
Tiga hari kemudian.
“Kalau begitu kami pergi dulu, Senior.”
“Kami pergi, Senior.”
Kedua gadis itu melambai ke arah Ark. Mereka tersenyum bahagia di balik topeng. Meski keduanya tampak ramah dan bersikap seperti anak kecil, tetapi orang lain sama sekali tidak berani berbicara kepada mereka, apalagi menggoda.
Ark melambaikan tangannya. Selain Kurona dan Shirona, tiga husky yang menarik tiga kereta serta 30 prajurit pergi bersama mereka. Satu kereta berisi berbagai bahan sementara dua kereta lain membawa anakan pohon roti. Ark juga meminta Kurona dan Shirona membawa sebuah gulungan kulit untuk diberikan kepada Jay. Pria itu pasti akan berkonsultasi kepada Old Franky masalah pembuatan hutan roti.
Setelah mereka pergi, Ark meminta Stacy, Roxanne, dan mantan anggota Golden Rose untuk berkumpul. Pada saat mereka semua berkumpul, Ark langsung berkata.
“Aku memiliki tugas untuk kalian. Stacy, aku ingin kamu memimpin cabang ini sementara waktu. Roxanne akan menjadi wakilmu, tetapi dia juga akan diberi tugas lain.
Roxanne, kamua akan memimpin tim untuk mengumpulkan sepuluh jenis bunga tanpa mengganggu para lebah. Ingat, jangan ganggu para lebah. Apakah kalian mengerti?”
“Ya, Ketua!” jawab mereka serempak.
Setelah itu, Stacy menatap ke arah Ark dengan ekspresi enggan. Meski memiliki sedikit keraguan, dia akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
“Apakah anda akan pergi, Tuan?”
“Ya. Aku akan pergi bersama dengan Saito, Draco, Leon, dan 20 prajurit yang aku pilih. Jadi selain 30 prajurit yang ikut bersama Kurona dan Shirona, 50 prajurit akan tinggal.
Selain itu, masih ada pengrajin, pekerja, dan tim golden rose. Keamanan markas cabang pasti terjamin. Juga ... aku akan meninggalkan Finn di sini sebagai penjaga. Sekarang dia sudah menembus tingkat 4, jadi semuanya pasti baik-baik saja.”
Mendengar penjelasan Ark, Stacy merasa rumit. Dia jelas ingin mengikuti Ark, tetapi juga tidak bisa menolak tugas dari lelaki itu. Menggigit bibirnya, wanita itu kembali bertanya.
“Apakah anda ... berencana pergi ke kota di mana markas utama Crux of Shadow berada, Tuan?”
“Ya.” Ark mengangguk ringan.
“Bukankah itu berbahaya?” tanya Stacy dengan ekspresi khawatir.
“Justru karena tempat itu berbahaya, aku akan pergi dengan sedikit orang. Terlalu banyak orang sebenarnya tidak menghambat perjalanan, tetapi jelas terlalu mencolok. Alasan kenapa aku meninggalkan Finn juga karena hal tersebut.”
“Apakah anda akan segera kembali?” tanya Stacy.
“Tidak pasti. Namun aku memiliki rencana sendiri. Selain itu, aku akan membawa Huginn dan Muninn. Dengan bantuan mereka, aku bisa memberi instruksi dari jauh.”
__ADS_1
“Dimengerti.” Meski enggan, Stacy masih tersenyum dan mengangguk.
“Kalau begitu kalian boleh pergi.”
“Ya, Ketua!” jawab mereka serempak.
Setelah mereka semua pergi, Ark bersandar pada kursinya. Dia melirik ke sudut tertentu dan berkata.
“Saito.”
“Saya di sini, Tuan.”
Sosok Saito muncul dari sudut. Benar-benar tampak menyatu dengan bayangan. Dia langsung mendekat dan memberi hormat. Matanya selalu tertuju pada sang ketua, menunggu instruksi darinya.
“Dua puluh orang itu ... apakah kamu sudah memberitahu mereka?”
“Sesuai dengan perintah anda, Tuan. Dua puluh orang prajurit paling berbakat dan paling kejam telah dipilih. Mereka juga telah menerima tugas dan mempersiapkan diri.”
“Apakah kamu sudah mengatakan kepada mereka resikonya?” tanya Ark.
