Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Situasi Canggung


__ADS_3

Bukan teman juga bukan lawan, apalagi pasangan. Mungkin kalimat "rekan seperjuangan" lebih cocok untuk menggambarkan hubungan mereka.


Dua orang yang memegang "tekad" mereka sendiri. Menjalani jalan mereka sendiri tanpa takut atau ragu. Saling membenci, tetapi juga saling menghormati. Hubungan seperti itulah yang mereka jalani.


PYARRR!!!


Suara benda pecah langsung menyadarkan Ark dari lamunannya. Membuka matanya, dia melihat sosok Abigail yang berdiri di pintu, menatap mereka berdua dengan tatapan terkejut dan tidak percaya.


"M-Maaf, aku tidak tahu kalau kalian—"


"K-Kak Abigail?"


Natasha juga terkejut. Secara refleks dia langsung mendorong Ark pergi. Tentu saja, karena mengerti situasi, pemuda itu juga mundur dengan tenang.


"Ini tidak seperti yang kamu lihat! Maksudku, kami tidak memiliki hubungan semacam itu! Juga—"


"Kamu tidak perlu begitu panik, Natasha. Aku sama sekali tidak akan membocorkan rahasia kalian."


Abigail berbicara sambil menunduk, tampak fokus mengambil serpihan-serpihan gelas yang dijatuhkan olehnya.


"Sudah kubilang, bukan seperti itu!"


Natasha tampak lega, tetapi masih menyangkal. Dia langsung mencari wadah untuk pecahan gelas, juga membawa kain untuk menghapus noda di lantai.


"Biarkan aku yang membuangnya. Kalian bisa melanjutkan pembicaraan kalian."


Abigail mengambil wadah dari tangan Natasha, tersenyum sebelum berbalik pergi.


Saat itu, Natasha menghampiri Ark dan berkata dengan ekspresi jengkel.


"Itu salahmu! Kak Abigail benar-benar salah paham tentang hubungan kita!"


Mengabaikan ucapan Natasha, Ark malah terus menatap punggung Abigail yang berjalan pergi. Pemuda itu kemudian memejamkan mata lalu menghela napas pendek.


'Manusia benar-benar makhluk yang rumit.'


Sementara itu, Abigail yang selesai membuang sampah tiba-tiba bersandar pada dinding. Dia memegangi dadanya yang terasa sesak. Dua garis air mata mengalir di wajah cantik wanita itu.


'Kenapa aku merasa seperti ini? Aku tahu, aku bukan siapa-siapa bagi Ark. Namun ...


Kenapa rasanya begitu sesak ketika melihat Natasha bersama dengannya?'


Pada saat itu, Abigail tiba-tiba mendengar suara yang memanggilnya. Wanita itu buru-buru menyeka air matanya. Dia kemudian kembali masuk ke dalam rumah dan menemui dua sosok kecil yang mencarinya.


"Ada apa Nathan? Nala?"

__ADS_1


"Lihat ini, Mama!"


Nathan berkata sambil memamerkan sebuah belati tajam. Meski tidak begitu indah, jelas belati tersebut cukup terawat.


Jika itu di masa damai, Abigail pasti akan memarahi putranya tersebut. Namun, sekarang senjata bisa dianggap sebagai alat perlindungan diri. Jadi bukannya marah, dia malah agak khawatir.


"Dimana kamu mendapatkan itu, Nathan? Kamu tidak mencurinya, kan?"


"Tentu saja tidak, Mama! Tuan Ark yang memberikannya kepadaku. Bukankah ini terlihat bagus?


Dengan ini, aku akan melindungi Mama dan Nala!"


Nathan berbicara dengan polos.


Mendengar ucapan putranya, tubuh Abigail sedikit gemetar. Napasnya sempat tertahan, tetapi dia segera tenang dan memasang senyum seperti biasanya.


Abigail kemudian menatap ke arah Nala yang cemberut.


"Ada apa Sayang? Kenapa kamu cemberut?"


"Mama! Kenapa Tuan Ark hanya memberinya pada Kak Nathan? Kenapa aku tidak diberi?"


"..."


Abigail bingung harus merespon bagaimana. Walau senjata itu penting, tetapi Nala jelas hanya seorang gadis kecil. Sangat tidak aman baginya untuk membawa senjata. Namun Abigail tidak bisa mengatakan hal tersebut.


"Tentu saja, aku telah menyiapkan belati untukmu, Nala. Namun, kamu harus berlatih lebih giat dan mencapai standar tertentu terlebih dahulu.


Setelah itu, barulah aku akan akan memberikannya kepadamu. Kalau aku memberikannya sekarang, daripada melindungi, belati itu mungkin akan melukai dirimu sendiri."


Nala dikejutkan oleh Ark. Pada awalnya, gadis kecil itu takut kalau Ark akan memarahinya. Namun siapa sangka, Nala malah mendengar jawaban yang ingin dia dengar.


"Apakah itu benar, Tuan Ark?"


