Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Masa Lalu Saito dan Kejutan


__ADS_3

Melihat kedatangan Gion, Diego, dan sosok asing membuat wanita yang menarik Saito terkejut. Bahkan ekspresinya tampak sedikit pucat karena yang datang langsung ketua dan wakil ketua kelompok Jade Scorpion.


"Sudah lama aku membiarkanmu karena kamu adik ipar Diego. Namun sekarang kamu sudah keterlaluan, Nami.


Pergi dari sini sekarang dan aku akan pura-pura tidak akan melihatmu!"


Tubuh wanita bernama Nami itu sedikit gemetar. Menggigit bibir bawahnya, dia masih berdiri di depan Saito. Mencoba menghalangi agar temannya itu tidak dilukai.


Ketika wanita paruh baya sebelumnya masuk ke dalam ruangan, Diego langsung menghampiri lalu menampar pipinya dengan keras.


"Sudah kubilang ini menyangkut masa depan Jade Scorpion! Berani-beraninya kamu malah membocorkan dan meminta adikmu membawanya pergi!"


Wanita itu menggosok pipinya. Menatap ke arah Diego, dia menjawab tegas.


"Jika bukan karena Paman Kaito, kami dua bersaudari tidak mungkin bertahan sampai saat ini! Aku tidak akan pernah bertemu apalagi menikah denganmu!


Kemudian kamu berkata, aku harus membiarkannya?


Karena kalian tidak bisa bertahan, kalian mengorbankan orang lain. Hal semacam itu sama sekali bukan sesuatu yang bisa aku puji!"


Ketika situasi tampak kacau, sosok Ark berjalan menuju ke jendela. Dia membuka jendela lalu duduk di kotak kayu dekat jendela. Pemuda itu menyilangkan kaki sambil menopang dagu. Membiarkan angin berembus kepadanya.


"T-Tuan Hades?" tanya Gion dengan ekspresi gugup.


Orang-orang dalam ruangan juga menatapnya dengan ekspresi terkejut. Bahkan merasa agak aneh.


"Berdiri sambil menonton drama semacam ini melelahkan. Silahkan dilanjutkan, anggap saja aku angin."


"..."


Meski semua orang merasa sedang emosi, tetapi mereka juga malu ketika Ark mengingatkan mereka. Ruangan menjadi sunyi dan suasana menjadi canggung.


Saat itu, Nami berjalan ke arah Ark dengan ekspresi ragu dan takut di wajahnya. Berdiri tidak jauh darinya, wanita itu memberanikan diri untuk berkata.


"S-Saya tidak tahu dendam apa yang anda miliki kepada Saito, tetapi ...


Bukankah membeli seseorang untuk balas dendam itu berlebihan?!"


Mendengar pertanyaan itu, Ark melirik ke arah Nami lalu membalas dengan nada datar.


"Hal semacam itu memang buruk. Bahkan jika aku hanya meminta, seharusnya Jade Scorpion akan memberikannya. Tidak perlu ancaman karena begitulah Jade Scorpion.


Memikirkan keuntungan yang akan mereka dapat ke depannya."


Ucapan Ark membuat ekspresi Gion dan Diego menjadi lebih buruk. Nami dan kakaknya merasa kalau ada kesempatan. Namun sebelum mereka berbicara, suara Ark kembali terdengar.


"Lalu apa? Kalian pikir hal semacam itu tidak boleh dilakukan? Jika demikian, lebih baik kalian, kedua wanita berhenti bersikap naif.


Kalian memang melakukan hal baik untuk melindungi anak dermawan kalian. Namun, bukankah Gion dan Diego juga dermawan kalian?


Kalian menyalahkan mereka atas segala hal yang mereka perbuat. Namun pada akhirnya, kalian masih mendapatkan perlindungan dan makanan dari mereka. Ya ... tanggung jawab suami atau kakak ipar? Biarkan kalian tidak melakukan apa-apa dan menikmati hasilnya?


Enaknya~

__ADS_1


Jika kalian tidak dilindungi dan menjadi wanita di luar sana, aku yakin kalian sudah ditangkap dan dinikmati setiap malam oleh para berandalan itu.


Ya, anggap saja kalian cukup beruntung dan tidak bertemu orang-orang keji. Mengingat betapa lemahnya kalian, mungkin kalian akan menjual diri untuk bertahan hidup."


Mendengar ucapan Ark, Nami dan kakaknya tampak pucat. Gion dan Diego juga terkejut. Mereka sama sekali tidak tahu kepada siapa sosok bertopeng itu memihak.


"Terakhir ... Saito, bukan?


Aku tahu kalau kamu pikir mereka melindungimu adalah hal normal karena ayahmu pernah melindungi mereka. Namun, bukankah kamu juga berlebihan?


Ayahmu memberi mereka beberapa potong roti dan tempat tinggal di masa-masa sulit. Namun dari cerita yang aku dengar, mereka sama sekali tidak berhenti berusaha sehingga bisa naik ke titik ini.


Jadi, menurutku dengan memberimu makanan dan membiarkanmu tinggal di sini sudah menebus apa yang telah ayahmu lakukan. Aku rasa mereka bodoh karena masih mengurusmu. Sedangkan kamu, ya ... cukup naif dan gila karena berpikir mereka pantas melayanimu seumur hidup."


Ark menghela napas panjang sebelum melanjutkan.


"Mereka berhutang budi kepada ayahmu, bukan padamu. Namun mereka masih membalasnya. Itu perbuatan mulia.