“Mereka semua mengetahuinya, Tuan. Mereka tahu resiko kematian tinggi, tetapi sama sekali tidak berencana untuk mundur. Mereka siap mati kapan saja demi Sword of Sufferings.”
Pengikut. Ya ... pengikut Crux of Shadow yang merupakan ribuan orang biasa. Mereka yang tersesat dan dibodohi oleh Crux of Shadow. Bukan termasuk anggota kelompok, tetapi pengikut fanatik yang membuatnya kerepotan.
Ark sendiri tidak keberatan untuk membunuh orang, entah itu puluhan, ratusan, bahkan ribuan. Namun, setiap kali membunuh, pemuda tersebut harus memiliki alasan yang jelas. Menurut Ark sendiri, membunuh ribuan orang hanya karena mereka mengikuti dan percaya pada Crux of Shadow adalah sesuatu yang sulit dibenarkan. Jadi saat ini, dia merasa agak dilema dan penuh keraguan.
Ark menghela napas panjang. Dia menatap ke arah Saito dan bertanya kepadanya.
“Bagaimana denganmu?”
Mendengar pertanyaan tersebut, Saito terdiam sejenak. Apa yang dimaksud Ark sangat jelas, apakah Saito siap untuk mati atau tidak. Meski Ark sudah memperkirakan jumlah musuh, dikepung beberapa jenderal atau bertemu dengan pemimpin musuh bisa berakibat fatal bagi Saito. Oleh karena itu, sang ketua menanyakan pertanyaan itu.
“Saya siap, tapi ...” Saito tampak ragu.
“Ada apa?”
“Bisakah anda berjanji kepada saya untuk menjaga Nami jika saya tidak berhasil kembali, Tuan?”
Mendenga itu, Ark menatap ke arah Saito. Melihat ekspresi tulus di wajah pria itu, dia mengangguk.
__ADS_1
“Aku akan merawatnya dengan baik jika sampai terjadi kecelakaan. Namun kamu harus ingat. Karena kamu memiliki alasan kuat untuk kembali, kamu harus mencoba yang terbaik. Pastikan untuk bisa pulang dan tidak membuatnya bersedih.” Ark tersenyum.
“Saya mengerti, Tuan!” jawab Saito dengan ekspresi penuh tekad.
“Kalau begitu kamu bisa pergi.”
“Dimengerti.”
Melihat Saito yang pergi, senyum di wajah Ark perlahan-lahan menghilang. Pemuda itu bersandar pada kursinya, menatap pemandangan di luar jendela dalam diam.
***
Dua hari kemudian.
Di area luar taman bunga, lebih dari dua puluh orang berkumpul. Mereka semua memakai jubah hitam, topeng hitam, membawa senjata dan tas.
“Hey, Bos! Kenapa kita tidak mengambil lebih banyak madu ketika membunuh ratu lebah?”
Sosok berjubah hitam tetapi lebih mencolok dibandingkan orang-orang lain karena ukuran tubuhnya bertanya dengan nada bingung. Ya, dia adalah Leon yang sekarang pergi bersama dengan Ark serta rekan-rekan lain.
Sebelum berangkat, Ark memutuskan untuk membunuh ratu lebah lama. Dia juga mengambil madu secukupnya sehingga para lebah tidak memilih pergi dari tempat itu.
“Lebih baik kamu diam saja, Leon. Apapun yang dilakukan ketua, pasti ada alasan di baliknya. Jika kamu tidak mengerti, lebih baik diam saja. Dengan begitu, tidak akan ada tahu kalau kamu begitu bodoh.”
“Apakah kamu meminta pemukulan, Draco?!”
“Hanya karena kamu telah mendapat miracle root, jangan kira aku akan takut padamu, Leon.”
Keduanya saling memandang dengan ekspresi sengit. Melihat pemandangan itu, Saito masih duduk di tempatnya dengan tenang sambil memejamkan mata. Anggota lainnya juga sudah terbiasa, jadi memilih diam. Ark sendiri sibuk mengurus madu yang didapatkan dan membuat beberapa rencana.
Setelah beristirahat di tempat itu beberapa waktu, Ark yang telah mempersiapkan semuanya berdiri. Melirik ke arah rekan-rekannya, dia kemudian berkata.
“Waktunya untuk melanjutkan perjalanan. Tujuan ...”
Mata Ark berkilat dingin.
“Melewati hutan dan sampai ke kota berikutnya!”
>> Bersambung.
__ADS_1