
Di sebuah jalur tersembunyi menuju ke bangunan utama markas Crux of Shadow, sosok berjubah hitam berjalan sendirian perlahan.
Swoosh! Klang!
“Ini ... anak panah yang dibuat khusus?”
Melihat anak panah yang lebih pendek daripada anak panah normal dan dibuat dari bahan lain, dia mengerutkan kening.
Swoosh! Swoosh! Swoosh!
Beberapa anak panah melesat dalam gelapnya malam, tetapi sosok berjubah itu langsung menangkis semua anak panak tanpa satu pun pengecualian.
“Bukankah itu mainan yang menarik, Shadow?”
Mendengar itu, Saito melihat ke arah sosok yang muncul dari kejauhan.
Orang itu adalah pria paruh baya yang tampak ceroboh dan agak malas. Dia mengenakan sebuah alat aneh di lengan kirinya, tersenyum ke arah Saito dengan wajah ramah.
“Salah satu jenderal dari Crux of Shadow,” gumam Saito.
Saito pernah dalam pengejaran, jadi dia juga cukup akrab dengan para jenderal kelompok Crux of Shadow. Lagipula, beberapa dari orang itu cukup mencolok di antara banyak anggota lain. Sayangnya, Claus sendiri hanya muncul di markas dan tidak ikut mengejarnya, jadi Saito juga tidak begitu mengenalnya.
“Aku juga memiliki nama, tahu. Namaku Claus, jadi kamu harus mengingatnya.”
“Kalau begitu kalian seharusnya juga tidak memanggil seseorang dengan sebutan asal. Lagipula, namaku bukanlah Shadow.”
“Lalu, siapa namamu?”
SWOOSH! Klang!
Sosok Saito melesat dengan cepat, langsung menebas Claus tetapi berhasil ditangkis dengan pedang di tangan kanan pria itu. Saat keduanya saling berhadapan, Saito akhirnya membalas.
“Itu tidak penting.”
Pedang di tangan Saito kembali berayun dengan cepat. Melihat itu, Claus bergerak dengan cara aneh tetapi bisa menangkis serangan pria itu. Dia terpental mundur beberapa meter, Claus menyeka keringat di dahinya.
“Ups! Itu benar-benar nyaris! Bukankah kamu terlalu galak, Shadow?”
Setelah mengatakan itu, Claus mengarahkan lengan kirinya pada Saito. Ditemani suara klik yang ringan, tiga anak panah langsung melesat ke arah kepala pria itu.
__ADS_1
“Awas!”
Pada saat Saito menangkis anak panah, suara Claus terdengar. Dia kemudian melihat pria itu telah muncul di sampingnya lalu menebas dengan cepat.
KLANG!
Saito melompat mundur beberapa meter. Melihat Claus yang tampak ceroboh, matanya menyipit. Saat itu juga, sosoknya perlahan memudar bersama gelap malam.
Melihat keanehan semacam itu, Claus tersenyum. Dia kemudian mengawasi sekitar dengan ekspresi ala kadarnya. Pria itu kemudian membidik dengan acak lalu menembak.
Klang! Klang! Klang!
‘Bagaimana bisa?’
Dalam keadaan tidak terlihat, Saito menangkis anak panah Claus dengan ekspresi terekjut di wajahnya.
“Bagaimana mungkin dia bisa melihatku? Mungkin itu pertanyaan yang muncul dalam benakmu, bukan?”
Saat itu, suara santai Claus terdengar. Pria itu kemudian menggaruk belakang kepalanya sambil terus menjelaskan.
“Apakah kamu percaya ada orang yang terlahir dengan beberapa kelebihan, Shadow?
Orang biasanya tanpa sadar bisa merasakan jika dipandang dengan serius atau diperhatikan. Namun aku memiliki kasus berbeda. Selama ada orang yang melihat ke arahku, entah dia terlihat atau tidak, dari dekat atau jauh.”
“Aku bisa merasakannya.”
***
Sementara itu, tidak jauh dari gerbang wilayah markas utama Crux of Shadow.
Ark berjalan dengan tenang sambil bergumam. Pemuda itu tampaknya sedang berbicara pada dirinya dengan suara yang hanya bisa dia dengar.
‘Jika melakukan ini, kamu akan mengulangi semuanya. Setelah diberi kesempatan kembali, bukankah kamu ingin memperbaiki diri?’
