Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Konsekuensi Keserakahan


__ADS_3

Siang di hari berikutnya.


Sementara markas tampak sepi, Tyler duduk di kursi sambil bermain dengan pisau. Memutar-mutar pisau dengan gerakan cantik yang baru dia pelajari dengan ekspresi bosan. Menunggu beberapa waktu, dia akhirnya melihat beberapa orang dalam tim kecil yang datang membawa sebuah karung berisi berbagai tanaman bermutasi.


“Dimana petugas biasanya?” tanya salah satu orang.


“Semua orang sedang melakukan tugas penting. Pengurusan poin sekarang bergantung kepadaku. Jika kalian ingin menukar poin, bawa saja kemari.”


Tyler berkata dengan ekspresi tidak peduli di wajahnya. Melihat perbuatannya, banyak orang mengerutkan kening. Namun, pada akhirnya mereka patuh untuk membawanya.


Pada saat karung dibuka, Tyler melihat banyak tumbuhan bermutasi. Hanya saja, kebanyakan dari mereka cukup umum setelah satu tahun lebih apocalypse terjadi. Dia hanya menggelengkan kepalanya lalu mulai menghitung.


“Totalnya 36 poin. Bagaimana kalian ingin membaginya? Biarkan aku mencatat.”


“Hah?! Bukankah seharusnya 40 poin?”


Salah satu orang berkata dengan ekspresi buruk. Teman-temannya juga mengerutkan kening ketika melihat apa yang dilakukan oleh Tyler.


“Barang-barang normal seperti ini menumpuk terlalu banyak. Apakah kalian tidak paham? Semakin banyak barang dengan jenis yang sama, harganya akan turun.”


“Lalu kenapa tidak ada pengumuman?”


“Haruskah Tuan Hades memberitahu kalian semuanya? Dia jelas sibuk. Selain itu, kalian bekerja untuknya, bukan sebaliknya. Jika tidak mau menukarnya, maka bawa saja kembali!”


Tyler mendengus dingin. Saat itu, kelima orang itu mengerutkan kening. Mereka semua saling memandang. Setelah beberapa saat, orang yang tampaknya adalah ketua tim berkata.


“Aku mendapat 8 poin, sedangkan empat orang lainnya 7 poin. Jangan lupa mencatatnya dengan benar, Tyler!”


“Aku tahu! Aku tahu!” Tyler berkata dengan nada tidak sabar. Setelah menulis, dia menunjukkannya kepada mereka. “Lihat! Tidak ada yang salah, kan?”


“Hmph! Kalau begitu kami pergi.”


Setelah mengatakan itu, sebuah tim berisi lima orang tersebut pergi. Kemudian, satu per satu tim mulai bermunculan untuk menukar poin. Dengan ekspresi dingin di wajahnya, Tyler melakukan pekerjaannya.


Sekitar pukul 3 sore, Tyler membawa barang-barang menuju ke gudang penyimpanan pertama, tempat barang-barang awalnya dikumpulkan. Karena akan selalu ada pemeriksaan, dia segera membongkar barang dan mengambil sebagian. Menyisakan semuanya seuai dengan jumlah pon dalam catatan.


Pada akhirnya, Tyler melihat beberapa karung dengan ekspresi puas di wajahnya. Setelah mengambil sedikit poin dari setiap tim, pemuda itu bisa meraih bahan bernilai puluhan poin tanpa harus mempertaruhkan nyawanya. Melihat itu, dia menjadi semakin puas.


“Jika saja orang-orang sering pergi melakukan misi penaklukan, aku pasti akan menjadi kaya.”

__ADS_1


Tyler berkata dengan seringai di wajahnya. Pemuda itu kemudian memikirkan suatu hal penting.


“Dimana aku harus menyembunyikan benda ini? Jika sampai ketahuan, itu pasti akan menjadi merepotkan.”


Tyler mengerutkan kening. Melihat ke arah karung, dia menghela napas panjang. Menggertakkan gigi, pemuda itu akhirnya memutuskan membawanya keluar dari markas.


Selesai menyembunyikannya dalam ruang bawah tanah tidak jauh dari markas tanpa ketahuan satu orang pun, Tyler kembali ke markas.


Sesampainya di sana, ekspresinya berubah ketika melihat orang-orang berkumpul.


“Ada apa ini? Kenapa kalian semua berkumpul di tempat ini?”


Mendengar pertanyaannya, semua orang menoleh. Orang yang berada di tengah kerumunan mengangguk pada Tyler.


“Ketika mencoba mencari tanaman bermutasi dengan timku siang tadi, kami melihat pemandangan luar biasa.


Tuan Hades memimpin banyak orang untuk berperang dengan para binatang bermutasi. Itu sangat luar biasa. Menunggangi seekor serigala sambil mengatur medan pertempuran, sungguh pria yang pantang dipanggil sebagai Raja.


Sangat disayangkan, poinku masih jauh dari cukup untuk bergabung. Kamu benar-benar beruntung, Tyler.”


“Ah! Ya ... aku memang beruntung.”


‘Pertempuran besar? Itu berarti mereka akan terlambat kembali, kan?’


