Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Jay Kembali


__ADS_3

Sekitar setengah jam kemudian.


Ark memanggil Angelica. Dia meminta wanita itu membantunya memanen bahan.


Pada saat menguliti, memotong, dan mengambil berbagai bagian tubuh Six-legged Devil Frog, Angelica sesekali melirik ke arah Ark.


Walau menjauh, tetapi dia masih melihat pertarungan. Lebih tepatnya, penindasan yang Ark lakukan.


Sayap hitam, mengendalikan api, dan hal-hal magis semacam itu ... Angelica merasa pandangan dunianya semakin bengkok.


“Anu ... Tuan?”


“Hm?”


Ark membalas tanpa menoleh. Dia tampak fokus untuk mengambil lumut di punggung Six-legged Devil Frog. Bahan paling berharga yang bisa dipanen kali ini karena tidak bisa mengambil miracle root makhluk tersebut.


“Bolehkah saya bertanya?” ucap Angelica penuh keraguan.


“Katakan saja,” balas Ark.


“Apakah anda bisa melakukan sihir, Tuan?”


Ark menghentikan gerakannya lalu menoleh ke arah Angelica. Melihat tatapan penasaran dan penuh keraguan di wajah wanita itu, dia mengangkat alisnya.


“Sihir? Aku tidak tahu hal semacam itu. Namun, jika yang kamu maksud itu psychic (kemampuan psikis), teknik telekinesis, aku mengetahuinya.”


“Bukankah itu sama saja?” gumam Angelica.


“Bisa dibilang sama, tetapi juga berbeda. Kemampuan psychic yang aku gunakan kurang lebih hanya bisa digunakan untuk menggerakan benda.


Bisa dibilang seperti magnet. Tubuh manusia itu memiliki aliran listrik meski tidak kuat, kan? Mungkin bagian itu yang mengalami evolusi.


Sama seperti magnet yang menarik besi atau menolak sumbu magnet lain, rasanya begitulah kemampuan telekinesis bekerja. Bedanya, apa yang digerakkan bukan hanya logam, tetapi hampir segala hal.


Tentu saja, ada batasan berat dan jarak pengendalian. Begitulah kira-kira.”


“Bagaimana dengan api itu? Bukankah itu sihir api? Atau mungkin kemampuan pyrokinesis?”


Mendengar pertanyaan itu, Ark kembali mengambil lumut. Dia tidak menoleh ke arah Angelica, tetapi masih menjelaskan.


“Bisa dibilang itu pyrokinesis, tetapi bukan suatu hal ajaib dimana aku bisa memunculkan api begitu saja.


Apa yang kamu lihat sebagai ‘sihir api’ sebenarnya tidak begitu rumit. Aku membuat jenis bahan yang mudah menyala, tetapi apinya cukup awet. Setelah itu, aku memasukkannya ke dalam alat (pisau terbang) lalu mengendalikannya.


Apa yang dilakukan selanjutnya sedikit menguji otak. Aku tidak boleh menyelimuti seluruh belati dengan energi karena api bisa padam dalam ruang tertutup rapat tanpa oksigen. Selain itu, aku juga harus menekan api untuk membakar di sekitar titik yang sama sehingga suhu meningkat.


Api normal biasanya berwarna merah, yang paling tidak panas. Setelah itu menjadi jingga, kuning, biru, putih, dan seterusnya. Warna bukan hanya penampilan luar, tetapi juga terpengaruh dari suhu dan bahan yang dibakar.


Bisa dibilang, seberapa kuat ‘sihir api’ yang kulakukan tergantung apa yang aku gunakan.”

__ADS_1


Mendengar itu, Angelica tercengang. Dia sama sekali tidak menyangka kalau pemuda itu memiliki pemikiran yang begitu fleksibel.


Menggerakkan benda adalah kemampuan yang kuat, tetapi juga hambar. Itu tergantung pada penggunanya.


Jika orang biasa menggunakannya, mungkin hanya bisa digunakan untuk menggerakkan benda ke musuh. Namun, serangan itu juga tidak mudah menghabisi musuh karena lawan bukan boneka. Mereka akan terus bergerak, jadi kontrol masih sangat perlu.


Kontrol halus dan penggunaan otak yang baik menjadi syarat utama untuk menggunakan telekinesis.


Sedangkan untuk mengembangkan kemampuan lain ...


‘Fisika? Kimia? Hal-hal berbau sains dan membuat sakit kepala itu ternyata juga sangat berguna?’


Angelica terkesiap. Dia tidak menyangka kalau tuannya tidak hanya kuat dan berkharisma, tetapi memiliki otak yang baik. Ya ... bukan hanya dalam penalaran, tetapi dalam hal-hal yang berhubungan dengan pengetahuan.