Setelah beberapa langkah, Ark kembali bergumam.
‘Jika tidak menjadi seperti sebelumnya, kamu tidak akan bisa melakukannya. Namun setelah kembali, apakah kamu benar-benar tidak bisa merubah banyak hal dan harus menempuh jalan ini?’
‘Simpan atau buang ... hanya bisa memilih salah satunya.’
__ADS_1
Ark akhirnya berhenti di jarak kurang lebih seratus meter dari gerbang. Di depan gerbang, tampak ratusan orang yang bersiap untuk bertarung. Jumlah mereka mungkin hampir seribu, tetapi hampir semuanya adalah orang biasa.
Ark sudah menduganya. Namun setelah melihat Simon mengirim pengikutnya yang bisa dibilang tidak bersalah untuk bunuh diri, tangan pemuda itu mengepal erat. Lawan jelas membuatnya merasa tertekan karena tidak semua orang bisa membunuh mereka yang tidak bersalah dengan mudah. Belum lagi, mereka semua bukan anggota inti Crux of Shadow yang memiliki Blood Slime, tetapi hanya manusia biasa.
“Tampaknya sekuat apapun aku mencoba, aku tidak akan pernah bisa menjadi manusia yang baik.”
Ark mencemooh dirinya sendiri. Dia selalu berpikir bahwa dirinya bisa menjadi lebih baik setelah kembali. Setidaknya menjadi sosok yang layak disebut sebagai manusia. Namun pada akhirnya, pemuda itu hanya mendapatkan kekuatan yang lebih ...
Sama sekali tidak merubah dirinya sendiri!
‘Aku adalah makhluk yang dipanggil sebagai anak iblis.’
‘Aku adalah pembunuh yang terlalu cocok untuk hidup di lingkungan gelap dan busuk seperti ini.’
‘Aku adalah bintang kesepian yang tidak memerlukan siapapun untuk berdiri.’
‘Aku adalah Nomor XIII ...’
Di balik topengnya, ekspresi dingin di wajah Ark perlahan-lahan menjadi lebih tumpul. Semakin tumpul, dan akhirnya kehilangan semua ekspresi serta emosi saat dirinya berkata.
‘Perwujudan dari kematian itu sendiri.’
Saat itu, orang-orang yang berada di gerbang menatap ke arah Ark dengan ekspresi gugup di wajah mereka. Banyak pemanah yang membidik ke arah pemuda berjubah dan bertopeng hitam itu, tetapi tidak langsung menembaknya karena tahu kemungkinan mengenainya terlalu rendah ketika berada pada jarak sejauh itu. Mereka menunggu Ark maju sampai jarak 50 meter dari mereka atau kurang.
Hanya saja ... semua sama sekali tidak berjalan sesuai dengan keinginan mereka, bahkan di luar dugaan mereka!
Beberapa napas menunggu, sosok Ark yang berdiri di kejauhan tiba-tiba menghilang. Semua orang menjadi bingung karena kejadian yang begitu tiba-tiba. Namun mereka semua langsung menoleh ke arah yang sama ketika mendengar suara sesuatu yang jatuh ke tanah.
Saat itu, semua orang bergidik ngeri. Banyak dari mereka langsung melarikan diri, ada juga yang langsung muntah di tempat.
Di tempat mereka melihat, tampak puluhan bagian bawah tubuh yang masih berdiri tetapi bagian atas jatuh ke tanah. Benar-benar langsung dipotong tepat pada pinggangnya. Gambaran mengerikan seperti itu jelas membuat mereka semua ketakutan.
“Enyah dari tempat ini ... tinggalkan kota ini.”
Mendengar suara sedingin embusan angin dalam gua es di telinga, semua orang langsung mendongak. Saat itu juga, mereka langsung melihat pemandangan yang tidak akan pernah mereka lupakan.
Sosok berjubah hitam dan bertopeng benar-benar melayang di udara. Angin menerpanya, membuat pakaiannya menari dengan lembut. Pedang di tangan kanannya diselimuti dengan warna merah, sama seperti mata bak rubi yang memandang mereka tanpa sedikitpun fluktasi emosi.
Saat itu juga, mereka merasa tidak lagi melawan seorang manusia. Mereka juga akan terus mengingat nama sosok yang melayang di langit yang disinari oleh rembulan itu. Dia adalah Hades ...
__ADS_1
Raja Dunia Bawah!
>> Bersambung.