu memandang membuat semua orang di tempat tersebut tidak nyaman. Rasanya, Ark sama sekali tidak memandang mereka sebagai manusia, tetapi seperti ayam, bebek, kambing, atau sapi yang bisa dipotong kapan saja. Benar-benar tidak peduli apakah mereka hidup atau tidak.


Sekitar lima belas menit kemudian, Finn akhirnya kembali.


Serigala putih raksasa itu membawa Renal yang tidak sadarkan diri di mulutnya. Pemuda itu jelas terluka parah dan kehilangan banyak darah.


Finn bergegas menuju Ark dengan patuh lalu menjatuhkan Renal yang berlumuran darah di depannya. Alih-alih mengecek kondisi pemuda itu, dia malam memegang gagang pedang di pinggangnya.

__ADS_1


Slash!


Ark memotong tangan kiri Renal dengan ekspresi datar di balik topengnya. Dia kemudian melirik ke arah George.


“Kamu boleh membawanya pergi. Karena dia mencoba kabur, ini adalah perlakuan terbaik yang aku bisa berikan. Apakah dia bisa selamat sampai tujuan atau tidak, itu tergantung pada usahamu dan takdir. Sekarang … kamu bisa pergi.”


Mendengar itu, George sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Dia langsung membawa Renal pergi dari tempat itu. Sebelum pergi, dia melirik ke arah lima orang anggota Crux of Shadow yang masih selamat tetapi tidak sadarkan diri lalu ke arah Ark. Pria itu mengangguk ringan sebelum pergi menjauh.


Saat itu, George sama sekali tidak memiliki pemikiran untuk melawan. Dia hanya berpikir untuk segera merawat luka Renal lalu kembali ke markas utama untuk melaporkan segalanya. Pria itu ingin memperingatkan ketuanya untuk tidak berurusan dengan kota ini kecuali berencana mengerahkan kekuatan penuh Crux of Shadow.


Sementara itu, Ark sendiri langsung mengikat lima orang dari Crux of Shadow yang tidak sadarkan diri lalu meletakannya di punggung Finn, tepat di belakang pelana seperti sedang membawa barang bawaan.


Setelah itu, Ark berdiri di depan markas Golden Crown dengan tenang. Pada saat semua orang menatapnya, dia memberi hormat khas bangsawan yang tampak elegan lalu melompat ke punggung Finn. Dua gagak raksasa di langit, seekor serigala raksasa, dan sosok lelaki dengan jubah berlumuran darah kamudian pergi dari tempat itu. Meski demikian, tidak ada kebahagiaan setelah dia pergi, sebaliknya …


Suasana di sana menjadi semakin tertekan dan dipenuhi rasa frustrasi.


Sekitar setengah jam kemudian, Ark telah berada di posisi yang sangat jauh dari markas Golden Crown.


Pemuda itu membuka topengnya. Dia kemudian mengambil sebuah kain bersih untuk menyeka darah yang keluar dari mata dan mulutnya. Jika diperhatikan baik-baik, ada beberapa retakan di bagian kiri wajah pemuda itu, dekat dengan telinganya. Bukan hanya di wajah, tetapi Ark juga merasakan kalau lengan kanannya saat ini dipenuhi dengan retakan.


“Tampaknya aku terlalu bersemangat dan kehilangan kendali.”


Ark bergumam dengan lembut. Melihat kondisinya saja, sudah jelas, pemuda itu belum sembuh. Meski demikian, dia masih bisa bertarung melawan banyak musuh hanya dengan kekuatan fisik level 4 dan pengalaman tempurnya.


Menarik napas dalam-dalam, pemuda itu melihat ke langit pagi lalu berkata.


“Tampaknya aku harus mempercepat rencana.”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2