
“Apakah aku sekarang mempercayainya?”
Jay balik bertanya dengan nada skeptis. Dia kemudian memandang ke arah Ark dengan ekspresi serius di wajahnya. Menarik napas dalam-dalam, pemuda itu berkata.
“Tentu saja aku percaya! Aku juga siap untuk memburu naga banjir itu!”
“Ular,” balas Ark datar.
“Itu naga, Ark! Naga! Jangan membuatku mengingatkanmu lagi.”
“…”
Ark menatap Jay dengan ekspresi aneh di wajahnya. Bahkan tanpa melihatnya secara langsung, dari deskripsi yang disebutkan oleh Saito saja dia yakin kalau makhluk itu adalah ular. Belum lagi, ular yang cukup familiar karena cukup terkenal di kehidupan sebelumnya. Cukup langka dan kuat, sama seperti Abyssal Shadow Lynx atau Black Doberman bermutasi. ITulah kenapa Ark meminta Saito untuk mencari di area yang mungkin menjadi tempat persembunyiannya pada tahap awal.
Sebenarnya, makhluk itu sendiri sebelumnya adalah target Ark. Namun semuanya dia ubah sejak mendapatkan miracle root dari makhluk langka di level 2. Ditambah telah mencicipi kekuatan miracle root dari binatang bermutasi dengan bakat serta kemampuan untuk menembus tahapan makhluk tingkat tinggi, pemuda tersebut merasa enggan untuk menerima yang lain. Khususnya karena dirinya memiliki banyak informasi yang tidak diketahui orang lain dalam kepalanya.
Ark merasa enggan untuk menerima miracle root dengan level sedikit lebih buruk!
Hanya saja, makhluk semacam itu bukanlah keberadaan seperti beras atau sayuran yang bisa dibeli asal pergi ke pasar. Keberadaan mereka bahkan lebih sulit ditemukan dibandingkan makhluk lain. Bahkan dengan banyaknya pengetahuan dalam kepalanya, Ark masih tidak bisa menemukan mereka semua.
Meski begitu, Ark sendiri telah menentukan beberapa makhluk yang mungkin sekarang masih berada di level empat. Ya, karena sebagian besar dari mereka langsung muncul di level 5, atau bahkan level 6. Hanya saja, tidak ada satu pun di kota ini.
Bisa dibilang, Boss besar di kota ini adalah kraken yang telah Ark kalahkan dengan memanfaatkan batasan dunia. Masih bisa menghabisinya sendiri di level 3. Memikirkan beberapa makhluk dalam kepalanya, Ark hanya bisa merasa menyesal.
‘Setelah menghabisi ratu semut dan menstabilkan wilayah, lebih baik langsung memulai ekspedisi ke luar kota. Segera pergi ke kota lain. Lagipula, saat itu kekuatan Sword of Sufferings sudah cukup. Bocah itu mungkin tidak akan bisa menunggu terlalu lama.’
Saat itu, suara Jay menginterupsi Ark.
“Hey, apakah kamu baik-baik saja, Ark?”
“Ya.” Ark mengangguk.
“Kapan kita akan berangkat?”
“Lusa. Tunggu aku memecahkan batasan. Kamu juga harus mempersiapkan diri. Seperti yang kamu ketahui, semakin kuat makhluk, kuantitas semakin tidak berguna. Untuk melawan makhluk itu, setidaknya memerlukan cukup banyak orang yang menembus level 3. Namun saat ini kita juga kekurangan pekerja, jadi …
Mau tidak mau kita akan melakukannya berdua. Tentu saja, kita akan dibantu oleh Finn dan Michi. Lagipula, kekuatan binatang bermutasi level 3 tidak bisa diremehkan.”
__ADS_1
Mendengar penjelasan Ark, Jay mengangguk. Dia kemudian berkata, “Baiklah. Aku akan menunggu.”
Ark menatap ke arah sahabatnya dengan ekspresi sedikit menyesal. Meski ini demi kebaikan Jay, tidak bisa dipungkiri kalau ada campur tangan darinya. Pemuda itu merasa agak bersalah karena memanfaatkan sahabatnya sendiri sebagai kunci untuk melawan ratu semut.
“Kalau begitu kamu boleh kembali, Jay.”
“Kalau begitu aku pergi dulu.”
Setelah itu, Jay langsung bangkit, tampaknya ingin segera pergi untuk mencari Mona. Namun saat itu suara Ark kembali terdengar.
“Jay!”
“Hah? Ada apa?”