Pada saat itu, pemikirkan buruk tiba-tiba muncul dalam kepalanya. Tyler tiba-tiba memikirkan kantor Ark. Dia juga memikirkan buku kulit yang sering dibawa oleh pemuda itu.


‘Mungkinkah ... resep berbagai ramuan dia catat di buku itu?’


Memikirkan itu, napas Tyler langsung berubah menjadi berat. Jika dia bisa melihat dan menghafal resep berbagai ramuan, itu pasti akan luar biasa. Pada saat membayangkan kalau dirinya memiliki pasukan sendiri yang terdiri dari banyak manusia super, tangannya langsung mengepal erat karena bersemangat.


Tyler langsung bergegas masuk ke dalam gedung. Pemuda itu kemudian bergegas menuju ke lantai tiga, tempat kantor Ark berada. Namun saat itu, dia melihat tim kecil berisi tiga orang. Mereka adalah ayah, saudari, dan pacarnya.


“Kamu ingin pergi ke mana, Tyler?” tanya Russell dengan ekspresi curiga.


“Bukan urusanmu, Ayah.”


“Tuan Hades jelas melarang semua orang naik ke lantai dua atau lebih tanpa ada panggilan khusus.”


“Aku pergi memeriksa karena curiga ada orang yang naik ke atas sementara orang-orang pergi. Ini adalah tugasku sebagai anggota Sword of Sufferings.”

__ADS_1


“Tyler!”


Russell langsung memegangi tangan putranya dengan ekspresi serius. Pria paruh baya tersebut menggelengkan kepalanya. Jelas tidak membiarkan putranya pergi. Saat itu juga, sesuatu yang tidak dia duga terjadi.


BRUK!


Sosok Russell didorong sampai jatuh berguling-guling di tanah. Hannah langsung membantu ayahnya berdiri sambil berteriak.


“KAKAK!”


“Diam!”


Tyler menunjuk ke arah mereka semua dengan ekspresi kesal. Pemuda itu kemudian berkata dengan ekspresi jijik di wajahnya.


“Aku tidak memiliki ayah yang membuat anak-anaknya menderita sepertimu! Juga, aku tidak memiliki saudari yang tidak berguna dan hanya menjadi beban sepertimu!


Selain itu, Lexie ... hubungan kita sudah berakhir! Jangan kira kamu bisa memanfaatkanku. Apa kamu pikir ini dunia normal dimana ada cinta tulus atau semacamnya? Kamu sama sekali tidak tulus! Dalam lebih dari satu tahun, kita bahkan tidak melakukan lebih dari berpegangan tangan! Kamu pikir aku anak kecil!”


Melihat Tyler yang pergi dengan ekspresi gila di wajahnya, ketiga orang itu tampak pucat. Mereka tidak menyangka kalau pemuda yang biasanya ramah dan pendiam itu memiliki perasaan semacam itu kepada mereka.


Mengabaikan keluarga dan pacarnya, Tyler akhirnya tiba di lantai empat. Melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang, dia kemudian masuk ke dalam kantor Ark.


Melihat kantor yang begitu rapi, Tyler langsung menyeringai. Tanpa sedikit pun keraguan, pemuda itu langsung pergi ke meja Ark. Setelah mencari beberapa saat, dia menemukan sebuah buku hitam dari kulit di dalam laci.


“Ketemu!”


Melihat buku itu, Tyler sudah memikirkan dunia dalam genggamannya. Dia segera mengambil buku itu. Namun setelah mengeluarkan buku dari dalam laci, buku itu tiba-tiba jatuh ke tanah. Hal tersebut tentu membuatnya kesal.


Hendak mengambil buku tersebut, Tyler tiba-tiba berkeringat dingin ketika melihat kedua tangannya yang menghitam. Bagian-bagian kulitnya terkelupas dan terasa sangat menyakitkan. Kemudian pemuda itu melihat buku dengan sampul hitam yang tampak kasar.


‘Ada racun yang sangat kuat di sampulnya? Tidak! Seharusnya itu tidak mungkin. Hades selalu membawa buku ini dengan santai! Bagaimana mungkin sampulnya beracun?’


Saat itu juga, Tyler tiba-tiba merasa sedang ditatap. Pemuda itu langsung menoleh ke sumbernya hanya untuk melihat jendela. Namun setelah memperhatikannya baik-baik, tampak sepasang burung putih yang tampak aneh hinggap di atas pohon. Pohon itu hanya terlihat dari tempat ini karena bagian jendela lain tertutup pemandangan gedung.


Entah kenapa, Tyler berkeringat dingin. Dia merasa kedua burung itu menatapnya dengan tatapan manusiawi. Tampaknya sedang melihat lelucon, badut menari di atas balok sebelum melompat ke bawah untuk bunuh diri.


“Ini ... ini ... apakah ini sebuah jebakan?”


Memikirkan itu, Tyler merasa sangat ketakutan. Otaknya tiba-tiba terasa berat, pandangannya menjadi hitam ketika tubuhnya jatuh ke lantai dengan keras.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2