Sedangkan kamu hanyalah pria menyedihkan dengan kesombongan dalam hatimu. Apa-apaan tatapan sombong yang kamu sembunyikan itu?


Terus menipu diri sendiri sambil berpikir kalau bukan karena janji yang kamu buat ketika ayahmu mati maka kamu akan menaklukkan dunia? Berpikir kalau kamu tidak memiliki janji untuk tidak membunuh, kamu adalah yang paling hebat?


Benar-benar cara luar biasa untuk membohongi diri sendiri."


Perkataan Ark membuat semua orang terkejut. Mereka menatap ke arah Saito dengan ekspresi heran, bahkan sedikit jijik.


Saito yang sebelumnya duduk diam tiba-tiba berdiri. Dia menatap ke arah Ark dengan ekspresi penuh kebencian. Pria itu langsung bergegas ke arah Ark lalu memukul dengan kuat.


Ark melirik dengan ekspresi tak acuh. Tubuh kurus kering tanpa tenaga itu sama sekali tidak mengancamnya. Dia dengan santai mengulurkan tangan kiri dan menangkap tinju Saito.


"Kamu ... Kamu pasti dari organisasi itu! Orang-orang yang membunuh Ayah!"


"Oh? Bagaimana kamu begitu yakin?"


"Karena ... tidak ada yang tahu kalau Ayah mati dibunuh kecuali mereka!"


Saito menarik tangannya. Ark melepaskannya dengan santai, tetapi langsung disambut dengan tendangan kuat.


Pemuda itu masih tampak santai ketika menahan tendangan Saito dengan satu tangan.


"Membandingkan kami sebenarnya kurang tepat."


Ark sekali lagi melepaskan Saito. Dia melirik ke arah Gion lalu berkata.


"Bisa tinggalkan kami sendiri?"


Gion menarik napas dalam-dalam lalu berkata.


"Baik. Kalian, ikuti aku."


Melihat Gion pergi, Diego menarik istrinya pergi secara paksa. Nami tampak ingin tinggal, tetapi tatapan Saito membuatnya memilih untuk pergi.


Setelah semua orang pergi, Saito yang berdiri tidak jauh dari Ark langsung bertanya.

__ADS_1


"Siapa kamu? Bagaimana kamu bisa mengetahui semua rahasiaku? Sebenarnya apa yang kamu inginkan?"


Tidak langsung menjawab, Ark malah berkata dengan nada malas dan bosan.


"Saito Ishigami, putra Kaito Ishigami. Pewaris terakhir dojo. Tidak, lebih tepatnya pewaris terakhir gaya pedang Jalan Angin.


Beberapa tahun lalu ketika remaja, dia adalah anak nakal yang suka bertarung karena keahliannya. Dianggap sebagai jagoan kecil. Namun sayangnya, dia menyinggung orang yang tidak seharusnya disinggung.


Karena suatu alasan, dia memukuli putra pejabat setempat bahkan mematahkan pergelangan tangan kirinya. Oleh karena itu, dia nyaris dimasukkan penjara tetapi bisa dicegah oleh ayahnya. Namun karena membayar ganti rugi, dojo yang nyaris tidak bisa menghasilkan uang menjadi bangkrut. Bahkan Kaito juga terlilit banyak hutang.


Sampai suatu malam, Kaito dinyatakan meninggal karena hal yang tidak disebutkan.


Orang-orang berkata kalau alasan dia meninggal adalah bunuh diri karena tidak lagi mampu membayar hutang. Sedangkan putranya berkata kalau sang ayah dibunuh. Orang-orang tidak percaya, ditambah tidak adanya bukti, kasus akhirnya ditutup."


Ark yang sedari tadi melihat keluar jendela menoleh ke arah Saito sambil bertanya.


"Apakah itu benar?"


"..."


Saito tidak langsung menjawab. Pria itu menggertakkan gigi. Ekspresi kesedihan dan kemarahan tampak di wajahnya. Tangannya mengepal erat. Kuku-kukunya menggali daging telapak tangan, membuat beberapa tetes darah jatuh ke lantai.


Menatap ke arah Ark dengan mata merah, Saito membuka mulutnya. Dia bertanya dengan suara serak.


"Kamu ... siapa?!"


Mendengar pertanyaan itu, Ark akhirnya berdiri di depan Saito. Dia membuat salam sopan layaknya bangsawan sambil berkata.


"Aku hanyalah orang yang "kebetulan" mendengar cerita tentangmu.


Aku hanyalah orang yang "kebetulan" tertarik dengan ilmu pedangmu.


Aku hanyalah orang yang "kebetulan" ingin bertemu dan memberimu sebuah tawaran."


Mata Ark berkilat dingin.


"Orang-orang memanggilku ... Hades."


Pada saat Ark memperkenalkan diri, suara kepakan sayap dan "nyanyian" gagak terdengar dari segala penjuru. Hal tersebut membuat ekspresi Saito berubah.


"Apa yang coba kamu lakukan?!"


Bukan hanya Saito, Ark yang selesai memperkenalkan diri juga terkejut. Pemuda itu bergumam.


"Meski memang tidak begitu jauh, tetapi jarak raven tower lebih jauh daripada kebun binatang. Siapa sangka, daripada binatang buas ...


Ternyata para gagak yang datang terlebih dahulu."


Mengabaikan Saito yang kebingungan, Ark berjalanan melewatinya begitu saja. Sama sekali tidak berniat tinggal di ruangan itu.


"Hidup memang penuh dengan kejutan."


Ark berkata ketika berjalan melewati lorong.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2