Nala berlari ke arah Ark. Berdiri di depan lelaki itu, mendongak sambil bertanya dengan sepasang mata dipenuhi harapan.


Ark mengulurkan tangan lalu menggosok kepala gadis kecil itu dengan lembut sambil menjawab.


"Tentu saja aku tidak berbohong. Jadi jangan malas dan belajar dengan giat. Jika tidak, kamu akan ditinggalkan oleh saudaramu."


"Nala mengerti, Tuan Ark!" Gadis itu terkikik, tampak sangat bahagia.


"Kalau begitu kalian tidur siang. Nanti sore kita akan latihan bersama. Tidur siang baik untuk pertumbuhan kalian.


Setidaknya, tidur siang juga menghilangkan rasa letih kalian."

__ADS_1


Melihat ke arah Ark yang peduli pada mereka, Nathan dan Nala tampak senang. Nala dengan agak ragu memegang pakaian Ark sambil berkata.


"Bisakah anda menceritakan dongeng untuk kami, Tuan Ark?"


Ucapan manja Nala membuat Abigail menghirup napas dingin. Dia langsung merasa ketakutan.


Ark menatap ke arah Nala yang semakin lengket kepadanya. Menghela napas panjang, sekali lagi dia mengelus kepala gadis kecil itu dan berkata.


"Mungkin lain kali, Nala. Ada yang harus aku lakukan."


Nala tampak sedikit kecewa, tetapi masih mengangguk patuh. Bersama dengan ajakan Nathan, keduanya kemudian memilih untuk pergi tidur siang.


Meski tampak lebih bugar, keduanya masih anak-anak. Membantu mengurus kebun serta rumah di pagi sampai siang hari masih membuat mereka lelah.


Setelah melihat Nathan dan Nala pergi tidur, Ark juga pergi untuk mencari Jay.


Sementara itu, Abigail menatap punggung Ark dengan ekspresi rumit.


Di satu sisi, Abigail merasa bahwa dirinya harus tahu diri. Dia adalah ibu dua anak dan telah menikah. Walau suaminya telah meninggal, wanita itu tahu tiba-tiba memikirkan lelaki lain adalah sebuah kesalahan.


Akan tetapi, di sisi lain, Abigail merasa kagum dengan Ark. Jika dibandingkan dengan mendiang suaminya, lelaki itu bisa dikatakan lebih "jantan".


Bukan berarti mendiang suaminya buruk. Hanya saja, Abigail merasa kalau mendiang suaminya adalah pria yang terlalu jujur dan lurus.


Keluarga Abigail dan keluarga suaminya adalah kenalan lama. Bisa dibilang, mereka sudah sejak awal dijodohkan. Abigail tidak membenci pria itu karena pria tersebut sebenarnya baik.


Hanya saja, Abigail terkadang merasa agak kesepian. Mendiang suaminya sendiri adalah seorang tentara yang jarang di rumah, harus bertugas di luar kota bahkan luar negeri. Mungkin hanya pulang setahun sekali atau dua kali. Dia merasa semua baik-baik saja karena ada kedua anaknya dan adik iparnya sering datang untuk bermain ke rumahnya.


Itulah sebabnya, bahkan jika keluarga mereka harmonis, tetapi ada bagian yang terasa kurang lengkap. Meski Nathan dan Nala mengerti kalau mendiang ayah mereka sangat menyayangi mereka sampai mengorbankan diri, mereka merasa agak kurang memiliki karena mereka masih anak-anak.


Seperti yang diketahui, pikiran anak-anak itu terlalu polos dan belum mengerti banyak hal. Bahkan jika orang tua mereka sibuk bekerja untuk mereka dan keluarga, terkadang, mereka merasa tidak disayang oleh kedua orang tua mereka.


Ketika berada di dunia yang kacau ini, entah kenapa naluri Abigail dulu terus pendam mulai muncul dan tumbuh. Dia merasa ingin dilindungi, diperhatikan, dan dimanja layaknya para wanita lainnya.


Sosok Ark yang muncul dan menolongnya jelas membuat dampak besar bagi wanita itu. Belum lagi ketika melihat Nathan dan Nala yang ternyata sangat senang di sekitar Ark. Hal tersebut membuatnya menjadi sedikit lebih berani.


Hanya saja, apa yang Abigail lihat sebelumnya langsung membuat dirinya sadar diri. Meski begitu, dia benar-benar merasa sangat rumit.


Benar-benar tidak ingin menemui Ark atau Natasha untuk sementara waktu!


Hanya saja, semua itu benar-benar tidak mungkin karena mereka semua akan terus bertemu setiap hari karena tinggal di tempat yang sama.


Saat wanita itu melamun, sebuah suara lembut terdengar.


"Bisa kita bicara sebentar, Kak Abigail?"

__ADS_1


Menoleh, Abigail melihat sosok Natasha yang menatapnya dengan ekspresi canggung.


>> Bersambung.


__ADS_2