Jay terhenti di depan pintu, lalu menoleh ke arah Ark dengan ekspresi bingung.
“Tidak apa-apa. Pastikan saja untuk mempersiapkan semuanya dengan baik.”
“Dimengerti!”
“Kamu juga bisa pergi untuk menemui Nami, Saito. Terima kasih atas kerja kerasmu.”
Setelah mengatakan itu, Ark memejamkan mata untuk mengistirahatkan diri, baik fisik dan mentalnya.
***
Siang, dua hari berikutnya dalam taman kota.
“Sungguh! Aku merasa aneh, Ark. Bukankah taman kota itu area khusus serangga? Kenapa seekor naga tinggal di tempat semacam ini?”
Melewati semak rimbun sambil menginjakkan kaki di tanah penuh daun yang membusuk, Jay merasa sangat kesal. Dia benar-benar tidak suka bertarung di area dengan gaya natural semacam itu. Daripada hutan, pria itu lebih suka bertarung di kota karena pijakannya lebih kokoh dan pandangannya tidak begitu terhalang.
“Lintah dan katak juga bukan serangga, Jay.” Ark mengingatkan dengan nada datar.
“Tapi mereka makhluk air! Setidaknya semi aquatic!” bantah Jay secara langsung.
“Bukankah ada juga ular yang merupakan makhluk semi aquatic? Maksudku, bahkan naga banjir yang kamu maksud juga ada hubungannya dengan air, kan? Lagipula, ada kata banjir dalam namanya.” Ark masih membalas dengan begitu santai.
__ADS_1
“…”
Jay berhenti bicara. Pria itu hanya memandang ke arah Ark dengan ekspresi tidak puas. Benar-benar tidak menyangka sahabatnya yang pendiam itu masih begitu keras kepala terhadap detail kecil semacam itu. Melirik pedang besar di punggung Ark, dia tidak bisa tidak merasa iri.
“Hey, aku benar-benar masih iri dengan pedang barumu.”
“Yang mana? Pedang dari cula badak bermutasi level tiga atau dua pedang dari taring leopard bermutasi level tiga?”
Mengingat kalau dua pedang pria itu juga telah diganti, sudut bibir Jay berkedut. Dia menjadi semakin tidak puas. Saat itu suara Ark kembali terdengar.
“Jika misi ini selesai, aku akan memberikan pedang dari cula ini kepadamu. Ini lebih baik daripada dua pedang lainnya.”
“Benarkah?” tanya Jay bersemangat.
“Tentu saja benar. Lagipula, setelah mendapatkan miracle root tingkat 4 dan menyerapnya, senjata tingkat dua tidak terlalu berguna untukmu. Sedangkan untuk membuat senjata dari bahan makhluk level 4 akan memakan banyak waktu.”
‘Karena kita harus bergegas ke sarang semut sebelum mereka tumbuh terlalu banyak, waktu adalah apa yang tidak kita miliki.’
Ark mengatakan kalimat terakhir dalam hati karena tidak ingin mengganggu konsentrasi Jay dalam pertempuran berikutnya. Keduanya terus berjalan menuju ke lokasi tanpa terburu-buru. Mereka cukup berhati-hati karena alam kejam, dan mereka sama sekali bukan makhluk yang tidak terkalahkan.
“Kita sampai.”
Melihat sebuah danau kecil di kejauhan yang sebelumnya mungkin air mancur tengah taman kota, Ark dan Jay berhenti. Mereka berdua langsung mengamati sekeliling dengan ekspresi serius di wajah mereka.
“Kenapa aku tidak melihat apa-apa?” tanya Jay dengan ekspresi curiga.
Ark tidak menjawab. Dia malah terus mengamati sekeliling dengan serius. Tidak menemukan apa-apa di sekitar, pemuda itu tersenyum di balik topengnya. Dia langsung membunuh seekor ulat sutera bermutasi yang kebetulan berada tidak jauh dari mereka, lalu langsung menendangnya dengan keras. Tujuannya … tentu danau tenang tidak jauh dari mereka.
BYURRR!!!
Saat tubuh ulat sutera raksasa jatuh ke air, tiba-tiba tampak sosok yang melesat. Langsung keluar dari air untuk menangkapnya. Saat itu juga, ekspresi Jay berubah menjadi serius.
Melihat makhluk dari jarak cukup jauh, Ark berkata dengan nada sedikit bercanda.
“Ya. Sekarang kita bisa melihatnya.”
>> Bersambung.
__ADS_1