“Kenapa kamu diam saja? Gerakkan tanganmu, jangan hanya menonton.”


Mendengar suara monoton Ark, Angelica langsung menjawab dengan gugup.


“Y-Ya, Tuan!”


Setelah mengatakan itu, Angelica segera menggerakkan tangannya, ikut membantu Ark dalam menangani bahan Six-legged Devil Frog.


Dalam sekejap, hampir empat jam berlalu begitu saja.


“Ini yang terakhir.”


Ark melirik berbagai bahan yang dibagi menjadi beberapa bagian lalu dikemas dengan rapi. Pemuda itu bersiul, lalu dua sosok turun dari langit berkabut.


Mendengarkan ucapannya, Huginn dan Muninn langsung membuat kicauan indah. Keduanya tidak langsung membawa barang-barang yang dikemas menjadi dua, tetapi mendekati Ark dan menggosokkan wajah mereka ke pipi pemuda itu.


Huginn dan Muninn tampaknya sangat senang karena tuan mereka telah membalaskan dendam, membunuh kodok jelek itu untuk mereka.


Ark sama sekali tidak marah dengan tindakan mereka berdua. Sebaliknya, dia malah mengelus bulu leher kedua burung itu dengan lembut. Meski tampak tenang, tetapi tatapan penuh kasih sayang tampak di matanya.


Setelah bermain sebentar dengan Ark, Huginn dan Muninn mengambil dua bungkusan dengan cakar mereka. Sebelum pergi, suara Ark kembali terdengar di telinga mereka.


“Tidak perlu terburu-buru. Berhati-hatilah di jalan. Jika menemui masalah besar, segera melarikan diri bahkan jika harus membuang bungkusan itu.


Bagiku, bahan-bahan itu tidak lebih berharga dari nyawa kalian.”


Mendengar itu, Huginn dan Muninn berkicau dengan bahagia. Keduanya pun terbang menjauh, menghilang dalam kabut tebal yang menyelimuti kota.


Melihat ke tempat kedua gagak putih pergi, Ark menghela napas. Pemuda itu kemudian bergumam.


“Aku jadi sedikit merindukan Finn, dan orang-orang di markas utama.”


Pada saat pemikiran semacam itu terlintas di benaknya, Ark segera menggelengkan kepalanya.


Pemuda itu kemudian menoleh ke arah Angelica. Saat itu juga, sayap hitam muncul di punggungnya.

__ADS_1


“Mari kembali.”


Mendengar itu, Angelica mengangguk dengan ekspresi malu-malu.


“Baik, Tuan!”


***


Tanpa terasa, waktu kembali berlalu.


Setelah terbang beberapa saat, mereka berdua akhirnya tiba di markas sementara Sword of Sufferings. Hanya saja, Angelica merasa agak tidak puas, bahkan sedikit mati rasa.


Ekspektasi tidak sesuai dengan kenyataan, begitulah yang Angelica pikirkan sekarang.


Pada awalnya, Angelica berpikir dirinya akan digendong layaknya seorang putri. Dia merasa akan menjadi Cinderella yang bertemu pangerannya. Namun, kenyataannya tidak begitu.


Bukan hanya tidak digendong seperti seorang putri, dia bahkan tidak digendong di punggung karena menghalangi kepakan sayap. Pada akhirnya, wanita itu dibawa di pundak sama seperti orang yang sedang memikul barang.


Benar-benar langsung menghancurkan fantasi indahnya!


“Apakah ada yang salah?” tanya Ark.


“Tidak ada apa-apa, Tuan.”


Angelica menjawab datar setelah diturunkan. Meski merasa agak kecewa karena tuannya tidak merubah cara memperlakukannya, dia masih bersyukur.


Ark mungkin tidak bisa digoda dengan kecantikan. Angelica tahu kalau pemuda itu memperlakukannya dengan cara paling biasa. Namun, itu juga membuatnya merasa tersentuh karena ...


Apakah memiliki penampilan cantik seperti putri atau rusak seperti monster, Ark masih memperlakukan bawahannya dengan setara.


Sama sekali tidak banyak perubahan!


Saat itu, Roxanne dan beberapa orang keluar dari markas untuk menyambut mereka berdua.


“Selamat datang kembali, Tuan.”


“En.”


Ark mengangguk ringan. Melihat perubahan pada ekspresi Roxanne, pemuda itu bertanya.


“Apakah ada masalah?”


“Tidak ada, Tuan.” Roxanne menggelengkan kepalanya. “Wakil Ketua telah kembali. Hanya saja ...”


“Ada apa?” tanya Ark.


Roxanne merasa agak ragu. Setelah beberapa saat, dia akhirnya tidak lagi menutupinya karena pasti akan segera terungkap.


“Wakil Ketua membawa beberapa orang luar datang ke markas.”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2